
Ayana sekarang dan juga Adnan benar-benar bertemu. Mereka ada di sebuah cafe sedangkan anak-anak bersama nenek. Adnan sudah tahu juga kalau neneknya sudah menemui Ayana dan juga anak-anak.
Mereka saling diam dan canggung sekali, apalagi Ayana dia hanya membawa sebuah berkah surat yang sudah dia persiapkan untuk ditandatangani oleh Adnan. Ayana juga kalau bertemu berdua seperti ini menjadi takut.
Ayana mengasongkan surat itu. Ayana ingin cepat selesai dan segera pulang saja"Lebih baik kamu baca dulu. Aku akan memberimu kesempatan untuk dekat dengan anak-anak, untuk anak-anak tahu siapa ayahnya yang sebenarnya. Tapi bukan berarti aku memberikan kesempatan padamu. Jika kamu memang ingin melakukan tes DNA silahkan aku tak akan melarangmu. Siapa tahu aku salah dan mereka bukan anak-anakmu sebelum terlambat semuanya "Ayana sengaja mengatakan itu, siapa tahu tes DNA waktu itu salah. Ayana tidak mau salah faham lagi, atau sampai Adnan beranggapan kalau dirinya ini memanfaatkannya.
"Baiklah akan aku baca dulu, harus aku bilang berapa kali Ayana tanpa melakukan itu pun aku sudah yakin kalau mereka itu anak-anakku. Apalagi yang harus dibuktikan aku tidak butuh itu, aku disini ingin menebus apa yang pernah aku lakukan padamu Ayana"
Adnan membaca semuanya, alangkah banyaknya peraturan di sini. Kebanyakan sih tentang anak-anak tidak boleh terlalu memanjakan mereka dengan uang, dengan barang-barang mewah dan juga makanan apa saja yang disukai anak-anak.
Tanpa pikir panjang Adnan langsung menandatanganinya, bahkan ada satu poin yang mengatakan kalau Ayana tidak mau kembali pulang ke kota dia dilahirkan dan juga anak-anaknya tidak boleh dibawa ke sana.
Ada juga, Ayana tak akan pernah mau kembali dengan Adnan. Dan mereka hanya akan fokus mengurus anak-anak saja, lihat saja suatu saat nanti Ayana akan kembali pada pelukannya lihat saja Adnan akan mengambil hati Ayana lagi, tak peduli dengan apa yang pernah terjadi pada Ayana saat itu.
"Kamu yakin sudah membaca semuanya, jangan terburu-buru. Aku tidak mau nanti kamu keliru dan seenaknya. Aku ingin sesuai apa yang kamu lakukan dengan di surat itu"
"Aku yakin Ayana, yang terpenting aku bisa dekat dengan anak-anak. Aku juga bisa dekat dengan kamu lagi, aku senang sekali Ayana dengan keputusan mu ini "
Ayana tersenyum kecil "Jangan berharap dulu terlalu besar padaku, karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa kembali padamu Adnan, apapun itu alasannya. Aku hanya ingin menjadi Ibu yang baik aku tidak mau egois di hadapan anak-anakku dengan tidak mengenalkan mereka pada ayahnya. Mungkin waktu itu aku berharap kalau mereka itu bukan anakmu"
Adnan kaget mendengar semua itu, Adnan yang akan menggenggam tangan Ayana tak jadi, karena Ayana langsung menarik tangannya dengan cepat "Kenapa kamu berharap mereka bukan anakku Ayana, tapi kenyataannya mereka anak-anakku kan. Aku minta maaf saat kamu sedang kesulitan, saat kamu sedang dilecehkan seperti itu aku malah tidak membelamu, aku malah seperti acuh dan tidak percaya padamu Ayana. Padahal hubungan kita sudah lama aku memang bodoh, aku minta maaf atas segala kesalahan yang terjadi waktu itu. Aku sungguh menyesal kalau waktu bisa diulang aku tak akan melakukan itu "
"Itu sudah masa lalu, sudah aku bilang kan jangan pernah bahas masa lalu itu lagi. Kamu belum membaca semua surat itu kan. Makanya aku menyuruhmu untuk membaca semuanya dulu agar kamu mengerti dan tidak akan ada yang salah nantinya, jangan terburu-buru karena aku pun tak akan kabur "
"Iya aku sudah membaca semuanya, aku setuju. Aku akan mempelajarinya lagi tapi aku harus cepat menandatangani semuanya, aku tidak mau tiba-tiba kamu berubah pikiran Ayana. Aku sungguh-sungguh menyesal dan aku akan menebus semuanya Ayana, kamu bisa pegang janji-janjiku itu "
Ayana melihat tatapan Adnan yang begitu sungguh-sungguh. Ayana menundukkan kepalanya, Ayana tak mau terjebak kembali. Ayana tak mau kembali suka dengan Adnan. Sudah cukup semuanya Ayana tak mau membuka hati untuk siapa-siapa lagi.
"Ya sudah, sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi aku akan pulang"
"Aku akan antarkan. Besok pagi aku boleh kan bertemu dengan anak-anak, aku akan mengantarkannya ke sekolah. Aku akan melakukan pendekatan dengan mereka berdua bolehkan kamu tak akan melarangnya kan Ayana "
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri dan kamu juga tidak usah mengantarkan anak-anak ke sekolah. Kamu harus mendekati mereka dengan secara perlahan, jangan terburu-buru aku tidak mau mereka kaget aku tahu anak-anak butuh seorang ayah, tapi aku tidak mau terburu-buru kamu bisa datang ke rumah nanti"
"Baiklah aku akan mengikuti apa kata-katamu, aku tak akan membantah mu Ayana seperti dulu aku yang selalu patuh padamu "
Ayana hanya menganggukan kepalanya, dia berjalan keluar dari cafe itu. Tidak ada kata perpisahan Adnan merasa ada yang hilang, memang selama 5 tahun ada yang hilang. Perasaan Ayana sudah lenyap padanya, tidak ada lagi kata cinta dari Ayana.
Adnan yakin suatu saat Ayana akan mencintainya lagi. Adnan akan mengejar Ayana sampai dapat Adnan tidak hanya menginginkan anak-anaknya saja, tapi juga dengan ibunya dan tidak mau kehilangan mereka bertiga lagi.
Sekarang Adnan akan berjuang mati-matian lagi seperti dulu, saat awal dia ingin mendapatkan Ayana. Saat dulu juga Ayana sangat sulit untuk didapatkan, sekarang Adnan harus mengejar Ayana dari awal lagi.
---------------
Saat pulang ke rumah Ayana melihat anak-anak sudah tidur dan nenek sedang membuat teh. Memang nenek tinggal bersama Ayana katanya ingin di sini, menghabiskan waktu dengan cicitnya. Mereka juga memang sudah terlihat akrab kan.
Ayana juga suka kalau nenek disini. Jadi Ayana ada teman bercerita. Apalagi Ayana dan juga nenek sudah dekat kan, maka itu tak masalah untuk Ayana. Ayana begitu rindu dengan nenek yang selalu perhatian dengannya dan sekarang dia ada dihadapannya maka Ayana akan menghabiskan waktu bersama nenek sekali dia ada disini.
"Kenapa nenek belum tidur, ini sudah malam nek "
"Nenek nungguin kamu pulang nak, bagaimana kamu sudah berbicara dengan Adnan semuanya. Apakah dia tak mengancam mu atau melakukan hal aneh pada kamu "
"Sudah Nek, aku membiarkan Adnan untuk bisa bertemu dengan anak-anak dan dia juga setuju dengan surat yang aku buat itu. Adnan sama sekali tak melakukan apa-apa nek sama aku. Kalau sampai itu terjadi mungkin aku akan langsung merobek surat itu"
Nenek mengusap tangan Ayana dengan lembut "Nenek akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, semoga saja suatu saat kamu bisa kembali dengan Adnan, meskipun nenek tahu dia sudah membuatmu kecewa dengan sangat dalam sekali. Nenek tidak akan memaksamu Ayana nenek tidak akan melakukan itu, nenek hanya akan mengikuti alurnya saja seperti apa. Tanpa kamu menjadi pendamping Adnan pun kamu tetaplah anak nenek "
"Terima kasih nek terima kasih karena nenek sudah sangat baik sekali dengan Ayana. Ayana tak pernah menyangka akan bertemu dengan orang baik seperti nenek "
Nenek mencium kening Ayana dan membawa Ayana untuk masuk ke kamar. Mereka tidur bersama setelah Ayana mengganti pakaian. Mereka berbaring sama-sama.
"Aku senang sekali nenek datang kemari. Aku tidak menyangka kalau kita berdua akan bertemu lagi nek. Aku merasa kalau kasih sayangmu melebihi dari ibu ku sendiri, bahkan mungkin ibuku tidak pernah menyayangiku seperti ini. Aku bahkan tak pernah merasakan kasih sayangnya. Tapi dari nenek aku mendapatkan semuanya "
__ADS_1
Nenek memeluk Ayana dan mengusap-usap rambutnya "Kamu boleh menganggap nenek seperti ibumu sendiri, dari awal nenek sudah pernah bilang itu padamu kan. Jangan pernah ragu pada nenek, nenek benar-benar menyayangimu seperti anak nenek sendiri. Nenek tidak punya siapa-siapa Ayana nenek sudah ditinggalkan oleh ayahnya Adnan, sekarang yang nenek punya hanya kamu anak-anak dan juga Adnan, nenek tak mau kehilangan kalian semua "
Ayana malah menangis mendengar semua itu. Ayana belum pernah dipeluk seperti ini oleh ibunya. Ayana belum pernah ditemani tidur oleh ibunya. Kalaupun Ayana minta ibunya pasti selalu marah-marah dan mencaci makinya. Belum lagi pukulannya mengunakan gagang sapu.
"Sekarang tidur ya, ini sudah sangat malam sekali. Kamu harus selalu banyak istirahat Ayana, kasih sayang nenek tidak akan pernah pudar sampai kapanpun. Nenek akan tetap seperti ini padamu Ayana"
Air mata Ayana diusap oleh nenek dengan lembut, ditepuknya punggung Ayana dengan perlahan nenek sangat merindukan hal ini. Dulu ayahnya Adnan selalu seperti ini. Tapi itu pun waktu usia belasan tahun.
Kalau sudah dewasa mana mungkin anaknya itu mau, malah gengsi dan tidak mau. Dirinya mengerti anaknya itu laki-laki pasti banyak sekali malunya. Tapi saat bertemu Ayana rasanya dia mendapatkan seorang anak perempuan. Dirinya langsung terpikat dan suka saja dengan Ayana. Padahal sebelum-sebelumnya tak pernah seperti itu.
---------------
Saat Ayana mau membuka pintu alangkah kagetnya ada Adnan di sini, kenapa dia ada di sini "Kenapa kamu datang pagi-pagi seperti ini, sudah aku bilang kan jangan temui anak-anak dulu. Kamu ini bagaimana sih apa kurang jelas kata-kataku itu "
"Tapi aku ingin menemui mereka. Aku sangat ingin bertemu dengan anak-anak Ayana, aku begitu merindukan mereka aku ingin memeluk mereka dan juga dirimu sekalian "
Ayana yang akan menjawab tak jadi, karena tiba-tiba saja ada yang menyelanya "Paman kamu ada di sini, aku tidak mimpikan paman ada disini didepan rumahku "teriak Melinda yang melihat Adnan, dia langsung mendekati Adnan dan memeluk kakinya tapi Melisa yang melihat itu mendekati adiknya dan menariknya dengan kencang.
"Sudah kubilang kan jangan dekati paman itu, dia itu orang jahat apa kamu mau dimana oleh Paman itu "
Ayana menatap Adnan dengan kesal" Kamu ini tak bisa aku beritahu Adnan "
"Melisa kenapa kamu begitu membenci aku, kamu bahkan sudah memukulku. Kamu harus tanggung jawab"
"Itu pantas kamu terima karena kamu jahat dengan Mamaku, kamu telah membuat Mamaku menangis. Kamu jahat Paman sangat jahat sekali "
Ayana membawa Melisa dulu ke arah kamar. Sedangkan Adnan bersama Melinda, di sana juga ada nenek yang menatap mereka berempat. Nenek hanya diam sambil mempersiapkan bekal-bekal untuk cicitnya itu dan juga untuk Ayana.
"Kamu ini Adnan ada-ada saja sudah dibilangin malah kesini "
"Aku ingin melihat mereka nek, boleh buatkan aku kopi nek, aku begitu ingin yang hangat-hangat "
Adnan mendengar suara Melisa yang menangis, Adnan ingin mendekati mereka tapi Ayana langsung menutup pintu, sepertinya mereka ingin membicarakan hal penting.
Adnan jadi tidak bisa mendengarkan percakapan mereka. Adnan hanya bisa diam menunggu mereka kedua keluar. Adnan tak mau membuat Ayana marah dan malah mengusirnya lalu tak membolehkannya untuk dekat dengan anak-anak lagi.
Ayana memeluk anaknya dengan erat" Kenapa Mama membiarkan Paman itu datang kemari lagi. Dia itu kan sudah menyakiti Mama kenapa dia datang kemari Mama, aku tidak suka ada paman Adnan dia itu orang jahat seharusnya aku tadi menggigitnya saja agar dia kapok dan tak datang kerumah lagi "
"Paman tidak pernah menyakiti Mama, kamu tidak boleh seperti itu. Mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk kasar pada orang lain apalagi pada orang dewasa seperti paman Adnan "
"Tapi mama selalu menangis kan kalau melihat foto paman itu, apalagi di televisi bahkan Mama juga menyuruhku untuk tidak menyebut namanya, lihat ekspresi Mama akan seperti ini "ucap Melisa sambil memperagakan ekspresi Ayana kalau sedang sedih. Bukannya marah Ayana malah tertawa dengan tingkah anaknya ini sungguh lucu sekali, rasannya Ayana ingin mengigit pipi anaknya yang mengemaskan itu.
"Mamah dan juga Paman Adnan sudah membereskan semua masalahnya, itu hanya masalah salah paham saja, semuanya sudah baik-baik saja dan mama juga tidak pernah membenci Paman Adnan, kita berdua sudah baik-baik saja "
"Tapi Mama selalu menangis, Mama aku tidak suka kalau ada yang menyakiti Mama aku benar-benar tidak suka ma. Aku benci pada Paman Adnan aku tak suka dia ada disamping kita Ma, mau apa juga dia datang kerumah kita seperti itu "
"Jangan pernah membenci orang seperti itu, Mama saja kan sudah memaafkan Paman Adnan, kami sudah bicara sesama orang dewasa dan semuanya sudah baik-baik saja. Dan kamu juga harus minta maaf pada Paman Adnan kamu sudah memukulnya kan. Mama sudah bilang jangan pernah membenci orang nanti hati kamu akan hitam. Memangnya kamu mau hatimu hitam dan sakit terus "
Melisa langsung menggelengkan kepalanya "Tapi Melisa tidak suka saat melihat Mama selalu menangis seperti itu. Apakah benar Paman itu adalah ayahnya Melisa dan juga Melinda. Dia pernah mengatakan itu pada Melissa, tapi Melisa tak percaya begitu saja. Apalagi Paman itu orang jahat "
"Kapan Paman Adnan berbicara seperti itu, anggap saja Paman Adnan seperti Paman Fabian"
"Mamah bisakah Mama menikah saja dengan paman Fabian, Melinda begitu ingin mempunyai ayah. Paman Fabian itu sangat baik sekali, bahkan paman Fabian sekalu datang kemari. Kami nanti akan punya Ayah Ma kalau Mama menikah dengan Paman Fabian, Mama juga pasti akan selalu bahagia kan kalau menikah dengan paman Fabian "
Menikah dengan Fabian sungguh mustahil. Ayana tidak mau sampai melibatkan kembali Fabian dengan hal-hal lainnya. Fabian begitu baik Ayana tak mau Fabian terus terlihat dalam masalah hidupnya ini, sudah cukup Fabian membantunya.
Ayana tidak bisa membuka hatinya untuk siapapun, Ayana menutup hatinya dengan rapat banyak yang mendekatinya, tapi Ayana menutup diri untuk tidak terbuai lagi dengan sebuah kata cinta.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, ternyata itu adalah Adnan. Adnan berjongkok dan memegang tangan Melisa "Maafkan Paman jika Paman punya salah padamu Melisa. Tapi tolong jangan benci paman, paman akan sangat sedih sekali kalau kamu membenci Paman "
Melissa melepaskan pegangan tangannya lalu merentangkan tangannya untuk dipangku oleh Adnan. Sebenarnya di situ Ayana bingung dengan tingkah Melisa tapi Adnan langsung memangkunya dengan senang.
__ADS_1
"Mama bisa tinggalkan Melisa bersama paman Adnan saja, kami akan baik-baik saja "
"Tidak jangan Ayana, dia ini pasti ingin memukulku lagi. Kamu harus tahu Melisa ini pernah memukulku"
Melisa yang mendengar Adnan berbicara seperti itu langsung melipat tangannya dengan kesal. Kenapa juga bicara dengan Mamanya padahal baru saja Melisa tadi di nasehati tapi sekarang malah paman Adnan berbicara lagi dengan Mamanya. Sangat sulit sekali membuat Mamanya lupa nanti.
"Lain kali kamu tidak boleh seperti itu, kalau misalnya kamu memukul orang lain bagaimana. Aku ini ayahmu makanya aku tidak melawanmu kalau misalnya orang lain bagaimana pasti kamu sudah dilawan habis-habisan. Kamu pasti akan luka-luka Melisa "
"Mama tidak pernah mengajarkanmu untuk seperti itu Melisa, ingat tak boleh seperti itu lagi pada siapapun termasuk pada Paman Adnan "
"Aku minta maaf mah, aku hanya kesal saja dengan paman Adnan yang selalu saja menyakiti mama. Lihat kan sekarang dia mengaku-ngaku lagi sebagai ayahku mau bagaimana mah, apakah aku harus menasehatinya agar tak berbohong seperti ini, Mama juga suka bilang kalau berbohong itu tidak baik lihat Paman Adnan sudah tua tapi masih saja berbohong "
"Ayana boleh aku berbicara dengan Melisa atau mungkin kamu antar Melinda saja ke sekolah, biar Melisa aku yang mengantarkannya. Kamu tidak usah khawatir kami akan baik-baik saja"
Ayana begitu ragu kalau meninggalkan Melisa dengan Adnan. Apakah semuanya akan baik-baik saja, apakah Adnan tidak akan membawa kabut Melisa begitu saja, Ayana begitu takut hal itu akan terjadi.
"Aku tidak akan membawa kabur anakmu, aku tidak hanya ingin Melisa saja tapi aku ingin Melinda dan dirimu Ayana. Aku ingin kalian bertiga. Jadi jangan pernah takut dengan aku. Kamu hanya perlu percaya denganku. Aku tak akan melakukan hal licik seperti itu "
Ayana mendelikan matanya "Kamu yakin tidak akan membawa Melinda kan, aku tidak mau hal itu terjadi. Kamu sudah pernah membuat aku kecewa "
"Aku janji Ayana. Aku tidak akan sepicik itu, kita sudah melakukan perjanjian kan. Maka aku tidak mungkin tiba-tiba menculik anakku sendiri. Aku akan mengantarkan Melisa ke sekolah biarkan kami berdua berbicara, aku ingin menasehati anakku yang cantik ini. Pasti dia nanti akan mengerti dan tak akan seperti itu lagi Ayana "
Meskipun ragu Ayana menganggukkan kepalanya, dia keluar dari dalam kamar. Ayana akan membiarkan Melisa dan juga Adnan berbicara berdua. Semoga saja mereka bisa baik-baik saja. Ayana juga harus mulai percayakan dengan Adnan. Kalau Ayana sudah memberikan sebuah kesempatan berarti Ayana juga harus siapkan dengan anak-anak yang selalu dibawa oleh Adnan.
Melisa sudah mencoba untuk melepaskan pelukan Adnan tapi sangat sulit sekali "Kenapa kamu memelukku dengan sangat erat seperti ini, aku tidak suka. Kamu ini ya memang menyebalkan sekali" protes Melisa sambil cemberut karena tidak bisa memukul lagi Paman Adnan. Kalau saja pelukan ini terlepas Melinda akan menggigitnya dengan keras sekali.
"Aku tidak akan melepaskanmu kamu pasti kamu akan memukulku, aku yakin itu kamu ini anak perempuan tapi tingkahmu seperti laki-laki. Kita akan bicara dan ini hanya kita berdua saja yang tahu, jadi diamlah menjadi anak baiklah jangan terus berontak pada Ayahmu sendiri "
"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan dengan aku. Sampai-sampai Paman menyuruh Mama untuk mengantarkan adikku terlebih dahulu, padahal aku tak mau pergi bersama Paman "
"Iya pokoknya ada, kita harus bicara berdua empat mata. Bukannya kamu sudah dewasa kan, maka kita harus berbicara serius dan hanya berdua saja tak boleh ada yang tahu lagi selain kita berdua ingat itu Melisa"
"Tentu aku sudah dewasa, maka aku akan mengerti semuanya. Nanti kalau saja Paman sampai menyakiti Mamaku lagi aku akan mengigit paman sampai-sampai Paman menangis dan meminta ampun padaku "
"Ya sudah orang dewasa mari kita pergi sekolah dan kita bicara di dalam mobil. Kalau tidak kamu akan terlambat pergi ke sekolahmu, ayo anak dewasa "
"Baiklah"
Melisa turun dari pangkuan ayahnya, Melisa mengambil tasnya dan juga memakai sepatunya. Adnan yang akan membantunya tidak jadi, karena Melisa sepertinya bisa melakukan semuanya sendirian.
Adnan begitu kagum dengan didikan Ayana, anak-anaknya yang sekecil ini sudah bisa memakai sepatu sendiri ya kan kebanyakan anak-anak seumurnya mereka ini masih selalu dipasangkan oleh ibu-ibunya ataupun ayahnya.
Contohnya Kamila, dia bahkan belum bisa memakai sepatunya dengan benar apalagi yang ada talinya dia akan sangat kesulitan sekali dan tas pun pasti ingin selalu dipakaikan.
Mereka berjalan berdua ke arah mobil. Di rumah juga sepi sudah tidak ada siapa-siapa, nenek ikut dengan Ayana tentunya. Saat mau naik ke dalam mobil Melissa tidak mau dibantu oleh Adnan, dia malah meminta bantuan Marco yang memang sudah ada di sini untuk menemani Adnan lagi.
"Paman apa kamu bisa bantu aku untuk naik ke mobil ini. Kenapa ini sangat tinggi sekali, kalau mau kemari gunakanlah mobil yang kecil saja jangan seperti ini "
"Bukannya kamu anak dewasa. Seharusnya kamu sudah bisa naik sendiri kan, tak usah minta bantuan seperti itu "
"Sudahlah Paman Adnan tidak usah ikut campur .Aku sedang berbicara dengan paman yang itu, buka denganmu. Kamu ini sangat cerewet sekali seperti perempuan"
Marco sebenarnya ingin tertawa melihat Adnan yang dimarahi oleh anak kecil, tapi dia mencoba untuk menahannya Marco membantu Melisa untuk naik ke dalam mobil "Terima kasih Paman. Kamu baik sekali tidak seperti paman yang disebelah ini, dia begitu menyebalkan dan jahat sekali "
"Sama-sama Nona kecil"
"Aku Melisa Paman. Jangan panggil aku seperti itu aku tidak suka "
"Baiklah Melisa"
Melisa hanya menganggukkan kepalanya, lalu Adnan membantu Melisa untuk menggunakan sabuk pengamannya. Mereka akan memulai pembicaraan serius, Adnan akan bernegosiasi dengan anak kecil keras kepala ini.
__ADS_1