
Sedangkan di kediaman Ayana sekarang, mereka baru saja selesai makan. Anak-anaknya baru menyimpan peralatan makan memberikannya pada Ayana. Dengan senang hati Ayana menerimanya, lalu Melisa kembali lagi ke arah meja lipat dan membereskan semua itu. Sedangkan Melinda masih saja diam di samping Ayana sambil menarik-narik ujung pakaian Ayana.
Ada apa Melinda "tanya Ayana sambil mengusap kepala anaknya, yang mendongak menatapnya.
"Mama aku juga ingin membantumu. Aku juga ingin cuci piring Kakak kan sudah membereskan meja, sekarang aku juga mau mencuci piring" sambil melompat-lompat ingin segera dipangku oleh Ayana.
Ayana menggerakkan telunjuknya dan menggelengkan kepalanya "Pasti kamu hanya ingin bermain air kan, lebih baik main saja bersama kakakmu ya. Lihat mainan kalian sudah banyak yang dikeluarkan sekarang lebih baik bermain "
"Tapi aku ingin membantu Mama, aku ingin mencuci piring saja Mama. Setelah itu aku akan main bersama Kakak aku janji tak akan main air, aku akan membantu Mama dengan sungguh-sungguh "
Melisa yang mendengarnya kan adiknya segera menghampirinya dan menarik tangannya. Melisa tidak mau adiknya itu malah menganggu Mamanya dan menghambat pekerjaannya "Ayo lebih baik kita main boneka saja, kamu jangan mengganggu Mama. Mama sedang bekerja, agar Mama cepat beres dan nanti kita tidur bersama"
"Benarkah kita akan tidur bersama Mama "ucap Melinda dengan senang sekali, sudah lama mereka tidak tidur bertiga. Melinda begitu rindu tidur bertiga saling peluk.
"Boleh juga, nanti kita tidur bersama. Ya sudah sekarang kalian sikat gigi, cuci kaki, cuci muka dulu ya agar nanti langsung tidur nanti Mama akan buatkan susu untuk kalian, ayo cepat anak-anak Mama yang cantik "
"Baik Mama sayang "ucap mereka dengan sangat kompak. Mereka berdua bergandengan tangan masuk ke dalam kamar mandi. Ayana tersenyum melihat tingkah anaknya begitu lucu sekali.
Ayana yang sudah selesai membereskan semuanya bergabung dengan kedua anaknya, yang sedang bermain boneka Barbie dan juga rumah-rumahan boneka mereka yang sudah disusun dengan rapi.
Memang butuh beberapa hari, sampai-sampai Fabian harus membantunya. Karena memang ada beberapa bagian yang harus di paku agar lebih kokoh dan tak mudah rubuh.
Melinda tiba-tiba saja duduk di pangkuan Mamanya "Mama, apakah Mama senang mempunyai anak seperti aku dan juga Kakak "dengan mata yang berkedip-kedip lucu.
"Tentu saja Mama senang memiliki anak-anak seperti kalian, kalian itu baik, cantik, pintar, lalu bisa memakai pakaian sendiri, mengancing pakaian, memakai sepatu dan kadang kalian juga bisa mencuci sepatu sendirian. Mama sangat bahagia sekali memiliki anak seperti kalian berdua, kalian berdua adalah penolong Mama. Kalian berdua adalah sumber kebahagiaan mama bisa peluk Mama sekarang, Mama begitu suka jika dipeluk oleh kalian berdua "
Melisa dan juga Melinda segera memeluk Ayana dengan erat. Ayana cukup hidup bersama mereka saja, Ayana tidak butuh siapa-siapa lagi Ayana bahagia hidup bersama kedua anaknya ini, tidak ada yang lebih membuat Ayana bahagia daripada ini.
Melisa juga bahagia melihat Mamanya yang tidak sedih lagi, semoga saja tidak bertemu lagi dengan paman Adnan yang menyebalkan itu. Melisa tidak mau melihat Mamahnya sedih lagi, Melisa juga tidak bisa gegabah meminta mamanya untuk pindah rumah lagi.
Melisa baru berpikir kalau misalnya pindah rumah lagi bagaimana dengan toko bunga mamanya, masa mamanya harus dari nol lagi Melisa tidak mau membuat mamanya kerja dengan susah payah lagi. Kasian Mamanya pasti akan bergadang lagi kasian sekali kan.
Pelukan mereka berdua sudah terlepas, Melisa sudah menguap "Mama bisa kita tidur, aku ingin sekali menutup mataku ini, rasannya mengantuk sekali untuk hari ini "
"Tentu saja boleh, tapi bereskan dulu dan minum dulu susu yang baru saja Mama buatkan tadi ya. Lalu setelah itu kita tidur "
Mereka berdua menganggukkan kepalanya, segera membereskan mainan-mainan itu dan juga mengambil susu mereka masing-masing. Tidak lupa mereka juga duduk terlebih dahulu sebelum meminum susu itu, lalu memberikan gelas kosong itu pada Ayana.
"Manis sekali, Melinda sangat suka makanan manis, minuman manis semuanya yang manis-manis Melinda suka. Melinda rasannya ingin punya mesin pembuat makanan dan minuman manis "
"Tapi jangan berlebihan nanti kalau sakit gigi bagaimana"
__ADS_1
"Iya Mama Melinda akan membatasinya, ayo kita tidur Mama " sambil merentangkan tangannya ingin dipangku oleh Ayana. Ayana segera membawa anak bungsunya itu dan saat akan memangku Melisa, Melisa tidak mau dan malah menggandeng tangan Ayana untuk masuk ke dalam kamar.
Mereka bertiga tidur di kamar Ayana, mereka berbaring dengan Ayana yang ada di tengah-tengah "Mama bisa ceritakan sebuah dongeng, mungkin dongeng tentang Cinderella atau mungkin Rapunzel atau apapun itu. Kami ingin mendengarnya sebelum tidur "
"Baiklah Mama akan ceritakan, Mama ambil dulu buku dongengnya ya"
Ayana mengambil salah satu buku dongeng anaknya, yang memang selalu Ayana bacakan kalau mereka sedang tidur bertiga itu sudah menjadi kebiasaan mereka bertiga.
Ayana akan menceritakan kepada kedua putrinya tentang dongeng Cinderella "Dengarkan Mama baik-baik ya"
"Tentu Mama"
"Pada zaman dahulu, hiduplah seorang anak berwajah cantik dan juga manis dia bernama Cinderella. Dia tinggal bersama ibu dan juga dua Kakak tirinya yang begitu kejam. Setiap hari Cinderella harus selalu mengerjakan pekerjaan rumah"
Ayana menatap anak-anaknya yang matanya mulai terlelap, Ayana kembali menyambung ceritanya "Dia juga mendapat siksaan dari ibu dan saudara tirinya. Namun, dia tidak pernah membenci atau marah kepada ibu atau saudara tirinya. Dia juga tidak pernah mengeluh atau merasa lelah dengan semua pekerjaan yang diberikan. Suatu hari, sebuah sayembara pesta dansa datang dari istana dan_"
Baru juga memulai ceritanya ternyata anak-anaknya sudah terlelap dengan nyenyak. Ayana menutup bukunya mencium satu persatu kening dari anaknya. Ayana juga ikut tidur karena memang ini juga sudah malam dan Ayana juga sudah mulai mengantuk.
Pekerjaan di toko tadi cukup banyak, tapi Ayana senang banyak yang membeli dan juga banyak yang menyukai bunga-bunga yang ada di tokonya, serta hiasan yang dibuat oleh Ayana juga dari bunga-bunga itu.
Baru saja Ayana akan masuk ke dalam mimpinya, malah mendengar suara ketukan pintu. Dengan perlahan Ayana melepaskan pelukan dari anak-anaknya itu, meskipun sangat sulit tapi ketukan pintu itu sangat mengganggu bisa-bisa anak-anaknya ini terbangun.
Anak-anaknya ini baru saja tertidur, kasian mereka kalau sampai terbangun, akan sulit lagi untuk tertidur. Ayana sangat tahu bagaimana anak-anaknya itu kalau sudah terganggu.
Tapi Adnan malah memberikan setumpuk kertas pada Ayana, Ayana tentu saja bingung maksudnya apa ini, Ayana bukanlah penjaga fotokopian sampai-sampai harus diberikan setumpuk kertas seperti ini.
"Aku tidak bekerja di tempat fotokopian, kalau mau fotokopi ke tempat lain saja. Aku tidak menerimanya sana pergi kamu salah alamat "
"Bukan seperti itu, kamu ini salah mengartikan semua ini, ini semua asetku. Ada surat rumah, surat perusahaan, surat rumahku yang di tempat lain dan banyak lagi ini juga ada BPKB mobil semua mobilku tidak ada yang terlewat"
"Aku bukan Pegadaian sana pergi aku tidak butuh semua itu, aku juga tak punya uang banyak sana pergi Adnan lagi-lagi kamu salah tempat "
"Ayana aku sedang tidak main-main, tanda tangani semua ini dan ini akan menjadi milikmu, aku rela miskin demi kamu dan juga anak-anak. Ayo Ayana lakukan asal kalian bisa menjadi milikku aku rela memberikan ini semua sama kamu, aku juga sudah menganti nama pemiliknya menjadi kamu seluruhnya Ayana "
"Aku tidak mau kaya mendadak, aku masih bisa cari uang sendiri. Aku tidak akan haus akan harta apalagi semua yang kamu punya sana pulang temui anak dan istrimu saja, berikan ini pada mereka yang lebih berhak "
"Sudah kubilang sudah bercerai, atau perlu aku bawa surat cerai ku dengan Fira agar kamu percaya semuanya, aku akan pulang dan membawa itu untuk diperlihatkan sama kamu "
Ayana menutup pintu dan keluar untuk berbicara dengan Adnan di luar saja, kalau seperti ini anaknya akan bangun. Ayana tidak mau sampai anak-anaknya tahu tentang kedatangan Adnan pasti semuanya akan kacau.
"Pulang saja aku tidak butuh semua ini Adnan. Aku tidak mau, aku masih bisa mencari uang sendiri tanpa kamu harus memberikan aku aset-aset ini, harta-harta ini aku tidak butuh memangnya aku ini perempuan apa mata duitan sudah jangan samakan aku dengan perempuan lain. Sana pulang aku tidak mau ada kamu disini "
__ADS_1
"Aku tidak menganggapmu seperti itu Ayana. Aku hanya ingin bersama anak-anak, kamu bisa mengambil hartaku semuanya aku tidak akan pernah mengambilnya lagi. Ini hakmu dan ini milikmu, aku tak akan pernah mengambilnya Ayana "
"Anak-anakku tidak akan bisa digantikan oleh apapun atau ditukar oleh apapun, jadi mau kamu memberikan semua hartamu itu tidak akan berpengaruh dan aku tidak akan pernah mau memberikan anak-anak padamu. Mereka juga tidak butuh kamu, mereka tak akan mau bertemu dengan kamu "
"Aku tidak mau menukar mereka, aku hanya ingin kamu dan anak-anak ada di sampingku, itu saja ayo Ayana aku akan memberikan semua ini padamu. Jadi kamu bebas mau mengaturku seperti apa, aku akan selalu mengikuti kata-katamu "Adnan sampai memohon seperti ini untuk bisa kembali dengan Ayana. Baru kali ini Adnan memohon seperti ini dan memberikan semua hartanya pada seorang perempuan sungguh Adnan tak pernah seperti ini.
"Aku tidak peduli, itu bukan urusanku. Salah siapa dulu kamu menghianatiku, salah siapa kamu dulu tidak mau mendengarkan perkataanku dulu, salah siapa kamu dulu tidak mau membela aku di depan orang-orang itu. Sekarang aku sudah sangat kecewa denganmu Adnan jadi pergi dari sini aku tidak akan pernah bisa dibeli oleh apapun. Sana aku tidak mau melihat wajahmu lagi "
"Iya aku tahu aku salah Ayana, aku memang salah, tapi tolong beri aku kesempatan aku ingin sekali hidup dengan kalian bertiga. Aku ingin kita bisa bahagia bersama-sama. Aku akan menganti semua hari yang pernah kita lewati "
"Tapi aku tidak mau, aku tidak mau hidup bahagia denganmu. Aku sudah bahagia bersama kedua putriku. Kami sudah hidup berkecukupan, kami sudah bahagia kami tidak butuh apa-apa lagi bahkan kami tidak butuh sosok laki-laki seperti kamu. Jangan pernah ganggu hidup kami lagi"
"Tolong Ayana, Mama juga sudah menyesali tentang perbuatannya itu. Mama ingin minta maaf padamu. Bahkan dia mau melakukan apapun jika kamu menghukumnya dia siap, dia siap melakukan apapun Ayana "
Benarkah Mamah Adnan mau berubah. Mamah Linda mau berubah, dia itu perempuan yang keras kepala dan juga licik. Apa Ayana harus percaya dengan semua itu, tiba-tiba saja Ayana mengingat kembali tentang apa saja yang dilakukan oleh mantan Ibu mertuanya itu.
Ayana sampai menggigit bibir dalamnya agar dia tidak menangis, bukan apa-apa Ayana juga masih sakit hati dengan tingkah mantan Ibu mertuanya itu. Ayana tidak bisa langsung percaya seperti itu kan benarkah dia mau dihukum oleh Ayana. Sungguh sesuatu yang tak menyakinkan sekali.
Ayana menatap Adnan yang masih memohon padanya, dengan wajah yang begitu lesu, pakaian yang berantakan, rambut yang berantakan bahkan sekarang Adnan mempunyai kumis dan janggut bukan Adnan yang dulu kan.
Adnan benar-benar berubah sekarang, tapi Ayana tidak bisa bergantung hidup pada Adnan lagi. Dia pernah mengantungkan hidupnya pada laki-laki yang ada di hadapan ini, tapi apa kenyataannya dia dikhianati.
Bahkan tidak dibela sedikitpun olehnya, begitu sakit hati Ayana, merasa tidak dihargai tiba-tiba dibuang dan tidak mau didengarkan sedikitpun. Makannya Ayana tak mau mengantungkan hidupnya pada laki-laki manapun lagi. Sudah cukup semua ini.
Adnan langsung memeluk Ayana dengan erat sekali "Tolong Ayana aku harus bagaimana, apa sebenarnya yang diinginkan kamu Ayana, aku akan turuti agar kita bisa sama-sama aku akan mengikuti apa kemauanmu asal kita bisa sama-sama Ayana, asal aku dan anak-anak juga bisa sama-sama tolong"
Ayana mencoba untuk melepaskan pelukan itu, tapi malah makin erat saja pelukannya itu "Aku tidak mau membuat keributan di sini dan aku juga tidak mau tetangga-tetangga di sini menggunjingkan aku, karena berpelukan di luar rumah seperti ini, lepaskan jangan membuat aku malu. Pergi Adnan aku tidak menerima kamu lagi "
Tapi Adnan tidak melakukannya, dia terus saja memeluk Ayana bahkan lebih erat lagi, tidak peduli dengan Ayana yang terus saja memberontak, Adnan tidak mau melepaskannya. Adnan harus mendapatkan Ayana kembali apapun caranya.
"Ayana tolong pikirkan lagi semuanya, anak-anak pasti akan membutuhkan aku. Suatu saat dia pasti akan sangat membutuhkan aku, bagaimana nanti kalau misalnya teman-temannya menanyakan tentang ayahnya, orang-orang menanyakan tentang ayahnya mereka juga pasti akan bingung akan menjawab apa. Tolong pertimbangkan semuanya, aku yakin kamu bisa mengambil keputusan yang baik dengan tenang. Aku mohon padamu Ayana ini demi anak-anak ini demi mereka kamu tidak kasihan dengan mereka"
"Tidak usah membawa anak-anak, mereka dari dulu sudah nyaman tanpa ada kamu pun mereka sudah nyaman. Tidak ada yang pernah bertanya siapa ayah dari mereka. Jadi kamu tidak usah ketakutan seperti itu. Mereka sudah nyaman hidup bersamaku kami bertiga sudah baik-baik saja tanpa kamu. Aku berjuang sendirian untuk bisa menghidupi mereka berdua untuk bisa membuat mereka bahagia dan sekarang kamu jangan tiba-tiba masuk dan menghancurkan semuanya. Aku tahu keluargamu itu sangat tidak menyukaiku, aku tidak mau apa yang pernah terjadi padaku terulang lagi aku tidak mau itu aku sangat lelah menghadapi keluargamu, lebih baik kamu pulang dan hiduplah bersama keluarga kaya mu itu jangan hiraukan aku lagi"
"Ayana Mama akan bicara denganmu, dia akan minta maaf padamu tolong beri kami kesempatan untuk menembus semua kesalahan kami semua. Tolong Ayana aku harus bagaimana lagi agar mendapatkan maaf yang tulus dari kamu dan juga bisa mengenal anak-anak "
"Kamu mau aku teriak, kamu mau aku bilang kalau kamu itu maling lepasin. Jangan kayak gini aku ga suka ya"
Adnan dengan terpaksa melepaskan pelukan itu. Adnan melihat Ayana yang begitu marah padanya. Ayana langsung masuk ke dalam rumah dan Adnan juga tidak menahan-nahannya lagi.
Adnan hanya diam menatap kertas-kertas yang dia bawa, semua itu adalah hartanya, semua itu apa yang dia punya Adnan sudah bingung harus memberikan apa lagi pada Ayana. Bahkan harta pun tidak membuat Ayana gelap mata dan mau menerimanya Ayana masih kokoh dengan pendiriannya.
__ADS_1
Apalagi yang harus Adnan lakukan. Adnan tidak punya cara lagi, Adnan juga tidak mau mundur Adnan tidak mau tiba-tiba pulang tanpa hasil sedikitpun, anak-anaknya harus tahu kalau Adnan ini adalah ayahnya. Adnan tak rela kalau anak-anaknya lebih menyayangi Fabian dan menganggap Fabian sebagai Ayah mereka.