
Mama Linda membersihkan celananya yang kotor dia menatap keluarganya yang berdiri dengan tatapan yang benci. Mereka juga saling berbisik-bisik.
"Lebih baik kamu pergi saja dari sini, kamu juga tidak mau menerimamu. Kelakuanmu itu sudah sangat di luar batas Linda. Kita satu keluarga tidak pernah mengajarkanmu untuk licik seperti itu apalagi sampai menyakiti seseorang seperti itu. Sungguh sesuatu yang memalukan sekali. Kalau kamu sampai masuk penjara siapa lagi yang akan malu keluarga lagi "
Mama Linda bangun mengambil tasnya yang tadi dia bawa. Mama Lindan memang menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi. Dan keluarganya saat mendengarnya tentu saja langsung marah.
Tidak ada pembelaan sedikitpun dari Mana Linda, karena dirinya juga tahu dirinya salah. Saat dibawa keluar pun Mama Linda hanya diam saja pasrah dengan apa yang akan keluarganya lakukan.
"Iya Linda tahu, kalian mengajarkan Linda tidak seperti itu. Linda memang salah selama ini, Linda terlalu egois sampai-sampai memikirkan hal yang sebegitu piciknya pada orang lain. Linda menerima setiap sikap dari kalian semua, Linda akan menerima setiap hukuman atas apa yang Linda lakukan ini "
Mama Linda melangkah keluar dari rumah keluarganya itu. Daripada nanti mendapatkan caci maki lagi lebih baik mama Linda pergi saja, tapi entah ke mana sekarang dia harus pergi.
Mama Linda sudah tidak punya keluarga lagi, semua keluarganya berkumpul di sini dan mereka tidak ada yang menerima Mama Linda satu pun. Ini juga sudah sangat malam sekali harus pergi ke mana. Mama Linda tak punya rumah lain lagi, dia selama menikah dengan Ayah Adnan tak memikirkan tentang hal seperti ini akan terjadi padannya.
Mama Linda hanya menghambur-hamburkan uang, jalan-jalan kesana kemari. Lalu belanja barang-barang mahal dan perhiasannya, saat seperti ini Mama Linda jadi binggung sendiri kan.
Mama Linda membuka tasnya dulu melihat ada uang berapa, ya semoga saja uangnya cukup untuk makan dan juga biaya sehari-harinya. Mama Linda hanya membawa uang yang terakhir kali Adnan berikan itupun sudah sangat lama sekali.
"Hanya segini apakah akan cukup, aku harus kerja apa aku sudah sangat tua. Mana mungkin aku bisa bekerja. Memangnya ada yang mau mempekerjakan aku, kurasa tidak akan mereka pasti hanya akan mentertawakan ku saja"
Mama Linda duduk di sebuah ruko dia menatap sekitar yang sangat begitu sepi. Mama Linda baru saja sembuh tapi sudah keluar dari rumah dan harus hidup sendiri luntang-lantung seperti ini. Kalau saja neneknya Adnan tak datang Mama Linda masih akan hidup nyaman.
__ADS_1
Mama Linda juga tak punya hak apa-apa dirumah itu kalau sudah neneknya Adnan datang, semua adalah milik anaknya. Mama Linda hanyalah seorang menantu yang harus selalu mengikuti apa kata ibu mertuanya.
...----------------...
Kamila terbangun dari tidurnya dia melihat kekanan dan ke kiri ini bukan kamarnya, dia baru ingat ini kan di rumahnya paman Rio. Kamila keluar dari kamar dan menatap sekitar yang sepi, tak seperti dirumah Ayahnya yang banyak orang dan pasti akan selalu banyak yang membantunya.
Kamila membuka gorden jendela luar menatap ke arah luar yang gelap "Aku begitu rindu dengan ayah, apakah Ayah sekarang sedang senang-senang dengan kedua anak itu. Ayah jahat ya datang anak-anak itu aku ditelantarkan seperti ini, aku diberikan pada orang lain. Aku tidak suka kalau posisiku digeser oleh orang lain seperti itu "
Kamila menutup lagi gordennya, dia melangkah ke arah meja makan. Tiba-tiba saja perut Kamila lapar. Biasanya kalau sebelum tidur Kamila akan minum susu dan juga makan roti, tapi tadi tidak Kamila sangat sungkan untuk meminta hal itu pada Paman Rio.
Dilihat di meja makan pun tidak ada apa-apa kosong. Kamila duduk di sana dia merenung sendirian. Kalau saja bersama ayahnya pasti semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan beres.
Kamila turun lagi dan dia masuk ke dalam kamar, akan tidur saja semoga bisa tidur besok Kamila akan melakukan rencananya, meminta bantuan pada ibu guru untuk menelpon ayahnya itu.
...----------------...
Adnan dan juga neneknya sudah ada di depan rumah Ayana. Mereka benar-benar langsung terbang saat mamanya Adnan sudah pergi dari rumah, Neneknya begitu ingin cepat-cepat pergi dan tak mau menunggu-nunggu lagi.
"Nek Adnan tolong jangan jauhkan Ayana dan juga Adnan lagi, Adnan akan menebus semuanya. Adnan tahu apa yang Adnan lakukan ini salah, tapi tolong nanti jangan buat Adnan jauh lagi dari Ayana ya nek"
Neneknya menatap Adnan sekilas, tatapannya masih sama seperti kemarin malam, tatapan marah "Itu terserah nenek, mau nenek menjauhkan kamu dengan Ayana atau tidak. Nenek harus bertemu dulu dengan Ayana baru nenek bisa memutuskan semuanya"
__ADS_1
"Tapi sepertinya nenek jangan berbicara di rumah tunggu saja anak-anak pergi ke sekolah. Nanti aku akan antar nenek ke toko Ayana, aku janji itu nek"
"Tidak usah kamu antar. Kamu pergi saja ke mana. Nenek bisa pergi sendiri kok tinggal kamu kasih aja alamatnya sama nenek, ini adalah pembicaraan rahasia dan nenek tidak mau kamu mendengarnya kamu lebih baik pergi saja, jauh-jauh kalau perlu "
"Nek tolong aku minta satu hal pada nenek itu saja, jangan jauhkan aku dengan anak-anak dan juga Ayana. Aku begitu ingin hidup bersama mereka"
"Kalau kamu terus saja bicara nenek akan kabulkan apa yang kamu katakan, nenek akan menjauhkan kamu dengan Ayana dan juga anak-anak jadi diamlah nenek masih marah dengan kamu. Kamu itu seperti laki-laki pengecut tahu Adnan "
Adnan diam tidak mau lagi berbicara. Tapi Adnan akan tetap selalu mengawasi gerak-gerik neneknya, tidak akan Adnan lepaskan. Meskipun sudah tua seperti ini, neneknya ini sangat pintar sekali.
"Ya sudah ayo cepat kita pergi ke villa dulu, setelah itu nenek akan pergi ke toko bunganya Ayana. Nenek hanya ingin berbicara bersamanya saja"
"Iya kita pulang nek"
Adnan sesekali menatap neneknya, Adnan ingin melihat raut wajah sang nenek yang selalu saja membuatnya curiga.
"Fokus saja menyetir kamu ini, nenek masih ingin hidup ya "
"Iya iya maaf nek jangan marah marah terus dong "
"Makannya jangan buat nenek marah, kamu ini sungguh membuat nenek pusing"
__ADS_1