Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 187


__ADS_3

Sebelum turun dari dalam mobil Ayana hanya mengambil ponselnya saja dan menyimpannya di saku celana jeans-nya, selama ini Ayana selalu ikut saja suaminya pergi bekerja.


Adnan selalu saja membawanya, padahal Ayana ingin di rumah tapi katanya takut Ibunya datang nanti tidak ada yang menjaganya, takutnya ibunya melakukan sesuatu padahal sudah banyak orang-orang yang Adnan disuruh untuk menjaganya tapi dia masih saja tidak percaya.


Mereka juga tadi sudah mengantarkan anak-anak, Ayana membereskan tasnya dan menyimpannya di dalam mobil saja. Ayana tanpa menunggu Adnan langsung membuka pintu langsung keluar, sedangkan mobil Adnan diparkirkan oleh satpam yang ada di sana.


Semua pandangan langsung tertuju pada Ayana dan Adnan juga, pasangan yang menurut mereka sangat serasi sekali. Mereka tak pernah bosan-bosannya melihat pasangan ini yang selalu datang ke kantor bersama-sama dan mereka juga senang bosnya itu tidak terlalu galak sekarang seperti apa yang mereka impikan, dan benar saja kan tebakan mereka kalau istrinya ini akan bisa merubah segalanya.


Kalau Ayana ini bisa merubah es batu menjadi air, bahkan mereka juga setiap harinya tak tegang lagi. Mereka bekerja sekarang tanpa beban, awalnya mereka datang kekantor saja deg-degan tapi kalau tak datang mereka butuh uang.


Adnan langsung meraih pinggang istrinya. Dia melihat semua karyawan laki-lakinya yang terus menatap istrinya, saat Adnan memasang pandangan andalannya semua karyawan laki-lakinya itu langsung menundukkan kepalanya.


Tidak ada yang berani lagi menatap Ayana, mereka berjalan masuk ke dalam dan karyawannya langsung menyambut mereka dengan hormat. Mereka benar-benar harus selalu seperti ini. Kalau tidak mereka akan ditegur nanti.


Bahkan ada beberapa juga yang menyapa mereka, seperti biasa Ayana selalu tersenyum ke arah mereka karena sebagian yang ada di sini juga teman-temannya, sedangkan Adnan sudah tahulah bagaimana respon dia, selalu saja datar dan menyebalkan.


"Kenapa kamu tidak membawa tasmu sayang, kenapa kamu malah membiarkan di dalam mobil begitu saja apakah tak ada yang kamu perlukan didalam tas itu "dari tadi Adnan ingin menanyakan hal itu, istrinya selalu saja menyimpan tasnya dan ponselnya yang selalu dia bawa hanya itu saja tidak ada yang lain.


"Di dalam tas itu hanyalah kebutuhan anak-anak saja, barang-barang darurat. Jadi yang aku butuhkan sekarang hanya ponsel anak-anak kan sedang sekolah, jadi aku tak perlu membawa tas kalaupun aku ingin makan atau membeli sesuatu kan ada kamu"


"Sangat praktis sekali kamu ini" komentar Adnan.


Ayana melingkarkan tangannya di pinggang suaminya, dia sekarang tidak malu-malu lagi mungkin dulu dia malu dilihat oleh banyak orang, tapi Ayana harus melakukan ini. Sekarang dia adalah istri sahnya Adnan dan tidak ada pernikahan yang disembunyikan lagi.


Jadi Ayana sekarang bebas mengekspresikan apapun di hadapan banyak orang. Adnan sudah menjadi miliknya kan seutuhnya, jadi Ayana harus lebih berani lagi, takutnya nanti ada orang yang mengincar suaminya, pasti banyak perempuan yang tertarik pada suaminya ini.


"Kamu yakin tidak mau ke rumah sakit saja, aku akan menemani kamu nanti, aku tak akan masuk biar kamu nanti bicara saja dengan dokternya "


Ayana tersenyum kembali saat ada orang-orang yang kembali menyapanya, Ayana harus selalu ramah pada siapapun.

__ADS_1


"Nyonya Ayana makin hari makin cantik ya, memang sudah dari dulu sih waktu pertama dia masuk ke sini juga sudah cantik, ya makanya bos langsung terpikat jadi tak salah kalau dia menjadi pasangan atasan kita, dibandingkan dengan Nona Fira yang angkuh itu, dia tak ada apa-apanya"


Ayana yang mendapatkan pujian itu tersenyum malu, Ayana kira orang-orang yang ada di sini tidak akan suka dirinya menikah dengan Adnan, atau mungkin mereka iri tapi ternyata tidak. Ayana senang sekali kalau seperti itu, jadi Ayana tak usah memikirkan apa-apa lagi kan.


"Aku tidak mau, dengan adanya kalian pun aku sembuh dengan adanya kamu dan anak-anak, nenek mama pokoknya keluarga besar kita, aku akan sembuh aku yakin itu aku akan bisa menghadapi ibu kamu juga selalu ada di samping aku kan. Kamu akan selalu menjadi tameng aku "


Adnan menekan tombol lift untuk mereka segera sampai di ruangannya. Setelah mereka masuk tidak terdengar lagi bisik-bisik dari karyawan yang membicarakan Adnan dan juga Ayana, ya memang pembicaraan mereka bukan yang aneh-aneh hanya memuji mereka berdua saja.


"Syukurlah kalau kamu menganggap kami sebagai obatnya, aku senang sekali Ayana, aku janji rasa trauma mu itu akan hilang kita akan berjuang sama-sama. Kita akan terus menghadapinya sama-sama"


Adnan menggigit pipi Ayana, selama mereka di lorong menuju ruangan Adnan mereka malah bercanda, membuat orang-orang yang sedang lalu lalang malah gemas melihatnya.


Mereka itu begitu romantis, mereka seperti sedang melihat film saja bahkan Adnan juga sesekali menggelitik dagu istrinya dan Ayana menggigit lengan suaminya itu, tapi Adnan sama sekali tidak kesakitan dia malah tertawa renyah.


Adnan malah makin menjadi-jadi saja menggoda istrinya. Tak dirumah tak diluar Adnan seperti ini pada istrinya. Seperti dunia ini milik berdua saja.


Memang kebanyakan karyawan-karyawan disini adalah seorang perempuan, memang Ayana juga sudah tidak terlalu mengenal mereka, karena baru-baru yang dulu-dulu hanya sedikit tidak terlalu banyak.


"Namanya juga sama pawangnya, ya pastilah nurut kayak gitu pasti senyum kayak gitu, kamu mau ada di samping Pak Adnan juga ?"


"Ah jangan mimpi ketinggian ga akan mungkin lihat aja istrinya aja cantik banget, masa aku gantiin dia nggak mungkin yang ada aku malah ditendang sama Pak Adnan, aku nggak mau terlalu berharap lebih, aku nggak bisa bersaing sama istrinya. Lebih baik cari yang seimbang saja tapi kayak Pak Adnan yang romantis sama pasangannya "


"Nah itu sadar diri juga, ya kita hanya bisa menikmati pemandangan ini saja. Tanpa bisa merasakannya. Sulit juga kalau akan cari laki-laki kayak gitu dimana coba"


"Benar sekali kapan ya kita bisa seperti itu, mungkin kalau dalam mimpi akan terwujud "


"Sudah yu ah kerja lagi, dari pada nanti kerjaan kita ga beres-beres, bisa-bisa malah kita nanti dipecat"


Ayana yang sudah kesal dengan suaminya itu ingin sekali menendang bokongnya, tapi suaminya sudah berlari terbirit-birit mendahuluinya, dari tadi suaminya itu tidak bisa diam terus saja mengajaknya bercanda.

__ADS_1


"Menyebalkan sekali kamu " Ayana langsung berlari dan mengejar suaminya, untungnya Ayana tidak memakai sepatu tinggi jadi dia dengan leluasa bisa mengejar suaminya.


Adnan langsung menutup pintunya saat Ayana sudah masuk Adnan memeluk istrinya dan mendudukkannya di sofa panjang.


"Adnan"


"Iya sayang " Adnan mencium puncak kepala Ayana beberapa kali, menggemaskan sekali istrinya ini kalau seperti ini Adnan leluasa karena tidak ada kedua putrinya yang akan mengganggu mereka dan protes.


Kalau misalnya ada Melisa dan juga Melinda Adnan akan dikeroyok oleh mereka karena memeluk ibunya seperti ini.


"Aku kehabisan nafas, kamu memeluknya terlalu erat. Kamu memang benar-benar ingin membuat aku tak bernafas lagi ya "


Adnan langsung melepaskan pelukannya. Ayana langsung menggigit paha Adnan, Adnan berteriak kesakitan karena ulah istrinya ini, sungguh hari-harinya ini dipenuhi dengan canda tawa Adnan bahagia sekali dengan hidupnya yang sekarang.


"Kamu ini sudah berubah menjadi vampir Ayana, sakit sayang sakit "


"Biarin karena kamu juga nyebelin makanya aku berubah"


Ayana melipat tangannya dan membelakangi suaminya, menyebalkan sekali. Adnan mencium pipi istrinya, Adnan harus segera mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk itu. Adnan langsung mendudukkan bokongnya dikursi kebesarannya.


"Jangan merajuk ya sayang nanti kita jalan-jalan, aku menyelesaikan dulu pekerjaanku ini nanti kita jalan-jalan sama-sama"


"Tau ah aku marah sama kamu, nyebelin banget tau nggak sih"


"Tapi ngangenin kan aku ini"


Ayana menatap sekilas suaminya masih dengan cemberut "Ga kamu ga ngangenin"


"Masa sih setiap malam kamu peluk aku, terus kamu juga nggak mau lepas dari aku juga "

__ADS_1


"Tuh kan makin nyebelin kamu ini ah, udah aku marah"


Ayana lagi-lagi membelakangi suaminya, tidak mau melihatnya. Adnan hanya tersenyum nanti juga baik sendiri, nanti juga kalau sudah bosan melipat tangannya seperti itu istrinya akan mendekatinya, Adnan sudah tahu bagaimana watak Ayana ini dari dulu memang seperti itu.


__ADS_2