
"Akhirnya kamu sadar juga, kenapa kamu lakuin ini apa kamu ga sayang sama nyawa kamu sendiri, kenapa kamu melakukan hal gegabah seperti ini Fira, kenapa kamu sampai seperti itu Fira, kamu benar-benar keterlaluan sekali "
Fira masih menatap lurus ke arah depan, dia sama sekali tidak merespon Papinya. Dia hanya diam melamun sudah beberapa jam Fira terbangun tapi masih saja seperti itu, tak ada perubahan Fira memang seperti sengaja tak mau bicara.
"Apa kamu tega ingin meninggalkan papi mu ini Fira, papih sudah tua seharusnya kamu jangan lakukan ini Fira, kenapa kamu bisa seperti ini hanya karena Adnan saja, banyak laki-laki yang akan mau dengan kamu "
Saat mendengar nama Adnan pandangan Fira langsung terarah pada papihnya "Kenapa Papi selalu bohong, katanya mau mempertemukan aku dengan suamiku tapi kenapa tidak pernah terjadi. Aku ingin bertemu dengan suamiku aku ingin bertemu dengannya, aku ingin berbicara banyak hal dengannya. Aku ingin bertemu dengan suamiku itu, kenapa begitu sulit sekali "
"Papi akan menemui Adnan, kamu akan ketemu sama dia, kalian akan bisa bersama lagi. Papih akan bertemu dengan Adnan dan membawanya ke mari, papih janji akan lakukan itu untuk kamu "
Fira langsung menggelengkan kepalanya "Papih pasti akan bohong lagi tidak akan menepati janjinya, papih selalu saja bohong padaku, tidak pernah mengatakan yang sejujurnya sebenarnya ke mana suamiku itu, kenapa papih tidak membolehkan aku untuk langsung menemuinya, kenapa begitu Papi "
"Tidak bisa, suamimu itu banyak pekerjaan papih tidak mau mengganggunya. Dia begitu sibuk makanya dia tidak datang terus, kamu yang sabar saja, dia pasti akan menemui kamu "
"Tapi kan aku istrinya lalu kenapa suamiku seperti itu, seharusnya dia mau kan bertemu dengan aku tapi kenapa dia seperti tak mau bertemu denganku. Kenapa selalu seperti itu papih "
"Kata siapa suamimu tak ingin sekali bertemu denganmu. Memang dia banyak sekali pekerjaannya, makanya dia tidak bisa meluangkan waktu untukmu, kamu bisa tunggu beberapa hari lagi. Papih yakin dia akan menemui kamu. Bahkan dia sudah menelpon papih katanya dia akan cepat pulang dan menemui istri tercintanya ini "
"Benarkah lalu kenapa Papi tidak memberikannya padaku. Kenapa tidak membolehkan aku untuk berbicara dengan suamiku itu, kenapa papih egois sekali "
"Ada saatnya kamu nanti berbicara dengan suami kamu, untuk sekarang maaf papih belum bisa mewujudkan hal itu, tapi dia akan segera menemuimu. Dia akan membawa uang yang banyak seperti apa yang selalu kamu mau "
Papinya Fira terus saja meyakinkan anaknya itu, dirinya tidak mau Fira melakukan hal bodoh lagi seperti itu, dirinya akan melakukan hal apapun untuk anaknya bisa kembali seperti semula lagi, anaknya tidak boleh seperti ini anaknya harus bisa sembuh.
Rasannya tak tega sekali melihat Fira yang seperti ini, memang hanya Adnan saja yang bisa menyembuhkan anaknya. Dengan kembalinya Adnan semuanya pasti akan kembali seperti semula.
...----------------...
"Paman, ada berapa monyet jenis kah di dunia ini. Aku mulai tertarik dengan monyet-monyet itu"
"Setau Paman sih kalau sekarang ada 246 jenis monyet yang dikenal di dunia"
"Waw banyak sekali, aku ingin melihat semuanya, apakah Paman akan membawaku untuk melihat mereka semua"
"Berarti kita harus keliling dunia dong. Memangnya Melisa mau jalan-jalan terus dengan ayah, memangnya Melisa tak akan keberatan kalau kita terus pergi-pergi bersama "
"Boleh entah kenapa aku suka dengan monyet, mereka itu lucu sekali pokoknya aku suka dengan monyet. Kalau Paman tidak mau ya tak masalah aku akan mengajak Mama saja bersama nenek dan juga Melinda "
__ADS_1
"Baiklah nanti kita atur jadwal untuk kita jalan-jalan lagi, kamu hanya butuh membujuk mamamu. Kalau Mama mau kita akan pergi dengan cepat, kita akan segera pergi sesuai apa yang kamu mau "
Melisa langsung mengangguk dengan semangat "Tentu nanti aku akan berbicara dengan Mama, pasti Mama juga akan sangat suka sekali kalau kita terus jalan-jalan seperti ini kan paman. Mama pasti akan setuju kalau aku yang meminta "
"Betul sekali kamu memang pintar sekali, anak ayah ini memang pintar sekali. Tidak ada tandingannya, ayah bangga dengan kamu nak terus seperti ini ya nak"
Adnan tersenyum dalam hatinya bagus Melisa kan ingin melihat berbagai jenis monyet di seluruh dunia, berarti mereka bisa menjelajahi setiap tempat dan Adnan akan terus dekat dengan Ayana, maka itu adalah kesempatan yang sangat besar untuknya tidak boleh dia sia-siakan. Adnan tak akan menyia-nyiakan semua kesempatan ini.
"Coba Melisa ingin bertanya apa lagi tentang monyet. Kalau Ayah tahu pasti akan Ayah jawab, tapi kalau tidak Ayah nanti ayah akan cari di Google"
Melisa diam sejenak seperti memikirkan apa yang akan dia tanyakan pada ayahnya "Lalu monyet akan hidup berapa tahun Ayah, apakah dia akan panjang umur"
"Baik ayah cari dulu "Memang Adnan kurang tahu, dia segera mencarinya untuk kesenangan anaknya. Adnan ingin dirinya dekat seperti ini dengan Melisa mengobrol, meskipun menurut Adnan obrolan mereka ini sangat melenceng sekali tapi Adnan suka. Melisa sekarang sedang suka monyet maka Adnan sekarang akan menjadi orang yang selalu menjawab setiap pertanyaan dari Melisa, karena Adnan juga ingin anaknya ini memanggilnya dengan sebutan ayah.
"Nah Ayah sudah dapat jawabannya, kalau misalnya monyet berukuran kecil biasanya rata-rata akan hidup sampai 15 tahun, tapi kalau untuk yang berukuran besar mereka akan hidup 35 tahun di alam liar"
"Hemm begitu ya, cukup lama juga, untuk hari ini sudah dulu deh aku mau tidur ya Paman sampai jumpa lagi nanti, kepalaku sudah terisi penuh dan aku harus tidur "
Melisa melambaikan tangannya pada Adnan. Dia turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar sebelah, untuk menemui mamanya yang sudah beristirahat dengan adiknya.
Melisa langsung tidur di samping mamanya dan memeluknya dengan erat "Aku begitu rindu dengan mama dari tadi mama terus saja bersama ayah, kami hanya bermain dengan hewan-hewan saja, tak lupa dengan nenek juga "
"Benarkah, tapi dari tadi saat kamu pulang dari kebun binatang sampai datang kemari kamu dari tadi terus bersama ayahmu. Bahkan kamu menghiraukan Mama membiarkan Mama begitu saja " goda Ayana.
Sekarang mereka sudah ada di kapal pesiar lagi, mereka akan pulang tentu saja Ayana juga tidak mau berkeliling lagi, rasanya sudah lelah Ayana banyak pekerjaan dan Ayana tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja kan.
"Emm, karena Ayah mau menanggapi Melisa, ya meskipun Mama juga mau tapi ayah akan terus berceloteh menceritakan tentang monyet, sejarahnya. Lalu ada berapa monyet terus banyak lagi yang ayah ceritakan, makanya Melisa suka di samping Ayah yang sedang bercerita. Ayah selalu tahu jawabannya meskipun dia harus mencari di ponselnya dulu, tapi sebisa mungkin Ayah selalu menjawabnya"
"Lalu apakah kamu meninggalkan Ayah sendirian. Kenapa tidak tidur dengan ayah saja agar kalian bisa terus bercerita "
Melisa mengelengkan kepalanya "Tidak, Melisa mau tidur bersama mama saja. Biarkan saja Ayah tidur sendirian, dia kan laki-laki harus berani tidur sendirian tidak boleh cengeng dan takut"
"Aku akan memeluk Mama dengan sangat erat sekali, aku tak akan melepaskan pelukan ini lagi "
"Kenapa, Mama tidak akan kemana-mana"
"Tidak mau nanti ayah memindahkan aku lagi, Ayah memeluk Mama aku sampai tidur di kaki ayah, ya ampun kenapa aku bisa seperti itu ya "
__ADS_1
Ayana mengernyitkan keningnya, kapan memangnya Adnan tidur bersamanya, Ayana pikir mereka hanya tidur bertiga selama ini.
"Kapan memangnya Ayah tidur bersama kita ?"
"Waktu kita di pesawat, Mama ini mungkin akan membuat ayah kesal karena aku membongkar semuanya tapi aku tahu ayah itu tidur bersama kita, bahkan Ayah memeluk Mama makanya aku tidak akan pernah melepaskan Mama lagi. Aku tidak mau sampai Ayah nanti mengambil mama dan memindahkan aku lagi, atau sampai aku tidur di kakinya Ayah lagi "
Melisa benar-benar membongkar semua yang terjadi di pesawat itu, padahal Melinda sudah mencoba untuk tutup mulut Melinda yang mendengar ucapan kakaknya itu hanya bisa pura-pura tidur dia tidak mau nanti ayahnya marah padanya.
Melinda akan pura-pura tidak tahu saja ah, dari pada nanti Melinda tak jadi diberikan hadiah oleh Ayahnya itu.
"Mama, apa Mama menyukai ayah?"
"Entahlah Mama tidak tahu, Mama tidak punya jawaban yang pasti sayang "
"Begitu ya, apa Mama sukanya pada Paman Fabian ya, kalau boleh memilih Mama pilih siapa diantara mereka berdua itu "
"Mama bingung Paman Fabian itu kan sahabat mama. Nama sudah menganggap Paman Fabian itu seperti keluarga kita "memang itulah yang Ayana rasakan, Ayana tidak mau persahabatan mereka rusak hanya karena sebuah hubungan yang tiba-tiba saja muncul di antara mereka. Ayana ingin dirinya dengan Fabian seperti ini saja bersahabat bersama-sama seperti dulu tidak ada kata cinta diantara mereka.
Cinta bisa merubah segalanya makannya Ayana tak mau sampai semua itu terjadi. Ayana ingin selalu pertemanan mereka ini awet sampai kapan pun itu.
"Kalau begitu Mama pilih ayah dong "
"Tidak juga, Mama juga tidak pilih ayah "
"Tidak pilih Ayah, lalu kenapa mama selalu duduk dipangkuan ayah, bahkan Ayah juga sepertinya tadi mencium Mama kan, saat aku dan juga Melinda sedang bermain kalian itu seperti orang pacaran tahu"
Ayana jadi kesal sendiri ini gara-gara Adnan. Kenapa juga harus seperti itu. Jadi salah paham kan padahal tadi Adnan hanya memegang tengkuknya saja, mereka tidak melakukan apa-apa. Padahal tadi Ayana melihat kalau Melisa itu sedang fokus bermain dengan hewan-hewan yang dia ada di sana tapi kenapa sekarang Melisa bisa mengatakan hal ini.
"Lalu menurut Melisa Mama harus bagaimana, apakah selama ini Paman Adnan baik dengan Melisa dan juga Melinda. Mama ingin mendengar pendapat dari kamu dulu"
"Baik, Paman Adnan cukup baik, aku kira dia akan menyebalkan sekali tapi ternyata tidak. Dia baik dan mau mengikuti apa kemauan Melisa dan juga Melinda tidak buruk juga sih. Mungkin mama bisa mempertimbangkan Paman Adnan dia juga terlihat sangat baik dengan mama"
"Begitu ya, akan mama fikiran dulu. Lalu kenapa Melisa sampai sekarang memanggil Ayah dengan sebutan Paman tapi di depan Mama Melisa menyebut Paman Adnan dengan sebutan ayah, mama jadi binggung "
"Aku tidak mau nanti ayah malah terbang, dia itu kan suka sekali dipuji. Aku tidak mau sampai nanti ayah berpikir kalau aku ini mudah untuk dia taklukan. Lebih baik aku memanggil Paman saja di hadapannya, sama saja kan mama tidak ada bedanya"
"Baiklah untuk sesi cerita hari ini sudah selesai, lebih baik sekarang Melisa tidur terlebih dahulu ya sudah malam sekali apa kamu belum mengantuk"
__ADS_1
"Sudah mama Melisa sudah mengantuk, ayo kita tidur"
Melisa segera menutup kedua bola matanya dengan masih memeluk mamahnya dengan erat. Melisa benar-benar tidak melepaskan pelukan itu. Ayana mencium kening anaknya itu, lalu beralih mencium kening Melinda yang dari tadi tertidur.