
"Lihat Ayah pensil warnanya patah, ini adalah pemberian dari Paman Fabian saat kami berdua ulang tahun yang ke-3 tahun. Kenapa juga Alifah sangat jahat sekali "adu Melinda pada ayahnya sambil memperlihatkan pensil warnanya itu, padahal Melinda sangat suka dengan pensil warna ini.
"Kita beli lagi ya, ayah akan belikan yang baru bagaimana"
Melinda masih saja murung sebenarnya Melinda tidak mau membeli kembali pensil warna, tapi Melinda sangat membutuhkannya Melinda sangat suka menggambar, tapi Melinda janji akan menyimpan kenang-kenangan ini dari Paman Fabian. Sudah lama juga mereka tak bertemu.
"Baiklah Ayah kita beli yang baru ya, aku butuh sekali untuk menggambar"
"Tentu sekarang kita pergi ke toko dulu, kita beli ya pensil warna yang kamu mau kalau Melisa apakah butuh sesuatu" Adnan menatap Melisa yang diam saja.
Melisa menggelengkan kepalanya "Pensil warna Melisa masih bagus lebih baik ayah belikan dulu saja untuk Melinda, dan aku juga minta pada ayah untuk membelikan temanku Ayu pensil warna. Kasihan dia tidak punya pensil warna dan Alifa juga sering mengganggunya karena katanya mamahnya Ayu bekerja di rumahnya Alifah, makanya Alifah selalu seenaknya pada Ayu"
"Ayu yang mana, teman kamu yang mana"
Melisa mendekati ayahnya dan duduk di pangkuannya, yang menyetir sekarang adalah paman Marco, Melisa juga tadi ayahnya hanya datang bersama mamanya saja ternyata ada paman Marco juga.
"Ayah tidak akan tahu nanti kalau misalnya ke sekolah lagi aku akan tunjukkan, kasihan sekali dia selalu saja dijahili oleh Alifah bahkan pernah kursinya ditarik sampai-sampai katanya bokongnya sakit, itu kan sangat berbahaya Ayah, Ayah harus menindaklanjuti tingkah Alifa itu sudah banyak korban, teman-teman yang lain juga sudah tidak suka"
"Semenjak kami berdua masuk Alifah itu makin menjadi-jadi saja, kalau saja Melinda tidak aku jaga mungkin Melinda sudah didorong, sudah disakiti dia itu entah kenapa menyebalkan sekali "adu Melisa dengan wajah yang bersungguh-sungguh, Melissa juga sudah tidak suka dengan tingkah Alifa yang seperti itu mencelakai banyak temannya.
"Lalu apakah ibu guru tidak bertindak ?"
__ADS_1
"Mereka selalu bertindak ayah tapi tetap saja Alifa akan melakukan hal yang sama seperti tadi, dia tidak akan mengaku dia malah akan menangis teman-teman juga tidak mau menemaninya karena dia itu menyebalkan sekali. Padahal kalau ingin punya banyak teman kan kami juga mau berteman dengannya, tapi sikapnya yang seperti itu membuat kami enggan untuk menemaninya tidak ada hari selain mengganggu kami"
"Baiklah nanti kita bicarakan lagi masalah ini, ayah juga tidak suka kalau ada teman yang seperti itu di sekolah sangat mengganggu sekali"
"Iya Ayah makanya, lebih baik ayah pindahkan saja Alifah itu ke sekolah lain, kalau tidak jangan di sekolah kan deh karena akan berbahaya untuk anak-anak lain. Aku paling kasihan dengan Ayu kalau misalnya Ayah punya pekerjaan untuk mamanya tolong Ayah tarik saja Mamanya itu dari pekerjaan nya di rumah Alifah, Ayu itu sangat malang sekali dia tidak bisa melawan Alifah. Karena kekuasaannya itu"
"Nanti deh ayah ketemu dulu sama Ayu nya. Ayah tidak bisa tiba-tiba mengambil mamanya untuk bekerja di tempat ayah, kalau misalnya mamanya tidak mau bagaimana"
"Aku yakin mamanya Ayu mau, bahkan buku Ayu saja sampai dirobek waktu itu. Ayu sudah menggambar bagus-bagus dia juga meminjam pensil warna aku. Aku tidak keberatan sama sekali tapi saat sudah jadi Alifah malah menyobekkan nya dia itu benar-benar tidak tahu diri ayah"
"Baiklah nanti ayah akan coba bantu ya sebisa ayah"
"Terima kasih Ayah kamu memang baik "Melisa bangkit dan mencium pipi ayahnya, Melisa kembali duduk anteng di pangkuan ayahnya, Melisa senang kalau Ayahnya sudah mau membantunya seperti ini.
"Ayah ayah lihat ini pensil warnanya banyak sekali "tunjuk Melinda pada pensil warna yang ada di hadapannya Melinda begitu tertarik dengan pensil warna ini pasti semua warna ada di sini, itu sudah lengkap sekali "
"Melinda mau"
"Tentu aku mau, ini bisa dipakai oleh aku dan juga Kakak kalaupun nanti teman-temanku mau meminjam mereka bisa memakainya ini sangat banyak sekali ayah aku mau"
Adnan mengambil satu pensil warna itu, "Apakah kamu mau membeli lagi"
__ADS_1
"Untuk temanku Ayah boleh kan membelinya"
"Tentu Boleh "Adnan mengambil beberapa lagi pensil warna yang isinya banyak itu, sedangkan Melisa dia memilih-milih pulpen yang lucu-lucu dan juga pensil pensil lalu memperlihatkannya ke arah ayahnya.
"Aku ingin ini Ayah, ini untuk dibagikan pada teman-temanku pasti mereka akan senang sekali"
"Kalau untuk Melisa sendiri yang mana, dari tadi Melisa terus memikirkan orang lain terus"
"Karena Melisa punya, punya Melisa masih bagus Melisa hanya ingin memberi mereka hadiah karena sudah menerima Melisa dan juga Melinda menjadi teman mereka. Melisa dan juga Melinda ini adalah anak baru ayah tapi mereka begitu baik langsung menyambut kami dan mau berteman dengan kami juga, jadi tolong belikan ya Ayah ini untuk hadiah mereka agar mereka tetap mau menjadi teman kami"
Adnan tersenyum melihat tingkah Melisa memang mungkin Melisa terlihat seperti anak yang jutek, tidak peduli tapi sebenarnya sebaliknya Melisa sangat baik sekali dengan siapapun.
Apalagi Melisa selalu saja menjaga adiknya ini Melisa tidak pernah melepaskan Melinda, Melisa selalu menggenggam erat tangan adiknya itu, semoga saja hal ini akan berlangsung sampai mereka dewasa. Adnan tidak mau nanti di antara anak-anaknya ini ada pertengkaran.
Setelah semuanya terbeli mereka segera masuk ke dalam mobil. Ayana kaget saat melihat Adnan membeli banyak sekali pensil warna.
"Apakah ini tidak salah. Kenapa banyak sekali pensil warnanya"
"aini untuk teman Melinda mama, mama jangan marah ya pada ayah, Melinda juga beli pensil warna yang isinya banyak agar nanti tidak habis-habis"
"Baiklah kalau begitu, kalian harus selalu menjadi anak baik ya. Jadi anak jujur dan jangan pernah membuat orang lain menangis"
__ADS_1
Melisa dan juga Melinda langsung menganggukan kepalanya, mereka juga melihat-lihat pensil warna dan juga buku-buku kecil yang mereka beli tadi di dalam mobil semuanya barang-barangnya malah mereka buka dan diperlihatkan pada Ayana apa saja yang mereka beli tadi di dalam.