Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 168


__ADS_3

"Papi itu sebenarnya dari mana. Kenapa tiba-tiba menghilang gitu aja dan baru pulang malam-malam. Ini aku udah buatin makanan loh buat papih, dari tadi sore aku ini "


"Yakin kamu bisa masak, papih jadi ragu sekali "ucap Fira sambil menatap wajah anaknya dan masih ragu saja. Apakah Fira bisa masak, waktu itu saja gagal total kan.


"Ya dicoba dulu udah dingin dari tadi, tunggu Papi pulang tapi ga ada terus pulang. Main ke mana sih emang udah punya temen ya di sini, kita kan baru pindah papih "


"Ya udah dong masa sih papi belum punya teman di sini, papi tadi keasyikan ngobrol makanya Papi lupa waktu. Kalau ga diingetin mungkin Papih malah akan nginep "


"Jangan kayak gitu ah kebiasaan. Ya udah coba dulu aja dimakan. Pasti Papi nanti suka deh "


Papinya Fira segera duduk dan melihat masakan anaknya memang masih sedikit berantakan, tapi ya tidak masalah, dicoba dulu saja kan siapa tahu cocok dan lumayan.


Fira menunggu respon Papinya, baru satu suapan yang Papinya makan, Fira begitu takut sekali kalau tak akan enak "Ini terlalu asin Fira nanti kurangi ya, dan yang ini terlalu manis kurangi nanti, nah ini telurnya gosong jangan terlalu lama ya, masa gosong setengah "


"Iya iya nanti aku perbaiki, aku kan masih belajar papih "


"Iya, ya udah sini gabung kamu juga harus coba masakan kamu "


Fira segera bergabung dengan papihnya dan segera mencobanya, emm lumayan enak dan Fira senang makannya sekarang bisa dimakan. Kalau yang waktu itu benar-benar kacau sekali.


"Papi kalau misalnya aku ga dapat kerja terus gimana, masa aku ga akan kerja dan kita akan makan apa coba"


"Ya udah cari lagi aja gampang Fira ga usah bingung, banyak kok pekerjaan. Pasti nanti kita bakal ada yang terima kamu "


"Iya tapi sampai sekarang belum ada yang panggil aku, aku udah sebar lamaran kemana-mana tapi belum ada yang masuk atau misalnya telepon aku gitu ga ada. Aku udah binggung banget papih "


"Yang sabar namanya juga cari kerja cari kerja itu kan sulit ga akan gampang, kamu harus terus berjuang ya"


"Iya juga sih Pi tapi ya aku pengen cepet-cepet bisa kerja lagi. Aku butuh uang, aku juga mau lihat Kamila. Aku udah janji sama Kamila kalau aku akan datang ke sana dan temui dia. Aku ga mau sampai Kamila kehilangan sosok ibu lagi"

__ADS_1


"Kamu mau lihat Kamila, kamu ga akan lukain dia kan. Kamu ga punya rencana yang jahat kan, jangan sakiti anak kamu Fira kamu harus benar-benar kalau mau sayang sama Kamila, karena memang dia sangat butuh kasih sayang kamu"


"Aku ga akan pernah lagi sakiti Kamila, mana mungkin aku lupain anak aku sendiri juga. Aku mau berubah aku nggak akan kayak gitu lagi aku janji. Aku benar-benar akan lupain semua masa lalu yang pernah aku lalui dulu, masa lalu itu sangat pahit sekali. Aku juga tak mau terjerumus lagi dalam masa lalu itu "


"Iya sayangi dia Fira, kasihan Kamila itu butuh kamu dari dulu. Mumpung kamu masih ada dan diberi waktu kamu harus luangkan waktu kamu itu, kamu harus tebus semua waktu yang pernah kamu buang gitu aja, kamu harus menganti semuanya Fira"


"Iya Pi, aku pengen bisa deket sama Kamila, meskipun akan pasti lama waktunya karena aku terlalu keras pada Kamila dulu, aku terlalu egois padanya makanya dia seperti itu kan padaku. Saat melihat Kamila yang takut padaku aku juga merasa sakit pih"


"Iya berubah lah nak, jangan terus mencintai satu laki-laki, jika laki-laki itu tidak mencintaimu untuk apa kamu perjuangkan dia, masih banyak kok laki-laki di dunia ini, dan kamu masih bisa mencari laki-laki yang lain "


"Iya Pi sekarang Fira sudah sadar, Fira tak akan melakukan kesalahan yang sama lagi "


Papinya Fira tersenyum senang, akhirnya pengorbanannya tidak sia-sia membawa Fira ke mari. Kalau saja dirinya tidak kepikiran untuk pindah rumah ke sini mungkin semua itu tidak akan pernah terjadi.


Mungkin Fira akan sama dan akan melakukan rencana-rencana yang mungkin akan lebih gila lagi dari sebelum-sebelumnya. Baru membayangkannya saja sudah tak kuat kalau Fira sampai jahat lagi.


"Lihat Bu kita tidak dapat apa-apa, bagaimana kamu ini tidak bisa meminta pada Adnan uang atau kita tinggal di rumah itu malah kita diusir dengan tidak sopan oleh Adnan dan orang-orang yang ada di sana, sungguh aku tak pernah berfikir akan seperti ini ujung-ujungnya sangat memalukan sekali tahu "


"Ya kamu juga Ayah kenapa coba tidak berbicara tidak mengatakan apa-apa. Aku saja dari tadi yang terus membujuk Adnan sedangkan kamu hanya duduk dan melihat aku yang terus bernegosiasi dengan Adnan. Kamu ini benar-benar tak bisa membela istrimu "


"Aku ini ayah tirinya Ayana, aku ini tidak punya sangkut paut dengan Ayana. Kamu yang lebih berhak karena kamu ibunya makanya kamu itu harus punya strategi yang bagus, kita udah bawa baju banyak kayak gini barang-barang kita tapi pada akhirnya kita pulang juga jalan kaki lagi. Kita ga diterima dengan baik "


Ibunya Ayana melempar tasnya ke arah suaminya, lalu dia berteriak dengan keras tak peduli nanti ada yang mendengarnya "Jangan terus salahkan aku, aku sudah berjuang seharusnya kamu sebagai laki-laki berjuang. Dan seharusnya juga kamu bekerja sebagai laki-laki bukannya diam saja di rumah kerjaannya judi judi judi habisin uang, pulang-pulang mabok, nggak bosen kayak gitu terus. Berubah dong ah "


"Malah ngajak berantem, ga malu ini di jalan tahu kamu ini. Bagaimana kalau ada yang keluar dari dalam rumah "


"Ya makanya jangan terus salahkan aku. Seharusnya kamu juga tadi berbicara sama Adnan, meskipun kamu Ayah tirinya Ayana tetap saja kamu juga berhak berbicara. Kalau saja tadi Ayana keluar mungkin aku akan langsung berbicara pada anak itu, kalau pada Adnan tidak akan pernah ada hasilnya yang ada kita hanya sia-sia saja. Aku tak akan mendapatkan apa-apa "


"Ya sudah ini bawa tasnya jangan terus saja mengomel, ga cape emang terus saja berbicara dari tadi "

__ADS_1


"Bawa saja olehmu. Aku tidak mau membawa tas itu, lelah rasanya aku ini. Aku ingin cepat-cepat sampai rumah dan istirahat lebih baik kita pikirkan dulu rencana yang bagus bagaimana untuk bisa masuk ke dalam rumah besar itu. Aku sudah tak sabar ingin tinggal disana saja "


"Terserah kamu saja aku ikut kamu saja, aku benar-benar tak akan punya kuasa. Kamu adalah ibunya jadi kamu yang lebih berhak berbicara dengan mereka"


"Tuh kan bukannya bantu mikir malah kayak gitu. Kamu ini benar-benar menyebalkan menjadi suami yang sangat menyebalkan sekali, lebih baik ga usah ikut kamu ini ah "


Ibunya Ayana langsung berjalan dengan cepat, tidak peduli dengan suaminya yang terus saja berteriak memanggilnya untuk membawa tas yang berserakan.


Dirinya sungguh pusing uang tidak diberi, tempat tinggal tidak diberi. Adnan benar-benar telah membuatnya malu sudah membawa tas banyak, menunggu mereka dari sore hari sampai malam tapi tidak ada hasilnya sedikitpun.


"Ayana, pasti Ayana akan keluar dari dalam rumah kan dia tidak mungkin terus saja di dalam rumah atau mungkin aku harus culik anak-anaknya saja ?"


"Sepertinya itu ide yang bagus, aku harus minta tebusan yang besar pada Ayana dan juga Adnan pasti mereka akan memberinya. Tidak mungkin kan seorang anak akan tega memasukkan ibunya ke jeruji besi, aku yakin Ayana tidak akan tega melakukan itu Anak-anak Ayana ada dua kalau diculik satu pasti dia akan sangat kebingungan sekali, ide yang bagus aku akan segera menculik anak-anak mereka itu, lihat saja apa yang akan aku lakukan pada anak-anaknya "


"Mereka tidak mau menerima aku, maka akan aku hancurkan keluarga mereka, enak saja mereka bahagia di atas penderitaanku. Aku hidup tidak enak tapi Ayana hidup dengan bergelimang harta. Aku juga mau bukan hanya Ayana saja yang harus punya uang aku juga harus punya uang, aku sudah mengurus Ayana dari kecil masa aku tidak mendapatkan apa-apa"


"Bu kamu ini ya bantu aku bukannya malah bicara sendiri dari tadi, kamu mulai gila ya Bu "


"Bawa saja olehmu aku ini sedang menyusun rencana, kamu itu tidak bisa memikirkan apa-apa. Biar aku saja yang memikirkan segalanya. Bawa tas-tas itu dengan benar aku sudah punya rencana yang sangat cocok dan akan sangat membuat mereka ketakutan, mereka akan mengeluarkan uang mereka dengan banyak untuk rencanaku ini"


"Wah yakin rencananya akan bagus. Aku ingin tahu apa itu, coba beritahu suami kamu ini "


"Nanti saja, kamu itu nanti selalu saja membongkarnya. Lebih baik nanti saat aku akan melancarkan rencananya maka kita harus langsung maju. Pokoknya rencana itu harus berhasil jangan sampai gagal, aku ga mau ada rencana kedua lagi, rencana pertama ini harus berhasil "


"Baiklah aku percaya, kamu pasti akan bisa melakukannya"


"Tentu aku akan bisa, sudah ayo cepat kita harus sampai rumah aku sudah lapar sekali ingin makan. Perutku sudah ingin diisi dari tadi ayo "


Mereka berdua segera mempercepat langkah mereka, memang rumah mereka tidak terlalu jauh sih dari rumah megahnya Adnan itu, makanya mereka bolak-balik terus menerus tapi ternyata tidak mendapatkan hasil apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2