Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 150


__ADS_3

Ayana menatap bandara, mereka sudah sampai di tempat di mana kesakitan yang selama ini Ayana rasakan. Ayana masih diam menatap semuanya, rasanya masih berat untuk kembali ke mari. Ayana begitu takut apa yang pernah terjadi padannya akan kembali terjadi.


"Kamu tidak apa-apa kan, kamu baik-baik saja sayang"


"Masih ada yang mengganjal tapi aku harus mencobanya, aku akan kuat aku tak apa-apa aku sudah baik-baik saja "


Adnan menganggukan kepalanya "Melisa ayo bawa Mamamu, gandeng tangannya sayang "


Melisa segera menggapai tangan Mamanya, mereka segera berjalan sedangkan Adnan juga mengandeng tangan Melinda di belakang mereka. Melisa senang sekali bisa kembali lagi ke mari, apa lagi sekarang adiknya dan juga mamanya ikut. Ada rasa yang berbeda saja.


"Mamah aku tahu pasti Mama sudah sangat menyukai Ayah, mama sudah menerima Ayah sepenuhnya Mama sudah tidak takut kan datang kemari"


"Sedikit takut tapi karena ada kalian Mama tidak takut, Mama akan berusaha untuk tidak takut lagi"


"Karena ada Ayah juga kan Mah"


Ayana hanya tersenyum kecil saja, lalu Melisa melihat ke sana kemari "Ayah bukannya tadi ada paman Marco, sekarang ke mana Paman Marco. Kenapa aku tidak melihatnya kenapa dia menghilang dengan sangat cepat sekali, padahal dia tadi ada "


"Paman Marko tadi duluan dia harus ke perusahaan, dia harus mengatur semua meeting meeting yang akan Ayah temui, dan juga Paman Marco harus mencari sekolah untuk kalian, Ayah belum menemukan sekolah yang cocok untuk kalian di sini"


Mereka mendatangi sebuah mobil yang paling ujung "Selamat pagi Nyonya tuan dan Nona" sambil menunduk hormat.


Ayana yang masih canggung hanya bisa menganggukan kepalanya dengan senyum yang kecil, dia belum pernah disambut seperti ini. Ya meskipun dulu pernah saat menikah dengan Adnan.


Tapi sekarang Ayana merasakannya lagi. Rasanya aneh saja. Ayana juga belum memberitahu Fabian kalau Ayana sudah ada di sini, nanti Ayana akan menelpon Fabian untuk memberitahunya.


Setelah anak-anak masuk barulah Ayana yang masuk dan juga membantu Ayana untuk masuk. Setelah ada di dalam mobil Adnan menggenggam kedua tangan Ayana dengan lembut.

__ADS_1


"Apakah kamu masih gugup"


"Sedikit, tapi aku akan mencoba untuk bisa terbiasa lagi"


"Aku akan selalu mendukung kamu, aku akan membuat kamu terbiasa lagi disini dan menghilangkan rasa sakit kamu itu "


Ayana mengganggukan kepalanya sedangkan anak-anak mereka sedang melihat gedung-gedung besar. Melisa menjelaskan semuanya pada adiknya dia begitu bersemangat menceritakan semuanya pada adiknya.


Adnan menarik bahu Ayana untuk bersandar di dadanya, lalu Adnan membelai rambut panjang Ayana dengan sangat lembut. Adnan ingin Ayana rileks dan tidak tegang seperti ini. Adnan tahu Ayana sangat ketakutan sekali kalau datang kemari.


Kesakitannya begitu banyak yang dirasakan oleh Ayana, bahkan salah satunya dirinya lah yang telah membuat Ayah sakit. Adnan begitu menyesal sekali telah menyakiti Ayana.


"Ayah ayah bukannya itu jalan ke kantormu kan, aku benar kan "tanya Melisa dengan semangat.


Adnan mengerutkan keningnya Melisa bisa mengingatnya, padahal waktu itu hanya beberapa kali kan. Bahkan Adnan sering tidak membawa Melisa ke kantor, tapi Melisa masih ingat. Melisa juga sering tertidur kalau ke kantor. Tapi dia ingat dengan jalannya, hebat juga anaknya ini.


"Kamu pintar sekali ingat jalannya, ayah sampai kaget Melisa "


"Jangan berpikir seperti itu. Kamu masih kecil kamu tidak boleh melakukannya, kamu harus diantar oleh sopir kalau mau pergi ke kantor Ayah, nanti juga sebelum kalian dapat sekolah kalian boleh main ke kantor ayah kapanpun itu"


Melinda dan juga Melisa menganggukan kepalanya dengan semangat. Kembali Melisa menceritakan berbagai hal pada adiknya itu. Melisa begitu senang sekali menunjuk ini menunjuk itu dan Melinda yang diberitahu ikut senang juga, Melinda begitu antusias sekali mendengar apa yang kakaknya bicarakan.


Adnan melirik Ayana yang hanya diam saja "Ada apa. Kenapa kamu diam saja, apa ingin membeli sesuatu "


"Aku hanya berpikir apakah aku bisa menemukan Ayah kandungku. Aku sangat merindukannya, dia meninggalkanku, aku ingin tahu kenapa dia meninggalkanku. Apa alasannya sampai-sampai Ayah meninggalkan aku bersama ibu waktu itu"


"Nanti kita akan cari, aku akan bantu mencari Ayah kamu. Aku akan berusaha Ayana"

__ADS_1


"Tapi itu sudah sangat lama sekali, Ayah sudah meninggalkanku sejak lama. Aku juga ingin bertanya pada ayah kenapa Ibu sangat membenci aku, sedangkan pada Kakak aku dan juga adikku tidak, kenapa hanya aku saja yang berbeda ada apa "


"Tidak masalah, aku akan mencarinya aku akan mengerahkan orang-orang ku untuk mencari ayahmu. Pasti akan ketemu, pasti akan dengan cepat mereka menemukannya Ayana "


"Terima kasih ya Adnan, kalaupun dia sudah tiada aku ingin tahu di mana makamnya, agar aku bisa datang dan menjenguknya aku begitu rindu dengannya. Aku ingin bertemu dengan ayahku, banyak hal yang ingin aku tanyakan "


"Iya nanti aku akan membantu mencarinya ya, sekarang jangan sedih lagi. Kamu harus tersenyum lihat anak-anak begitu bahagia sekali"ucap Adnan sambil mencubit pipi Ayana.


"Sakit Adnan. Kenapa kamu mencubit pipiku. Pasti merah pipiku ini "


Adnan sengaja melakukan itu agar kesedihan Ayana teralihkan, dari dulu juga Adnan tahu kalau Ayana itu sedang mencari keberadaan ayahnya yang sudah lama hilang. Tidak tahu ayahnya itu di mana apakah sudah tiada atau masih hidup.


Adnan meraih dagu Ayana dan mencium bibirnya "Aku suka sekali mencium bibirmu ini tahu "


Ayana mendorong bibir Adnan untuk tidak terlalu dekat dengannya "Kamu ini ada anak-anak"


"Tidak apa anak-anak juga sedang fokus, lihat mereka sedang melihat gedung-gedung besar apa kamu tidak mau melihat pemandangan kota ini yang sekarang, sekarang kota ini sangat padat sekali Ayana. Lebih dari dulu memang kamu tidak mau melihatnya"


"Tidak nanti juga aku bisa melihatnya, kamu tidak boleh melakukan itu lagi bagaimana kalau anak-anak sampai melihatnya. Mereka itu masih kecil mata mereka tidak boleh ternodai dengan hal-hal seperti itu, kamu selalu saja melakukan hal itu padaku tanpa memikirkan siapa yang ada di samping kita"


Adnan yang gemas malah makin memeluk Ayana dengan erat, rasanya mereka ini seperti sekeluarga kecil Adnan senang melihat Ayana yang tidak marah-marah saat dia peluk maupun cium.


Berarti Ayana sudah menerima dirinya kan, hanya saja Ayana gengsi untuk mengatakan semuanya, memang gengsi perempuan itu sangat besar sekali. Adnan kadang-kadang selalu aneh.


Adnan tidak akan pernah menyia-nyiakan apa yang telah Ayana berikan, Ayana sekarang sedang memberikannya sebuah kesempatan. Makannya sekarang Adnan harus bisa menjaganya tidak boleh mengecewakan Ayana lagi. Adnan tidak mau kehilangan Ayana dan juga anak-anaknya.


Ayana akhirnya yang ingin melihat keadaan sekitar menatap ke arah jendela yang dekat Adnan, kota ini memang benar-benar sudah berubah dulu Ayana saat masih di sini belum banyak gedung besar dan tinggi.

__ADS_1


Tapi sekarang sudah sangat padat sekali. Dulu saja saat akan mencari pekerjaan begitu sulit sekali untuk Ayana. Kalau tidak ada Fabian mungkin Ayana tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan. Fabian yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya.


Ayana akan mencoba hidup lagi di sini, meskipun sakit hatinya itu kembali terbuka tapi mau bagaimanapun hidup akan terus berjalan. Ayana tidak mau membuat anak-anaknya kecewa, anak-anaknya sangat ingin kemari maka Ayana harus mengesampingkan dulu segalanya.


__ADS_2