
Adnan yang tidak mendengar lagi suara istrinya segera melihatnya ternyata istrinya ini tertidur. Sekarang istrinya ini gampang sekali tertidur dan tidak gampang terusik juga mau ada suara sekeras apapun istrinya itu akan tidur saja. Bahkan tadi suara Melisa yang berteriak tidak membangunkannya.
Istrinya ini anteng saja tertidur, Adnan sampai tak sadar, kalau saja tadi tak melihatnya Adnan malah akan terus berdebat dengan Melisa yang sudah ikut-ikutan menyebalkan seperti neneknya.
Tangan Adnan juga dari tadi tidak berhenti untuk mengusap lengan istrinya dan juga Adnan terus menciumi kepala istrinya itu, mungkin itu membuat istrinya nyaman dan tertidur. Sekarang padahal belum jam 08.00 biasanya istrinya ini akan tidur jam 10.00 atau jam 11.00 malam.
"Sstt " Melinda meletakkan telunjuknya di bibirnya untuk kakaknya tidak berbicara terlebih dahulu karena mamanya tertidur"Ayah lebih baik kamu bawa Mama untuk tidur di dalam kamar saja, nanti Mama akan terbangun kalau di sini terus menerus, kakak dari tadi terus bicara yang keras dan berdebat terus dengan Ayah"
Adnan terkekeh mendengar Melinda yang berbicara seperti itu. Sekarang Melinda menjadi sedikit lebih dewasa. Adnan membenarkan dahulu tubuh istrinya agar lebih mudah nanti untuk digendong olehnya. Da. agar lebih nyaman juga istirnya ini.
"Ayah kamu harus kembali ke mari pokoknya kamu tidak boleh kemana-mana "Melisa sepertinya belum mau melepaskan ayahnya itu, Melisa masih ingin bicara dengan ayahnya" Urusan kita ini belum selesai Ayah, kamu tidak boleh seperti itu pada nenek buyut, kamu harus baik dengan nenek dan juga menghormatinya juga "
"Ayah mau langsung tidur saja dengan mama, ayah mau memeluk Mama. Kalian selesaikan saja teleponan bersama nenek buyut nanti simpan saja ponselnya di kamar kalian ayah akan mengambilnya. Kalian puas-puaskan saja berbicara dengan nenek ya, ayah tak akan menganggu kalian berdua"
"Tidak bisa seperti itu Ayah, kamu harus berbicara dengan aku. Kita ini belum selesai, Ayah tidak boleh kemana-mana Ayah juga belum boleh untuk tidur bersama mama, masalah ini harus diselesaikan Ayah. Ayah seharusnya tidak melarangnya nenek buyut untuk bertemu dengan kami, nenek buyut kasihan, dia itu tinggal sendiri seharusnya Ayah membolehkan kami untuk bermain bersama nenek buyut di sana juga ada Ayu kan, jadi kami bisa bermain sekalian belajar bersama Ayah "
"Ayah akan tidurkan dulu mama, kasian mama pasti sudah pegal seperti ini "
Melisa langsung turun dari kursi dan memegang celana ayahnya "Ayo akan aku antarkan Ayah ke dalam kamar, aku tidak mau nanti tiba-tiba ayah mengunci pintu dan tidak kembali lagi ke mari. Aku tahu ayah itu kadang licik, ayah tak boleh seperti itu ya"
Adnan benar-benar dalam masalah besar, kalau sudah seperti ini Adnan tidak akan pernah bisa lepas dari Melisa. Memang Melisa ini selalu ingin tuntas kalau ada masalah. Dia tidak mau menyimpan-nyimpannya dan kalau ada pertanyaan Melisa itu harus selesai dulu sampai ke akar-akarnya baru Adnan bisa lepas.
Makanya Adnan tidak mau kalau sampai anak-anaknya ini bermain dengan neneknya. Karena apa pertanyaannya itu harus selalu dijawab sampai ke akar-akarnya dan harus selesai semuanya tanpa ada bantahan sedikitpun.
Setelah ada di dalam kamar Adnan langsung membaringkan istrinya, Melisa mengusap rambut mamanya dengan sayang "Apakah boleh mencium mama dulu ayah"
"Tentu saja boleh, kenapa harus berbicara sayang biasannya kamu akan langsung mencium mama"
"Karena aku tak mau sampai menyakiti mama, jadi harus selalu bertanya "
Melisa langsung mengecup kening mamanya, pipi lalu hidung Mamanya juga "Lalu apakah aku boleh mencium adik bayi juga"
"Boleh tapi pelan-pelan ya"
Melisa berjalan dengan perlahan dan mencium perut mamanya. Melisa juga mengelusnya dengan perlahan "Adik bayi di dalam perut Mama yang baik ya. Jangan nakal-nakal nanti mama akan kesakitan, kami semua menunggu kamu, kami semua akan senang saat kamu nanti ada bersama kami, nanti kita main ya sama-sama. Kakak akan menunjukan kamar kakak yang bagus sekali pada kamu "
Adnan hanya bisa tersenyum mendengar hal itu mereka berdua lalu turun ke lantai bawah lagi. Adnan juga menutup pintu tadi dengan sangat perlahan meskipun istrinya tidak akan bangun tetap saja Adnan tidak bisa gegabah langsung menutup pintu dengan kencang.
__ADS_1
Mereka sudah kembali ke lantai bawah Adnan langsung memangku kedua putrinya itu. Dia memegang ponselnya, agar anak-anaknya itu tak lelah terus memegang ponselnya "Apakah Melinda sudah memberitahu nenek buyut tentang adik bayi, dari tadi kan kalian terus berbicara, apakah kabar bahagia itu sudah kalian sampaikan "
"Maksudnya adik bayi apa" nenek yang ada di seberang sana langsung menyahut. Nenek Takur salah dengar.
"Nenek kami berdua akan punya adik bayi, di dalam perut Mama itu ada adik bayi "sorak Melinda dengan gembira. Bahkan dia sampai bertepuk tangan.
Nenek sampai melotot kan matanya, dia masih belum percaya dengan apa yang Melinda katakan "Adik bayi di perut Mama"
Melisa dan juga Melinda langsung menganggukan kepalanya dengan senyum lebarnya, bahkan gigi mereka sampai terlihat.
"Ya ampun anakku Ayana dia hamil kembali, nenek begitu bahagia mendengar kabar ini. Terima kasih ya Allah terima kasih. Kabar ini begitu membuat aku bahagia sekali "
Nenek sampai terharu mendengar kabar bahagia ini, nenek tidak menyangka Ayana akan kembali mengandung dengan cepat. Sebenarnya nenek tak masalah kalau Ayana belum mau memberikannya cicit kembali. Tapi saat mendengar kabar ini nenek begitu bahagia sekali hidupnya makin lengkap saja.
Nenek akan makin betah lagi disini, nenek sepertinya tak akan pulang lagi kerumah yang ada disana. Nenek akan menetap saja disini agar lebih dekat lagi dengan cicitnya ini dan juga Ayana juga. Nenek akan terus melindungi Ayana.
"Ini kabar yang besar, kita harus merayakannya" nenek begitu senang sekali tadi dirinya ingin berbicara dengan Ayana, tapi kata Melinda kalau mamanya itu sedang dibawa oleh ayahnya ke dalam kamar karena tertidur.
"Nenek buyut sangat benar sekali, kenapa kami tadi tak kefikiran kesana ya "sahut Melisa "Nanti malam kita makan makan seafood, pasti akan enak kita rayakan nenek. Aku jadi tak sabar sekali "
Nenek dan juga Adnan tertawa mendengar hal itu, Melisa ingin merayakan kebahagiaan ini dengan makan seafood. Nenek kira Melisa akan menyarankan pesta yang besar tapi ternyata malah makan seafood.
Melisa mengangguk setuju "Aku juga akan makan banyak jagung, nenek kamu juga harus makan jagung yang banyak kalau kita memakan makanan seafood kita harus makan jagung yang banyak, mama selalu menyuruh kami makan jagung kalau makan seafood"
Nenek begitu terhibur dengan tingkah cicit kembarnya ini. Mereka selalu saja bisa membuatnya tersenyum makanya dirinya selalu ingin dekat dengan cicitnya ini, mau tinggal bersama tapi nenek selalu bolak-balik sana sini takutnya anak-anak akan ikut nanti kalau nenek pergi.
"Tentu nenek akan banyak makan jagung agar tetap sehat, nenek ingin selalu melihat kalian "
Melisa yang baru ingat tentang masalah yang tadi langsung menatap ayahnya "Ayah pembicaraan kita ini belum selesai kamu harus minta maaf pada nenek, kamu tidak boleh membuat nenek sedih. Kasihan nenek, apalagi nenek itu tinggal sendiri kan ayah itu tidak boleh membuat nenek sedih. Kalau nenek nanti sedih dan banyak fikiran nenek akan sakit, jangan sampai itu terjadi ayo minta maaf dengan tulus ayah"
"Tidak mau, Ayah tidak mau meminta maaf pada nenek. Ayah akan bungkam saja seperti ini " sambil menutup mulutnya mengunakan tangannya.
"Ayah kamu ini jangan keras kepala, kenapa kamu seperti ini, kamu selalu mengajarkan pada kami untuk selalu minta maaf bila salah. Lalu sekarang Ayah kan salah seharusnya Ayah itu minta maaf, ayo ayah cepat lakukan jangan keras kepala seperti itu "
"Tidak mau, Ayah tidak mau meminta maaf pada nenek. Nenek juga tak pernah meminta maaf pada ayah, jadi ayah akan bungkam saja "
"Kamu ini sangat menyebalkan Ayah, kamu ini tidak mau meminta maaf pada nenek, seharusnya kita itu selalu menemani nenek. Nenek itu selalu sendirian dan kesepian. Kita main ke sana itu kan untuk menemani nenek"
__ADS_1
Melisa langsung cemberut karena ayahnya tidak mau minta maaf pada nenek buyut, padahal tinggal bilang minta maaf saja kan semuanya sudah selesai tapi ayahnya ini keras kepala.
"Aku akan marah pada Ayah, ayah ini menyebalkan sekali tahu, ayah tak mau melangkah sekali "
"Kenapa kamu menyuruh Ayah untuk minta maaf pada nenek, kalau nenek menjewer telinga Ayah tidak kamu suruh untuk minta maaf, kamu tak adil dengan ayah "
"Ya karena ayah nakal makanya nenek menjewer telinga ayah, jadi nenek tidak usah minta maaf pada ayah. Ayah yang harusnya minta maaf pada nenek ayo minta maaf Ayah, Ayah tidak boleh keras kepala seperti ini nanti nenek sedih loh kasihan dia"
"Iya Ayah benar ayo minta maaf lihat ini wajah nenek begitu sedih, apakah ayah akan terus begitu Apakah ayah akan terus keras kepala seperti ini "timpal Melinda yang dari tadi diam saja sekarang malah ikut-ikutan seperti kakaknya.
Adnan lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Adnan ingin tahu apakah anak-anaknya ini akan marah sekali padanya kalau dirinya tidak meminta maaf pada nenek. Adnan akan bertahan dulu beberapa menit.
"Benar kata kakak ayah itu menyebalkan, kamu keras kepala sekali, kami akan bicara pada Mama nanti besok pagi pasti Mama akan kesal dengan tingkah Ayah yang seperti ini, karena tidak minta maaf pada nenek, Mama akan merajuk pada Ayah nanti. Aku yakin itu mama tak akan memaafkan ayah dengan cepat "
Adnan yang mendengar itu langsung mengambil ponselnya dan menatap neneknya, neneknya itu malah tertawa terbahak-bahak karena dirinya langsung mengambil ponselnya itu. Adnan malah jadi kesal lagi kan. Neneknya ini pasti kegirangan sekali.
"Aku minta maaf nenek, aku tak akan melakukan hal seperti itu lagi pada nenek. Ayo nenek maafkan aku "
"Hahaha kamu kalah, kamu tak bisa kan kalau anak-anak membawa-bawa Ayana. Kamu memang lemah Adnan "
"Sudahlah aku minta maaf padamu Nek, kenapa kamu ini malah tertawa. Aku benar-benar tulus meminta maaf padamu ayo maafkan aku jangan seperti itu nenek "
"Tidak aku tidak akan memaafkanmu dasar cucu durhaka. Kamu itu harus dulu dibujuk dan membawa-bawa nama istrimu"
Nenek kamu tidak boleh seperti itu maafkan ayah, sepertinya Ayah sudah sangat menyesal. Kasihan ayah kalau tidak nenek maafkan dia pasti akan terus cemberut "Melisa memeluk leher ayahnya dan memperlihatkan wajahnya ke arah neneknya"
Sekarang giliran Adnan yang tertawa karena neneknya kalah. Neneknya juga sepertinya akan memaafkannya karena Melisa sudah berbicara seperti itu. Neneknya tak akan bisa membantah kata-kata dari cicitnya ini.
"Baiklah nenek maafkan kesalahan ayahmu, tapi ayahmu tidak boleh melarang nenek lagi untuk bertemu dengan kalian berdua. Nenek harus bisa setiap hari bertemu dengan kalian, tak boleh ada alasan lagi, pokoknya nenek harus selalu bertemu dengan kalian berdua mau sebentar ataupun lama"
"Tidak bisa begitu Nek kamu selalu saja seperti itu, anak-anak harus bermain dengan aku juga. Kamu tak boleh serakah "
"Apa yang seperti itu, kalau tanpa aku kamu juga tidak akan bisa dekat dengan anak-anak dan juga Ayana anakku. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan mereka saja. Dengar kamu ini jangan menyebalkan dan buat nenek kepikiran nenek itu ingin dekat dengan mereka, nenek itu tak punya waktu banyak tahu "
"Baiklah baiklah aku mengerti, aku kalah kalau berdebat tentang hal ini. Nanti anak-anak akan aku antarkan ke rumahmu nenek, tapi nenek harus mengembalikan mereka ya, aku juga ingin menghabiskan waktu dengan mereka"
Anak-anak langsung bersorak gembira saat mendengar hal itu dari ayahnya, mereka juga senang akan bertemu dengan nenek apalagi mereka nanti akan makan-makan merayakan adik bayi yang ada di dalam perut mamanya.
__ADS_1
Setelah berbicara cukup lama dengan nenek. Adnan segera mengantarkan kedua putrinya untuk tertidur ini sudah larut malam sudah jam 10.00. Seharusnya anak-anak jam 09.00 malam tadi sudah tertidur kalau Ayana tahu pasti dia akan mengomel karena jadwal anak-anak tidur itu jam 09.00. Apalagi besok mereka sekolah kan.