Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 68


__ADS_3

Saat ada di sekolah Ayana mendatangi dulu guru-guru dari anaknya. Ayana ingin berbicara dengan mereka. Sekarang Ayana sudah ada di ruangan guru yang selalu mengawasi anak-anaknya, Ayana tak akan tenang kalau belum berbicara dengan mereka untuk menitipkan anak-anaknya.


"Aku boleh minta tolong kan Bu"


"Tentu saja Bu Ayana. Memangnya ada apa, apa yang bisa kami bantu Bu"


"Nanti jika ada yang menemui anak-anakku atau mengaku sebagai ayahnya atau siapapun itu, tolong jangan dipercaya ya Bu, jika sampai mau membawa anakku tolong jangan diperbolehkan. Aku minta tolong untuk yang satu ini ya Bu "


"Baik Bu, kemarin juga ada yang datang kemari dan mengatakan kalau dia adalah ayahnya anak-anak. tapi dia langsung pergi lagi kok Bu tidak lama kemudian. Kami sudah mengurusnya Bu "


"Iya aku minta tolong ya pengawasan anakku lebih diperketat lagi, aku tidak mau sampai ada orang jahat mendekati anak-anakku"


"Tentu saja Bu, kami akan selalu menjaga anak-anak ibu dan juga murid-murid yang lain. Ibu bisa tenang kami tidak akan membiarkan anak-anak Ibu pergi dengan siapapun selain Ibu nanti dan juga suami Ibu, Pak Fabian ya"


Ayana hanya menganggukkan kepalanya saja, memang waktu daftar ke sini Fabian ikut dan yang guru-guru tahu Fabian adalah ayah anak-anak dan Ayana juga tak terlalu mempermasalahkan tentang hal itu.


"Ya sudah Bu kalau begitu saya permisi dulu, terima kasih ya Bu tolong terus pantau anak-anak saya"


"Tentu Bu"


Setelah hati Ayana cukup tenang, Ayana pergi ke arah toko, meskipun sebenarnya Ayana ingin diam di sekolah itu tapi Ayana juga punya kesibukan lain, Ayana tidak bisa meninggalkan toko begitu saja.


Semoga saja Adnan tidak datang lagi dan membawa anak-anaknya. Setelah pertemuan kemarin pikiran Ayana terus saja berkelana kemana-mana, ingin pergi tapi dia berpikir dua kali bagaimana dengan nasib anak-anaknya.


Kalau dia terus lari bukan apa-apa anaknya pasti akan bertanya-tanya. Kenapa mereka berlari lagi berlari lagi, Adnan juga pasti akan mengejarnya, tidak mungkin Adnan diam saja.


Sekarang yang harus Ayana lakukan adalah melawan saja, kalaupun terus pergi-pergian seperti itu nanti kehidupan Ayana akan berantakan keuangannya berantakan juga. Ayana tak mungkin membuat anaknya kesusahan.


Sedangkan tanpa diketahui Ayana Adnan sudah ada di sana, sebenarnya dari tadi pagi sebelum mereka datang ke sekolah Adnan sudah ada. Adnan masuk ke sekolah itu dan akan bertemu dengan anaknya Melisa yang sangat menyebalkan itu. Yang berani-beraninya memukul ayahnya sendiri sampai matanya sakit sampai sekarang.


Bahkan Adnan harus memakai kacamata hitam. Adnan tak mau orang-orang menatapnya. Makannya Adnan memutuskan untuk memakai kacamata. Awas saja anak nya itu.


Adnan menjauhi guru yang kemarin, dia bertanya pada satu guru yang sedang berjaga dan ingin bertemu dengan Melisa. Adnan hanya mengatakan kalau dia adalah paman jauhnya dan guru itu memanggilkan anak kecil itu, lihat saja Adnan tidak akan membiarkan Melisa memukulnya lagi.


Melisa sudah datang, Adnan tidak melihat ketakutan sama sekali di mata anak itu, malah seperti menantang saja. Melisa duduk di hadapan Adnan, Adnan juga tidak akan memarahi anaknya. Sepertinya Melisa sudah tahu siapa dirinya.


Kemarin Adnan benar-benar mengerahkan semua anak buahnya Marco untuk mengawasi rumah Ayana, takut-takut nanti Melisa bercerita. Lalu Ayana pergi menjauh darinya, tapi sepertinya semuanya baik-baik saja sepertinya anak ini tidak bercerita pada ibunya apa mungkin dia takut dimarahi oleh Ayana.

__ADS_1


Melisa menahan tawanya saat melihat Adnan yang memakai kacamata hitam. Adnan mengernyitkan keningnya lalu membuka kacamatanya. Melisa langsung tertawa terbahak-bahak melihat mata Adnan yang bengkak. Anak itu sangat suka melihat Adnan yang seperti ini.


"Tidak sopan kamu menertawakan orang dewasa seperti itu Melisa, seharusnya kamu tak boleh seperti itu. Kamu harusnya memelukku "


"Lucu saja matanya, kalau saja kemarin dua-duanya kamu akan menjadi panda, tahu kan panda yang badannya gendut terus matanya hitam. Kamu lucu sekali tahu " Melisa tertawa sampai memegangi perutnya.


"Kalau ibumu tahu pasti dia akan marah dengan kelakuanmu itu, kamu sudah menyerang orang dewasa itu tidak sopan Melisa "


"Tapi nyatanya ibuku tidak memarahiku kan. Bu guru, Ibu boleh meninggalkanku aku kenal dengannya ini adalah pamanku. Ibu tunggu saja di sana di luar ya Bu ya. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Paman dan ini rahasia "


Gurunya itu langsung menganggukan kepalanya dan meninggalkan Melisa dan juga Adnan berdua, Adnan cukup kagum dengan tingkah Melisa yang berani, hanya ditinggal berdua bersamanya saja. Melisa benar-benar tak ada takutnya.


Setelah guru itu pergi barulah Adnan berbicara lagi "Kamu tidak boleh menyerang orang dewasa sembarangan seperti kemarin, bagaimana kalau bukan aku yang kamu pukul. Kalau aku sih diam saja tidak akan membalasnya kalau orang lain pasti akan memukulmu balik atau mungkin kamu akan dilukai" Adnan takut anaknya ini suka memukul orang dewasa atau mungkin anak kecil juga. Adnan tidak mau anak perempuannya ini menjadi brutal.


"Tenang saja sebenarnya aku ini anak pintar dan tak akan mungkin memukul orang lain. Hanya karena pada Paman saja aku melakukan itu, karena paman yang selalu membuat Mama aku selalu menangis, setiap malam Mamaku selalu menangis melihat foto paman yang jelek itu, sebenarnya apa masalah Paman dengan Mamaku, sampai-sampai Mama selalu saja tak mau melihat wajah Paman saat di televisi, aku kesal pada Paman jangan pernah dekati Mamaku lagi. Sudah cukup Paman membuat Mamaku selalu menangis kalau memang Mama punya salah maafkan jangan terus dikejar "


"Kenapa aku yang disalahkan. Memangnya kita saling kenal"


"Jangan suka mengelak. Mama juga suka bilang kalau dia tidak mengenal Paman, tapi apa nyatanya Mama menangisi Paman terus-menerus menyebalkan sekali, Paman ini memang sama-sama suka sekali mengelabuiku dengan berkata tidak saling mengenal, orang dewasa itu ternyata memang menyebalkan"


Adnan cukup lama diam, selama ini Ayana tidak pernah menceritakan apa-apa pada Melisa, Adnan malah berpikiran yang tidak-tidak pada Ayana. Ayana selalu menangis untuknya. Adnan baru tahu sekarang, Adnan tak pernah tahu itu.


"Sudah aku bilang kan kenapa aku menyerang kamu karena kamu sudah membuat Mama menangis terus, kemarin juga kamu pasti kan nakal sama Mamaku sampai-sampai Mama datang ke sekolah kemari, dengan wajah yang khawatir"


Adnan tahu menjadi Ayana tidak lah mudah, Ayana terlihat kuat dan selalu tersenyum di depan anak-anaknya, tapi ternyata dia rapuh. Adnan lah yang sudah menghancurkan hidup Ayana.


Adnan kira Ayana sudah melupakan segalanya tidak memikirkan dirinya lagi, tapi ternyata salah Ayana selalu melihat fotonya dan menangis seperti itu dan Adnan tidak pernah berpikir ke sana selama ini.


Adnan berfikir kalau Ayana hanya menyimpan kebencian padanya, memupuknya sampai tidak ada sedikitpun rasa kasihan padanya, tapi ternyata Ayana sering menangis karenanya. Adnan akan sulit mendekati Ayana lagi, harus bagaimana Adnan nanti membalas segalanya.


"Apa sih salah Mamaku sebenarnya, jangan ganggu dia lagi aku tidak suka "


"Aku minta maaf, kamu bisa bantu aku untuk minta maaf pada Mama mu ?"


"Tidak aku tidak mau, aku tidak akan mau mendekatkanmu dengan Mamaku. Aku tidak mau membantumu apapun itu alasannya "


"Bantu aku, aku ingin minta maaf pada Ibumu bantu Ayah Melisa. Ayah ingin mendapatkan maaf dari Ibu, Ayah ingin menebus apa yang pernah Ayah lakukan. Tolong kalau bukan kamu siapa lagi yang membantu ayah jangan keras kepala Melisa"

__ADS_1


Melisa langsung bangun dan menatap Adnan dengan kesal "Siapa yang kamu sebut Ayah, kamu itu bukan Ayahku" dengan kemarahan yang menggebu-gebu dan Adnan bisa melihat dari tatapan Melisa.


"Aku, aku adalah ayah mu, bagaimanapun kamu adalah anakku jadi bantu ayahmu ini untuk bisa dekat lagi dengan ibumu, supaya semuanya baik-baik lagi supaya Ibumu juga tidak menangis lagi. Ayah akan membalas semuanya ayah akan memperbaiki semuanya ayah janji itu"


Adnan langsung memeluk anaknya itu tapi Melisa langsung memberontak "Jangan peluk aku jangan peluk aku. Aku tidak mau di peluk oleh orang yang selalu menyakiti Mamaku, lepaskan aku lepaskan, aku tidak suka kamu nakal dan kamu juga bukan Ayahku"


"Tolong bantu Ayah untuk bisa dekat dengan Mamamu, agar ayah bisa meminta maaf langsung. Tolong bantu ayah Melisa. Ayah begitu ingin kembali pada Mamamu "


"Tidak tidak kamu bukan Ayahku, kamu bukan Ayahku lepaskan, aku tidak mau dipeluk seperti ini aku tidak mau. Akhhh aku tidak mau Mama tolong Melisa Mama "


Adnan sangat sakit hati sekali saat melihat anaknya seperti ini, tidak mau mengakuinya. Adnan selalu melihat Melisa tersenyum dan ceria sekali tapi sekarang Adnan melihat kemarahan yang begitu besar dari anaknya ini.


Adnan benar-benar menyesal telah melakukan kesalahan di masa lalu dan membuat anak-anaknya sekarang seperti ini. Tapi Adnan sekarang merasa rasa rindunya telah terobati dengan memeluk Melisa seperti ini, meskipun Melisa terus saja berontak.


"Bantu ayah, ayah akan menebus segalanya. Ayah akan membuat Mama kamu tak menangis lagi "


Melisa langsung menggelengkan kepalanya "Tidak aku tidak mau, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau membantumu lepaskan aku. Jangan pernah ganggu Mamaku dia sudah bahagia kami sudah bahagia. Tolong jauhi kami, jangan pernah dekati kami tolong. Lepaskan aku, lepaskan aku "


Melisa bahkan sampai menangis dengan histeris, sampai-sampai guru yang tadi menjaga masuk ke dalam lalu mengambil Melisa dari dekapan Adnan. Guru itu sampai kaget tadi dan berlari tergopoh-gopoh, karena teriakan Melisa cukup kencang tak lupa dengan tangisannya.


"Ada apa Melisa kenapa"


"Aku ingin kembali ke kelas, aku tidak mau ada di sini tolong antarkan aku Bu, aku tidak mau ada disini lagi "


"Pak sebenarnya apa yang anda lakukan sampai-sampai Melisa seperti ini"


"Tolong kamu tenangkan dulu Melisa dan antarkan dia ke kelasnya, nanti kita bicara aku ingin bicara denganmu juga. Ada sesuatu yang penting ingin aku bicarakan dengan kamu "


Guru itu langsung membawa Melisa menjauh. Adnan masih mendengar tangisan Melisa yang begitu pilu. Apakah Melisa sebenci itu padanya apakah Melisa setidak sukanya itu padanya sampai-sampai dia menangis seperti itu.


"Melisa apakah mau masuk kelas lagi sekarang atau bagaimana "


"Aku mau masuk lagi saja ke dalam kelas. Tapi tolong jangan beritahu adikku jangan beritahu apa-apa. Satu lagi jangan beritahu Mama juga Bu "


Ibu guru menganggukan kepalanya. Lalu mengusap air mata Melisa dan menurunkannya. Melisa masuk lagi kedalam kelas dan duduk disamping adiknya. Melinda yang melihat mata Kakaknya seperti habis menangis langsung bertanya.


"Kakak kenapa, apakah semuanya baik-baik saja "

__ADS_1


"Sudah diam belajar"


Melinda cemberut mendengar jawaban Kakaknya. Benar-benar menyebalkan sekali.


__ADS_2