Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 97


__ADS_3

Ayana serta anak-anak dan juga Adnan baru saja sampai di rumah, tapi Ayana sudah mendapatkan telepon dari Fabian dengan cepat Ayana mengangkatnya, takut ada sesuatu yang penting. Ayana juga menjauhi anak-anak dulu bersama Adnan.


"Iya Fabian"


"Ibumu datang kemari, dia mau minta uang lagi padaku Ayana. Bagaimana apakah aku harus memberinya atau memberikan alasan yang lain. Aku takut salah bicara sekarang dia ada ruang tamuku. Aku dari tadi didesak terus oleh mereka"


Ayana menghela nafasnya, padahal waktu itu dia hanya ingin membantu orang tuanya saja membantu adiknya, tapi kenapa ibunya malah memanfaatkannya meminta lagi pada Fabian. Memang seharusnya Ayana tak memberikan uang lagi pada mereka jadi seperti ini kan keenakan lagi.


"Tidak usah kamu beri lagi. Sudah cukup aku hanya membantunya saat itu saja. Aku pun hanya ingin membantu adikku saja, kamu bilang pada Ibuku kalau aku ini sudah mati, jadi dia jangan berharap untuk bisa meminta uang lagi padaku. Aku rasannya tak habis fikir dengan ibuku kenapa tak ada berubahnya masih saja sama seperti itu "


"Ayana hati-hati dengan bicaramu itu, kamu tidak boleh berkata seperti itu"


"Aku hanya ingin mereka stop untuk menemuimu atau meminta uang padamu. Katakan saja itu pada mereka memang aku sudah mati dari dulu. Ayana yang dulu sudah tidak ada, ini adalah Ayana yang baru bukan yang dulu. Aku sudah tak mau lagi di peras oleh mereka, aku sudah lelah dan sekarang juga aku sudah punya anak aku punya prioritas utama selain mereka"


"Baiklah kamu di sana baik-baik saja kan, Adnan tidak melakukan apa-apa. Dia tak membuat masalah atau membuat kamu risih kan Ayana "


"Tidak dia baik-baik saja, dan aku juga dengannya baik-baik tidak ada masalah apapun di antara kami berdua. Adnan juga menepati janjinya dia tidak mengambil anak-anak dia hanya ingin dekat dengan anak-anak saja Fabian, aku sekarang sudah sedikit tenang dan sudah sedikit percaya juga dengannya "


"Baiklah aku akan berbicara dengan ibumu, kamu disana jangan memikirkan ini ya "


"Iya, maaf ya Fabian keluargaku selalu saja merepotkan mu, aku pun sama saja selalu saja membuat kamu repot "


"Tidak jangan berkata seperti itu. Ya sudah aku matikan dulu ya"


"Tentu"


Fabian keluar dari dalam kamarnya, dia menemui Ibu Ayana yang duduk manis di sana bersama ayah tirinya Ayana. Mereka benar-benar kompak dalam masalah uang.


"Bagaimana apakah Ayana memberikan uang lagi. Sebenarnya anak itu di mana kenapa dia tiba-tiba pergi seperti itu, mengirimkan uang sekali dan tidak mengirimkannya lagi kami sangat butuh uang apa dia menitipkannya lagi. Dia masih punya tanggung jawab disini, aku sebagai ibunya masih harus dia nafkahi dan adiknya juga sama. Apa dia sudah menjadi orang kaya ? "


"Maaf Tante Ayana tidak menitipkan uang lagi, Ayana juga susah dihubungi sepertinya dia sedang sibuk sekali, aku tak mungkin terus menganggu nya "


"Kirimkan nomornya padaku, biar nanti aku yang menelponnya sendiri aku akan menelpon anakku, aku akan bertanya dia di mana agar kamu bisa menyusulnya kesana. Kami ingin bersama-sama lagi"


"Kalau tante dan om mau uang sebaiknya bekerja saja, Ayana tidak akan pernah bisa memberikan kalian kembali uang. Dia juga hidup di sana untuk kebutuhan dia sendiri, bukan untuk orang lain. Sudah cukup Ayana memberi uang pada Tante, toh selama ini juga Tante tak pernah menyayangi Ayana Tante hanya sayang uangnya saja. Biarkan Ayana menikmati uangnya sendiri dan bahagia tanpa gangguan dari kalian "

__ADS_1


"Ya kalau begitu kirimkan saja nomor anakku, kenapa sangat sulit sih hanya minta nomornya saja memang kamu ini siapanya hanya temannya saja kan, tidak lebih, lebih baik kami minta saja sendiri. Kamu tak usah menceramahi kami itu memang sudah kewajiban seorang anak untuk memberikan uang pada orang tuanya "


"Maaf Ayana tidak akan pernah mau dihubungi oleh kalian. Sampai kapanpun Ayana tidak akan pernah mau jadi lebih baik tante dan om pergi dari rumahku. Sebelum aku menelpon satpam untuk mengusir kalian berdua"


"Dasar orang tidak punya sopan santun, kami datang kemari dengan baik-baik tapi kamu mengusir kami dengan seperti ini. Aku juga ingin menelpon anakku sendiri tapi kenapa tak dibolehkan dasar teman tak berguna "


"Ya kalau untuk menanyai kabarnya itu tidak masalah, tapi kalau untuk meminta uang maaf-maaf saja aku tidak akan memberikannya. Sudah cukup Ayana memberikan uangnya pada kalian, apakah kalian tidak kasihan dengannya. Apalagi kalian juga sering memukulnya. Sudah cukup penderitaan Ayana ini, dia sedang bahagia tidak boleh diganggu lagi sampai kapanpun, aku tidak akan memberitahu mu di mana tempat Ayana tinggal"


Ayah tirinya Ayana kesel, dia menendang meja sampai terguling lalu mereka pergi dari rumah Fabian begitu saja. Fabian sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua orang ini yang tidak pernah berubah.


Untung saja Ayana waktu itu pergi dari sini, kalau tidak Ayana akan menjadi sapi perahnya mereka lagi, kasihan Ayana mempunyai keluarga seperti ini.Padahal Ayana begitu baik pada mereka.


...----------------...


"Ayana apakah kamu baik-baik saja"


Ayana yang sedang melamun tentu saja kaget saat mendengar suara Adnan "Aku baik-baik saja, aku tidak kenapa-napa maaf aku tadi sedang melamun"


"Apa ada sesuatu yang mengganggumu, apa mungkin kamu butuh sesuatu denganku. Kamu bisa membagi semuanya padaku Ayana aku pasti akan membantumu" Adnan mencoba untuk menawarkan bantuan siapa tahu Ayana butuh bantuannya kan.


"Mama apakah mamah baik baik saja "Melisa tiba-tiba saja muncul dan melotot kan matanya pada Adnan.


"Apa Paman Adnan melukai Mama, akan aku tendang dia kalau sampai berani melukai Mama, membuat Mama sedih "


"Tidak Melisa, Paman Adnan tidak melakukan apa-apa pada Mama. Paman Adnan baik dari tadi juga dia hanya menenangkan Mama kami hanya sedang mengobrol biasa. Lebih baik kamu siapkan mainan mana yang akan kamu bawa dan juga adikmu. Ingat jangan terlalu banyak mungkin satu atau dua mainan saja yang kalian bawa ya "


"Benarkan Paman Adnan tidak melakukan apa-apa pada Mama" Melisa kembali bertanya pada Mamanya, takut Mamanya sedang menyembunyikannya karena ada paman Adnan dihadapan mereka.


"Iya benar Paman Adnan tidak melakukan apa-apa, ayo cepat Mama baik-baik saja"


Melisa mundur dan pandangannya masih menatap kearah Adnan seperti mengawasi Adnan.


"Maaf ya Adnan kalau Melisa masih seperti itu "


"Tidak masalah Ayana, aku mengerti kok dengan apa yang Melisa lakukan. Aku akan menelfon Marko dulu ya untuk dia pesan tiket "

__ADS_1


Ayana menganggukan kepalanya. Adnan sendiri langsung menelfon Marco untuk memesan tiket untuk pergi malam ini. Ayana juga mendengar kalau Adnan membahas tentang pekerjaannya.


Katanya dia tak banyak pekerjaan tapi sekarang membahas pekerjaan. Ayana jadi tak enak. Setelah Adnan selesai berbicara barulah Ayana bertanya.


"Kamu masih banyak pekerjaan ya, kamu sekarang membahas tentang pekerjaan Adnan, aku sudah bilangkan kalau kamu tak bisa jangan memaksakan"


"Tidak Ayana, hanya sedikit lagi sekarang aku akan kerjakan"


Adnan duduk tak jauh dari Ayana membuka laptopnya dan segera mengerjakan kerjaannya itu. Ayana menjadi merasa bersalah.


...----------------...


Ayana keluar dari kamarnya dan memberikan 3 paspor pada Adnan. Adnan langsung menerimanya dan melihat paspor itu "Kamu selalu memperbaruinya, padahal kamu tidak pernah pergi kemana-mana Ayana"


Ayana tersenyum tipis ke arah Adnan "Sengaja, agar nanti kalau aku ingin kabur bisa gampang kan tak usah urus-urus lagi. Aku bisa langsung pergi "


Adnan malah diam menatap Ayana, mendengar semua ucapan Ayana itu, apa Ayana ada fikiran untuk kabur lagi darinya, tapi tiba-tiba saja Ayana tersenyum dengan lebar "Itu dulu, aku akan kabur lagi tapi sekarang tidak. Aku tidak akan kemana-mana buat apa aku kabur juga, aku sudah nyaman disini dan tak akan kemana-mana "


Adnan bernapas lega. Adnan segera menyimpan paspor itu, semoga saja Ayana tidak pernah ingat lagi dengan paspornya ini, kalau tidak diminta Adnan tidak akan memberikannya dan akan lupa pura-pura hilang supaya Adnan yang memegangnya atau mungkin nanti Adnan buang saja agar Ayana tidak bisa pergi kemana-mana.


Ayana yang sudah tidak ada lagi urusan dengan Adnan kembali berjalan dan akan masuk ke kamar anak-anaknya tapi Adnan malah mengikutinya. Ayana menghentikan langkahnya dan tubuh Adnan langsung menabrak punggung Ayana. Untung saja mereka berdua tidak jatuhkan.


"Adnan "Ayana kesel lalu melepaskan tangan Adnan yang ada di pinggangnya. Pasti Adnan ini hanya ingin mencari kesempatan saja kan "Kamu ini ya mencari kesempatan saja dari aku, lepaskan tanganmu ini jangan terus diam di pinggangku "


Sedangkan Melinda yang melihat itu tertawa melihat ibu dan ayahnya sangat lucu sekali, mereka sedang bertengkar ya tapi lucu saja.


Adnan dan juga Ayana yang mendengar Melinda tertawa langsung melihat ke arahnya "Di mana Melisa Melinda, kenapa Mama tak melihat Kakakmu "


Ayana menatap sekeliling dan tak menemukan putrinya itu, kemana Melisa ini mau pergi malah tak ada.


Melinda malah tertawa lagi sambil menutup mulutnya "Apa Mama tidak melihat kalau kakak itu ada di depan mama, Kakak dari tadi disana Mama"


Ayana menundukkan kepalanya benar saja Melisa sedang memeluk kakinya "Mama Melisa mau keluar. Kenapa Mama menghalangi jalan Melisa, Melisa tidak bicara karena kata Mama tidak boleh menyela pembicaraan orang dewasa makanya Melisa diam saja dari tadi"


Sungguh Ayana tidak sadar kalau di hadapannya ini ada Melisa, apa karena mereka terlalu kecil untuk Ayana tapi tidak juga. Ada-ada saja hari ini.

__ADS_1


Ayana segera bergeser untuk membiarkan anaknya keluar dari dalam kamar Melisa segera berlari dan mendekati adiknya yang sedang memilih mainan. Ayana memukul tangan Adnan yang masih saja diam di pinggangnya lalu mereka berdua masuk ke dalam kamar bersama-sama.


__ADS_2