Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 113


__ADS_3

"Adnan lepaskan kamu memeluk sangat erat sekali, bagaimana kalau tulang-tulang aku ini patah "protes Ayana yang sudah kesal dan marah pada Adnan.


Adnan malah mencium pipi Ayana dan masih memeluk Ayana tapi tak seerat tadi. "Hey jangan terus cium aku ya, aku tak suka Adnan "


"Kenapa tidak, kamu ini kan istriku "


"Bukan, aku tak mau menikah lagi dengan kamu, kamu juga waktu di pesawat kenapa masuk kamar dan tidur bersama kami kalau aku tahu sudah aku hajar kamu ya "


"Pasti Melisa yang sudah memberitahu kamu "


"Tentu saja, Melisa akan selalu memberitahuku "


"Sudah bisa ditebak, tapi kamu nyaman kan aku peluk seperti itu. Kamu senang kan aku peluk "


"Tidak, kalau aku waktu itu tak lelah aku tak akan tidur senyenyak itu, pasti saat kamu memelukku, akan aku hajar sampai habis "


Adnan hanya tertawa saja "Kapan kamu akan tandatangan aset-aset yang aku berikan padamu "


"Tidak akan pernah ku tanda tangani. Aku tidak mau, itu kan milikmu itu adalah jerih payah mu jadi tidak usah"


"Tapi aku ingin semua itu menjadi milikmu"


"Tidak, aku tidak mau menjadi orang kaya menjadi orang sederhana itu lebih baik. Aku tidak mau dipusingkan dengan nanti perebutan harta, inilah itulah pusing rasanya aku tidak mau berurusan dengan hal seperti itu hidup seperti ini lebih menyenangkan dan aku lebih bebas, tidak memikirkan nanti takut orang jahat padaku atau apapun itu, atau nanti keluarga yang meminta warisan "

__ADS_1


Adnan tidak menjawab dia hanya menikmati malam ini bersama Ayana. Ayana masih dipeluk olehnya, rasanya damai sekali kalau seperti ini. Adnan hanya tinggal menunggu kapan Ayana bisa membuka hatinya lagi.


"Ayana coba katakan padaku aku harus melakukan apalagi agar kamu bisa menerimaku, mungkin kamu punya suatu jurus "


"Menerima dalam hal apa dulu aku sudah menerimamu menjadi ayah dari anak-anakku. Bahkan aku mengesampingkan keegoisanku hanya untuk bisa anak-anak dekat denganmu hanya untuk kamu bisa diakui oleh mereka" Ayana makin menyandarkan kepalanya ke dada Andan.


"Mengantuk " tanya Adnan sambil mengusap rambut Ayana.


Ayana hanya diam saja, dia hanya fokus menatap langit yang dipenuhi oleh bintang. Mereka begitu kecil-kecil sudah lama Ayana tak menikmati waktu malam seperti ini.


"Ayana lebih baik kita pindah ke dalam saja, aku takut nanti kamu sakit pasti anak-anak akan sedih ayo masuk"


"Aku sangat tidak suka Adnan jika kamu terus membahas tentang pernikahan, padahal aku sudah menolakmu beribu-ribu kali aku benar-benar menghindari pernikahan dengan siapapun itu termasuk kamu"


"Iya mungkin sekarang tidak, tapi kamu pasti memikirkan tentang bagaimana nanti melamar ku. Tolong jangan lakukan itu buang jauh-jauh dari pikiranmu itu. Aku benar-benar tidak berminat untuk menikah lagi. Sudah cukup satu kali bersamamu dan gagal aku tidak mau Adnan. Aku juga tak mau nanti kamu tiba-tiba memaksaku "


Adnan hanya bisa menghela nafasnya, kenapa Ayana selalu tahu apa yang akan dirinya lakukan. Adnan ingin sekali kembali dengan Ayana.


Adnan melihat Ayana yang makin merapatkan tubuhnya padannya. Sungguh sangat berbeda sekali dengan perkataannya. Kalau memang Ayana tak mau dengannya seharusnya Ayana tak senyaman ini kan dipeluk olehnya dan bersandar di dadanya "Jadi kamu ingin hubungan seperti apa denganku Ayana ?"


"Entahlah aku tidak ingin hubungan apa-apa, aku hanya menganggapmu sebagai ayah dari anak-anakku. Jadi jangan pernah tanyakan pernikahan lagi padaku atau merencanakan sebuah lamaran untukku, jangan menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tak pasti Adnan"


"Ayana pasti kamu sedang menguji kesabaranku kan, sekarang kamu hanya sedang meyakinkan hatimu ingin menerimaku atau tidak. Tapi jangan pernah berharap kalau aku akan mundur saat kamu mengatakan semua ini, karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mundur dan aku akan terus mengejar mu, aku tidak peduli kamu mau menolakku beribu-ribu kali pun aku tidak peduli aku akan terus maju" tekad Adnan sudah bulat, dia tak akan melepaskan Ayana sampai kapan pun itu.

__ADS_1


Adnan yakin Ayana sebentar lagi akan luluh, jadi Adnan tak akan menyia-nyiakan semua itu. Adnan akan terus berjuang mati-matian.


Ayana menatap Adnan sekilas "Kenapa harus aku yang kamu kejar, banyak perempuan yang ingin denganmu dan banyak juga perempuan yang lebih cantik dari aku, bahkan kamu berhak mengejar perempuan yang lebih baik dari aku. Aku tidak masalah kalau kamu nanti menikah lagi dengan perempuan lain, anak-anak tetap menjadi anakmu dan tidak akan pernah ada yang berubah"


"Aku tidak mau kembali terjebak dengan orang yang tidak aku cintai, aku sangat mencintaimu Ayana maka aku akan terus mengejar perempuan yang memang benar-benar aku cintai, bukan karena hanya aku tertarik saja" Adnan mengusap wajah Ayana dengan lembut.


Ayana memejamkan matanya saat Adnan terus mengusap pipinya "Bukan karena aku memiliki anak-anakmu Adnan"


"Kalaupun waktu itu kamu tidak melahirkan anak-anakku, aku akan tetap mengejar mu sekarang aku mengejar kamu dan juga anak-anak. Aku ingin kita bersama Ayana. Aku ingin kita membangun keluarga kecil kita aku tahu kesalahanku itu tidak pernah bisa dimaafkan olehmu, tapi beri aku kesempatan sekali ini saja"


Ayana memegang tangan Adnan yang ada di pipinya rasannya geli saja terus di usap seperti itu, Ayana menatap wajah Adnan, tapi Adnan makin mendekati dan mencium bibir Ayana.


Ayana mencengkram pergelangan tangan Adnan dengan erat, Ayana begitu kaget dan gugup dengan apa yang Adnan lakukan. Adnan makin memperdalam ciumannya dan membalikan tubuh Ayana agar lebih leluasa mereka berciuman.


Ayana mendorong dada Adnan sampai ciuman itu terlepas "Adnan kamu_"


Tapi Adnan kembali membungkam bibir Ayana itu, Adnan memperdalamnya dan memegang tengkuk Ayana juga, Ayana hanya bisa memejamkan matanya dan tak membalas apa yang Adnan lakukan.


Jantung Ayana sudah tak bisa diam, sudah berdetak tak karuan. Ini untuk pertama kalinya lagi Ayana begini bersama Adnan.


Adnan tersenyum disela ciuman mereka. Meski Ayana tak membalasnya tapi Adnan suka dengan Ayana yang pasrah seperti ini. Adnan yakin sebenarnya Ayana ini mau menerimanya hanya saja Ayana gengsi makannya terus saja menolak dirinya.


Kembali Ayana mendorong Adnan, setelah ciuman itu terlepas Ayana menundukkan kepalanya, wajahnya pasti sudah sangat merah sekali gara-gara ulah Adnan.

__ADS_1


Adnan sendiri tentu saja senang, karena perjuangannya pasti akan segera berhasil, Ayana akan segera menjadi miliknya seutuhnya. Tak boleh ada yang memiliki Ayana sekali dirinya, Ayana hanya untuk dirinya seorang.


__ADS_2