
"Mama apakah perlu kita membawa semua pakaian kita" tanya Melinda yang begitu antusias saat mendengar kalau akan ikut pindah dengan ayahnya.
"Tidak usah sayang, yang ingin kamu bawa saja. Nanti kita kapan-kapan akan pulang kesini juga "
"Hemm, baiklah Mama "
Rumah ini sudah dibeli oleh Adnan, Ayana juga kaget saat mendengarnya. Adnan tiba-tiba memberikan surat rumah ini. Katanya ini untuk kenang-kenangan bahkan mereka pertama bersama dirumah ini.
Agar suatu saat Melisa dan juga Melinda tahu. Begitu kata Adnan.
"Mama "
"Hemm, iya apa Melisa "
Melisa melihat kearah kiri dan kanan, dia seperti sedang mencari seseorang.
"Kamu mencari siapa Melisa, kenapa"
Melisa mendekati Mamanya dan duduk disamping Mamanya.
"Mama apakah ayah waktu itu menikah lagi saat bersama Mama "
"Maksud kamu Melisa "
"Kenapa aku dan juga Kamila seperti seumuran"
Ayana tak pernah berharap akan ditanya ini oleh Melisa "Kenapa tiba-tiba bertanya seperti ini "
"Ya aku hanya ingin tahu saja. Kena aku dan juga Kamila bisa seumuran "
"Emm, Mama tidak bisa menjelaskannya sekarang "
Ya Ayana tak mungkin lah menjelaskan hal seperti itu pada anaknya. Ayana tidak mau kalau Melisa menjadikan itu bahan ejekan untuk Kamila nantinya.
"Apakah perlu dewasa dulu untuk mengetahui masalah orang dewasa "
"Hemm bisa, tapi tak semuanya seperti itu sayang. Nanti juga kamu akan mengerti. Bagaimana kamu disana apakah senang "Ayana lebih baik mengalihkan pembicaraannya saja.
"Tentu Mama, disana begitu menyenangkan makannya aku menyuruh Mama untuk pulang kesana saja. Banyak gedung besar, lalu banyak orang juga pokoknya disana itu ramai sekali "
"Hemm, Melisa suka tempat seperti itu "
__ADS_1
"Suka Ma, jadi banyak orang juga kan"
"Baiklah sebentar lagi kita akan pergi kesana. Pakaian mana yang ingin Melisa bawa. Jangan bawa semuanya ingat "
"Baiklah Mama "
Melisa segera berlari kearah adiknya dan memilih pakainya juga. Ayana sudah memikirkan semuanya matang-matang semoga saja pilihannya ini tak salah dengan pulang ke kota yang penuh dengan rasa sakit itu.
...----------------...
Fira sudah berdiri didepan rumah Rio. Dia masih belum berani untuk mengetuk pintu. Fira takut tiba-tiba di usir apalagi anaknya juga tak terlalu dekat kan dengannya.
"Apakah yang aku pilih ini benar, apakah aku perlu masuk tapi aku sudah terlanjur disini juga. Tak mungkin kan tiba-tiba aku kembali lagi"
Fira melangkah lebih masuk lagi. Dia sudah terlanjur disini juga sayang kalau tak mengambil Kamila. Fira harus cepat-cepat membuat rencana.
Tok tok tok
Terdengar suara kunci yang dibuka dan pintu langsung terbuka. Fira langsung tersenyum kearah Rio yang membuka pintu, meskipun tak ada balasan dari Rio.
"Ada apa datang kemari, bukannya masih sakit kenapa tiba-tiba jalan-jalan seperti ini tak salah "
Rio tertawa mendengar hal itu. Fira tentu saj mengerutkan keningnya.
"Kenapa kamu malah tertawa "
"Ya lucu saja dulu kamu tak pernah peduli dengan Kamila tapi sekarang tiba-tiba saja ingin mengasuhnya, ingin memeluknya apakah aku tak salah dengar "
"Orang itu bisa berubah Rio tak akan sama terus. Dan sekarang aku sudah berubah kenapa kamu malah seperti itu padaku seperti tak percaya saja "
"Memang aku tak percaya dengan kamu, aku tak akan pernah percaya dengan perempuan seperti kamu Fira. Masa yang sakit parah tiba-tiba langsung sembuh dan ingat rumahku. Kemarin-kemarin kemana saja kamu bahkan lupa dengan Kamila "
"Hey kamu tak berhak untuk mengkritik hidupku. Mau bagaimana pun aku itu urusanku. Buka pintunya dengan lebar aku ingin bertemu dengan anakku "
"Ini adalah rumahku, tak akan aku buka untuk perempuan seperti kamu. Kalau sudah tak ada yang dibicarakan lagi aku tutup pintunya "
"Aku belum selesai berbicara jangan tidak sopan seperti itu Rio "
"Ya sudah apa yang ingin kamu bicarakan "
"Biarkan tamu mu ini masuk dulu jangan seperti ini. Aku juga ingin duduk "
__ADS_1
"Tapi aku sebagai tuan rumah takut. Takut nanti kamu mengamuk dan menghancurkan rumahku. Jadi lebih baik seperti ini saja. Apa yang ingin kamu bicarakan"
"Kenapa kamu seolah-olah menganggapku orang gila"
"Kan kamu pernah gila " sambil menahan tawanya.
Fira yang kesal langsung memeluk pintu Rio, Rio dengan sengaja malah menutup pintunya dan kembali mengunci pintunya.
"Rio aku belum selesai berbicara kenapa kamu tidak sopan. Aku ingin bertemu dengan anakku. Aku ingin bertemu dengan Kamila dasar kamu laki-laki kurang ajar"
Tapi tak ada jawaban hening sekali. Fira menatap sekitar dan ternyata tak ada siapa-siapa kosong. Fira yang takut melangkah pergi dan masuk kembali kedalam mobilnya.
Baiklah hari ini gagal, tapi hari-hari berikutnya tak akan gagal lagi. Kamila akan Fira ambil, tak akan Fira kembalikan Fira pada ayahnya itu.
Kamila harus menjadi alatnya. Kamila akan mudah Fira kendalikan.
Kamila yang ada didalam rumah menatap ayahnya yang masih tertawa "Ayah ini kenapa terus tertawa seperti itu. Kenapa tidak membaginya dengan Kamila"
"Ibumu datang pasti dia ingin membujuk kamu lagi "
Kamila lantas mengelengkan kepalanya "Tidak, aku tidak mau Ayah. Aku tidak mau ikut dengan Ibu. Aku mau disini saja "
Rio mendekati anaknya dan memangku nya "Iya ayah janji kamu tak akan pernah ikut dengan ibu kamu. Kamu akan selalu ada bersama Ayah "
"Janji ya "
"Tentu saja janji kapan ayah berbohong sama kamu coba. Ayah selalu menepati kata-kata ayah. Kalau kamu nakal baru ayah berikan pada ibu kamu itu"
"Tidak, aku tidak mau ibu begitu kasar aku tak mau dipukul lagi oleh ibu. Aku tidak mau sampai dibentak lagi ayah. Aku disini saja "
"Iya ayah tak akan memberikan kamu pada ibu. Asal kamu selalu baik dan selalu sayang dengan ayah "
"Tentu saja, aku sangat menyayangi Ayah. Aku tak mau dengan ibu lagi. Sepertinya ibu sedang pura-pura menyayangi aku. Entah kenapa aku tak pernah merasakan kalau ibu itu benar-benar menyayangiku"
"Aku seperti tak percaya saja kalau ibu memang menginginkan aku "
"Ya sudah, yang terpenting kalau nanti ibu datang kesekolah kamu minta pada ibu guru untuk menelfon ayah. Nanti ayah akan datang kesana "
"Baiklah Ayah, aku akan melakukannya aku takut nanti ibu tiba-tiba mengamuk ihh menakutkan kalau sampai ibu mengamuk dan aku juga akan malu dengan teman-teman " sambil mencium pipi ayah nya.
Rio segera membawa anak satu-satunya ini keruang belajar. Kamila katanya punya tugas jadi meminta Rio untuk membantunya.
__ADS_1