
Adnan dan juga Melisa keluar dari kamar dengan pakaian sudah rapi, Melisa sudah memakai pakaian yang sudah dipilihkan Adnan, Melisa suka-suka saja tidak membantah apa yang Ayahnya suruh pakai, pakaiannya juga bagus.
Melisa juga suka pasti kalau Melinda di sini Melinda juga akan memakai pakaian yang sama dan suka, sama seperti dirinya ini. Melisa dan juga Melinda suka memakai pakaian yang sama.
Mereka berdua sekarang akan sarapan, mereka duduk di kursi dan banyak orang yang berlalu lelang. Melisa mengerutkan keningnya kemarin tidak sebanyak ini orangnya. Tapi sekarang kenapa banyak sekali saat akan sarap.
Apa mereka ini saudara ayahnya, tapi kenapa mereka tidak duduk malah sibuk bolak balik kearah belakang.
"Ayah kenapa banyak sekali orang, kemarin tidak sebanyak ini. Apa mereka semua saudara ayah, tapi kenapa mereka memakai pakaian yang sama seperti itu "tanya Melisa yang memang penasaran dengan semua orang ini yang muncul entah dari mana.
"Mereka tinggal di paviliun belakang, kalau akan sarapan mereka akan keluar dan kalau ada acara-acara penting mereka juga akan keluar semuanya pagi-pagi mereka akan mengerjakan semua tugas mereka dan nanti siang hari atau sampai sore hari mereka akan ada di paviliun belakang dan jika kita butuh mereka akan datang, disini sebenarnya banyak sekali orang Melisa "
"Apakah sarapan harus banyak yang menyiapkan ayah, kalau mama bisa menyiapkan semuanya sendirian tanpa harus banyak orang seperti ini. Aku malah jadi pusing di rumah Ayah ternyata banyak orang sekali, aku kira hanya yang kemarin saja ternyata lebih banyak lagi. Apakah uang ayah tak akan habis membayar orang sebanyak ini, apakah ayah tak sayang dengan uang ayah itu "
"Iya memang begitu mau bagaimana lagi mereka juga bagus kok bekerjanya, makanya Ayah mau memperkerjakan mereka. Uang kan bisa dicari sayang, lagian uang ayah banyak kok tak akan habis "
"Begitu ya, pantas saja mama menolak ayah terus "
Adnan langsung mengerutkan keningnya "Hah maksud kamu bagaimana Melisa "
"Iya makanya Mama selalu menolak Ayah karena ayah itu sombong "
"Ayah tak sombong Melisa, memang adanya seperti itu Ayah punya uang dan ayah bisa melakukan apa saja dengan uang"
"Tidak semuanya harus dengan uang Ayah, bahkan kebahagiaan saja tidak bisa dibeli oleh uang kan"
Adnan hanya bisa bungkam dan tersenyum kecil, benar juga apa yang dikatakan oleh anaknya. Adnan malah jadi malu sendirikan kalau sudah seperti ini. Adnan lupa sedang berbicara dengan Melisa yang cerewet dan tahu saja jawabannya.
Melisa menatap semua orang yang ada di sini lalu Melisa menyapa mereka "Hallo semuanya "
"Halo Nona muda. Selamat pagi "
Melisa yang mendengarnya sampai kaget mereka semua begitu kompak, seperti paduan suara yang ada di sekolahnya. Melisa kira akan hanya satu orang saja yang menjawabnya tapi ini semuanya.
"Nama aku Melisa bukan Nona muda, kenapa banyak yang menyebutku seperti itu. Padahal namaku adalah Melisa, itu adalah nama yang diberikan oleh mama "
__ADS_1
Adnan yang mendengar itu menatap seluruh karyawannya "Panggil dia Melisa namanya Melisa" Adnan tidak mau pagi-pagi anaknya malah marah-marah hanya karena panggilan nama saja.
Melisa menatap kursi di sebelahnya, kursi yang sama tinggi dengannya. Memang agak berbeda sih dari kursi-kursi yang lain "Pasti ini kursi untuk Melinda kan. Kamu baik sekali Ayah sudah menyiapkan semuanya lalu untuk Mama di mana, aku tak melihat kursi untuk mama "
"Tentu saja aku akan menyiapkan semuanya untuk kalian semua, kalau mama ada di sampingku dan untuk kamar Mama juga bersamaku, kamar mandi bersama ayah, lalu lemari pakaian bersama ayah semuanya bersama ayah. Mama akan selalu ada disamping ayah, mama tak akan pergi kemana-mana kalau tidak bersama ayah "
Melisa yang mendengar itu langsung mendengus "Itu sih maunya ayah agar dekat-dekat dengan Mama, mama kan sudah biasa tidur sendiri kenapa coba sekarang harus dengan ayah "
"Namanya juga pasangan pasti selalu dekat-dekat, masa mama dengan ayah mau beda kamar tidak mungkin kan kami harus satu kamar kamu saja dengan Melinda masa Ayah harus tidur sendiri sih. Kalau dulu mungkin mama harus tidur sendiri karena ayah bekerja, tapi sekarang ayah sudah pulang lagi kan, jadi mama harus tidur dengan Ayah "
"Sungguh aneh sekali ayah ini"
"Sudah lebih baik sekarang kamu sarapan ayo, kita kan harus pergi kekantor "
Melisa menganggukan kepalanya, ada seorang pelayan yang menuangkan susu ke dalam gelas Melissa "Terima kasih bibi. Apakah kalian tidak ikut sarapan, kenapa kalian hanya berdiri ayo duduk di sini. Masih banyak kursi yang kosong "
Pelayan itu tersenyum pada Melissa "Kami semua sudah makan tadi Nona eh Melisa, kami sudah makan tadi di belakang"
"Begitu ya, kenapa tidak makan di sini saja sekalian sama-sama, di sini banyak kursi kosong kita bisa makan sama-sama itu akan lebih enak dan lebih menyenangkan juga "
"Lain kali kami akan makan bersama dengan Melisa ya "
"Iya Melisa. Selamat makan Melisa"
"Iya terima kasih"
Melisa mengambil nugget dan memakannya, lalu mengangkat jempolnya ke arah ayahnya sambil menggerak-gerakkan kepalanya "Nugget nya enak sekali Ayah aku suka, seperti masakan mama sih ini. Kenapa bisa saja ya"
"Benarkah coba yang ini "Adnan memberikan sosis pada Melisa, dengan senang hati Melisa langsung memakannya dan kembali menggerak-gerakkan kepalanya Melisa suka dengan semua makanan yang ada di sini.
Benar-benar enak semua, tak ada yang gagal, Melisa sepertinya akan terus suka makan dirumah ayahnya ini. Apalagi orang-orang yang ada disini ramah-ramah semua.
"Oh ya Ayah, apakah aku tidak masalah terus bolos sekolah, aku akan bolos sekolah satu minggu loh belum lagi waktu kita liburan ke rumah nenek itu aku sudah bolos sekolah. Apakah aku tidak akan dikeluarkan dari sekolah nantinya, aku tak mau berpisah sekolah dengan Melinda "
"Kamu kan sudah izin jadi tidak masalah, mama sudah mengurus surat izin nya jadi kamu tak usah takut sayang"
__ADS_1
"Iya sih tapi tetap saja rasanya tidak enak, sedangkan Melinda dia sekolah sendiri bagaimana ya Melinda di sekolah, apakah dia kesepian, apakah ada yang menemaninya disekolah "
Adnan mengusap pelan kepala anaknya "Ini nugget lagi, Ayah yakin akan banyak anak yang menemani Melinda, dia kan anak yang baik "
"Iya terima kasih Ayah. Kenapa rasanya seperti yang Mama buat ya, aku benar-benar tak bisa membedakannya ayah "
"Ya karena ini resep dari mamamu, kata mama kamu suka makanan ini, tadi pagi Mama mengirimkan resep pada ayah, dan ayah langsung memberikannya pada koki yang ada di sini bagaimana sama enaknya kan "
"Iya sama enaknya, biasanya Mama akan memasukkan daging ayam, udang pokoknya enak sekali belum ditambah dengan sayur-sayuran aku suka sekali kalau di masakan oleh Mama, karena masakan mama itu selalu enak tidak pernah ada yang tidak enak"
"Iya memang masakan mamamu itu selalu enak, ayah saja selalu saja mengingatnya " Adnan malah mengenang masa lalu mereka berdua, saat dulu makanannya Ayana yang mengatur semuanya, Ayana yang selalu memasaknya, bukan pada pelayan.
"Ini cobalah ayah, kamu juga pasti akan suka "
Melisa memberikan garpunya pada ayahnya, Adnan langsung memakannya dan mengangguk-anggukkan kepalanya lalu mengangkat jempolnya seperti Melisa tadi "Enak resep mamamu, ayah juga sangat suka sekali nanti kalau kita sampai dirumah mamah, kita harus minta mamah untuk memasak makanan yang banyak "
Melisa menganggukan kepalanya menanggapi ayahnya. Melisa menikmati semua makanan yang ada di sana, semuanya Melisa cicipi ya meskipun hanya sedikit-sedikit tapi Melisa suka di sini makanannya dibentuk menjadi hewan-hewan yang lucu, jadi Melissa penasaran.
Nanti saat Melinda kemari Melisa akan menunjukkan semua ini, akan menyuruh Melinda untuk mencoba semuanya pasti Melinda juga sangat penasaran kan dengan semua ini.
Semenjak kembali bersama Ayana dan juga anak-anak Adnan sekarang jadi lahap sekali makannya dia jadi suka makan, apalagi Ayana juga selalu memasak yang enak, jadi Adnan makin lahap saja sekarang, ditemani oleh anaknya Melisa makin lahap saja makanya ini.
"Sepertinya Ayah harus kembali berolahraga Melisa. Apa kamu mau menemani Ayah untuk berolahraga, ayah tak suka kalau berolahraga sendiri, akan lebih menyenangkan kalau ada yang menemaniku kan "
"Kenapa harus berolahraga badan ayah kan sudah bagus tinggi besar juga, tak usah olahraga sama ayah kamu juga banyak pekerjaan tak akan sempat melakukan itu "
"Nanti kalau perut Ayah buncit bagaimana ayah seperti badut dong "
Melisa yang mendengarnya langsung tertawa "Tidak apa-apa itu akan sangat lucu sekali Ayah jadi kita tidak usah menyewa badut, ayah saja nanti yang menjadi badutnya. Pasti Melinda juga akan setuju kan, mama apalagi dia akan senang sekali "
"Kamu ini ya, tidaklah Ayah ingin badan ayah tetap bagus agar mamamu makin tertarik dengan ayah, agar mamah kamu tetap mencintai ayah mu yang tampan ini "
"Sudah tidak apa-apa perut buncit juga itu akan lucu sekali ayah, mama juga akan terus suka dengan ayah aku jamin itu ayah "
Melisa tertawa terus-menerus, para pelayan yang melihatnya juga senang karena Adnan yang selama ini selalu bungkam dan juga menjadi orang yang sangat pendiam, serta sering marah-marah dan juga tidak pernah tertawa, tapi dengan Melisa dia bisa terbuka seperti ini. Jadi mereka juga yang bekerja tak perlu tegang-tegang lagi.
__ADS_1
Sebelumnya saat ada Nona Kamila juga Adnan tidak seperti ini, Adnan memang seperti menutup dirinya waktu itu bahkan untuk menjawab sapaan dari pelayannya Adnan tidak mau dia hanya jalan dengan angkuh dan tidak merespon apa-apa.
Majikan mereka ini memang sudah benar-benar berubah, mereka jadi tak perlu tegang tegang lagi saat bekerja.