
Brak
"Kamu yakin Ayana sudah datang kemari bersama anak-anaknya ke rumah Adnan, kenapa datang kemari perempuan itu. Pastikan semuanya aku tak mau tahu, aku tak mau Ayana bahagia, hanya aku saja yang boleh bahagia bersama Adnan "
"Iya Nona, Tuan Adnan membawa Nona Ayana dan juga kedua putrinya ke rumah utama, mereka baru saja datang tadi ke rumah. Saya juga sudah melihat keluarga mereka datang. Kalau nona ingin melihatnya mari aku antarkan kesana "
"Tidak tidak, tidak mungkin Adnan membawa lagi Ayana kemari. Kamu bohong kan aku ingin bukti mana kamu fotonya kan, mana berikan aku bukti yang nyata "
Dikeluarkannya ponselnya itu, lalu diperlihatkannya pada Fira.
"Tidak tidak aku tidak mau melihat mereka, aku tidak suka mereka bahagia "
Fira langsung melemparkan ponsel itu, padahal itu ponsel orang lain tapi Fira tidak peduli. Fira tidak suka Ayana kembali lagi Fira juga melihat Adnan menggandeng Ayana dengan sangat mesra sekali
Kapan Adnan melakukan itu padanya tidak pernah sama sekali. Adnan selalu mendiamkannya dan selalu memojokkannya, tapi saat dengan Ayana begitu perhatian dan penuh sayang. Fira juga mau diperlakukan seperti itu.
Orang itu yang ponselnya dilempar segera mengambilnya, dan melihat layarnya yang sudah pecah harus diganti ponselnya ini. Padahal baru saja dibeli ponselnya ini.
"Tidak mungkin Ayana kembali tidak tidak, aku tidak mau perempuan itu kembali. Kenapa dia bisa kembali kenapa dia ada di sini lagi, seharusnya Ayana tak pernah ditemukan "
"Sepertinya Tuan Adnan akan menikah lagi dengan nona Ayana, mereka kembali bersama sepertinya Apalagi sudah ada kedua putrinya pasti hidup mereka akan lebih bahagia lagi nona " orang itu malah memanas-manasi Fira.
"Diam kamu, malah membuat aku makin marah saja kamu berani melakukan itu padaku hah. Seharusnya kamu itu mendukung aku, bukannya mengatakan kalau mereka akan bahagia gila kamu ya " marah Fira sampai urat-urat lehernya terlihat.
"Baiklah nona apakah ada yang ingin ditanyakan lagi, atau ada perintah yang lain "
"Keluar sana, aku tak mau melihat kamu "
Orang itu segera keluar, tak mau barang-barangnya rusak lagi. Ini saja ponsel sudah rusak parah. Jangan sampai nanti badannya yang rusak lagi.
Fira melempar segala barang yang ada. Fira tak suka melihat Ayana yang bahagia seperti itu.
...----------------...
"Lihat baguskan kamarnya "
Melinda menatap kamarnya itu, Melinda tersenyum lebar lalu menganggukan kepalanya dengan semangat.
"Bagus sekali kakak kamarnya, aku suka dengan kamar ini "
"Sudah aku katakan bagus sekali kan kamarnya sangat besar sekali, kita juga bisa tidur sendiri-sendiri lihat Ayah sudah memisahkan tempat tidur kita"
__ADS_1
Melinda langsung berlari kearah tempat tidur dan kembali tersenyum "Iya kakak, aku suka kamarnya apalagi banyak sekali mainannya "
"Hemm, memang ayah sudah menyiapkan segalanya disini"
Melinda mencoba untuk tidur dan menyelimuti tubuhnya. Melisa juga ikut tiduran disamping adiknya. Mereka berpelukan sambil tertawa-tawa.
...----------------...
Ayana dikagetkan dengan Adnan yang tiba-tiba saja berlutut di hadapannya dengan setangkai bunga mawar merah dan juga cincin berlian. Ayana menatap orang-orang yang juga tersenyum ke arahnya mereka semua adalah pelayan-pelayan Adnan.
Ada apa sebenarnya ini, Ayana begitu bingung dengan keadaan ini.
"Ayana kembalilah rujuk denganku kembalilah menikah denganku. Aku akan membuat kamu bahagia"
Ayana menatap sekitar, dia juga melihat anak-anaknya yang sedang berdiri di tangga. Terlihat senyum lebar dari Melisa dan juga Melinda. Ayana bingung apakah harus kembali tapi Ayana takut sangat takut sekali.
Melisa turun terlebih dahulu dan menarik tangan ibunya lalu memberikannya pada ayahnya "Ayah, mama mau menikah denganmu ayo pasangkan cincinnya. Mama pasti akan suka dengan cincin yang ayah berikan ini, sangat cantik sekali Ayah "
Adnan tertawa melihat tingkah anaknya, dulu Melisa yang sangat tidak ingin ibunya bersamanya. Sekarang malah dia yang bersemangat, Adnan sangat berterima kasih pada Melisa dan yakin kalau Ayana pasti tidak akan menolaknya. Apalagi dihadapan mereka ada anak-anak juga.
Adnan meraih tangan Ayana dan memasangkan cincin itu di jari Ayana, sedangkan Ayana masih diam seperti linglung dan menatap sekitar yang tiba-tiba saja bertepuk tangan, dan Melisa juga yang ada di sampingnya tersenyum senang ke arahnya. Ayana tidak bisa mematahkan hati anaknya begitu saja dengan menolak Adnan kan.
Adnan segera bangkit dan menatap Ayana" Kamu tidak akan pernah bisa lari kemana-mana lagi, kamu sudah menerima lamaranku lihat kamu sudah memakai cincin yang aku berikan, kemanapun kamu pergi aku akan ikut dengan kamu. Aku akan selalu ada disamping kamu "
"Adnan aku_"
Adnan langsung menyela kata-kata dari Ayana" Apa kamu tidak melihat bagaimana anak-anak senang saat aku melamarmu dan memakaikan cincin seperti ini. Apalagi tadi Melisa yang memberikan tanganmu padaku apa kamu ingin mengecewakan mereka. Pasti mereka akan sedih jika kamu tiba-tiba menolak aku Ayana. Lihatlah para pelayanku juga ada di sini apa kamu ingin membuat aku malu" ucap Adnan dengan suara yang kecil dan hanya terdengar oleh mereka berdua saja.
Ayana kembali melihat orang-orang itu lalu para pelayan mendekati Ayana dan memberikan selamat padanya. Mereka bersorak gembira akhirnya mendapatkan Nyonya baru yang mereka tahu kalau Ayana adalah perempuan baik yang pernah menjadi istri tuannya ini.
Ayana hanya bisa menerimanya saja tidak bisa menolak. Apakah ini awal yang baru yang harus Ayana jalani, Ayana tidak tahu kalau Adnan akan melamarnya secepat ini Ayana juga tidak berpikir untuk menerimanya.
Tapi Ayana kalau sampai menolak Adnan pasti Melisa dan juga Melinda akan kecewa. Ayana tidak mau membuat anak-anaknya kecewa. Semoga saja dengan keputusan ini semuanya baik-baik saja kan. Semoga saja Adnan tidak akan pernah menyakiti dirinya lagi ataupun menyakiti anak-anaknya.
"Mama ayo tersenyum, kamu juga pasti senangkan dilamar begini oleh Ayah " tanya Melinda dengan antusias.
Ayana langsung tersenyum sambil menatap anak-anaknya yang bahagia.
...----------------...
Sedangkan Fira sendiri dia menangis, dia tidak terima dengan Ayana yang kembalinya ke rumah itu. Seharusnya Fira yang tinggal di sana seperti dulu lagi. Fira tidak terima perempuan yang sudah selama ini dia singkirkan kembali lagi.
__ADS_1
Ayana benar-benar sudah menghambat kebahagiannya. Kenapa sih Ayana itu tidak mati saja, atau mungkin dia bunuh diri. Padahal Ayana waktu itu sudah pernah dilecehkan apa dia tak terpuruk sama sekali.
"Aku tidak terima, aku tidak terima kenapa perempuan itu harus datang lagi. Kenapa dia harus kembali aku tidak mau ada perempuan itu. Kenapa Adnan membawanya lagi. Seharusnya aku yang ada di sana. Seharusnya aku yang ada di samping Adnan bukan perempuan itu, aku harus mendapatkan Adnan mau bagaimana pun caranya "
"Permisi nona. Bapak menyuruh saya untuk memanggil Nona untuk ke ruangannya sekarang juga"
"Mau apa, aku sedang tak mau kemana-mana "
"Saya tidak tahu Nona. Tapi bapak menyuruh Nona untuk menemuinya, mungkin ada sesuatu yang ingin dibicarakan "
Fira segera mengusap air matanya dan berjalan ke arah ruangan ayahnya. Fira membuka pintunya begitu saja tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Sekarang fikiran Fira sedang kacau sekali.
'Memangnya kamu tidak punya tangan sampai-sampai tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, sopan lah Fira jangan seperti itu "
"Sebenarnya apa yang Papih ingin bicarakan, kalau ingin bicara ya bicara saja " Fira tak mendengarkan kata-kata papihnya dia langsung saja bertanya pada Papihnya.
"Kita harus keluar dari rumah ini, rumah sudah disita oleh ban. Kemasi pakaianmu dan kita pergi dari sini, cepat kita tak punya waktu banyak kita harus pergi sekarang juga "
"Tidak aku tidak mau, apa-apaan ini kenapa sampai seperti ini. Aku tak sudi kalau harus tinggal dirumah yang lain. Aku masih ingin disini saja "
"Perusahaan kita sudah bangkrut ini semua gara-gara kamu. Karena tingkah kamu itu Fira, aku hancur gara-gara kamu, kalau saja kamu tidak membuat drama menjadi orang gila mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi, kita akan tetap tinggal di sini perusahaan akan terjamin dan Adnan juga tidak akan menarik saham di perusahaan kita kalau sudah seperti ini bagaimana kita hanya bisa pergi dari sini, kita tak punya pilihan yang lain "
Fira menggelengkan kepalanya dengan kuat. Fira tidak mau pergi kemana-mana. Fira tidak mau kalau harus hidup miskin, kehidupannya yang serba ada harus tetap ada. Fira tak mau berjuang hanya untuk kehidupannya saja.
"Aku tidak akan pernah pergi dari rumah ini, aku tidak mau. Aku tidak mau tinggal di rumah kecil aku tidak mau sampai harus bekerja, aku hanya ingin tenang diam dirumah dengan uang yang banyak, aku tak akan kemana-mana "
"Ini juga karena kesalahanmu sendiri, kenapa kamu membuat drama yang bisa membuat semuanya hancur Fira aku merintis semuanya dari nol, tapi kamu menghancurkannya dengan sangat cepat sekali sampai-sampai aku seperti bermimpi, tapi pada kenyataannya semuanya sudah habis gara-gara kamu perusahaan gulung tikar, uangku habis rumah disita, entahlah kesalahan apa yang telah aku lakukan sampai-sampai aku mendapatkan karma sebesar ini"
"Kalau memang kamu tidak mau pergi silakan kamu tinggal saja di rumah ini, nanti juga akan datang orang-orang dari bank dan mengusir kamu. Kamu juga tak akan menemukan aku nanti, aku akan pergi jauh, aku tak akan ada disini "
Papihnya Fira membereskan semua berkas-berkas yang dia perlukan, dia mengemas semuanya. Memang ini sangat berat untuknya tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah habis semuanya sudah tidak ada yang tersisa.
Fira sendiri dia langsung berlari ke arah kamarnya, Fira mengunci diri di dalam kamar. Fira tidak akan pernah keluar dari rumah ini. Mau bagaimanapun ini adalah rumahnya, ini adalah hartanya, tidak semua ini tidak boleh dibawa oleh siapa-siapa semua ini harus utuh di tangannya.
Semua ini terjadi karena kedatangan Ayana, kalau saja perempuan itu tidak datang semua ini tidak akan pernah hilang. Hartanya akan tetap ada semuanya akan utuh Ayana memang benar-benar perempuan pembawa sial datangnya Ayana menghancurkan semuanya.
"Aku tidak mau pergi dari sini. Aku tak mau kalau harus hidup miskin, aku tak akan sanggup yang ada aku bisa mati "
"Aku kesal sekali dengan Ayana, Ayana seharusnya aku bunuh waktu itu pasti semua ini tak akan pernah terjadi kalau Ayana waktu itu mati. Aku juga masih bahagia hidup dengan Adnan"
Fira menatap kearah luar, ayahnya sudah membawa barang-barangnya dan membawanya masuk juga kedalam mobil. Mau pergi kemana ayahnya itu. Kenapa tak bertahan saja dirumah ini.
__ADS_1
Para pelayan juga banyak yang sudah pergi, semua orang pergi. Fira akan menahan papihnya juga agar diam disini, tidak boleh pergi kemana-mana papihnya juga.