
Adnan yang baru saja selesai di telfon dengan temannya tadi langsung ingat dengan mamanya, mau bagaimanapun kan dia Mamanya juga. Adnan menjadi merasa bersalah sekali.
Adnan mendekati neneknya yang sedang duduk dan melihat anak-anaknya. Adnan duduk disamping neneknya.
"Ada apa Adnan aku tahu kamu pasti ingin berbicara sesuatu padaku"
"Nenek tahu saja. Nek apakah kita tak terlalu tega dengan Mama "
"Itu adalah hukuman yang kurang untuk ibu kamu, seharusnya lebih lagi dari itu "
"Tapi, sepertinya sudah cukup nek. Kasian juga dia "
"Ahh kamu ini jangan kasihan dengan orang jahat itu. Biarkan saja agar hidupnya itu lebih baik. Tak usah terlalu baik menjadi orang, liat ibu kamu itu sudah sangat keterlaluan sekali, nenek tidak akan pernah mau memasukkan dia ke dalam rumah lagi"
Adnan malah jadi pusing, tapi Adnan akan mencari mamanya. Adnan juga jadi khawatir dengan keadaannya.
"Kalau kamu mau cari ya silakan, nenek tidak akan melarang tapi jangan sampai kamu membawa dia ke dalam rumah mungkin kamu kontrakan rumah tidak usah diberi uang banyak, agar dia bisa berpikir baru juga beberapa bulan masa dia sudah sengsara biarkan saja"
"Iya nek, mau bagaimana pun kan dia tetap mamaku"
"Iya aku mengerti "
Adnan segera mengirim pesan pada seseorang untuk mencari keberadaan Mamanya. Semoga saja Mamanya baik-baik saja dan tak kenapa-napa satu lagi semoga saja Mamanya sudah berubah dan tak seperti itu lagi.
Adnan berhadapan keluarganya berkumpul lagi dan tak ada pertengkaran lagi. Atau penghianatan lagi, Adnan ingin keluarganya baik-baik saja seperti keluarga lainnya.
...----------------...
Adnan menarik tangan Ayana yang lewat dihadapannya. Sekarang Ayana malah jadi duduk di pangkuannya Adnan. Tapi memang itu yang Adnan mau.
"Lepaskan kamu ini apa-apaan, lihat ada anak-anak, apakah kamu tidak malu Adnan lepaskan aku ah "
"Tidak aku tidak mau, bagaimana tentang lamaranku apa kamu menerimanya sudah memikirkan jawabannya dengan matang-matang kan Ayana. Aku tak sabar menunggu jawaban dari kamu ini "
__ADS_1
"Sudah, aku sudah memikirkan semuanya dan jawabannya tidak akan, jawabannya akan selalu sama tidak akan pernah mau aku, mau kamu melamar ku beribu ribu kali pun aku tak akan menerima kamu "
"Aku sudah menebak jawabannya, aku sudah tahu pasti akan itu "
"Kalau sudah tahu kenapa harus tanya juga, lepaskan aku Adnan "
"Tidak mau, kamu ini sebenarnya ingin aku bawakan apa saat nanti aku melamarmu. Aku akan mengikuti apa kemauan kamu sayangku "
"Sudah kubilang kan, aku tidak mau aku menolak lamaranmu. Lepaskan aku jangan seperti ini Adnan"
Adnan meraih tengkuk Ayana agar Ayana menunduk, belum lagi tangan Ayana juga dipegang erat oleh Adnan, Ayana benar-benar tak bisa bergerak sama sekali. Adnan ingin benar-benar membuatnya kesal.
"Adnan lepaskan kamu ini ya, ada anak-anak nenek dan banyak orang lagi apakah kamu tidak malu ist lepaskan aku "
"Mau ke tempat yang sepi sayang, mungkin setelah itu kamu akan menerima lamaran aku "
"Adnan jangan kurang ajar ya, lepaskan "
"Aku tidak kurang ajar. Memangnya apa yang aku lakukan aku tidak menciummu. Apa kamu berharap aku akan menciummu begitu Ayana "
Adnan merasakan sakit dikakinya Adnan menunduk dan melihat Melisa sedang menggigit kakinya, anak ini mulai menganggu "Lepaskan Mamaku, kenapa Paman sangat jahat pada mamaku, lepaskan paman jahat "
Adnan mau tidak mau melepaskan Ayana dan Ayana tentu saja langsung bangkit dari pangkuannya, Melisa langsung memukul tangan Adnan "Paman ini kenapa selalu merundung Mamaku, mama itu perempuan paman itu laki-laki tentu saja jelas berbeda dan mama akan kalah. Kenapa Paman ini sangat menyebalkan sekali, paman sungguh jahat sekali pada Mama"
Adnan menggendong Melisa dan memeluknya dengan erat "Karena kamu tidak mau Ayah peluk, makanya ayah peluk mamamu saja. Lagian Ayah juga tidak melakukan apa-apa pada mama ayah hanya sedang mengobrol"
"Lepaskan aku, lepaskan aku paman, aku tidak mau dipeluk seperti ini. Menyebalkan sekali kamu paman, paman jelek sekali "
Melisa sudah memberontak tapi tetap kesulitan, Adnan tentu saja makin mempererat pelukannya itu dan Adnan menciumi seluruh wajah anaknya itu.
"Akhh tidak aku tidak mau, paman kamu sudah menodai pipimu ini "
Ayana tertawa melihat tingkah Adnan dan juga Melisa sangat mengemaskan sekali.
__ADS_1
"Mama tolong aku, aku dirundung oleh Paman Mama, lihat mama aku tak bisa bergerak "
Semua orang bukannya menolong malah tertawa juga dengan tingkah Melisa itu, Adnan tak henti hentinya menciumi seluruh wajah anaknya yang pelit dan galak ini. Kapan lagi akan seperti ini.
...----------------...
Sri mengucek matanya dan melihat didepan rumahnya ada beberapa orang, Sri sangat takut sekali saat akan menutup pintu lagi, pintunya sudah ditahan.
"Maaf ada apa ya, aku tak punya hutang pada siapa-siapa "refleks Sri langsung berbicara seperti itu, karena orang-orang yang ada di hadapannya ini seperti debkolektor badannya besar-besar memakai baju hitam sangat menakutkan sekali.
"Kamu memang tak punya masalah dengan siapa-siapa"
"Kami hanya ingin menjemput nyonya Linda, apakah dia ada di sini. Kami ingin membawanya pergi "
"Ibu ada, dia ada di sini sebentar aku panggilkan dulu"
Sri segera bergegas masuk ke dalam rumah lagi, membangunkan Mama Linda yang sedang tertidur dan "Ibu-ibu bangun ada yang mencari"
Mama Linda langsung terduduk dia menatap Sri "Siapa yang mencariku"
"Aku juga tidak tahu badannya pada besar-besar sekali. Aku sangat takut sekali Bu lebih baik Ibu temui dulu"
Mama Linda dengan ragu-ragu akhirnya pergi ke luar rumah juga, ternyata itu Marco dan juga beberapa pekerjaan Adnan "Marco mau apa kamu kemari, apa kamu ingin membuang aku "
"Saya disuruh oleh Pak Adnan untuk menjemput nyonya"
"Adnan anakku sekarang dia di mana, kemana dia kenapa tak langsung Adnan yang datang kemari "
"Pak Adnan sekarang sedang di rumah nenek berlibur, dengan anak-anak dan juga dengan Nona Ayana"
Mama Linda tersenyum, dia tahu pasti Adnan sangat khawatir dengan keadaannya. Adnan pasti akan menjemputnya lagi benarkan Adnan tidak mungkin menelantarkannya begitu saja, Adnan itu anak yang baik.
"Mari nyonya kita pulang sekarang "
__ADS_1
Mama Linda tentu saja langsung menganggukkan kepalanya, inilah yang dia tunggu-tunggu. Mama Linda tidak mau bekerja lagi dia sudah kapok dengan apa yang dia lakukan. Mama Linda juga menatap Sri yang masih belum mengerti dengan semua ini, Sri masih takut juga dengan mereka.