
Mama Linda sekarang sedang belajar berjalan, Fira yang melihat itu tidak senang dia mendekati Mama Linda dan sedikit mendorongnya sampai-sampai Mama Linda jatuh. Fira tersenyum puas setelah melakukan itu. Tak ada penyesalan sama sekali hanya kesenangan saja yang Fira rasakan.
"Ups Mama mertua maafkan aku, mama jadi terjatuh seperti ini aku tidak sengaja aku kira tadi tidak ada Mama. Hebat sekali ya Mama udah bisa jalan lagi sekarang meskipun masih kayak keong sih, pelan-pelan banget tapi pengobatan yang Adnan kasih benar-benar bagus ya sampai-sampai Mama sebentar lagi akan bisa jalan, tapi aku ga bisa biarin itu "
Mama Linda yang akan berbicara sulit sekali, memang sudah bisa tapi hanya sedikit-sedikit saja seperti anak kecil yang baru belajar bicara lagi saja seperti itu. Mama Linda sangat tersiksa dengan keadaannya ini.
Fira berjongkok dan menatap Mama Linda dari dekat "Aku kira mama waktu itu saat aku dorong akan langsung mati, tapi nyatanya Mamah malah masih hidup tapi tenang saja mungkin nanti aku punya rencana untuk bisa menghabisi Mama. Senang sekali membuat drama dengan Mama, apalagi Adnan yang mudah dibodohi dia itu terlalu bodoh anak Mama itu bodoh sekali sampai-sampai dibohongi seperti apa saja percaya, seperti Mama contohnya kalian ini sama, ya karena anak dan ibu ya maklum "
Mata Mama Linda langsung melotot mendengar itu, dia mencoba menggapai wajah Fira tapi Fira malah menjauh dan tertawa melihat Mama Linda yang sulit untuk menggapai wajahnya.
Mama Linda ingin sekali mengadukan ini semua pada Adnan, membalas apa yang Fira lakukan tapi apa daya keadaannya masih seperti ini, makanya Mama Linda harus segera sembuh untuk membalaskan semua yang telah Fira lakukan.
"Belajar lagi ya aku tunggu kesembuhan Mama, tapi apakah Mama akan sembuh yakin anak Mama kan sekarang lagi pergi lagi ke luar kota, pasti akan lama. Mama ditinggalkan lagi denganku apa Mama akan drop lagi atau Mama akan sembuh kita lihat saja ya"
Fira langsung bangkit dan sengaja menginjak tangan Mama Linda. Meninggalkannya sendirian memang dari tadi Mama Linda sedang belajar berjalan sendirian, tidak ada yang membantunya hanya sendirian.
Kamila yang dari tadi bersembunyi langsung mendekati neneknya "Nenek kamu tak apa. Sebentar akan aku panggilkan dulu Bibi ya"
Kamila berlari menjauhi neneknya, tak lama kemudian datang lagi bersama bibi. Bibi dengan sigap langsung mambantu Mama Linda untuk duduk kembali dikursi roda.
...----------------...
Ayana yang sedang membereskan rumah mendengar suara ketukan pintu, awalnya Ayana takut tapi dia memberanikan diri untuk membuka pintu ternyata itu Fabian, dia langsung memeluk Ayana dengan erat.
"Kamu ini membuatku khawatir saja, tiba-tiba memberikan alamat rumah dengan nomor yang asing. Kamu jangan lakukan itu lagi aku sangat sulit menghubungimu, kalau mau ganti nomor tuh waktu ganti langsung hubungi aku, bukannya sudah lama baru kamu menghubungiku"
Fabian melepaskan pelukannya menatap Ayana dari atas sampai bawah, lalu memutar tubuh Ayana, melihat semuanya dengan teliti, apakah ada yang terluka "Tidak ada yang terluka kan, tidak ada yang lecet juga kan semuanya baik-baik saja kan Ayana"
"Aku baik-baik saja Fabian, ayo masuk dulu saja kamu ini ya "
Fabian menganggukan kepalanya dan menutup pintu, tidak lupa selalu mengunci pintunya. Mereka harus selalu waspada. Bahkan tadi Fabian kemari sampai harus menyamar, takut-takut ada yang mengikutinya karena Fabian tahu kalau Adnan sedang mencari Ayana "Di mana anak-anak, kenapa rumah begitu sepi sekali"
"Mereka sedang tertidur Fabian, mereka kecapean karena membantuku menata bunga di toko. Aku harus membangunnya dari nol lagi meskipun tabunganku masih ada, tapi aku harus tetap memutar otak karena hidup ini akan terus berjalan kan anak-anak mulai sekolah juga"
"Iya aku mengerti, aku sudah bilang kan kalau kamu membutuhkan apa-apa selalu hubungi aku. Aku akan selalu membantumu tidak usah sungkan padaku. Dan kenapa juga kamu bisa bertemu dengan Adnan di sana, padahal kamu sudah tinggal di tempat yang tidak mungkin dijangkau oleh Adnan"
Ayana membuatkan dulu teh untuk Fabian dan juga membawa beberapa kue dan menyajikannya di hadapan Fabian. Ayana baru bergabung dengan Fabian mereka duduk berhadapan.
"Aku juga tidak tahu, dia tiba-tiba datang aku sedang membeli makanan untuk anak-anak tapi aku malah bertemu dengan dia. Aku sampai kejar-kejaran dengan Adnan, makannya aku langsung kabur ke sini, aku tidak pikir panjang bahkan aku tidak memikirkan tentang usahaku sendiri yang terpenting aku bisa lari dulu darinya. Aku bisa sembunyi dulu dari nya "
"Dia juga sempat datang ke kantorku, bahkan asistennya juga Marco datang menanyakan keberadaanmu tapi aku tidak memberitahunya. Aku tidak akan pernah semudah itu memberitahu keberadaanmu pada mereka. Enak saja sudah menyakiti tiba-tiba 5 tahun kemudian datang dan menanyakan keberadaan mu, rasanya aku ingin menghajar wajah Adnan lagi tapi aku sudah berjanji padamu untuk tidak melakukan itu lagi"
Ayana malah menangis mendengar itu. Fabian langsung mengusap air mata Ayana "Sudah aku bilang kan jangan pernah tangisi laki-laki itu lagi. Sudah 5 tahun berlalu jadi jangan pernah tangisi dia lagi. Sudah cukup air matamu itu jatuh hanya untuk dia, sudah aku bilang kan lebih baik kamu ikut aku saja tidak usah lari ke sana kemari. Kamu pasti akan aman denganku"
Ayana menggelengkan kepalanya "Aku tidak bisa bergantung terus padamu Fabian. Apalagi aku sudah punya anak sekarang aku tidak mungkin melakukan itu, aku tidak mau kamu terlalu banyak beban"
"Kenapa tidak, aku sama sekali tidak merasa direpotkan aku bahagia ada kamu disampingku kita pulang saja ya. Kita memulai hidup kita lagi "
Lagi-lagi Ayana menggelengkan kepalanya. Ayana trauma kalau harus pulang ke kota yang sama. Ayana tidak bisa menginjakkan kaki ke sana lagi terlalu berat rasanya, kalau harus kembali apalagi semua kesakitannya ada di sana.
Pertama disakiti oleh orang tua sendiri, lalu diusir oleh suami sendiri tidak dipercayai, diperkosa, difitnah oleh ibu mertua sendiri. Pokoknya di sana banyak sekali kenangan yang membuat Ayana sakit sekali, bahkan untuk mengingat kotanya saja Ayana tidak mau terlalu sakit kenangan di sana, terlalu banyak dan terlalu menyakitkan.
Memang setelah menghilang waktu itu beberapa bulan kemudian, Ayana menghubungi Fabian. Ayana tidak mau memutus hubungan pertemanan mereka, hanya butuh waktu beberapa bulan saja untuk Ayana tenang lalu Ayana menelpon Fabian lagi. Bahkan masalah persalinan semuanya Fabian yang membantunya dan juga Diandra.
Awalnya Ayana tidak sanggup untuk melihat wajah anaknya Melisa, karena wajahnya begitu mirip dengan Adnan lama-kelamaan Ayana tidak bisa seperti itu terus kan bahkan Melisa sampai diurus oleh Fabian.
Tapi saat beranjak dewasa Melisa dan juga Melinda malah dominan dengan ayahnya, wajah mereka sangat mirip waktu kecil hanya Melisa saja yang terlihat mirip dengan Adnan, tapi sekarang Melinda malah ikut-ikutan.
"Lalu sekarang apa keputusanmu, kamu akan menatap di sini saja"
"Iya Fabian aku akan menetap di sini saja, aku tidak akan pergi kemana-mana lagi. Aku juga sudah mendaftarkan anak-anak untuk sekolah. Aku ingin mereka cepat-cepat sekolah saja umur mereka kan sudah 5 tahun sudah saatnya mereka sekolah"
"Ya itu ide yang bagus, mereka baik-baik saja kan. Kamu tidak kerepotan dengan dua anak sekaligus, perlu aku carikan orang untuk membantumu beres-beres rumah untuk memasak atau yang lainnya. Agar kamu juga lebih fokus pada pekerjaan kamu dan juga anak-anak"
"Tidak usah Fabian, aku masih bisa melakukannya. Aku tidak mau kalau harus ada orang asing lagi, bukan apa-apa aku takut kalau dia malah melukai aku atau anak-anakku. Aku mulai tak percaya dengan orang asing kamu tahu sendiri kan bagaimana aku dulu, aku takut sekali Fabian " sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Iya aku mengerti, yang terpenting sekarang kamu baik-baik saja dan juga bahagia bersama anak-anak" sambil mengusap kepala Ayana.
...----------------...
Sedangkan Adnan sekarang sedang mencari Ayana kembali di kota itu. Padahal Marco dan juga yang lainnya sudah mencari di sana, tidak ada yang bernama Ayana tapi Adnan yang memang tidak percaya dan ingin mencarinya sendiri di situ akhirnya berkeliling lagi ditemani Marco.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam toko bunga. Adnan langsung memperlihatkan foto perempuan yang dia sedang cari pada pelayan toko itu "Maaf apa kamu pernah melihat perempuan ini, di sekitar sini siapa tahu dia pernah mau beli bunga disini "
Orang yang diperlihatkan itu Diandra, dia bengong melihat wajah temannya Ayana dipegang oleh laki-laki itu, apakah ini yang dimaksud oleh Ayana. Diandra jadi takut, apalagi wajahnya itu sangat jutek sekali "Aku tidak pernah melihatnya dan orang yang datang kemari itu banyak sekali Pak, tidak hanya satu orang atau dua orang saja yang membeli bunga kemari. Bahkan ratusan orang setiap harinya pasti akan bolak-balik pembeli yang berbeda. Aku tidak mengingat wajah-wajah mereka, aku hanya melihat wajah mereka sekilas aku tidak mungkin kan terus menatap wajah mereka semua"
"Mungkin kamu pernah melihat di suatu tempat atau tetanggamu mungkin. Aku tahu ini adalah kota kecil pasti ruang lingkupnya hanya itu-itu saja"
"Maaf Pak aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu, meskipun kota ini kecil tapi tidak mungkin kan banyak orang yang tinggal di sini. Aku tahu semua orang yang tinggal di sini dan aku tidak pernah mengenal orang yang anda tunjukan itu"
"Tapi 5 bulan yang lalu saya melihat dia ada di daerah sini, masa kamu tidak pernah melihatnya. Pastilah sekali-kali pernah bertemu "Adnan seperti tidak percaya dan ingin jawaban dari Diandra yang pasti.
Diandra yang terus di sudutkan seperti itu kesel sekali, kenapa dia ini ngotot sekali. Apakah wajahnya terlihat kalau sedang berbohong. Menyebalkan sekali sih laki-laki yang ada di hadapannya ini, sebenarnya laki-laki ini siapanya Ayana.
"Aku benar-benar tidak tahu Pak harus bagaimana lagi aku berbicara padamu. Kalau aku tahu pasti aku akan memberitahumu. Aku tidak tahu, benar-benar tidak tahu dengan orang yang anda perlihatkan padaku itu. Kamu ini kenapa menyebalkan sekali padahal aku sudah berkata jujur, lebih baik anda pergi saja aku sedang menjaga toko dan sedang banyak yang membeli"
Marco langsung maju, dia tahu bosnya ini akan terus mencecar perempuan yang ada di hadapan ini "Baiklah terima kasih, maaf telah menganggu harimu Nona "
"Ya sama-sama. Memang kalian sudah mengganggu hariku. Aku menjadi kesal pada kalian berdua memaksaku mengatakan apa yang aku tidak tahu" teriak Diandra saking sudah kesalnya.
Adnan keluar dari toko itu, sekarang dia mulai putus asa ternyata hanya mencari satu orang saja sulit sekali ya. Di mana sekarang keberadaan Ayana harus kemana lagi Adnan mencari Ayana. Kenapa Ayana itu sulit sekali ditemukan seperti ini.
"Antarkan aku ke pantai yang waktu itu aku pernah datang" Entah ke mana sekarang tujuan Adnan yang pasti Adnan ingin bertemu dulu dengan anak kecil itu, dengan Melinda. Entah kenapa Adnan selalu mengingat anak kecil menggemaskan itu.
"Baik Pak ayo mari"
Marco segera mengantarkan bosnya ini ke arah Pantai. Setelah sampai Adnan langsung keluar masih menggenggam foto Ayana dengan baik. Adnan menatap ombak yang cukup besar.
Apa mungkin Adnan harus menanyakan ke orang-orang yang ada di sini saja. Ya siapa tahu ada orang yang tahu kan, Adnan tak boleh putus asa kan akan hal ini.
Saat ada anak kecil yang lewat Adnan memanggilnya"Kemari lah nak. Ada yang ingin aku tanyakan mungkin saja kamu tahu"
"Iya ada apa paman "jawab anak laki-laki itu sambil menenteng sandalnya.
Adnan segera memperlihatkan foto Ayana kearah anak kecil itu"Siapa tahu kamu mengenal perempuan ini atau pernah melihatnya di suatu tempat atau di daerah sini"
Anak itu langsung menganggukan kepalanya "Ini bukannya Bibi Ayana ya, ya benar ini bibi Ayana aku sangat mengenalnya dia itu baik sekali apalagi pada anak-anak. Kalau ada anak-anak yang sedang bermain di pantai dia selalu menyiapkan camilan dia baik sekali"
"Kamu benar-benar mengenalnya kan, tidak sedang membohongi paman "Adnan langsung bahagia saat mendengar nama Ayana disebutkan oleh anak kecil ini. Padahal kan Adnan belum mengatakan sesuatu atau nama dari foto yang ada di sini. Tapi anak itu sudah lebih mengenalnya.
"Tentu rumahnya tidak jauh, tapi bibi Ayana sudah pindah rumah bersama kedua anaknya mungkin ada beberapa bulan yang lalu sih. Ya beberapa bulan yang lalu mereka pindah rumah. Tapi aku tidak tahu kenapa dia pindah rumah karena tiba-tiba sekali bibi Ayana menghilang dan pergi"
"Iya babi Ayana punya dua anak kembar namanya Melisa dan juga Melinda mereka sangat menggemaskan sekali. Mereka itu selalu dikuncir 2 sulit untuk membedakan wajah mereka karena mereka itu sangat sama sekali paman"
"Bayu apa yang sedang kamu lakukan Ibu mencarimu"
Anak kecil itu yang namanya dipanggil langsung menatap ke arah Mamahnya yang datang "Kamu ini lagi apa ayo kita pulang"
"Ibu paman ini menanyakan tentang bibi Ayana. Aku sedang memberitahunya"
Wajah Ibu itu langsung panik "Bibi Ayana yang mana, kamu ini suka ngawur ayo pulang ayo pulang. Kamu itu kalau berbicara dengan orang asing selalu saja ngawur kemana-mana, jangan sok tahu ayo kita pulang sekarang" .
"Pak maaf ya anak saya memang seperti itu, selalu mengarang cerita. Maafkan kelakuan anak saya"
Ibu-ibu itu sudah menarik tangan dari anaknya. Tapi Marco datang dan menodongkan sebuah pistol ke arah ibu itu untungnya pantai juga sedang sepi. Jadi tak ada saksi mata kalau terjadi apa-apa.
"Kenapa kamu menodongkan pistol padaku, aku sudah berkata jujur anakku ini hanya mengarang cerita. Dia itu memang seperti ini. Selalu mengarang cerita jadi permisi kami harus cepat pulang"
Adnan menggerakkan kepalanya untuk membawa ibu dan anak ini masuk ke dalam mobil. Marco langsung menggiringnya masuk diikuti oleh Adnan juga. Mereka tidak bisa lari karena terus ditodongkan pistol itu di kepalanya, kalau berlari mungkin akan mati.
Adnan langsung mengintrogasi mereka berdua, bahkan menutup semua jendela. Jangan sampai ada yang tahu tentang hal ini dan Marco juga masih menodongkan pistol itu pada ibu dan anak itu.
"Tolong jangan lukai Ibuku" ucap anak laki-laki itu saat Ibunya ditodongkan sebuah pistol terus. Dia juga takut sebenarnya tapi kan dirinya laki-laki harus berani.
"Maka jujurlah apa yang kamu katakan itu benar atau tidak, jangan membuat aku pusing dan marah"
"Itu kebenaran memang di sini ada yang bernama babi Ayana dan dia mempunyai dua anak, aku tidak berbohong tolong turunkan pistol itu dari kepala ibuku. Kami tak berbohong tolong lepaskan kami "
Ibu-ibu itu langsung menyerah, dia tidak mau mati konyol hanya untuk melindungi seseorang, toh anaknya sudah membongkar semuanya mau bagaimana lagi "Aku mengaku kalau di sini ada orang yang bernama Ayana dia pindah 5 tahun yang lalu. Awalnya kami menganggapnya dia hanya perempuan biasa saja, ternyata dia datang kemari dengan keadaan hamil melahirkan dua anak kembar bernama Melisa dan juga Melinda, tapi kami tidak tahu sekarang dia ke mana dia pergi kemana. Dan juga selalu ada laki-laki yang datang kemari mungkin itu suaminya, dia datang satu bulan sekali dan mereka terlihat bahagia"
"Ayana tidak pernah membahas tentang keluarganya, yang kami hanya tahu itu dia melahirkan dua anak sekaligus dan laki-laki itu yang selalu menemaninya. Dia yang selalu ada untuk Ayana dan 2 putrinya itu. Kami di sini semuanya menganggap kalau itu adalah suaminya"
"Kamu tidak bohong kan kamu tidak sedang bermain-main denganku "tanya Adnan ingin memperjelas semuanya. Meskipun di kepalanya terus berpikir siapa laki-laki itu yang menemani Ayana selama ini apakah Fabian ?
__ADS_1
"Iya dia memang benar-benar pergi dari sini dan memang benar-benar pernah tinggal di sini. Kami sudah mengatakan semuanya tolong lepaskan kami"
Adnan diam termenung mendengar nama anak Ayana, Melinda dan Melisa. Berarti anak yang dikuncir dua itu yang memberinya coklat apa itu anaknya apa selama ini Ayana mengandung anaknya, jadi Ayana pergi dengan mengandung. Bodohnya Adnan kenapa bisa melepaskan Ayana begitu saja.
"Baiklah terima kasih atas informasinya" Adnan mengambil beberapa lembar uang dan memberikannya pada ibu itu, mereka berdua langsung turun dari dalam mobil. Mereka juga tak mau lama-lama ada didalam takut.
Adnan menunduk dan menyesal sekali, menelantarkan tiga orang sekaligus berarti selama ini Ayana pergi dengan mengandung anaknya, Adnan yakin itu anaknya karena wajah Melinda mirip dengan wajahnya saat kecil.
Adnan bahkan sampai menangis. Marco tidak bisa melakukan apa-apa dan bicara apa-apa lagi. Marco hanya diam menunggu tuannya untuk bisa tenang. Marco juga tidak menyangka kenyataannya akan seperti ini.
Adnan mengusap air matanya dan menatap Marco "Kamu cari CCTV tentang Ayana. Mungkin dia pergi saat aku mengejarnya waktu itu, pasti dia pergi saat itu langsung dengan dua balita sekaligus. Lacak semua CCTV yang ada di bandara, pelabuhan, stasiun dan yang lainnya pokoknya aku ingin dia cepat ketemu. Aku tidak mau Ayana sampai membawa anakku pergi jauh lagi. Dia harus segera ditemukan"
"Baik Pak akan aku kerahkan semua orang-orang ku untuk mencari Nona Ayana dan juga dua balita bernama Melinda dan juga Melisa. Akan aku selesaikan ini dengan cepat"
"Baiklah cepat temukan mereka, aku tidak bisa menunggu waktu lama lagi aku ingin anak-anakku dan juga Ayana ketemu"
"Baik Pak"
Adnan yang masih merenung memikirkan bagaimana hidup Ayana selama ini, apakah dia baik-baik saja dengan mengurus dua anak sekaligus. Saat melahirkan pasti itu sangat menyakitkan sekali. Apalagi Adnan malah tidak ada di sampingnya, malah laki-laki lain kan yang ada di sampingnya.
Sebenarnya siapa laki-laki itu Fabian atau laki-laki lain yang memang sudah menjadi suami Ayana, yang sudah menggantikan posisinya. Fabian pernah bilang kan kalau Ayana sudah bahagia dengan suaminya, apakah benar kata-kata Fabian itu.
Kalau iya benar Adnan harus bagaimana, harus menerima semua itu tidak Adnan tidak akan pernah menerimanya, Adnan akan merebut apa yang pernah menjadi miliknya itu bagaimana pun caranya.
Ayana harus menjadi miliknya lagi. Awalnya Ayana bersamanya kan jadi seterusnya Ayana akan menjadi miliknya, orang lain tak boleh memilikinya. Anggap saja dirinya ini egois.
"Kita pulang saja"
"Maksudnya pulang bagaimana Pak, kita kan akan melakukan pencarian. Apa Bapak benar mau pulang saja "
"Aku harus pulang dulu, kamu tahu sendiri kan Kamila keadaannya aku tidak bisa lama-lama di sini. Yang terpenting sekarang kita sudah tahu kan dan anak buahmu cukup untuk mencari keberadaan Ayana dan juga dua putriku. Aku ingin pencarian itu dilakukan dengan cepat. Bahkan aku ingin kurang dari satu minggu mereka bertiga harus ketemu aku tidak mau tahu"
Marco hanya bisa mengiyakan saja. Ini adalah tugasnya dan Marco harus mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh bosnya ini namanya juga kerja.
...----------------...
"Paman kamu ada di sini "teriak Melinda dengan begitu senang saat melihat ada Fabian di sana. Sudah lama mereka tak bertemu dan sekarang mereka bertemu alangkah senangnya Melinda ini.
"Iya paman ada di sini, mengunjungi kalian semua. Paman sangat rindu sekali dengan dua bocah yang selalu dikuncir ini, Paman sekali rindu pada kalian berdua "
Melisa dan juga Melinda langsung memeluk Fabian dengan erat .Melisa dan juga Melinda sudah menganggap Fabian seperti ayahnya sendiri, karena dari kecil yang mereka kenal hanya Fabian dan yang selalu menemani mamanya ya ini Fabian juga.
Fabian memangku kedua Putri Ayana ini"Sudah lama Paman tidak menemui kami. Kenapa Paman lama sekali katanya mau 1 bulan sekali menemui kami, tapi sudah berbulan-bulan Paman tidak datang. Kami sampai menunggu terus-menerus kedatangan Paman tapi tidak ada" protes Melinda pada Fabian dengan bibir yang cemberut.
"Iya maafkan paman, paman salah tapi Paman tidak akan mengulanginya lagi, paman akan datang kemari 1 bulan sekali lagi seperti biasa. Oh ya Paman juga membelikan kalian mainan"Fabian mengecup satu persatu pipi gembul balita ini, ingin menggigitnya tapi malah ada Ayana disini pasti dirinya nanti akan dimarahi.
"Benarkah banyak sekali paman mainannya "
"Iya banyak sekali Melisa dan juga Melinda ingin melihatnya tidak, pasti kalian akan suka sekali dengan mainan yang paman bawa itu"
Mereka berdua langsung menganggukkan kepalanya, Fabian menurunkan dua balita ini dan membuka koper Fabian yang ada di ujung sana, dan banyak sekali mainnya yang dibawa oleh Fabian. Ayana hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Fabian yang begitu memanjakan kedua anaknya.
Ayana pernah menegur Fabian untuk tidak terlalu memanjakan kedua anaknya itu, tapi kata Fabian ini hanya mainan saja dan tidak masalah untuknya bukan apa-apa Ayana hanya takut saja anaknya nanti menjadi ketergantungan, tapi untungnya ternyata tidak.
Fabian melambaikan tangannya ke arah Ayana untuk bergabung, dengan cepat Ayana duduk di samping Fabian. Sebenarnya kenapa Fabian tidak datang berbulan-bulan lamanya ya karena saat Fabian datang ke rumah itu, ke rumah yang dulu memang tidak ada Ayana.
Fabian tidak menemukan Ayana sampai-sampai beberapa bulan berlalu Ayana menghubungi lagi Fabian, saat itulah Fabian menanyakan di mana keberadaan Ayana dan ada masalah apa ternyata masalahnya adalah Adnan mencari kembali Ayana.
Entah apa yang di inginkan oleh laki-laki itu dengan datang kemari lagi, sungguh Adnan itu akan membuat Ayana sakit hati lagi, membuka luka lama Ayana lagi.
"Paman ini boneka Barbie nya kenapa banyak sekali, Melinda sampai binggung harus memilih yang mana dan memainkannya dulu yang mana "
"Kalau begitu mainkan saja semuanya agar tak binggung, "
Melinda melingkarkan tangannya keleher Fabian dan memeluknya dengan erat "Terimakasih paman. Karena Paman selalu baik pada kami, paman selalu saja membawa hadiah untuk kami setiap datang kemari"
Melinda mencium pipi Fabian dan melepaskan pelukannya. Bergabung lagi dengan Kakaknya yang sibuk membuka Barbie nya dari dalam kotak.
Mereka akan mempunyai mainan banyak lagi, yang waktu dirumah dulu kan tidak dibawa. Anggap saja ini sebagai gantinya kan.
"Ayo Kakak kita main disana, kita susun boneka Barbie ini. Aku tak sabar nanti ingin menunjukan semuanya pada teman-teman baru kita. Pasti mereka juga akan suka dengan mainan-mainan kita ini "
__ADS_1
"Ayo kita kesana, kita susun semuanya pasti akan sangat cantik sekali kalau disimpan disana "
Melisa membawa beberapa boneka Barbie nya dengan cara dipeluk, Fabian dan Ayana yang melihat itu tertawa. Lucu saja mereka membawa barang banyak seperti itu dengan tubuh yang kecil mengemaskan sekali.