Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 123


__ADS_3

Setelah mereka diam cukup lama Melisa kembali bertanya "Kenapa Paman bekerja sangat jauh dan harus bolak-balik seperti ini, kenapa juga tidak pindah saja tempat kerjanya kenapa juga Paman harus meninggalkan mamaku lama sekali Paman, aku belum puas dengan jawaban kamu waktu itu "


"Dulu ayah dengan mama tinggal dekat, sangat dekat sekali bahkan kami berdua satu rumah tapi ada sebuah kesalahan yang membuat Mama pergi itu salah ayah. Tapi mamamu sama sekali tidak membalas apa-apa pada Ayah"


Melisa menatap wajah ayahnya sekilas, lalu kembali melihat ke arah jendela" Mamah ini kenapa tidak menggigit Paman saja atau mungkin memukul Paman saja. Paman kan berbuat salah seharusnya Mama berani melakukan itu, kalau aku jadi Mama pasti aku akan memukul Paman dengan sangat kencang sekali"


"Iya seharusnya mamamu melakukan itu, tapi dia tidak melakukannya, kalaupun Ayah menjadi mama ayah akan melakukan itu, akan memukul orang yang telah menuduh Ayah yang tidak-tidak"


"Paman juga kenapa coba menuduh Mama yang tidak-tidak, Paman ini membuat Mama kesal saja. Paman ini memang orang menyebalkan"


"Namanya juga kesalahpahaman Melisa, tidak pernah ada yang tahu kan, ayah juga tidak menyelidikinya waktu itu seharusnya Ayah lebih teliti lagi"


"Yah seharusnya Paman itu lebih pintar. Mama itu kan perempuan, perempuan itu harus dikejar perempuan itu harus diperjuangkan paman, jangan ingin menang sendiri paman "


"Tahu dari mana kamu tentang masalah seperti itu" Adnan tentu saja penasaran kenapa anaknya tahu tentang hal seperti itu.


"Aku sering menonton film bersama mama dan juga Melinda, film drakor tahu kan Paman, nah kadang perempuan itu mau dikejar terus harus diperjuangkan juga"


"Kecil-kecil sudah menonton seperti itu"


"Tapi seru, sudah kembali pada topik saja Paman, apakah Paman benar-benar mencintai mamaku"


"Tentu saja aku mencintainya, untuk apa aku mengejarnya kembali kalau aku memang tidak mencintainya aku tidak akan mungkin menemuinya lagi"


"Tapi sepertinya mamaku juga suka dengan paman "ucap Melisa sambil melihat raut wajah ayahnya.


"Sudah aku duga mamamu akan suka juga padaku, mana mungkin sih mamamu tidak suka denganku"


"Paman ini selalu saja kepedean"


"Apa kamu tidak mau tidur Melisa "

__ADS_1


"Memangnya ini jam berapa paman, aku belum mengantuk"


"Jam 12.00 malam, seharusnya kamu sudah tertidur dari tadi jam tidur kamu sudah terlewat Melisa "


"Sudah sangat malam sekali ternyata, aku terlalu banyak mengobrol dengan paman. Ya sudah aku akan pergi ke kamar dulu aku mau tidur ya paman"


"Ya sudah sana"


Melisa segera turun dari pangkuan ayahnya, dia berlari ke arah kamar. Sedangkan Adnan masih duduk di sana dia tersenyum senang melihat Melisa yang santai dan juga tidak marah-marah saat mengobrol dengannya, sepertinya Adnan akan cepat bisa mendekati anaknya itu.


Nanti lihat saja Adnan akan memeluk Melisa sampai pagi tanpa dia ketahui, Adnan juga ingin tidur bersama anaknya itu, kalau dengan Melinda sih sudah pernah kalau Melisa sulit meskipun pernah waktu itu tapi ya seperti itulah kalian tahu bagaimana.


...----------------...


Adnan menarik kaki Melisa dengan perlahan "Melisa ayo bangun kita sudah sampai apa kamu mau menginap di sini"


Melisa menggeliat, lalu dia membuka matanya dengan perlahan, Melisa mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu lalu duduk dan menatap ayahnya "Secepat itukah aku kira masih lama, oh ya Paman pakaianku mana"


"Kamu simpan di mana kemarin, ayah tidak tahu kamu kemarin menyimpannya dimana "


"Nanti sebelum pergi ke kantor kita ke rumah dulu ya, kamu juga ingin tahu kan rumah ayah "


"Bagaimana Paman saja, yang terpenting aku tidak ditinggalkan"


Melisa membawa tasnya ke arah kamar mandi Adnan menghentikan langkah Melisa "Apakah tidak mau Ayah bantu"


Melisa memasang wajah cemberut "Aku ini sudah besar Paman, apa kamu tidak malu melihat aku yang sedang mandi. Aku tidak mau aku bisa melakukannya sendiri, aku juga bisa menggunakan pakaianku sendiri. Lebih baik Paman sana bersiap aku akan bersiap dalam beberapa menit tidak akan lama aku"


"Sama Ayah sendiri saja malu, aku ini ayahmu loh Melisa"


"Tetap saja Paman itu laki-laki, aku bisa sendiri Mama sudah mengajarkan segala hal pada kami berdua, jadi aku bisa ayah"

__ADS_1


Melisa langsung pergi masuk ke dalam kamar mandi. Adnan hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tingkah anaknya itu. Adnan mengambil laptopnya kembali untuk kembali mengerjakan pekerjaan kantornya yang memang sangat menumpuk sekali, sambil menunggu Melisa.


Tidak butuh waktu lama Melisa sudah keluar dengan pakaian yang rapi, rambutnya juga sudah rapi sudah disisir, Melisa menggunakan pakaian yang dirinya belikan waktu itu Adam tersenyum melihatnya.


"Hemm, tidak buruk juga ternyata"


"Apa yang tidak buruk Paman. Memangnya penampilan aku jelek, lihat pakaian ini sangat cantik gaun ini sangat cantik paman "


"Iya iya cantik kan ayah yang beli"


Melisa hanya diam saja lalu dia mendekati Adnan dan memberikan tasnya "Kita turun sekarang Paman"


"Tentu ayo kita turun"


Adnan segera menggandeng tangan Melisa, tadinya mau digendong oleh Adnan tapi Melisa tidak mau jadi Adnan hanya memegang tangannya saja, memang anak ini penuh dengan gengsi mereka keluar dari dalam pesawat.


Melisa begitu bersemangat saat mereka keluar dari pesawat, karena memang pada kenyataannya Melisa suka tempat baru, suka makanan baru, suka lingkungan baru pokoknya suka yang baru-baru deh.


"Paman Marco halo Paman "teriak Melisa sambil melambaikan tangannya pada Marco yang tak jauh dari mereka berdua.


Melisa langsung melepaskan genggaman tangan ayahnya dan mendekati Paman Marco, lalu dia memeluk Paman Marco dengan erat "Apa kabar Paman Marco, kamu sudah lama tidak datang ke rumah"


"Kabarku baik Melisa bagaimana dengan kamu"


"Seperti yang bisa Paman lihat aku baik-baik saja, Paman boleh gendong aku"


"Tentu saja Melisa "


Marco langsung menggendong Melissa, Adnan yang melihat itu tentu saja mendengus, tadi olehnya tidak mau tapi oleh Marco mau "Kamu ini sama ayah sendiri nggak mau digendong, tapi sama Marco mau aja"


Melisa malah menjulurkan lidahnya pada ayahnya "Aku tidak mau digendong oleh Ayah, lebih baik digendong oleh Paman Marco, ayo paman kita pulang kata Paman Adnan kita akan pulang dulu ke rumahnya, aku ingin menelusuri rumah paman Adnan apakah layak untuk nanti aku tinggali bersama Melinda dan juga mama"

__ADS_1


"Baik nona kecil kita akan berangkat ke rumah "


Sebenarnya Marco ingin tertawa dengan ucapannya Melisa, tapi dia menahan semuanya dia tidak mau malah nanti dimarahi. Marko segera berjalan di belakang Adnan, tadi Adnan sudah berjalan terlebih dahulu.


__ADS_2