
Sore harinya Adnan kembali lagi ke pantai. Adnan senang sekali melihat ada salah satu anaknya. Adnan mendekatinya dan menyapanya "Hallo Melinda, tadi pagi kita belum selesai berbicara " Adnan yakin yang ada dihadapannya ini adalah Melinda karena dia dikuncir dua. Kalau Melisa selalu dikuncir satu.
Adnan melihat anaknya menatapnya. Tak ada senyum yang biasanya Adnan lihat dari Melinda. Apa Melinda juga marah dengannya. Apa Melinda juga jadi tak suka dengannya. Padahal Adnan ingin meminta bantuan padanya. Siapa saja melalui anak-anaknya bisa membuat Ayana luluh kan.
"Apa Melinda marah dengan Paman, kenapa Melinda tak senang saat melihat Paman. Biasanya Melinda akan senang bertemu dengan Paman"
Anak yang dipanggil Melinda oleh Adnan bangkit dan Adnan masih saja jongkok, Adnan masih menatap wajahnya yang cemberut " Paman mengajakku bicara"
"Tentu saja, apakah kamu tak mau memberi paman coklat lagi, paman sungguh suka diberi coklat sama kamu "
"Tunggu, coba tangan paman mana, berikan padaku "
Adnan langsung memberikan tangannya dan Melinda segera merogoh sakunya. Adnan yang sedang lengah sampai tak sadar kalau anak itu memukul wajah Adnan dengan kepalan tangan kecilnya itu. Tapi begitu terasa dan sangat sakit sekali.
Adnan sampai mundur, pukulan itu mengenai matanya. Belum juga Adnan membuka matanya yang sakit ini, pukulan kembali melayang kearah pipinya. Sungguh pukulan yang bertubi-tubi yang Adnan terima dari anaknya ini.
"Melinda kenapa kamu kasar pada paman, kamu kenapa memukul Paman. Apa salah paman sama kamu "
"Aku bukan Melinda, aku Melisa aku tidak suka padamu. Rasakan itu " teriak Melisa dengan melengking sekali. Bahkan telinga Adnan sakit mendengar teriakan cempreng itu.
Melisa menjauh dari Adnan lalu kembali berteriak "Rasakan itu makanya jangan membuat Mamaku menangis dan takut. Jangan pernah temui Mamaku lagi, jangan ganggu hidup Mamaku lagi"
"Hei Melisa jangan kabur kamu ya " Adnan berhasil memegang tangan Melisa, sedangkan tangan yang satunya memegang matanya yang sakit.
Melisa dengan sekuat tenaga mengigit tangan Adnan. Otomatis Adnan melepaskan pegangan tangannya itu kan. Melisa langsung berlari dengan tawa renyahnya. Tak peduli dengan Adnan yang kesakitan. Melisa sangat puas karena bisa memukul Adnan. Itu adalah sesuatu yang Melisa inginkan dari dulu dan sekarang sudah terlaksana juga.
"Huuh ternyata kamu sangat mudah dikalahkan, kamu bukan tandinganku "teriak Melisa sambil menjulurkan lidahnya pada Ayahnya sendiri.
"Melisa Liona Gantari, awas ya aku akan bicara dengan Mamamu nanti. Kamu pasti akan dimarahi olehnya dan aku tak akan membelamu lihat saja nanti anak nakal" teriak Adnan.
Tapi itu tidak akan terdengar oleh Melisa, karena dia sudah masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya juga. Adnan tidak habis pikir dengan tingkah Melisa, apakah Ayana mengajarkan itu pada Melisa.
__ADS_1
Melisa sangat kasar sekali berbeda dengan Melinda, Melinda itu anak yang lembut dan baik hati. Bahkan pertama bertemu saja Adnan langsung suka dengan Melinda.
Tadi Adnan benar-benar tidak bisa membedakan antara Melisa dan Melinda, Adnan kita itu adalah Melinda karena diikat dua seperti Melinda. Ternyata bukan wajah mereka terlalu sama sampai-sampai Adnan tidak bisa membedakannya. Adnan memang harus tahu perbedaan mereka mulai sekarang agar tak terkecoh lagi.
Adnan begitu kesakitan matanya sakit sekali, rasanya juga perih sekali kenapa Melisa bisa memukulnya dengan keras seperti itu, padahal anak perempuan dia baru berumur 5 tahun tapi kekuatannya seperti itu.
Sebenarnya Ayana memberi makan apa pada anak itu, untungnya tadi saat memukul pipi tidak terlalu keras, jadi tak terlalu sakit kalau matannya benar-benar sakit mau bagaimana pun. Tapi Adnan tak boleh marah itu adalah anaknya. Melisa adalah anaknya, Adnan harus bisa tenang dan mengontrol emosinya.
Adnan segera bangkit, dia masuk ke dalam mobil dan melihat matanya di cermin mobil, bengkak sudah membiru pukulan anak kecil itu kenapa bisa membuat matanya seperti ini. "Melisa kenapa kamu malah memukul ayah seperti ini, dasar anak nakal kamu ini ya "
"Aduh sakit sekali, apa Ayana berbicara pada anaknya itu kalau aku tadi menemuinya. Aduh duh sakit sekali"
Adnan menjalankan mobilnya dengan perlahan, dia harus pulang ke villa dia harus segera mengobati matanya ini. Kenapa Melisa begitu benci padanya sedangkan Melinda sangat berbeda. Dia sangat baik bahkan tidak pernah melakukan apa-apa pada Adnan.
Apakah Ayana hanya bercerita pada Melisa saja, apakah selama ini Ayana selalu menjelek-jelekannya di depan anak-anaknya itu. Apakah selama ini sudah lama tertanam rasa benci di hati anaknya itu untuk dirinya.
Setelah sampai di villa Adnan langsung masuk ke dalam vila sambil menutup sebelah matanya yang sakit, kalau matanya dibuka perih rasannya "Pak ada apa"
"Tidak usah, ini ulah anakku sendiri Melisa. Aku tak menyangka dia akan sekasar itu pada ayahnya sendiri. Pokoknya perketat lagi penjagaan Ayana jangan sampai dia kabur. Aku tidak mau kecolongan lagi. Pokoknya dia tidak boleh pergi kemana-mana, Ayana harus tetap disini sampai dia bisa memaafkan semua kesalahanku "
"Mungkin kompres dulu saja Pak matanya, agar tidak bengkak nantinya. Nanti aku akan memperketat semuanya Pak "
"Iya iya itu masalah gampang sekarang lakukan apa yang aku suruh, cepat laksanakan. Aku takut orang-orang yang kamu tempatkan kurang dan Ayana masih bisa kabur. Sebarkan saja dimana-mana orang-orang mu itu "
Marco menganggukan kepalanya, sepertinya harus semuanya Marco kerahkan. Marco tak mau mengambil resiko kalau sampai nanti nona Ayana kabur. Pasti nanti akan banyak pekerjaan yang ditinggalkan dan itu akan membuat Marco makin pusing saja.
...----------------...
"Kakak kenapa Kakak masuk tiba-tiba seperti itu, katanya tadi kakak menyuruhku untuk mengambil ini cetakan pasir. Tapi Kakak sendiri sudah masuk ke dalam rumah sambil tertawa seperti itu, apa ada yang lucu Kakak disana. Apakah ada badut Kakak "
Melisa menarik tangan adiknya masuk ke dalam kamar "Kita tidak bisa keluar ada paman, paman jelek itu dia ada di luar jangan sampai kita bertemu dengannya. Apalagi kamu jangan ketemu lagi sama dia. Udah cukup tadi aja waktu di sekolah jangan ketemu-ketemu lagi "
__ADS_1
Melinda mengerutkan keningnya "Paman yang tadi ke sekolah kan, kenapa Kakak bisa tertawa seperti ini memangnya apa yang kakak bicarakan dengan paman. Kenapa Kakak tidak mengajakku padahal aku juga sama ingin tertawa seperti kakak, aku juga ingin seperti Kakak "
"Aku tadi menghajarnya, kamu diam ya jangan beritahu Mama nanti kalau mama tahu pasti Mama akan marah padaku. Jadi kamu harus bisa menjaga rahasia ku itu "
Melinda langsung menutup mulutnya, Melinda kaget dengan apa yang kakaknya lakukan. Kakaknya begitu berani sekali, kalau Melinda mungkin tak akan berani Melinda akan takut duluan "Lalu apakah Paman itu tidak melawan kakak, pasti dia akan memukul Kakak juga kan apakah kakak baik-baik saja. Paman itu kan orang dewasa pasti akan membalas apa yang Kakak lakukan "
Melisa masih terkikik geli mengingat bagaimana tadi dia memukul Adnan. Rasannya puas sekali Melisa mengumpulkan seluruh kekuatannya dan memukulkannya kearah paman nakal itu yang selalu membuat Mamanya menangis.
"Dia tidak melawan. Paman itu diam saja jadi jangan beritahu Mama, hanya kita berdua saja yang tahu ini rahasia terbesarku kamu jangan pernah bilang sama mama atau sama siapapun. Cukup kita saja yang tahu. Tadinya aku tak akan memberitahu mu tapi aku rasannya tak bisa menyimpan semuanya sendirian. Memakannya aku memberi tahu mu saja "
Melinda yang memang polos hanya menganggukkan kepalanya. Lalu mereka keluar dari kamar dan mencuci tangan serta kakinya yang belum sempat mereka cuci tadi. Melinda juga yang terpenting Kakaknya baik-baik saja tak kenapa-napa.
"Anak-anak Mama kira kalian masih ada di pantai sedang main. Ternyata kalian sudah ada didalam rumah "ucap Ayana yang bingung karena anak-anaknya sudah di dalam rumah, baru saja tadi Ayana mengecek mereka dan masih ada dipantai tapi sekarang sudah ada dirumah. Tapi tak masalah Ayana suka melihatnya.
"Kami sudah pulang Mama, kami ingin makan, makannya kamu sekarang pulang " jawab Melinda sambil memegang perutnya yang buncit.
"Kalau begitu ya sudah kita makan. Mama sudah buat spaghetti spesial untuk kalian tidak lupa dengan udang gorengnya ayo kita makan. Pasti kalian akan suka sekali "
"Hore kita makan spaghetti"
Mereka bertiga mengelilingi meja kecil itu Ayana juga sudah menyiapkan semuanya, membagi-baginya agar tidak berebut nantinya. Ayana melihatnya Melisa yang terus saja tersenyum ada apa dengan anaknya, tak biasanya anaknya tersenyum terus.
"Mama lihat Melisa sedang senang sekali, ada apa nih tiba-tiba senyum-senyum sendiri seperti itu. Apa ada sesuatu yang lucu dan Melisa tak mau memberitahu Mama "
Melisa hanya menggelengkan kepalanya "Tidak Melisa hanya sedang ingin tersenyum saja, tapi tadi ada hal lucu yang terjadi di pantai Mama, tapi Melisa tidak bisa bicara dengan Mama ini adalah rahasia Melisa. Melisa tak akan membaginya dengan Mama "
"Mama jadi penasaran apa ya, yang membuat anak mama ini terus tersenyum. Hal lucu apa " Ayana mencoba memancing anaknya untuk mengatakan hal yang membuatnya tersenyum terus, karena memang jarang Melisa tersenyum dengan lebar seperti ini.
"Pokoknya ini rahasia, Mama tidak akan tahu ini adalah rahasia Melisa. Tapi suatu saat Mama akan tahu tapi nanti setelah Melisa dewasa. Melisa akan menceritakannya pada Mama "
Ayana yang gemas mencubit pipi Melissa dengan pelan. Lalu mereka segera makan takut nanti spaghetti nya keburu dingin dan tidak enak. Ayana tak akan bertanya lagi, mungkin hal lucu yang biasa jadi Ayana tak usah khawatir juga kan.
__ADS_1
Melinda makan dengan sangat lahap sekali, sampai-sampai dia mengambil udang goreng punya Kakaknya tapi Melisa membiarkannya saja tak banyak bicara.