
Saat pasangannya itu sudah dibuka Fira langsung mendorong orang yang tadi membantunya untuk membukakannya. Lama sekali orang ini kalau disuruh olehnya pasti banyak sekali alasannya.
"Lelet aku menyuruhmu untuk mencari kunci ini, tapi lama sekali, masih mau ga sih kerja disini kamu ini. Aku harus menunggu berapa menit lama sekali kakiku tuh sudah sangat pegal sekali, kalau tidak sanggup bekerja di sini keluar. Jangan terus bertahan aku tak suka orang yang lelet seperti kamu "bentak Fira sampai urat-urat lehernya menonjol.
Sungguh menakutkan Fira ini untuk para pekerjannya. Tak pernah ada yang bertahan lama bekerja disini pasti mereka akan keluar, paling bertahan lama hanya 5 bulan tak sampai 1 tahun.
Orang itu mundur perlahan, air matanya sudah mengalir rasanya tidak kuat kalau tidak butuh uang tidak akan bekerja di sini. Gajihnya juga besar, dan kalau dilepaskan sayang saja.
"Tidak usah cengeng, keluar dari kamarku sekarang juga. Jangan ada disini. Aku kesal dengan perempuan cengeng seperti kamu. Sana pergi dari sini "
Orang itu hanya menganggukkan kepalanya saja dan keluar, dia tidak mau berurusan lagi dengan Fira, sedangkan Fira sendiri melempar botol minyak wanginya ke arah cermin besarnya. Cermin itu seketika pecah dan tak berbentuk lagi.
"Sialan percuma aku seperti ini, tapi apa Adnan tidak datang padaku. Aku harus membayar dokter sana-sini hanya untuk membuat kepalsuan ini, tapi apa Adnan tidak kembali Ayana perempuan itu pembawa sial. Memang dialah yang harus aku singkirkan dulu terlebih dahulu. Dia tak boleh terus ada disamping Adnan, yang ada apa yang akan aku lakukan tak akan pernah terjadi, kemauan aku tak akan terwujud"
"Seharusnya dari awal aku menyingkirkannya Ayana bukannya menghancurkannya seperti itu, tentu saja Adnan akan mencarinya lagi sialan sialan sialan sekali, kenapa hidupku harus menjadi sengsara seperti ini"
Fira mengebrak meja dan menatap pantulan wajahnya di cermin, wajahnya begitu kusam penampilannya sangat menyedihkan, hanya untuk mendapatkan Adnan lagi Fira harus seperti ini tapi apa akhirnya tidak Fira dapatkan.
Adnan tidak jatuh pada tangannya, malah dia tetap kukuh pada pendiriannya akan kembali pada Ayana. Apa sih sebenernya yang membuat Adnan harus tergila-gila pada perempuan itu. Padahal Ayana tak ada spesialnya sama sekali.
"Aku tidak mau berpura-pura seperti ini lagi, hanya menghabiskan waktu saja, aku tidak bisa shopping, jalan-jalan lalu kalau tidak ada Adnan aku harus minta uang pada siapa, dia kan ATM berjalan aku. Dia yang paling bisa aku manfaatkan "
Fira langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dulu tubuhnya. Fira tidak mungkin terus berpenampilan seperti ini, Fira mencium badannya yang sangat bau, sudah tidak mandi selama 3 hari dan rasanya menjijikkan sekali.
Selama pura-pura menjadi orang stres Fira benar-benar tak merawat dirinya dan malah menyakiti dirinya sendiri. Fira pikir dengan melakukan semua ini Adnan akan kembali lagi, menampungnya lagi di rumah besar itu lalu Fira bisa perawatan bisa berbelanja dan semuanya lagi.
Tapi rencana yang sudah dia buat ternyata tidak berjalan dengan lancar, semuanya malah sia-sia saja selagi Ayana masih ada. Semuanya tidak akan pernah dia dapatkan perempuan itu memang dari awal penghalang.
__ADS_1
Fira akan memutar otaknya kembali dan membuat rencana baru, kalau yang ini tidak berhasil maka rencana-rencana lainnya akan Fira munculkan, bahkan yang lebih bahaya pun akan Fira lakukan asalkan Fira bisa mendapatkan ATM berjalannya lagi.
...----------------...
Adnan akhirnya bisa pulang juga, dia melihat anaknya yang sedang berbaring di kursi dengan kaki yang menjuntai ,Adnan segera mendekatinya dan memangku Melisa tapi Melisa mendorong dada Adnan saat Adnan akan mencium pipinya.
"Ayah jangan aku berkeringat, aku tadi habis bermain dengan paman Marco. Lihat aku sangat kelelahan sekali tapi aku senang sekali "
"Tidak apa-apa Ayah juga sama berkeringat, lihat ayah juga seperti kamu "
Melisa mencium tubuh Ayahnya lalu menggelengkan kepalanya "Tapi ayah tidak bau, Ayah masih wangi. Tidak seperti aku "
Adnan tertawa mendengar jawaban anaknya, tentu saja wangi karena Adnan habis memakai minyak wangi jadi tubuhnya ini akan selalu wangi. Apalagi ditambah Adnan suka sekali makan makanan yang sehat diimbangi dengan olahraga yang cukup juga.
"Kamu berkeringat banyak sekali seperti ini. Memangnya kamu lari di mana di aula atau mungkin kamu maraton"
"Kenapa kamu mengelilingi rumah untuk apa, kenapa tak main boneka lagi saja Melisa, itu tak akan membuat kamu cape "
"Aku bosan Ayah, makanya aku mengajak Paman Marco untuk berlari saja mengelilingi rumah ini, tadinya mau berlari dalam rumah tapi aku tidak mau, takutnya aku malah menyenggol guci-guci besar punya ayah dan merusak itu semua, belum lagi barang-barang lainnya. Aku tidak mau sampai merusak rumah ini makanya aku mengajak Paman Marco untuk berlari di luar saja, tadi saat bangun tidur kami langsung main lagi. Karena aku sangat bosan sekali ayah "
"Apakah ada seseorang yang melarang kamu untuk berlarian di dalam rumah "tanya Adnan, karena Adan tidak masalah kalau anaknya mau berlarian di sini dan ada guci yang pecah toh bisa beli lagi.
"Tidak ada, aku tidak mau merusak barang-barang yang ada di sini saja ayah, bonekaku saja belum selesai diperbaiki nanti ditambah dengan barang-barang yang lain bagaimana memperbaikinya. Aku tidak mau menghambur-hamburkan uang Ayah. Ingat kata Mama jangan beli barang-barang mahal dan menghamburkan uang begitu saja, uang itu sangat berharga ayah, jangan lupakan sayu hal itu ayah. Apakah kamu mau dimarahi oleh mamah "
"Lalu kenapa saat di rumah mamamu kamu selalu berlarian di dalam rumah, kalian tak memikirkan apa-apa "
"Ya karena di rumah mama itu tidak terlalu banyak barang-barang besar seperti ini, memang mama sengaja melakukan itu agar kami berdua bisa leluasa untuk berlarian. Makanya cuman ada pajangan saja di rumah mama dan juga yang diperlukan saja, jadi kami bisa leluasa untuk berlari dan bermain didalam rumah"
__ADS_1
Adnan baru mengerti sekarang kenapa rumah Ayana tidak banyak barang yang gampang pecah, ternyata itu alasannya masuk akal juga dan Ayana cukup teliti. Adnan sampai tak kefikiran kearah saja.
Adnan menatap sekitar Marco belum datang. Lalu Rara juga tidak ada, padahal Rara sudah Adnan titipkan untuk menjaga anaknya tapi tak ada "Lalu di mana bibi Rara kenapa tidak ada menemanimu juga, seharusnya dia ada disini dengan kamu Melisa "
"Tadi aku kelelahan sampai-sampai aku tidak bisa mengambil air minum sendiri. Jadi aku minta tolong pada bibi Rara untuk mengambilkan minuman, kalau untuk paman Marco Ayah sudah tahu sendiri kan aku sudah menjelaskannya. Entah kapan Paman Marco akan sampai kesini "
"Baiklah lihat apa yang Ayah bawa"
Adnan mengeluarkan lolipop dari sakunya "Ini untukmu. Mamah membolehkan kamu untuk makan lolipop ini tapi tak boleh banyak banyak, ayah tadi sudah berbicara dengan mama "
"Terima kasih Ayah "Melisa langsung mengambilnya dan membuka plastiknya itu.
Adnan melihat Melisa begitu senang saat dia memberikan nya lolipop. Adnan tadi sebelum pulang sudah menelpon Ayana menanyakan sesuatu apa saja yang disuka Melisa. Mungkin makanan ringan yang sangat disukai Melisa ternyata hampir sama dengan Melinda lolipop dan Ayana menyuruhnya untuk membeli beberapa rasa.
Karena katanya Melisa akan senang sekali dan suka, ternyata sekarang Adnan bisa melihat anaknya begitu menyukai Lollipop. Adnan kira Ayana akan menyarankan coklat atau mungkin makanan lain ternyata hanya lolipop saja dan bisa membuat Melisa tersenyum lebar seperti itu.
"Ayah nanti beli juga ya untuk Melinda, Melinda itu suka menyimpan lolipop, coklat pokoknya makanan manis untuk diberikan pada orang-orang yang lagi sedih pasti Melinda akan senang sekali, dia juga kadang setiap hari memakan satu coklat dan satu lolipop nanti saat sore hari, aku yakin Melinda akan tersenyum bahagia. Dia akan bahagia jika dibawakan makanan kesukaannya ini "
"Tentu nanti kita akan belanja makanan kesukaan kamu dan juga adik kamu serta Mama, nanti kita bawa oleh-oleh untuk mereka dan kita juga akan beli mainan. Ayah ingin membelikan kalian mainan yang banyak sekali "
Melisa langsung menggelengkan kepalanya "Ayah tidak usah membeli mainan, bukannya di rumahmu ini sangat banyak mainan nanti juga Melinda akan kemari kan. Dia akan melihat mainan-mainan ini sudah simpan saja uang Ayah tabung saja uangnya siapa tahu nanti ayah membutuhkannya, sayang juga kalau uang terus dibelikan mainan "
Adnan mendengus mendengar itu " Melisa Ayah itu orang kaya, jadi ayah akan membelikan mainan lagi untuk kalian, ayah ingin kalian selalu tercukupi dalam segi apapun "
"Ayah tidak boleh sombong, bisa saja sesuatu itu hilang kita harus bisa menjaganya. Ayah ini terlalu sombong tahu. Sudah Melisa katakan lebih baik uangnya ditabung saja"
Adnan rasanya gemas sekali pada Melisa ingin mencubit pipinya, tapi tidak mau membuat Melisa menangis pasti ada saja jawabannya.
__ADS_1
Melisa itu selalu saja bisa mengimbanginya. Selalu saja bisa menjawab apa yang Adnan bicarakan, tak pernah anak ini kehabisan kata pasti ada saja. Tapi Adnan suka memiliki anak pintar seperti Melisa ini.