
Rio langsung menggendong anaknya itu, lalu membawanya keluar rumah. Kamila sudah meronta-ronta ingin diturunkan tapi jelas saja itu kalah dengan tenaga Rio.
Marco juga mengikuti langkah Rio dari belakang, Rio memasukkan anaknya ke dalam mobil lalu menghadap ke arah Marco.
"Aku tidak akan membiarkan Kamila datang kemari lagi, aku akan menjaganya dengan benar "
"Ya semoga saja, kamu juga harus memberitahu supir mu itu agar tidak gegabah membawa majikannya datang kemari, kamu tahu dia sudah mencaci maki Melisa bahkan merusak mainannya kalau dia tidak bisa berbaik hati pada Melisa tidak usah datang kemari"
"Aku kira dengan dia tinggalnya bersamamu Rio dia akan berubah, tapi nyatanya tidak dia masih saja seperti itu mungkin ini adalah bibit-bibit Fira, kamu harus hati-hati anakmu bisa licik seperti ibunya nanti"
Rio hanya menganggukkan kepalanya, lalu menepuk bahu Marco "Aku pastikan dia tidak akan sama seperti ibunya. Aku tidak mau Kamila seperti Fira perempuan licik mau menang sendiri dan tidak mau kalah, Kamila akan menjadi perempuan baik nanti "
"Yah kamu harus mengubah semua itu, mumpung Kamila masih kecil kan"
"Iya kamu benar aku pulang dulu"
Marco mengganggukan kepalanya, Rio langsung membawa anaknya pergi dari sana. Marco bernafas lega untung saja anak kecil cerewet dan menyebalkan itu dibawa, kalau sampai tidak dibawa pulang ke rumah bisa hancur rumah bisa ada perang dunia kedua nanti.
...----------------...
__ADS_1
Kamila masih saja menangis di dalam mobil, dia tidak terima ayahnya tiba-tiba membawanya pulang. Kamila bahkan berteriak dan memukul tangan ayahnya yang sedang menyetir, tapi Rio masih saja santai dan tidak memperdulikan anaknya yang menangis dan memukulnya.
"Kenapa kamu jahat, katanya akan membiarkan aku bertemu dengan ayah Adnan lalu sekarang saat aku ingin bertemu kamu tidak membolehkannya, kenapa kamu menyebalkan sekali sih "
"Sudah Ayah bilang kan, kalau kamu ketemu dengan paman Adnan hanya untuk memusuhi Melisa aku tidak akan membiarkannya, aku sudah bilang kan kalau ingin bertemu dengan paman Adnan berarti kamu juga harus bisa berteman dengan Melisa, dia itu adalah anaknya Paman Adnan"
"Tidak tidak aku tidak mau, aku tidak terima dia itu bukan anaknya Ayahku, dia itu hanya kebetulan bertemu dengan ayahku saja. Makannya ayah membawanya kemari "
"Sudahlah Kamila kamu jangan mengelak terus. Intinya kamu harus jadi anak baik itu saja, Ayah tidak mau kamu tiba-tiba menyuruh sopir kamu untuk pergi ke rumahnya Adnan, pulang langsung ke rumah kalau pulang sekolah itu. Jangan malah keluyuran dan diam di rumah orang tidak baik. Kalau sikap kamu ini belum berubah dan masih saja membenci Melissa dan juga Melinda Ayah tidak akan pernah membiarkan kamu untuk bertemu dengan paman Adnan"
Makin menjadi-jadi saja Kamila menangis, dia benar-benar histeris sekali dalam mobil, Kamila benar-benar melampiaskan semua kemarahannya pada ayahnya, dia tidak terima tiba-tiba dibawa pulang seperti itu, padahal sebentar lagi ayahnya akan pulang dan Kamila bisa bicara berdua.
"Kamu benar-benar jahat jahat jahat aku tidak suka dengan kamu. Katanya kamu akan membolehkan aku melakukan apa saja tapi hanya meminta menginap saja tidak boleh, kamu benar-benar pembohong aku tidak suka dengan kamu "
Kamila dengan cepat menggelengkan kepalanya "Tidak mau, aku tidak mau dia yang sudah menghancurkan segalanya, seharusnya aku sekarang masih bersama ayah Adnan. Seharusnya aku bisa ikut kemana pun ayah Adnan pergi "
"Mau adanya Melisa atau tidak kamu akan tetap ada bersama aku. Rubah dulu sikapmu dan buang rasa benci kamu pada Melisa dan Melinda, maka aku akan mempertemukan kamu dengan paman Adnan, aku akan membawa kamu ke sana rubah semua sikap angkuhmu itu dan tidak sopan mu itu Kamila "
"Jika di rumah orang lain kamu harus sopan tidak boleh seperti tadi, mengangkat kaki ke atas meja, menyuruh orang-orang seperti itu. Ayah sudah mengajarkan bagaimana sopan santun yang baik padamu, bagaimana cara menghormati orang dewasa Ayah sudah mengajarkan semuanya apa kamu lupa dengan apa yang selalu ayah ajarkan Kamila"
__ADS_1
Kamila otomatis diam, ayahnya selalu memberitahunya bagaimana cara agar selalu menghormati orang lain, mengajarinya segala hal. Kamila tidak bisa membantah kata-kata ayahnya lagi, Kamila sekarang bungkam dan membuang pandangannya agar tidak menatap ayahnya.
"Kalau kamu menjadi anak baik sopan dan bisa menghargai orang dewasa, maka ayah akan selalu mengikuti apa kemauan kamu. Ayah hanya ingin kamu bisa menghargai orang lain Kamila dan jangan pernah simpan rasa benci dalam hati kamu itu pada orang yang tidak bersalah, kalau orang itu tidak pernah berbuat masalah dengan kamu, kamu tidak perlu membencinya"
Lagi-lagi Kamila hanya diam, dia tidak membalas kata-kata ayahnya air mata Kamila sudah mengalir, tapi tanpa suara Kamila menahan agar tangisannya ini tidak keluar.
...----------------...
"Nona Fira ini makanannya, apakah kami harus menyimpannya di sini saja. Atau bagaimana "
"Simpan saja, pergi dari kamarku sekarang juga aku tidak mau ada orang di sini. Siapkan air hangat dan juga sabun mandi ku, aku sudah tidak kuat dengan badanku yang bau ini. Rasanya menjijikan sekali"
"Baik Nona Fira, aku akan menyiapkan semuanya"
"Buka kunci pasungan ku ini, kakiku sudah sangat pegal dari tadi terus saja begini tidak bergerak sama sekali"
Pelayan itu langsung mencari kunci di mana tuannya menyimpan kuncinya, tapi tidak menemukannya "Maaf nona di mana ya kuncinya aku tidak menemukannya"
Pandangan Fira langsung terarah pada pelayannya itu "Bodoh aku tidak tahu, tanyakan saja pada ayahku di mana kunci itu, lepaskan pasungan ini dan aku ingin membersihkan diriku, aku sudah tidak kuat dengan bau badanku sendiri cepat pergi dari sini sekarang juga. Lakukan apa yang aku suruh dan jangan banyak bertanya seperti itu, jika ingin masih bekerja di sini turuti apa kemauanku"
__ADS_1
Pelayan itu yang ketakutan langsung keluar dari kamar Fira, entah dia akan kembali atau tidak karena memang sudah beberapa orang yang bekerja di sini keluar karena sikap kasar Fira yang seperti itu, bahkan Fira tidak segan-segan untuk main tangan pada pelayan-pelayan yang ada di sini kalau mereka melakukan sebuah kesalahan.
Fira benar-benar memperlakukan mereka dengan sangat kasar sekali, Fira tak peduli dengan mereka yang menangis atau keluar dari pekerjaannya.