
Setelah menelpon anaknya Fira segera mengecek ponselnya lagi dia ingin segera tahu apakah ada lamarannya yang berhasil, tapi belum ada pesan apapun ataupun email Fira begitu berharap lebih dengan lamaran-lamaran yang sudah dia sebarkan itu.
"Apakah mereka tidak bisa menerimaku untuk bekerja di sana, kenapa tidak ada satupun email yang masuk atau pesan satupun yang masuk pada aku. Aku sangat berharap kalau aku akan cepat dapat pekerjaan, aku tak sabar ingin menghasilkan uang. Aku yakin uang Papih pasti akan habis, mau bagaimana aku ini hidup dengan Papih"
Fira menyimpan ponselnya dan keluar dari dalam kamarnya. Di rumah kosong tidak ada siapa-siapa kemana papihnya, tidak biasanya. Fira mengecek keluar rumah tidak ada. Lalu Fira masuk lagi mengecek ke dalam kamar ayahnya, sama juga tidak ada, ke dapur apalagi tidak ada.
"Kemana ya Papih kenapa tak ada, apa mungkin papih sudah punya teman tapi tak mungkin baru saja pindah masa sudah punya teman lagi sih "
Akhirnya Fira mencoba untuk memasak makanan saja siapa tahu dia bisa kan. Ya belajar meskipun tidak tahu akan bagaimana nanti hasilnya. Fira membuka kulkas dan ada beberapa bahan makanan yang sepertinya akan mudah untuk Fira olah.
Fira segera mengambil satu persatu dan menyiapkannya, tidak lupa dia juga tadi kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya mencari resep yang sangat mudah sekali untuk mengolah makanan-makanan ini.
Fira juga nanti mau memasak untuk anaknya, pasti Kamila akan sangat senang sekali kalau dirinya membuatkan makanan.
Fira jadi tak sabar kan ingin bertemu dengan anaknya itu menghabiskan waktu bersama nya juga. Pasti akan sangat menyenangkan sekali.
"Kamila ibu ingin sekali memeluk kamu. Kenapa ibu baru sadar sekarang, seharusnya dari awal kamu lahir ibu sudah menyayangi kamu. Ibu begitu menyesal telah melakukan hal itu padamu, tak menyayangi kamu dengan sepenuh hati "
...----------------...
Ayana menghubungi nenek terlebih dahulu ingin mengajak anak-anak makan siang sama-sama.
"Hallo nek apakah anak-anak sudah makan siang"
"Ayana kamu menanyakan hal itu ini sudah jam berapa, ini tuh sudah sore Ayana, sudah bukan waktunya makan siang, apakah Adnan belum memberi kamu makan, sampai kamu mengajak anak-anak untuk makan siang "
"Bukan begitu nek, aku hanya ingin makan bersama anak-anak saja. Biar sekalian saja nek "
__ADS_1
"Pasti ini ulah Adnan kan yang mengurung mu di dalam kamar, seharusnya kamu menolaknya jika dia terus meminta. Kamu tidak boleh terus menurutinya. Kamu harus lebih mengutamakan perut kamu itu"
Ayana yang mendengar itu sampai kaget neneknya ini ternyata kata-katanya cukup membuat Ayana kaget. Nenek sebelumnya tak pernah berkata seperti ini.
"Bukan begitu nek, aku hanya ingin makan siang bersama anak-anak saja"
"Anak-anak sudah makan siang dari tadi Ayana, lebih baik sekarang kamu segera makan jangan membiarkan perutmu kosong jika Adnan melakukan hal itu lagi kamu tendang saja laki-laki itu "
"Iya Nek aku dan Adnan akan mampir dulu untuk makan, apakah nenek ingin sesuatu "
"Iya sayang makanlah dulu isi perutmu. Awas jangan pernah lakukan hal itu lagi. Tidak sayang, nenek tak ingin sesuatu sudah lebih baik kamu makan dulu saja ya "
Setelah berbicara dengan nenek Ayana menyuruh Adnan untuk mampir dulu ke tempat makan, karena memang perut Ayana juga sudah lapar dari tadi. Tadi dirumah tak sempat, karena Ayana ingin segera bertemu dengan anak-anak.
Mereka masuk ke sebuah restoran. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka apalagi dengan Adnan yang seorang pengusaha yang terkenal di mana-mana pasti mereka mengenalnya.
...----------------...
Baru saja datang telinga Adnan sudah dijewer oleh neneknya. Adnan yang tidak tahu apa-apa tentu saja kesakitan dan berteriak pada neneknya, tapi dengan suara tertahan.
"Ada apa sih nek, kenapa tiba-tiba telingaku ditarik seperti ini, sakit sekali nek jangan seperti ini dek. Aduh aku benar-benar kesakitan nek "
"Kamu ini ya sekali lagi kamu membiarkan Ayana tidak makan lihat saja, telingamu ini akan hilang. Jangan keterlaluan kamu ini Adnan ya "
"Ampun nek ampun, keterlaluan apa nek "
"Masih tidak mengaku, kamu ini jangan keterlaluan mengurung Ayana di dalam kamar hanya untuk memuaskan nafsumu itu saja. Dia juga harus makan Ayana itu harus punya tenaga. Mau Ayana sakit nanti kamu melakukan itu terus, kamu itu harus tahu batasannya Adnan, tak boleh hanya mementingkan nafsu mu saja "
__ADS_1
"Ya ampun nek, jangan seperti itu aku tak akan melakukannya lagi. Nanti akan aku siapkan makanan di dalam kamar agar Ayana tidak kelaparan. Sudah dong nek lepaskan telingaku ini bisa-bisa telingaku ini benar-benar copot, aku tak punya cadangan lagi nek "
Nenek langsung melepaskannya, nenek langsung menarik tangan Ayana untuk segera masuk. Sedangkan Adnan sendiri masih diluar masih memegang telinganya yang panas karena ulah sang nenek.
"Nasib nasib selalu saja seperti ini, nenek ini sebenarnya maunya apa sih "
Adnan ikut menyusul masuk kedalam rumah, Adnan juga memegang telinganya itu.
"Mama, ayah kalian kemari lihat kamu sedang main apa " teriak Melisa dan juga Melinda dengan kompak.
Ayana segera menghampiri kedua putrinya yang sedang mandi bola.
"Mama kemarilah masuk, nenek membelikan kami bola yang begitu banyak sekali. Nenek benar-benar baik sekali "
Ayana langsung masuk kedalam kolam bola itu, Melisa dan juga Melinda mengajak main mamanya sedangkan nenek dan Adnan hanya menatap mereka dengan senyum yang merekah.
"Jangan pernah kamu sakiti lagi Ayana, kamu tak boleh melakukan hal itu lagi Adnan. Lihat sekarang ada 3 perempuan yang harus kamu bahagian, kamu tak boleh gegabah lagi dalam mengambil sesuatu"
"Iya Nek, aku tak akan seperti itu. Aku tak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya"
"Hem, memang harus seperti itu. Kamu tak boleh gegabah pokoknya. Kamu harus membuat mereka bahagia dan tersenyum, mereka akan mengantungkan hidup pada kamu Adnan "
"Iya Nek, aku mengerti aku akan membuat mereka selalu tersenyum dan terpenuhi "
Melisa dan juga Melinda tiba-tiba menarik tangan nenek dan juga Adnan.
"Ayo nenek, ayah kita main sama-sama kenapa kalian malah diam saja, ini sangat menyenangkan " ucap Melinda dengan semangat.
__ADS_1
Akhirnya mereka berlima bermain disana, saling bercanda. Semoga saja dalam keluarga mereka ini tak ada lagi kesedihan, akan selalu bahagia seperti ini terus.