
Anak-anak sekarang ada di ruangan kepala sekolah. Melisa masih saja menatap Alifah dengan tatapan tajam. Melisa hanya ingin Alifah minta maaf pada teman-temannya tapi apa dia malah menangis, Melisa baru pertama kali melihat temannya selicik ini.
"Aku tidak salah ibu, yang salah Melisa, Melisa itu preman dia itu tak cocok sekolah disini, seharusnya dia dikeluarkan dari sini ibu "
"Hey kenapa aku yang kamu salahkan, jelas-jelas memang kamu yang pertama menganggu kami, huff jangan seperti itu kamu ya, kamu itu masih kecil tahu tapi sudah berbohong. Coba ibu kepala sekolah lihat CCTV semuanya ada di sana buktinya"
Pintu ruangan kepala sekolah langsung dibuka. Ternyata yang datang mamanya Alifah dia melipat tangannya. Alifah langsung menangis dengan histeris, benar-benar Melisa yang melihatnya sangat muak sekali.
"Oh jadi anak ini yang membuat anakku menangis, kamu ini masih kecil tapi sudah berani melakukan kekerasan pada anakku "teriak ibunya Alifah pada Melisa.
"Tenang Bu jangan seperti itu, kita belum melihat CCTV Ibu juga tidak boleh membentak murid saya seperti itu. Tak baik Bu Melisa ini sama seperti anak ibu yang masih kecil "
Mamanya Alifah langsung melipat tangannya kesal, dia juga langsung memangku anaknya tapi tatapannya masih menatap ke arah Melisa dengan tajam. Melinda yang memang ada di sana hanya bisa bersembunyi di belakang tubuh kakaknya.
Melinda takut kalau ada orang yang marah-marah, karena mamanya tak pernah seperti ini. Tak pernah berteriak juga. Kalau pun mereka salah mamahnya akan memberitahu dengan perlahan tanpa harus berteriak-teriak seperti itu.
Kepala sekolah langsung memutar CCTV yang dari tadi diminta oleh Melisa, dan benar saja di situ yang salah adalah Alifah yang selalu mengganggu teman-temannya.
Bahkan bukan hanya pensil warna Melinda saja yang dipatahkan, banyak lagi murid-murid laki-laki juga sama diganggu oleh Alifah. Ada juga buku gambarnya yang disobek, banyak lagi kelakukan Alifah yang membuat teman-temannya marah.
"Lihat ibu benarkan kata aku, memang Alifah yang salah seharusnya dia yang minta maaf. Lalu kenapa harus aku yang minta maaf tadi, jelas-jelas sudah ada bukti Alifah yang salah"
"Diam kamu anak kecil, kamu itu tidak tahu apa-apa, mana orang tuanya mana kenapa nggak datang. Saya ingin bicara dengan orang tuanya bagaimana cara mendidik anaknya ini, sungguh jelek sekali cari mendidiknya ini "
"Jangan berkata seperti itu Mamaku mendidik kami dengan baik, makanya aku berkata jujur seperti ini kenapa juga mamanya Alifa ini tidak meminta anaknya untuk meminta maaf pada kami, pada semua anak yang pernah di jahili oleh Alifa "
__ADS_1
Mamanya Alifah yang kesal mendengar Melisa yang terus saja berbicara akan menamparnya, tapi tangannya itu langsung ditahan oleh ibu kepala sekolah "Ibu kenapa melakukan kekerasan seperti ini, saya tidak pernah ta seperti ini, saya bisa saja mengeluarkan Alifah dari sekolah ini. Tunggu orang tuanya datang jelas-jelas di sini Alifah yang salah kan, jangan main kekerasan seperti ini pada anak Bu. Ibu bisa dituntut "
"Lepaskan kamu mau dipecat dari sekolah ini hah, jangan macam macam dengan aku, suamiku bisa menyingkirkan kamu dengan cepat tahu "
Pintu ruangan itu kembali diketuk dan ternyata itu Adnan yang juga Ayana yang datang. Ayana begitu khawatir saat tadi diberitahu kalau anaknya bertengkar, Ayana langsung mendekati putri-putrinya itu Melinda yang langsung memeluk mamanya.
Melinda sudah sangat ketakutan sekali, kakaknya akan dipukul tadi.
"Oh jadi ini orang tuanya" sambil menatap Ayana dari atas sampai bawah, lalu tersenyum miring seperti meremehkan Ayana.
"Sungguh tidak level dengan saya, akan saya adukan dengan suami saya dan suamimu akan kehilangan pekerjaannya berani sekali dia pada anakku, sampai-sampai anakku menangis seperti ini. Kalian akan tahu rasa karena berurusan dengan aku. Tak akan pernah aku lepaskan kalian ingat itu "
Ibu kepala sekolah itu sangat takut saat melihat raut wajah Adnan, apakah orang tua yang ada di depan ini tidak tahu siapa Adnan sampai-sampai berani mengatakan seperti itu.
Mamanya Alifah langsung saja maju "Bagaimana kamu mendidik anakmu ini, dia itu sudah membuat anakku menangis kalian ini tidak becus mendidik anak, kalian ini kurang mendidik anak kalian sampai-sampai dia tak sopan pada orang tua, didik yang benar kalau belum siap punya anak tak usah punya hanya merepotkan orang lain saja "
Ayana yang jelas-jelas mendidik anaknya dengan baik langsung maju "Maksud ibu apaan mendidik seperti apa, saya sudah mendidik anak saya dengan benar untuk selalu berkata jujur. Jangan merasa kalau ibu ini sudah baik ya "
"Jadi kamu yang mendidiknya anakmu itu, terlalu berani sama orang dewasa. Sama saya aja berani anak saya aja sampai nangis-nangis dia yang salah dia yang nggak mau minta maaf, ajarkan anak mu itu untuk selalu minta maaf kalau salah, jangan dibiarkan sangat memalukan sekali anak kamu ini "
"Sudah ibu-ibu begini Ibu Ayana, memang yang salah itu Alifah dan dia tidak mau minta maaf dari tadi Melisa hanya menjelaskan yang sebenarnya. Ayo Alifah minta maaf pada Melisa dan juga Melinda serta teman-teman yang lain, jangan sampai nanti mereka akan menjauhi kamu. Ayo kita minta maaf sama-sama akan ibu temani ya "
"Tidak anakku tidak akan pernah minta maaf, akan aku suruh suamiku datang kemari akan aku usut dan kamu sebagai kepala sekolah akan aku pastikan kamu dipecat dari sini, aku tak akan membiarkan hidup kamu tenang disini "
Ibunya Alifah itu langsung saja pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah sambil membawa anaknya. Adnan masih menatap orang itu dia seperti mengenal perempuan ini tapi di mana ya.
__ADS_1
Adnan sedang mengigat-ingat dan nanti lihat saja apa yang akan dirinya lakukan. Angkuh sekali perempuan itu seperti suaminya punya segalanya saja. Adnan jadi penasaran sekali.
*Maaf Pak Adnan, sekali lagi saya minta maaf atas kesalahpahaman ini. Memang ini bukan salah anak-anak Bapak, sekali lagi saya minta maaf " kepala sekolah yang melihat tingkah orang tua muridnya malah jadi malu sendiri kan.
"Iya aku tahu anak-anakku mana mungkin membuat masalah, siapa perempuan itu aku minta data anaknya. Semua yang lengkap jangan sampai ada yang kurang sedikit pun "
Kepala sekolah itu dengan tergopoh-gopoh langsung memberikan data-data dari orang tua murid .Adnan sekarang tahu anak siapa itu, ini kan pegawainya suaminya bekerja di perusahaannya, lebih tepatnya di anak perusahaannya.
"Baiklah jika nanti ada masalah lagi anak itu dan juga putriku langsung hubungi aku saja, dan kamu juga hubungi ibu dan ayahnya. Aku ingin melihat seperti apa nanti respon suaminya itu melihat istrinya yang tak sopan seperti itu "
"Baik Pak sekali lagi saya minta maaf Pak"
Adnan hanya menganggukan kepalanya dan membawa kedua putrinya keluar dari ruangan itu. Ayana juga kesal dengan tingkah Ibu dari temannya itu kenapa begitu angkuh sekali, hanya minta maaf padahal sudah ada bukti kalau yang salah itu anaknya tapi dia seperti menolak segalanya.
Malah bicara tentang mendidik juga lagi, memang selama ini bagaimana dirinya mendidik tentu saja benar. Tak pernah ada yang salah.
"Mama Melinda takut "
Adnan yang mendengar anaknya ketakutan segera memangkunya dan setelah berpamitan pada kepala sekolah mereka keluar.
Melisa sendiri dia jalan terlebih dahulu untuk mengambil tas mereka yang ada didalam kelas. Melisa tak ada takut-takutnya malahan seperti semuanya tak terjadi apa-apa.
"Melisa apakah kamu tidak takut "
Melisa menatap ayahnya sekilas "Untuk apa aku takut kalau aku sama takutnya seperti Melinda siapa yang akan melindunginya, tidak akan ada. Aku sebagai kakak harus selalu berani apapun itu masalahnya"
__ADS_1