
Fira terbangun dari tidurnya, dia menatap sekitar dan masih ada di rumah sakit tiba-tiba saja Fira mengamuk "Di mana suamiku, kenapa suamiku tidak pernah datang kemari ke mana suamiku. Aku ingin suamiku "
Fira lalu mencabut selang infusnya, tangannya sudah berdarah papihnya Fira yang terbangun karena teriakan anaknya kaget melihat darah yang menempel di selimut anaknya. Fira kembali berteriak dia terus saja memanggil suaminya.
"Fira jangan seperti ini, ada apa dengan kamu Fira sadar, jangan seperti ini nak sadar" Tapi Fira masih saja terus berteriak dia memanggil-manggil nama Adnan, Papinya Fira juga tadi sudah memencet tombol darurat dan dokter beserta suster sudah datang. Lalu Papinya Fira mundur dan Fira diberikan obat penenang.
Fira sudah mulai tenang, tapi mulutnya terus saja memanggil nama Adnan "Suamiku Adnan dimana kenapa dia tak peduli denganku. Kenapa dia tak ada disampingku "
"Aku sangat gemas sekali dengan kamu sayang "
"Aku bukan anak-anak "
"Sabar ya, papih akan bawa suami kamu "sambil mengusap kepala anaknya dengan sayang.
"Bohong papih selalu bohong " ucap Fira sebelum kesadarannya ini hilang.
...----------------...
"Kamu membuat bibir aku sakit " sambil memukul bahu Adnan. Ayana begitu sulit untuk marah dengan Adnan entah kenapa.
"Aku begitu gemas dengan kamu tahu "
__ADS_1
"Aku bukan anak-anak "
"Kalian bertiga memang sama-sama mengemaskan" Adnan menarik selimutnya yang turun ke bawah, lalu kembali membungkus tubuh Ayana agar dia tidak kedinginan "Berarti nanti aku tidak usah izin lagi ya jika ingin melakukan hal itu lagi padamu, kamu sudah mulai bisa menerima aku sayang "
"Aku akan memukulmu" Ayana mengepalkan tangannya "Sepertinya kamu masih punya pekerjaan. Kenapa kamu tidak mengerjakan saja dulu pekerjaanmu yang menumpuk itu aku tahu pekerjaanmu itu sangat banyak sekali"
"Hemm, nanti saja masih ada waktu untuk mengerjakan pekerjaanku ini. Kita lebih baik masuk ke dalam ya udaranya tidak baik kalau kita terus lama-lama di sini"
Ayana mengelengkan kepalanya "Tidak aku mau disini saja. Aku suka sekali disini "
"Adnan "
"Sepertinya kamu harus segera menyelesaikan masalahmu dengan Fira itu dengan Papinya juga, kamu tahu sendiri kan Melisa itu sangat pintar sekali, dia bisa saja mengetahui semuanya atau mungkin tiba-tiba papihnya Fira melakukan sesuatu dan menjadi berita yang besar, aku tidak mau nanti tiba-tiba anak-anak membencimu lagi apalagi Melisa. Dia saja belum bisa menerimamu sepenuhnya kan"
"Aku akan mengurusnya, kamu tenang saja Fira tidak akan bisa bergerak dengan leluasa apalagi Papinya dia hanya menggertak saja, dia tidak akan mungkin mengeluarkan sebuah berita yang akan membuatku marah aku pasti akan langsung mengurus semuanya"
"Hemm baiklah semoga saja apa yang kamu katakan benar "
Ayana menyenderkan kepalanya lagi di dada Adnan, rasanya nyaman sekali. Adnan melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 12.00 malam meskipun Ayana terus saja mengatakan kalau dia menolak Adnan, tapi dari gerak-geriknya Ayana sangat berbeda, dia menerima ciumannya itu sangat-sangat bertolak belakang dengan kata-katanya.
Memangnya dengan Ayana mengatakan kalau dia tidak akan menerima Adnan akan membuatnya mundur, tentu saja hal itu tidak akan pernah terjadi. Adnan akan terus maju sampai kapanpun itu, meski butuh bertahun-tahun untuk mendapatkan Ayana, Adnan akan melakukannya.
__ADS_1
Adnan melongok sedikit ke arah Ayana, ternyata Ayana tertidur. Adnan mencium kening Ayana cukup lama, lalu dia mengeluarkan ponselnya dan memfoto Ayana yang sedang tidur. cantik sekali.
Lalu Adnan kembali mencium pipinya Ayana sambil memotret kebersamaan mereka, akan Adnan perlihatkan pada Ayana dan juga nanti anak-anaknya suatu saat nanti, untuk sekarang Adnan belum berani memperlihatkannya pada Ayana yang ada dia akan di amuk habis-habisan oleh Ayana ini.
Adnan segera membawa Ayana masuk ke dalam, tidak mungkin mereka akan terus di sini udara makin dingin. Adnan juga memegang pipi Ayana begitu dingin sekali, udara di sini memang tidak enak tapi Adnan akan terus mengikuti apa kemauan Ayana.
Adnan membaringkan Ayana di tempat tidur, Adnan juga langsung membuka jaketnya dan jaket Ayana yang begitu tebal, tapi Ayana sama sekali tidak bangun dia benar-benar tertidur dengan lalap "Kenapa kamu dari dulu seperti ini Ayana, kalau sudah tidur kamu ini seperti orang mati. Bahkan aku membolak-balikkan badanmu tapi kamu masih saja tertidur, aku makin gemas saja dengan kamu sayang"
Adnan menarik selimut dan menyelimuti Ayana, setelah itu Adnan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu, dan keluar dengan telanjang dada dan hanya menggunakan celana pendek saja.
Memang kalau tidur Adnan lebih suka seperti ini, Ayana juga sudah tahu bagaimana kebiasannya ini, jadi Ayana saat bangun tak akan kaget.
Adnan masuk ke dalam selimut itu mengangkat sedikit kepala Ayana dan memasukkan tangannya keleher Ayana, biarkan tangannya saja yang menjadi bantal untuk Ayana.
Sekarang Adnan tidak perlu takut lagi kan akan ketahuan anak-anaknya, apalagi Melisa yang cerewet dan suka sekali mengancamnya dan tak bisa diajak kerja sama.
Malam ini sampai pagi nanti Ayana akan menjadi miliknya. Adnan tidak peduli nanti dengan ceramah neneknya atau dengan anak-anak yang marah karena tingkahnya ini. Kalau sampai ketahuan itu pun.
Adnan terlebih dahulu mencium pipi Ayana dan juga bibirnya, lalu segera menutup bola matanya dia tidak sabar nanti mendengar celotehan Melisa pasti akan marah ketika dia tahu kalau dirinya tidur dengan Ayana.
Pasti anak-anak akan mencari mamanya saat pagi-pagi dan Adnan tahu pasti mereka akan marah.
__ADS_1