
Adnan mengendap-endap untuk masuk ke dalam kamar anaknya, baru saja dia mencoba untuk membuka pintunya ternyata terkunci, apakah Ayana sudah merencanakan semua ini.
"Kenapa dikunci, padahal aku ingin tidur dengan mereka, aku ingin tidur bersama anak-anakku dan juga Ayana. Memang Ayana ini sudah merencanakan ini semua agar aku tak bisa masuk kedalam kamar. Ayana memang pintar sekali, dia benar-benar tak mau aku ganggu "
"Aku memang harus cepat-cepat menikahi Ayana agar tidak seperti ini. Aku juga ingin tidur bersama mereka Ayana kamu tega pada aku, kamu benar-benar membiarkan aku untuk tidur sendirian. Padahal aku tak mau sendirian "
Adnan kembali berjalan ke arah kamarnya. Dia berjalan dengan sangat lunglai sekali, padahal dia tadi sudah senang menunggu sampai malam dan akan kembali ke kamar anak-anaknya untuk tidur bersama mereka, tapi malah dikunci oleh Ayana.
Satu hal lagi Adnan bodoh, kenapa dia tidak menduplikat kunci kamar ini mungkin sekarang Adnan bisa masuk kan. Adnan mulai sekarang harus mempersiapkan segalanya. Ayana pintar dan dia bisa melakukan apa saja.
Adnan membaringkan tubuhnya di tempat tidur sendirian "Awas saja Ayana saat nanti kamu sudah menikah denganku lagi, aku tidak akan membolehkan kamu untuk keluar dari dalam kamar, aku akan terus memeluk kamu. Kamu sangat tega dengan aku Ayana"
Adnan yang memang sudah sangat mengantuk sekali akhirnya langsung tertidur dengan lelap. Rasanya hari ini memang sangat lelah sekali, baru pulang langsung bermain dengan anak-anak. Adnan sekarang butuh istirahat, hanya istirnya saja tak ada yang lain.
...----------------...
Fira terbangun dengan tubuh yang begitu sakit, entah kenapa tubuhnya tiba-tiba saja sakit Fira keluar dari dalam kamar dan melihat Papinya yang sedang duduk sendirian.
Papinya seperti tak punya fikiran apa-apa. Papinya seperti senang-senang saja tinggal disini. Padahal Fira tak suka dengan tempat ini. Fira tak betah sekali.
"Fira buatkan Papi kopi dan juga sarapan, kita harus segera makan. Kamu ini anak perempuan tapi telat bangunnya, harusnya dari subuh kamu sudah bangun Fira jangan malah bangun siang seperti ini tak baik loh, nanti rezeki kamu malah akan dipatuk ayam"
"Papi kenapa tempat tidurnya sangat keras sekali, sampai-sampai aku tidur tidak enak dan badanku juga sakit. Makannya aku sampai kesiangan seperti ini bangunnya papih "
"Iya terima saja. Papi juga sama. Kamu akan terbiasa kok nanti juga, kamu tidak akan sakit lagi tidur di tempat itu. Lambat laun juga kamu akan nyaman nanti"
"Tapi Papi itu benar-benar tidak nyaman aku sangat tidak nyaman tidur di sana. Aku akan terus kesakitan kalau bangun nanti. Apakah bisa membeli tempat tidur yang baru saja ayah "
"Sudahlah Fira jangan terus mengeluh dari tadi kamu mengeluh saja Ayah sampai pusing sekal cepat buatkan sarapan"
Fira masuk ke dalam dapur dia bingung apa yang harus diambil di sini ada kompor, wajan semuanya sudah lengkap, tapi apa yang harus Fira lakukan harus membuat apa sedangkan sebelum Fira belum pernah masuk ke dalam dapur dan memasak apapun.
Fira membuka ponselnya mencoba mencari sarapan apa yang cocok untuk mereka di pagi hari ini. Fira melihat ada yang gampang yaitu buat telur mata sapi. Disini sih terlihat sangat mudah dan Fira yakin bisa membuatnya. Ya bisa membuat sarapan ini untuk Papihnya agar ak banyak bicara.
Fira segera mengambil wajan dan menyimpannya di atas kompor, lalu dia juga mencari bagaimana tutorial menyalakan kompor Fira benar-benar tidak tahu apa-apa, kenapa dulu dirinya tak belajar sih mungkin tak akan seperti ini jadinya kan.
Sekarang berhasil sudah nyala. Fira membuat telur mata sapi, tapi dia malah ketakutan dengan minyak yang menciprat ke arahnya sampai-sampai Fira berteriak tak karuang. Fira benar-benar tak mau terkena minyak rasannya akan sangat sakit sekali dan perih.
__ADS_1
"Ada apa kamu Fira, kenapa apa ada yang jatuh apakah ada yang luka. Kenapa dengan kamu malah berteriak-teriak di pagi hari seperti ini sangat berisik tahu "
"Lihat telur ini, aku berteriak gara-gara telur itu "adu Fira "Aku tidak bisa memasak aku tidak bisa Papi. Lihatlah nanti malah akan merusak kulitku aduh aduh bagaimana ini papih "
Fira tidak mau mendekatinya dan membalikan telur itu dan pada akhirnya telurnya menjadi gosong. Fira benar-benar tak bisa memasak.
"Matikan Fira matikan lihat sudah ada asap. Kamu ini bagaimana sih matikan matikan, kamu Fira mau membakar rumah ini matikan-matikan "
Fira segera mematikan kompornya dia menundukkan kepalanya sambil berhadapan dengan Papinya "Sudah aku bilang aku tidak bisa melakukan apa-apa Papi. Aku malah akan membuat masalah "
"Ya maka dari itu kamu harus belajar kamu harus bisa melakukannya. Mau bagaimana nanti kamu kedepannya. Ya sudah buatkan Papih kopi sekarang ya kopi saja yang lebih gampang tak mungkin kan kopi akan gagal juga "
"Kopi, kopi di mana Ayah di mana kopi. Aku akan membuatnya sekarang juga Papih "
"Papih sudah menyimpannya di lemari, ayo cepat kamu cari di sana papi tunggu jangan lama, papi ingin meminum buatan kamu "
Fira membuka lemari paling atas benar saja kopi ada di sana. Fira segera menuangkan beberapa sendok kopi dan juga memasukkan sesuatu yang menurut Fira itu gula. Ya karena warnanya putih pasti benar kan ini gula.
Fira segera mengaduknya dan membawanya ke arah Papinya. "Ini Papi kopinya sudah siap, pasti yang ini tak akan salah lagi "
"Tapi aku tadi masukkan gula aku tidak mungkin salah Papi. Aku benar-benar sudah benar tak mungkin salah "
"Kamu pasti salah ini garam kamu ingin membuat Papi mati cepat, kamu benar-benar ingin ditinggalkan Papih ya Fira "
"Ya tidak mau. Fira tidak mau ditinggalkan oleh Papi, Fira tak akan siap sampai kapan pun "
"Sudah kamu segeralah bersiap carilah pekerjaan Fira carilah. Papi yakin kamu akan mendapatkan pekerjaan, kamu juga harus belajar memasak mulai sekarang kamu juga harus bisa membedakan mana gula dan mana garam "
"Baiklah "Fira hanya pasrah saja dia masuk ke dalam kamarnya untuk segera bersiap, tidak ada kamar mandi di dalam lagi. Fira harus keluar dan itu membuatnya kesal.
Tanpa Fira sadari Papinya tersenyum kecil, sebenarnya papihnya Fira itu benar-benar bangkrut atau tidak atau ini hanya permainannya saja untuk menghukum Fira. Entahlah tidak ada yang tahu selain Papinya Fira saja.
Fira sudah siap dengan pakaiannya yang rapi dia menatap ke arah Papinya yang masih diam membaca koran. Papihnya benar-benar menyerahkan semuanya padanya, dari pekerjaan rumah lalu pekerjaan mencari uang juga harus dirinya.
"Papi Fira akan pergi dulu, doakan ya Fira. Semoga dapat kerja dan bisa cepat-cepat memberikan uang pada Papi"
"Iya Fira semoga kamu sukses sampai jumpa pulang lagi ya jangan kemana-mana"
__ADS_1
Fira menganggukkan kepalanya, dia berjalan keluar rumah. Fira begitu lesu sekali entah kenapa dia tidak bersemangat saja, rasannya tak ada tenaga saja.
Saat Fira melihat ke arah luar sungguh di sini sangat menakutkan, banyak sekali pepohonan yang rindang belum lagi tetangga yang sedikit dan rumah-rumah yang jauh-jauh.
"Seharusnya papi bicara padaku kalau akan seperti ini, mungkin aku akan mencari tempat yang lain yang lebih ramai dan lebih dekat ke kota agar aku juga lebih gampang kan mencari pekerjaan tidak seperti ini. Sekarang aku harus pergi ke mana ini mobil papih juga yang kemarin di bawa tidak ada ke mana mobil itu, apakah menghilang juga apakah disita juga"
Fira yang tidak mau nanti malah diomeli oleh Papinya segera bergegas pergi. Meskipun dia tidak tahu arah pergi ke kota itu, tapi Fira tetap saja pergi. Bagaimana nanti saja lah.
...----------------...
Fira sekarang malah tersasar, dia tidak tahu di mana. Tapi dia melihat sawah yang banyak dan juga orang-orang yang sedang bekerja apakah Fira harus bekerja disini.
"Eh Neng cantik kenapa melamun di sini kesasar ya Neng, pasti lagi cari jalan "
Fira segera melihat ibu-ibu yang tadi bertanya padanya "Iya nih Bu aku kesasar ini di mana ya. Aku tadinya mau ke kota tapi ya tahu kenapa malah jalan ke sini"
"Ya salah atuh Neng seharusnya lewat sana tuh jalan yang sebelah kanan, baru itu jalan buat ke kota nanti ada angkot Neng naik aja"
"Angkot apa angkot"
"Angkutan umum Neng, yang biasa dinaikin sama banyak orang. Nanti kalau Neng sudah sampai tujuan tinggal bilang kiri sampai deh tinggal bayar aja "
"Harus kayak gitu ya Bu"
"Iya harus kayak gitu Neng"
"Di sini ga ada taksi gitu"
"Taksi ga ada Neng, mana ada yang mau lewat taksi ke tempat kayak gini, ini teh bukan kota Neng"
"Ya udah deh Bu makasih ya Bu"
"Iya sama-sama neng itu belok kanan aja lurus aja, terus nanti juga bakal ketemu kok jalan besar. Nah di situ Neng tunggu aja nanti juga ada angkot"
Fira menganggukan kepalanya, sungguh dia tidak mengerti dengan pilihan Papinya ini. Kenapa harus tempat ini kenapa harus mencari tempat yang jauh memang mereka menempati perumahan, tapi bukan perumahan yang banyak perumahan yang memang benar-benar hanya diisi beberapa orang lalu kesannya kosong dan Fira juga tidak tahu ini di kota mana.
Fira kembali berjalan meskipun kakinya sudah sangat sakit sekali, tapi Fira harus cepat-cepat ke kota dan mencari pekerjaan. Fira tidak mungkin terus jadi pengangguran dan Ayahnya akan terus berbicara dan tidak akan ada hentinya. Pasti kuping Fira akan panas nanti.
__ADS_1