
Ayana mengambil pakaian anak-anaknya cukup banyak. Adnan hanya diam menatapnya dan memasukannya kedalam koper. Adnan ingin selalu dekat dengan ibu anak-anak.
Rasannya Adnan merasa kalau dirinya dan juga Ayana sudah kembali menjadi suami istri, Adnan yakin Ayana akan kembali pada pelukannya.
"Apakah sudah ini saja Ayana, apalagi yang harus aku bantu aku menyusun pakaian ini saja ya "Adnan begitu antusias untuk melakukan ini, ini untuk pertama kalinya dia membereskan pakaian anak-anaknya.
"Sudah lebih baik kamu main bersama anak-anak saja, daripada nanti kamu malah mengacaukan semuanya. Kamu cukup tenang dan menunggu aku membereskan semua ini "
"Ayana kenapa kamu meragukan aku, kamu tahu kan dari dulu kalau aku akan pergi melakukan sebuah bisnis aku selalu membereskan pakaianku sendiri, apa kamu lupa dengan kebiasaanku itu. Padahal itu sering aku lakukan Ayana, dan kamu juga sering melihatnya kan "
Ayana mendelikan matanya "Tak ada waktu aku untuk memikirkan semua itu, dan untuk mengingat semua itu. Untuk apa aku ingat tidak ada gunanya juga, itu hanya masa lalu yang harus segera aku lupakan"
"Kamu ketus sekali, tunggu dulu kenapa kamu memiliki koper yang sangat besar sekali apa ini persiapanmu juga untuk kabur dariku waktu itu, apa kamu sudah menyiapkan segalanya Ayana "
"Itu kamu bisa menjawabnya sendiri, lalu untuk apa kamu bertanya lagi padaku. Aku harus memiliki koper yang besar agar semua pakaianku, anak-anak cukup di sini dan aku tidak perlu membawa beberapa koper kan aku ini punya anak kembar. Jadi wajar kalau memiliki koper sebesar ini, belum lagi mainan anak-anak. Jadi kalau aku nanti mau kabur lagi darimu bisa masuk banyak kan, bahkan aku bisa membawa semua pakaian anak-anakku tidak meninggalkannya seperti waktu itu"
"Atau mungkin kamu juga ingin masuk ke dalam sini, akan masuk mau coba masuk ke dalam koper ini"
Adnan kesal kalau sudah membahas tentang kabur-kabur "Selalu saja topik mu itu pasti masalah kabur terus, nanti kamu ingin kabur lagi dariku. Aku juga tak mau masuk kedalam koper ini, kamu jahat sekali Ayana kamu ingin membuang aku mengunakan koper ini "
"Bukannya kamu sendiri tadi yang membuka topik itu. Kamu sendiri kan yang bertanya maka aku menjawab apa salahnya, tak ada yang salahkan"
Adnan diam, Adnan harus bisa berhati-hati kalau berbicara dengan Ayana, jangan sampai Ayana tersinggung. Karena dalam kepala Ayana hanya terpikirkan kabur dan kabur, Adnan takut nanti kalau Ayana tersinggung sedikit dia akan kabur meninggalkannya.
Pasti anak-anak juga akan dibawa. Adnan harus mencari kemana lagi Ayana. Ayana itu pintar bersembunyi dan satu lagi Fabian pasti akan membantunya.
"Ayana " panggil Adnan dengan lirih.
"Hemm"Ayana mendongakan kepalanya dan menatap Adnan yang wajahnya seperti sangat was-was sekali, Adnan itu sekarang lebih sering memasang wajah yang ketakutan.
"Jika nanti suatu saat aku melakukan kesalahan dan itu menyakiti kamu tolong beritahu aku ya, kamu jangan diamkan aku tolong aku kadang tidak bisa kontrol dengan ucapanku ini. Aku kadang suka semena-mena Ayana. Kamu tahu aku kan bagaimana, kamu sudah mengenalku lama "
Ayana mengurutkan keningnya "Kenapa harus aku"
"Ya karena kamu Ibu dari anak-anakku. Jadi kalau aku ada salah yang tidak aku sengaja atau aku sampai membuat kesalahan, tolong beritahu aku, kamu jangan diamkan aku atau pergi dariku ya. Aku pasti akan memperbaikinya aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Kamu harus menjadi pengingat ku Ayana "
__ADS_1
Ayana memberhentikan aktivitasnya dan sekarang fokus menatap Adnan. Rasanya tak fokus kalau sambil membereskan pakaian anak-anaknya ini.
"Tolong nanti jangan tiba-tiba langsung kabur ya, pikirkan tentang anak-anak, aku tidak memintamu untuk sabar kamu boleh memukulku, kamu boleh memarahiku kamu boleh melakukan hal apapun padaku asal satu jangan pernah kabur lagi dariku Ayana. Aku begitu takut kalau kamu pergi lagi dari sampingku "
"Mau kemana pun aku kabur, kamu akan bisa menemukanku kan kamu akan bisa mengejar ku. Bahkan setelah 5 tahun aku pergi darimu kamu masih bisa menemukanku, kamu masih bisa mengejar ku sampai ke sini pun kamu mengejar ku kan. Lalu apa yang kamu takutkan, kamu bisa mencariku dan kamu juga punya orang-orang yang bisa mencariku banyak anak buahmu. Maka seharusnya kamu tidak boleh takut seperti itu. Meskipun aku kabur ke ujung dunia kamu pasti akan menemukanku"
"Jujur saja saat itu aku berpikir untuk kabur lagi, tapi kalau dipikir-pikir aku juga lelah terus kabur dan membawa anak ke sana kemari Adnan, aku juga coba berdiskusi dengan Fabian apa bagusnya dan Fabian menyuruhku untuk menghadapi kamu dan sekarang aku menghadapi mu kan, aku tidak kemana-mana tetap disini "
"Bahkan aku memberikan kamu kesempatan untuk dekat dengan anak-anak. Aku menurunkan egoku demi anak-anak juga kan "
Adnan menganggukkan kepalanya benar juga "Ya aku memang bisa menemukanmu di manapun kamu bersembunyi, aku akan bisa menemukanmu tapi tolong demi kenyamanan anak-anak kamu harus memikirkan semuanya dulu, sebelum melakukan itu Ayana, aku tidak mau kehilangan kamu lagi dan juga anak-anak aku benar-benar tulus padamu Ayana. Aku ingin minta maaf, aku ingin menebus semuanya. Aku ingin denganmu baik-baik lagi seperti dulu. Aku ingin bertanggung jawab pada anak-anak Ayana. Jadi kalau aku ada salah maupun itu salah sekecil apapun kamu harus menegurku, kamu harus memberitahuku pasti aku akan memperbaiki semuanya untuk kalian"
"Bisa kan kamu melakukan itu Ayana ? Ya intinya untuk anak-anak saja kita harus memprioritaskan anak-anak, kita harus memikirkan mereka juga kan"
Ayana menatap Adnan saja, apakah benar Adnan yang dulu sudah berubah. Adnan yang dulu tidak pernah mau mendengarkan penjelasannya sekarang sudah berubah mau mendengarkan kata-katanya. Apakah Ayana tidak salah dengar dengan apa yang diucapkan Adnan.
Dari dulu Adnan tidak suka untuk ditegur atau diberitahu kesalahannya, Adnan selalu mau menang sendiri. Apakah yakin yang ada di hadapannya ini adalah Adnan yang dulu pernah menjadi suaminya.
"Ayana kenapa kamu malah melamun seperti ini, aku serius mengatakan itu sama kamu "
"Maafkan aku karena dulu tidak mau mendengarkan kamu. Tapi aku sekarang sudah berubah aku akan mendengarkan setiap kata-katamu Ayana. Aku akan mendengarkan dulu apa masalahnya dan kita nanti cari solusi sama-sama ya"
Ayana lagi lagi menganggukan kepalanya "Aku lihat tadi kamu sedang mengerjakan pekerjaan kantormu, lebih baik kamu bereskan dulu saja masih ada waktu beberapa jam kan untuk kita pergi ke bandara. Setelah nanti di pesawat kamu tidak boleh bekerja lagi, kamu harus istirahat Adnan, aku tahu kamu pasti sangat kecapean sekali "
Adnan akhirnya mau mengikuti kata-kata Ayana, Adnan keluar dari kamar anak-anaknya dan membiarkan Ayana untuk membereskan semua pakaian anak-anak, sedangkan Adnan sendiri membuka laptopnya dan segera bekerja ditemani anak-anaknya yang sedang bermain boneka Barbie.
Adnan suka melihatnya, lucu sekali mereka ini. Adnan jadi ingat dengan Kamila bagaimana ya keadaan Kamila apakah baik-baik saja.
Bukannya Adnan tidak mau menelfon Kamila, Adnan ingin Kamila betah dan suka dulu dengan Rio baru dia akan melihat Kamila lagi bersama anak-anaknya lagi nanti.
...----------------...
Ayana yang sudah selesai membereskan pakaian anak-anaknya membawa kopernya keluar dan beralih ke kamarnya, dia malah melihat Melisa dan juga Melinda yang sedang berbaring di kaki ayahnya. padahal ayahnya itu sedang bekerja.
Tapi Adnan sama sekali tak risih, malah dia fokus saja pada laptopnya. Ayana sungguh suka melihat pemandangan ini. Ayana merasa lengkap saja dan bahagia anak-anaknya bisa mendapatkan apa yang mereka harapkan yaitu seorang Ayah.
__ADS_1
"Apakah kalian ingin camilan Mama akan membuatkannya "
"Mau mama, Melisa ingin nugget saja"
Melinda langsung mengacungkan tangannya "Aku juga ingin nugget Mama, sama sosis juga boleh kan"
Sekarang Adnan yang mengacungkan tangannya "Aku juga aku juga Ayana jangan lupakan aku, aku mau kopi hitam dan juga sosis deh boleh "Adnan benar-benar seperti anak kecil tapi Ayana tidak mempermasalahkan itu.
"Baiklah Mama akan membuatkannya, kalian tunggu di sini ya"
"Tentu Mama kami tunggu kamu di sini "jawab mereka bertiga dengan kompak. Sudah seperti anak kembar saja mereka ini.
Ayana mengerutkan kening saat Adnan mulai ikut-ikutan memanggilnya dengan sebutan Mama, tapi Adnan malah tersenyum lebar begitu saja seperti semuanya tidak terjadi apa-apa.
Melinda duduk di pangkuan ayahnya "Ayah apa kamu sekarang sudah mulai suka dengan mamah, Ayah selalu tersenyum lebar saat dengan Mama. Apa Ayah ingin mengejar Mama "
"Menurut kamu Ayah dengan mama apakah cocok"
"Tentu saja kalian ini sangat cocok, kalian ini harus bersama-sama terus kan, seperti orang tuanya teman-teman Melinda selalu bersama pergi ke mana-mana juga bersama, pokoknya terlihat kompak saja "
"Maka bantu Ayah untuk lebih dekat lagi dengan Mama"
Melisa yang mendengarnya langsung mendengus kesal "Kamu ini Paman pada siapa saja mau minta bantuan, pada aku lalu sekarang pada Melinda juga kamu mau minta bantuan untuk dekat dengan mama"
Adnan menoel hidung Melisa yang mancung " Ya tidak masalah selagi Melinda mau menantu ayah, kenapa tidak "
"Mama Paman Adnan ingin meminta bantuan pada Melinda untuk dekat dengan Mama " teriak Melisa dengan melengking.
Adnan menepuk dahinya kenapa Melisa ini berbicara pada Ayana, bisa-bisa Ayana malah tidak mau lagi dan akan menjauhinya. Seharusnya Adnan tak berbicara didepan Melisa s anak menyebalkan ini.
"Melisa kenapa kamu berbicara seperti itu "
"Biarkan paman menyebalkan sekali "
Melisa menjulurkan lidahnya pada Adnan, dan kembali memainkan boneka Barbie ya sambil menunggu Mamanya dan akan mengadukan tentang Paman Adnan ini.
__ADS_1