
"Sayang kita harus pulang sekarang, ada masalah di kantor aku tidak bisa menundanya lama-lama jadi kita tunda dulu ya bulan madunya tidak masalah kan"
"Aku tidak masalah, nanti saja " Ayana mengusap rambut suaminya dan turun mengusap pipinya.
"Terima kasih sayang karena kamu sudah mengerti'
"Sama-sama aku akan membereskan pakaian kita dulu ya "
Adnan menganggukan kepalanya, Adnan kembali sibuk dengan laptopnya sedang Ayana membereskan semua pakainnya.
"Sudah semuanya, tinggal pulang "Ayana juga sudah berganti pakaian.
"Sayang, ayo aku sudah membeberkan semuanya mau pulang sekarang "
Adnan menatap istrinya dan tersenyum "Mari sayang, kita pulang ya. Aku sudah menyiapkan segalanya untuk kamu "
Adnan merangkul pinggang istrinya dan mengecup pipinya dengan mesra "Sini biar aku yang bawa kopernya sayang "
Adiba hanya menganggukan kepalanya, Adnan mengambil alih dan kopernya dan memasukannya kedalam mobil.
...----------------...
"Adnan kamu membeli rumah yang sangat besar lagi.
Kenapa tidak membeli rumah yang sederhana saja. Kita hanya tinggal berdua, aku malah jadi takut kalau misalnya kamu ga ada aku takut "
__ADS_1
Adnan memeluk istrinya dari belakang dan mencium pipinya "Kenapa aku suka rumah seperti ini, aku sudah bilang kan nanti kita akan punya anak dan aku tidak mau sampai kita pindah rumah lagi pindah rumah lagi, lebih baik ini saja jadi kita akan terus menetap di sini sayang tak akan pindah kemana-mana"
"Hemm, yasudah lalu apakah akan ada orang yang tinggal lagi disini Adnan. Aku benar-benar tidak mau kalau sendiri saat kamu nanti lembur "
"Tidak sayang nanti ada pelayan dan juga ada satpam, kamu tenang saja kamu tidak akan kesepian. Aku ga mungkin biarin istri cantikku ini sendirian "
Ayana membalikan badannya dan menatap suaminya "Tapi aku masih boleh bekerja kan, aku masih ingin bekerja "
Adnan menggelengkan kepalanya "Tidak kamu tidak boleh bekerja, kamu harus diam di rumah sudah tidak usah memikirkan pekerjaan. Aku kan ada jadi kamu ga usah cape-cape kerja "
"Tapi kan kita sedang menyembunyikan pernikahan kita, aku tidak mungkin tiba-tiba keluar begitu saja aku harus bekerja. Kalau aku tidak bekerja mereka akan curiga padaku "
Adnan menghembuskan nafasnya dengan pelan "Baiklah jika itu kemauanmu, tapi jika ada apa-apa aku tidak mau sampai kamu bekerja lagi"
"Tentu nanti kalau aku sudah mengandung aku tidak akan bekerja lagi, aku akan terus ada di rumah aku janji itu sama kamu "
"Baiklah hati-hati dijalan"
"Iya sayang"
Setelah mencium seluruh wajah istrinya Adnan pergi dari rumah itu untuk pergi ke kantor, mengurus masalah yang katanya sangat genting sekali.
Ayana yang memang selama ini tidak menyalakan ponselnya segera menyalakannya, banyak sekali panggilan tak terjawab dari ibunya dari Lili dari Fabian semuanya banyak yang menelpon Ayana.
Baru saja Ayana akan menyimpan ponselnya, ponselnya itu sudah berdering ibunya menelfon pasti ibunya ingin minta uang. Ayana yang tidak mau sampai nanti ibunya membuat masalah mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Halo ada apa Bu"
"Ada apa ada apa kamu ini gila Ayana, kamu ini udah ga pulang beberapa hari mikir ga sih kamu punya otak ga sih sebenarnya. Tinggalin rumah tapi ga kasih uang sedikitpun sama ibu kamu ini, punya perasaan ga sih"
Benarkan apa yang Ayana pikirkan, ibunya pasti menelepon hanya untuk menanyakan uang bukan menanyakan kabar Ayana bukannya bertanya keadaan Ayana, apakah Ayana baik-baik saja, di mana kenapa pergi ada masalah apa, tidak ibunya tidak akan peduli dengan semua itu. Memang ibunya ini benar-benar.
"Maaf Bu Ayana masih waras dan Ayana juga tidak gila. Jadi ibu bisa sedikit tenang gak kalau bicara sama Ayana. Bisa ga bu ga sambil marah-marah kayak gini Ayana juga punya hati Bu "
"Alah punya hati punya hati. Makanya kalau nggak mau dimarahin kayak gini itu kasih uang, ibu itu butuh buat makan kamu juga harusnya pulang ke sini, ga ada yang masak nggak ada yang beres-beres rumah. Kamu ini gimana sih jadi anak, kalau mau pergi itu simpan uang di sini jangan tiba-tiba pergi menghilang kayak gitu aja, ponsel kamu juga sama ga aktif, semuanya ga aktif "
"Nanti Ayana kirim uang sama ibu "
"Ibu maunya sekarang bukan nanti, Ibu minta uangnya sekarang dimana kamu sekarang ibu susulin, ibu ambil uangnya harus dua kali lipat dari sebelumnya 6 juta pokoknya"
"Maaf Ayana cuman bisa kasih 3 juta seperti biasanya, kan 1 bulan sekali Ayana kasih 3 juta bu bukan 6 juta"
"Pokoknya Ibu mau 6 juta ga mau kurang dari itu. Kamu itu kerja emangnya buat siapa, kamu harus balas budi sama ibu karena Ibu telah sekolahin kamu, urus kamu. Kamu harus sadar diri Ayana, kalau ga ada ibu kamu ga akan hidup Ayana kamu mungkin sudah mati "
"Aku ngerti kok Bu, tapi setidaknya bagi-bagi tugas ga aku aja yang kasih uang, bukannya aku perhitungan tapi seenggaknya kalau aku nggak ngasih atau aku belum ngasih Ibu bisa minta dulu sama Kak Arman atau sama ayah kan ada mereka juga sama-sama kerja kan. Di sini bukan aku aja yang kerja Bu"
"Banyak alasan kamu ini, selalu saja seperti itu. Cepat pulang berikan Ibu uang, mau pergi kemanapun nanti tapi uang harus terus mengalir pada ibu ingat itu Ayana"
Telfon langsung dimatikan oleh ibunya Ayana hanya bisa memijat keningnya, rasanya pusing sekali. Ibunya kenapa harus seperti ini. Kenapa Ibunya egois kenapa Ibunya perhitungan selalu saja itu yang ada di pikirannya itu.
Ayana membuka tasnya dan melihat mas kawin yang Adnan berikan, ada uang dan juga Mas. Ayana akan simpan semua ini karena Ayana entah kenapa punya firasat buruk, takut-takut nanti orang tua Adnan akan melakukan sesuatu Ayana masih punya pegangan kan.
__ADS_1
Nanti Ayana akan menyimpannya di tempat aman, semoga saja firasat buruk itu tidak akan pernah terjadi, semoga saja rumah tangganya bersama Adnan baik-baik saja dan Mamanya Adnan juga bisa menerimanya dengan baik setelah adanya pernikahan ini.
Ya doa kan saja semoga semuanya akan baik-baik saja. Tak akan mungkin kan ibunya Adnan akan seperti itu terus.Pasti akan ada berubahnya tak akan keras kepala terus.