Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 164


__ADS_3

"Kita tidak salah lihat kan, anakmu lihat menikah dengan orang kaya disiarkan di mana-mana tapi kenapa dia tidak mengundang kita sebagai orang tuanya, kenapa Ayana malah menikah sendirian seperti itu, memang anak mu itu sangat durhaka seharusnya kita ada disana "


Ibunya Ayana menatap suaminya itu "Aku tidak tahu dia tidak datang kemari kan saat pulang, tiba-tiba saja aku malah melihat dia menikah. Aku juga kaget aku tidak percaya kalau Ayana akan menikah kembali dengan mantan pacarnya itu, atau mungkin mereka itu sudah menikah kan waktu itu mantan suaminya dia kembali lagi rujuk dengan mantan suaminya"


"Berarti ini adalah kesempatan kita Bu untuk datang kepada Ayana dan meminta uang padanya, dia sudah lama meninggalkan kita kan. Sekarang dia sudah menikah dengan orang kaya berarti uangnya akan sangat banyak sekali. Sudah berapa tahun dia tidak memberikan kita uang, Ayana harus menganti semuanya. Ayana harus tanggung jawab dengan hidup kita ini, dia tak boleh enak sendiri seperti itu "


"Apakah akan lebih gampang menemuinya, aku yakin di rumah suaminya itu pasti akan banyak orang yang menjaganya. Kita tidak akan pernah leluasa untuk bisa menemuinya. Pasti akan sangat sulit sekali, aku jadi ragu untuk datang pada Ayana, lihatlah pernikahannya saja begitu bagus, pasti penjagaannya juga sangat ketat sekali "


"Kita coba dulu saja Bu, kalau tidak dicoba kita tidak akan pernah tahu, dia waktu itu hanya menitipkan uang pada Fabian sekali lalu tidak ada lagi menghilang. Kita ini harus mengambil hak kita, kamu sudah mengurus Ayana dari kecil, seharusnya dia berbakti pada orang tuanya dan memberikan uang yang lebih padamu. Kamu ini akan menjadi orang kaya menantu kamu orang kaya, kamu akan memiliki segalanya nanti, teman-teman kamu pasti akan sangat iri sekali "


Ibunya Ayana duduk dan tersenyum lebar, benar juga apa yang dikatakan oleh suaminya menantunya adalah orang kaya, berarti dia bisa meminta apa saja kan uang, perhiasan, berlian apapun itu yang dia mau.


Dan dirinya tidak menjadi orang miskin lagi, tidak tinggal di rumah kecil ini lagi ya dirinya harus menemui Ayana. Ayana harus memberikan apa yang menjadi haknya. Dia sudah pergi hampir 5 tahun kan berarti selama ini Ayana tidak memberikan uang selama 5 tahun padanya Ayana harus menebus semuanya.


Membayangkannya saja sudah senang, pasti akan sangat banyak sekali uangnya itu. Pasti akan bisa terbeli apapun, Ayana tak akan keberatan di minta uang yang 5 tahun toh dia saja sekarang sudah kaya.


"Kita harus pergi, benar kita harus pergi menemui Ayana aku yakin penjaganya akan membolehkan kita masuk ke dalam rumah itu, asalkan kita berbicara kalau kita ini adalah orang tuanya Ayana. Ayana juga pastinya akan ada dirumah tak mungkin dia tak ada kan"


"Betul Bu, betul kita harus pergi ke sana kita harus ke sana. Aku yakin kamu dan seluruh keluarga kita akan tinggal di sana juga, Ayana kan akan luluh kalau dengan kamu. Aku tak sabar akan mendapatkan fasilitas apa dari mereka "


"Baiklah segeralah bersiap kita akan pergi ke sana, kita akan pergi ke rumahku yang baru. Kita akan meninggalkan rumah kecil ini dan hidup bahagia di rumah besar itu. Aku tidak sabar untuk menjadi Nyonya rumah di sana. Aku tidak sabar untuk menyuruh para pelayan untuk melayani aku di sana"


"Aku juga tak sabar aku akan bersiap dulu, aku akan cepat bersiap dan memakai pakaian terbaik aku, agar terlihat pantas nanti disana "


Sedangkan ibunya Ayana hanya diam dan membayangkan bagaimana nanti hidupnya, bagaimana nanti dia dipenuhi dengan uang, perhiasan semuanya. Pokoknya ibunya Ayana sudah membayangkan hidup yang mewah duduk di mobil yang mewah pergi jalan-jalan dengan mobil dan semuanya.


Satu lagi, dirinya akan bisa pergi keluar negri menghabiskan uang disana dan juga membuat teman-temannya iri. Memang Ayana ini pintar menikah dengan orang kaya.

__ADS_1


...----------------...


Ayana menatap pantulan tubuhnya di cermin, dia menatap lehernya yang penuh dengan tanda merah tidak ada ruang sedikitpun. Lalu bibirnya juga jadi berisi ini karena Adnan terus saja menyerang bibirnya.


Suaminya ini benar-benar membuatnya seperti ini, bagaimana ini kalau tanda-tanda ini terlihat. Jangan sampai anak-anaknya melihat yang ada mereka akan kaget dan bertanya-tanya harus menjawab apa nanti Ayana pada mereka berdua.


"Sepertinya kamu sangat bangga sekali dengan tanda itu sayang, sampai-sampai kamu terus melihatnya belum lagi dengan bibirmu yang makin seksi"goda Adnan sambil memakai kaosnya yang sudah dipilihkan oleh Ayana tentunya.


Adnan suka sekali kalau sudah menggoda istrinya. Lucu saja saat Ayana marah.


Ayana langsung mendelikan matanya pada suaminya itu yang terus saja menggodanya dari tadi, rasanya marah juga tidak ada ujungnya. Suaminya akan terus seperti itu menyebalkan sekali. Ayana harus membalasnya nanti agar suaminya bisa merasakan bagaimana jadi dirinya yang serba salah.


"Aku tidak menyangka kalau aku setelah bangun tidur malah tidur lagi sampai jam 03.00 Kenapa aku menjadi suka tidur seperti ini "


Adnan malah tersenyum mendengar itu. Adnan tahu pasti istrinya itu kelelahan melayaninya yang tak ada puas-puasnya dengan tubuh sang istri. Adnan untuk pertama kalinya kembali menyentuh seorang perempuan yaitu Ayana kembali perempuan yang sama.


Saat tadi Ayana akan membereskan semua itu Adnan langsung melarangnya tidak membolehkan Ayana untuk membereskan kekacauan ini, biarkan saja nanti pelayan yang membereskannya untuk apa mereka punya pekerja kalau Ayana masih mengerjakan pekerjaan rumah tangga.


Ayana hanya perlu mengurus dirinya dan juga anak-anak saja itu sudah cukup untuk Adnan, Adnan ingin selalu melihat istrinya itu selalu senang dan tersenyum. Adnan akan membuat Ayana selalu bahagia, apapun yang Ayana mau akan dirinya kabulkan sesulit apapun itu.


"Apakah ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman Ayana "karena Adnan masih melihat Ayana yang masih ada di depan cermin dan melihat tanda di lehernya itu. Adnan takut ada yang menyakiti Ayana.


Ayana menggelengkan kepalanya "Lihatlah ini Adnan, ini sangat banyak sekali, dan yang pasti tidak akan bisa dihalangi. Harus bagaimana aku ini "Ayana terus menarik pakaiannya untuk menghalangi tanda ini. Tapi tetap saja itu tidak berguna tetap ada yang terlihat karena saking banyaknya "Ini akan hilang beberapa hari tidak mungkin besok hilang, kamu juga menggigitnya. Lihatlah Adnan kamu sudah berubah menjadi nyamuk suka menggigit "


"Aku tidak menggigitnya sayang, aku hanya menghisapnya. Apa kamu mau memberikannya di leherku juga. Aku akan siap sayang "Adnan menyerahkan lehernya ini pada istrinya sambil menundukkan kepalanya, agar istrinya bisa leluasa melakukannya karena leher Adnan ini mulus bersih tidak ada tanda apa-apa berbeda dengan Ayana yang sangat penuh sekali.


Ayana menyentuh leher Adnan perlahan, Adnan sedikit kaget dia tadi hanya pura-pura saja, Adnan langsung menjauh.

__ADS_1


"Kenapa sekarang kamu yang takut. Bukannya kamu tadi menawari aku kan, lalu kenapa sekarang malah seperti itu Adnan, kemarilah bukannya kamu tadi yang meminta akan aku kabulkan "


"Aku hanya sedikit kaget saja, aku kira kamu akan mencubit aku " kembali Adnan merendahkan tubuhnya "Baiklah sekarang lakukan aku sudah siap aku akan menerimanya sayang. Aku akan sangat senang sekali kalau ada tanda itu di leherku "


"Sudah ah ayo cepat kita jemput anak-anak, kasihan pasti mereka sudah menunggu kita dan menanyakan ke mana kita. Kasihan juga nenek mengasuh mereka berdua, aku tak mau nenek kelelahan ayo Adnan "


"Nenek tidak akan keberatan, yang ada nenek akan senang karena ada yang menemaninya. Selamat ini nenek selalu saja serius dan sendiri, pasti dengan adanya anak-anak nenek akan terhibur "


"Ya tetap saja ayo cepat kita jemput anak-anak dulu, nenek juga pasti ingin istirahat, nenek harus tidur ayo"


Akhirnya Adnan mengikuti kemauan istrinya mereka keluar dari kamar dan pergi untuk menjemput kedua putri mereka. Neneknya baru-baru ini membeli rumah lagi, entah untuk apa padahal neneknya bisa tinggal disini saja bersama-sama.


Adnan juga tak lupa menyuruh salah satu pelayan untuk membereskan kamar mereka dan pulang ingin nanti kamarnya sudah beres dan bersih, tidak berantakan seperti tadi, tidak masalah mereka tahu juga.


Mereka juga mengerti Adnan dan Ayana adalah pengantin baru, jadi hal itu sudah wajar tidak ada yang salah. Tak akan ada yang protes juga.


Sekarang Adnan sendiri yang menyetir, dia tidak memakai sopir Adnan ingin banyak mengobrol dengan Ayana dan tidak mau ada yang mendengarnya. Hanya mereka saja berdua dan nanti anak-anaknya, biarkan mereka nanti duduk di belakang.


Adnan akan menjaga keluarga kecilnya ini dan akan membuat keluarganya ini selalu bahagia. Tidak akan pernah Adnan biarkan orang yang akan menghancurkan keluarganya ini masuk kedalam lingkungan keluarganya. Adnan akan lebih waspada lagi dengan semuanya.


Adnan yakin masih ada orang yang ingin menghancurkan kebahagiaannya ini, pasti akan ada bukan hanya Fita saja, pasti akan ada yang lain akan datang yang lai.


Adnan sudah tahu kalau Fira dan juga ayahnya sudah pergi dari kota ini, mereka sudah tidak tinggal di kota ini. Jadi Adnan bisa sedikit bernafas lega. Tak ada orang nekat seperti Fira lagi. Tapi Adnan menghawatirkan keluarga Ayana, takut tiba-tiba mereka datang dan menghancurkan segalanya.


Sebelum pergi juga papihnya Fira berbicara dulu dengannya, banyak pembicaraan yang mereka lakukan. Mereka kembali seperti semula lagi ayahnya Fira waktu itu meminta maaf padannya atas kesalahpahaman yang telah terjadi karena ulah anaknya Fira.


Adnan memaklumi itu semua, kalau pun dirinya ada diposisi papihnya Fira mungkin akan seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2