Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 61


__ADS_3

Ayana yang baru saja selesai menjemput anak-anaknya dikagetkan dengan toko yang kosong. Tokonya benar-benar kosong tak ada satupun bunga yang tersisa. Kemana bunga-bungan ini "Itu kenapa bunga-bunga tidak ada, tapi pagi masih banyak "


"Tadi ada yang memborongnya Bu, membeli semua bunga-bunganya. Baru saja tadi orangnya pergi Bu. Dan bunganya juga langsung diangkut pergi "


Ayana tak habis pikir, tapi dia juga senang, bunganya habis semuanya. Anak-anaknya juga yang ada di sampingnya senang dan melihat-lihat toko mereka yang sudah kosong. Baru pertama kali mereka melihat toko bunga Mamanya kosong seperti ini.


"Hore toko kita kosong Mama. Berarti kita mulai belanja lagi, kita harus belanja bunga yang banyak Mama sepertinya orang itu sangat menyukai toko mama, sampai-sampai semuanya dibeli" ucap Melinda dengan senang sekali.


Ayana menganggukan kepalanya. Ayana begitu bersyukur sekali tapi siapa orang yang memborong semua bunganya. Ayana penasaran dengan orangnya dan ingin bertemu langsung" Kamu tahu siapa orangnya, atau mungkin kalian sempat berkenalan"


"Aku tidak tahu bu, tapi dia seorang laki-laki datang kemari dan katanya ingin memborong semua bunga ini, akan ada acara di rumahnya makanya dia memborong semua bunga yang ada di sini. Begitu sih bu katanya. Aku tadi tak sempat bertanya siapa namanya Bu "


"Baiklah nanti kalau misalnya ada orang yang menanyakan apakah bisa mendekor tempatnya, kamu bilang saja bisa ya nanti biar aku yang langsung datang ke sana dan mendekornya"


"Baik Bu, ini uang penjualan hari ini Bu. Sudah aku hitung semuanya dan sudah aku catat juga Bu"


Ayana menerima uang itu. Ayana tersenyum senang masih tak menyangka akan mendapatkan rezeki nomplok seperti ini, apalagi ini masih siang hari. Berarti tokonya sekarang harus tutup dan Ayana harus berbelanja lagi"


"Nanti kamu ikut aku belanja ya, pasti aku akan banyak belanja bunga dan memilih bunga "


"Tentu Bu"


"Sekarang kamu pulang saja. Ini bonus buat kamu terima kasih ya kamu sudah menjaga toko ku ini dengan baik "


"Ya ampun Bu makasih, seharusnya aku yang berterimakasih sama ibu. Makasih ya Bu untuk bonusnya "


Ayana hanya tersenyum saja dan kedua putrinya itu bahagia melihat ibunya yang bahagia, tak ada sesuatu yang lebih bahagia ketimbang senyum sang ibu. Kalau ibunya bahagia kan mereka juga ikut bahagia, ibunya harus selalu bahagia dan tersenyum seperti itu.


...----------------...


Adnan yang lagi-lagi ingin melihat kedua putrinya sekarang hanya diam di dalam mobil sambil mengawasi rumah Ayana, rumahnya begitu sejuk sekali. Memang ukurannya kecil tidak seperti rumahnya tapi sepertinya sangat nyaman sekali.


Rasanya Adnan ini masuk ke sana dan juga memeluk kedua putrinya serta ibunya sekaligus. Adnan ingin merasakan hal itu. Pasti hidupnya akan sempurna sekali.


Adnan melihat Ayana keluar dari rumah sambil membawa kantong kresek. Sepertinya dia akan membuang sampah diikuti oleh dua putrinya itu. Mereka berdua terus saja berpegangan tangan dan itu membuat Adnan ingin sekali memeluk mereka.


Tak ada pembicaraan sama sekali di antara mereka bertiga, mereka langsung masuk lagi ke dalam rumah dan Adnan tidak bisa lagi melihat mereka. Betapa indahnya melihat orang-orang yang dicintainya bahagia seperti itu.


Adnan senang sekali melihat Ayana bisa seperti semula lagi. Dia bisa mengurus anak-anaknya dengan baik sekali. Satu lagi Ayana lebih cantik sebelum saat bersamanya. Ternyata yang dikatakan Fabian itu bohong katanya Ayana sudah menikah, tapi Adnan tidak pernah melihat ada laki-laki yang masuk ke rumah itu hanya mereka saja yang berlalu-lalang berarti Fabian selama ini membohonginya.


Fabian memang ingin membuatnya mundur saja agar dirinya ini tak mencari Ayana. Tapi pada kenyataannya dirinya mencari Ayana juga kan. Adnan tidak akan percaya begitu saja sebelum melihat langsung.


Sedangkan Marco dia sibuk dengan pekerjaannya, karena dari tadi bosnya ini malah diam memperhatikan rumah itu tidak memperdulikan pekerjaannya yang terus saja bertambah makin hari.


"Ayah kapan kita pulang kenapa kita harus selalu ada di sini, kalau memang Ayah ingin bertemu dengan orang itu maka temui saja. Agar kita cepat pulang Ayah. Kamila sudah sangat mengantuk sekali. Kamila ingin tidur dan dipeluk oleh Ayah "


Adam menatap Kamila "Lebih baik kamu pulang ya nanti juga ayah akan pulang. Kamu bersama kakek dulu saja di sana kamu juga harus sekolah. Ayah tidak mau kamu terlalu lama disini dan meninggalkan sekolah kamu itu "


Kamila langsung menggelengkan kepalanya "Kamila tidak mau kemana-mana. Kamila mau terus bersama ayah. Kalau Ayah tidak pulang maka Kamila juga tidak akan pernah pulang, Kamila akan terus bersama Ayah mau bagaimana pun caranya itu "


"Tapi ayah masih banyak pekerjaan, Ayah takut kamu malah terabaikan lebih baik kamu bersama kakek saja, sama saja kan ayah dan kakek tak ada bedanya juga "


"Pekerjaan ayah hanya melihat dua anak itu dan juga bibi tadi saja. Apakah itu namanya pekerjaan ayah. Mengintip orang apakah pekerjaan Ayah " tanya Kamila dengan polosnya.


Adnan mengusap rambut anaknya "Kamu mau punya ibu lagi kan, maka biarkan Ayah untuk diam di sini untuk menjemput Ibumu dan juga adik-adikmu. Kalian nanti akan hidup bahagia Ayah menjamin itu semua. Kamu akan mendapatkan kasih sayang penuh, kamu tidak akan pernah khawatir lagi akan kesepian. Ayah juga bisa bekerja dengan tenang nantinya "


Kamila langsung mengelengkan kepalanya dengan kuat "Aku tidak perlu Ibu lagi, aku tidak mau mempunyai ibu, aku hanya butuh ayah saja dan aku juga tidak mau mempunyai adik, aku tidak mau kasih sayang Ayah terbagi-bagi. Cukup hanya ayah saja yang ada di sampingku, sudah itu saja yang aku mau Ayah tak ada yang lainnya "


"Jangan kerasa kepala seperti itu, mau bagaimanapun yang kamu lihat itu adalah adik-adik kamu dan itu adalah anak ayah. Kalian bertiga adalah sama-sama anak Ayah kamu harus mengerti Kamila. Ayah sudah memberitahumu beberapa kali ya "


Kamila malah melipat tangannya dan membuang muka tidak mau melihat Adnan. Kamila benar-benar membuat Adnan pusing, tapi Adnan sudah membulatkan tekadnya kalau Adnan akan memulangkan Kamila dulu agar apa yang sedang dia tuju tercapai dengan cepat.


Kalau Kamila terus ada di sini yang ada semuanya akan lama. Adnan akan lama mendekati anak-anaknya dan juga ibunya itu. Adnan tidak bisa menunggu waktu lagi dan tidak mau berleha-leha, nanti malah tak ada kesempatan lagi untuk Adnan.

__ADS_1


"Pak bunga-bunga yang kita beli dari toko nona Ayana sudah dikirim ke villa, lalu akan kita apakan bunga-bunga itu. Bunganya sangat banyak sekali Pak"


Adnan menatap Marco lalu diam beberapa saat "Ya sudah bagikan saja pada orang-orang yang ada di dekat villa, jangan diambil pusing Marco. Pasti banyak yang suka dengan bunga dan mereka akan menerimanya "


"Lalu besok apakah kita akan melakukannya lagi Pak ,memborong semua bunga-bunganya "


"Tentu aku memborongnya lagi. Aku ingin anak-anak selalu bahagia dan semua kebutuhannya tercukupi "


"Tapi kalau seperti itu Nona Ayana yang ada malah curiga, kita tidak bisa setiap hari memborong bunga-bunga itu pasti Nona Ayana akan bertanya-tanya. Kalau sampai ketahuan sudahlah habis Pak "


"Lalu harus bagaimana, kamu fikirkan saja jangan bertanya lagi padaku " Adnan tak mau pusing-pusing memikirkan solusinya.


"Kita jadi pelanggan setianya saja bagaimana, itu akan lebih baik kan Pak. Daripada kita setiap hari memborong bunga itu dan pasti akan membuat Nona Ayana curiga sekali"


"Ide yang bagus, aku setuju saja dengan ide mu itu "


"Baiklah Pak, aku akan membagikan semua bunga-bunga itu"


Adnan hanya mengganggukan kepalanya saja, dia kembali menatap rumah itu. Begitu nyaman sepertinya rumah itu meskipun kecil tapi pasti ramai dengan suara-suara putrinya yang pasti sedang bermain. Adnan ingin sekali ada di tengah-tengah mereka bermain sama-sama.


Menikmati hari bersama-sama, bangun pagi ada si kembar dan lalu Ayana juga tidur di sampingnya, apakah semua itu akan bisa terwujud tapi Adnan harus mewujudkan semua itu tidak boleh sampai semua itu gagal.


"Ayah ayo pulang, aku ingin pulang apakah kita akan terus disini "


Pikiran Adnan langsung buyar, khayalannya tentang kedua anak kembarnya dan juga Ayana langsung hilang setelah teriakan yang sangat kencang dari Kamila. Kamila ini menganggu saja hayalannya. Jadi tak ada kan kedua putrinya itu.


"Marco ayo kita pulang ke villa dan belikan aku tiket malam ini juga, aku akan mengembalikan Kamila. Aku ingin fokus "


"Tidak mau tidak mau, aku tidak mau aku ini terus bersama ayah. Aku mau bersama Ayah saja jangan tinggalkan aku sendiri lagi Ayah "


Tapi Adnan tidak memperdulikannya, dia tidak mau mendengar lagi kata-kata Kamila. Kamila seperti sedang menghambat kebahagiaannya saja bukan apa-apa Adnan ingin juga membahagiakan kedua putrinya yang lain.


Adnan sudah membuat kesalahan karena sudah tidak ada saat mereka tumbuh, 5 tahun sudah waktu yang Adnan sia-siakan dan Adnan tidak mau kalau sampai anak-anaknya itu tidak mengenal dirinya bahkan sampai membencinya.


"Ayah aku tak mau pulang, ayah jangan diamkan aku seperti itu aku tidak suka Ayah "


Tapi Kamila malah menggelengkan kepalanya, dia tidak mau benar-benar tidak mau dibagi-bagi meskipun ayahnya mengatakan kalau kasih sayangnya akan sema, tetap saja akan berbeda akan ada dua saingan untuk Kamila nantinya. Kamila tak mau nanti Ayahnya bersama mereka.


...----------------...


Ayana yang sedang mencuci piring menatap anaknya yang sedang bermain. Mereka sedang menyusun rumah-rumahan boneka yang baru saja mereka tadi beli. Ayana sengaja membelikannya untuk hadiah mereka karena sudah menjadi anak baik, sebenarnya sih dari dulu juga mereka sudah menjadi anak baik dan penurut.


Ayana ingin melihat anak-anaknya bahagia, mumpung Ayana punya rezeki kenapa tidak membelikan mainan baru untuk anak-anaknya. Ayana tak mau anaknya kekurangan apapun. Ayana ingin selalu memenuhi apapun yang anaknya mau.


"Mama apakah Melisa dan juga Melinda boleh tidur lebih malam, besok kan hari Minggu sekolah juga libur kan"tanya Melisa dengan masih fokus menata rumah-rumahan bonekanya.


"Memangnya apa yang akan kalian lakukan, memang tidur lebih malam kalian akan melakukan apa "tanya Ayana sambil membereskan cuci piringnya dan mendekati kedua anaknya.


"Kami masih menyusun rumah-rumahan ini Mama. Kami ingin cepat selesai agar besok bisa langsung dimainkan bersama boneka Barbie kami, agar boneka boneka Barbie kami bisa tinggal di rumah ini. Pasti akan sangat bagus sekali mereka ada disini. Kami sudah tak sabar Mama "


"Emm bagaimana ya, tapi kalau begitu kalian berdua tidak bisa bangun pagi dong"


"Memangnya kita mau ke mana "tanya Melinda yang penasaran dengan kata-kata Mamanya.


"Memangnya kalian mau ke mana "malah sekarang Ayana bertanya balik pada kedua anaknya.


"Kalau misalnya kita bermain pasir bagaimana Mama. Tapi harus dengan Mama juga pagi-pagi main pasir pasti akan menyenangkan, main air juga dan kita juga nanti beli kepiting, ikan bakar dan juga minumnya air kepala muda " ujar Melinda yang senang sekali main pasir dan juga minum air kelapa muda.


"Baiklah tapi kita akan olahraga dulu bagaimana, setelah itu baru main pasir. Kita bertiga sudah lama kan tidak berolahraga "


"Baiklah Mamah kami setuju, kami sangat setuju sekali "


"Baiklah sudah diputuskan berarti kalian tidak boleh tidur malam-malam. Nanti kita bisa menyusun rumah boneka ini lagi, pelan-pelan saja tidak usah terburu-buru. Nanti juga akan selesai "

__ADS_1


"Iya Mama, kami akan pelan-pelan saja "


Mereka berdua kembali fokus pada boneka rumah-rumahan itu. Ayana hanya diam menatap mereka menyusunnya. Ingin tahu saja apakah anak-anaknya bisa menyelesaikan semua itu.


Nanti kalau mereka sudah menyerah baru Ayana akan membantunya, hanya ingin tahu saja sampai mana mereka bisa menyusun mainan itu. Karena mereka ini sangat pintar. Kalau diberi yang seperti ini mereka akan menyusunnya dengan cepat.


...----------------...


Adnan memijat kepalanya karena pusing, dari tadi Kamila terus saja menangis merengek tidak mau dipulangkan ingin terus bersama Adnan. Sedangkan di sini Kamila hanya akan membuatnya susah menghalanginya dan banyak protes sekali.


Yang ada tidak bisa fokus kalau Kamila terus menghalanginya, yang ada tidak akan pernah selesai dan juga tidak bisa membawa kedua putrinya dengan cepat.


"Tapi kamu kan harus sekolah Kamila. Bukannya kamu ingin cepat-cepat pulang dan sekolah kamu sekarang kenapa tiba-tiba tidak mau pulang" Adnan mencoba untuk terus sabar menghadapi anaknya ini, tidak mau meledak-ledak dan memarahinya.


Kamila menggelengkan kepalanya "Pokoknya kalau aku pulang berarti Ayah juga harus ada di sana, tidak boleh kembali lagi ke sini Ayah harus bersamaku tidak boleh kemana-mana. Ayah harus tidur terus bersamaku, Ayah harus selalu mengantarkanku sekolah aku tidak mau diantarkan oleh siapapun kalau bukan oleh ayah sekolahnya"


"Marco jaga dulu Kamila, buat dia diam aku pusing kalau dia terus saja menangis aku tidak bisa berpikir"


"Baik Pak "


Lagi-lagi Marco hanya bisa pasrah saja, sekarang disuruh mengurus anak. Marko saja belum punya anak bagaimana untuk mendiamkan anak ini, dari tadi terus saja menangis dengan histeris, sampai-sampai telinga Marco ini sakit mendengarnya. Sepertinya Marco tidak akan pernah menikah takut jika anaknya seperti nona Kamila ini doyan nangis.


"Ayah mau ke mana Ayah jangan tinggalkan aku, aku tak mau bersama Paman Marco"


Adnan masuk ke dalam kamarnya dan menelpon Papinya Fira, ingin bicara masalah Kamila. Dan Adnan juga ingin menitipkannya juga kan, takutnya mantan Ayah mertuanya itu sedang sibuk.


"Iya Adnan"


"Pi aku ingin menitipkan Kamila apakah Papi ada waktu, apa Papih tidak keberatan kalau misalnya aku menitipkan Kamila, karena aku sedang banyak pekerjaan di sini dan aku tidak bisa terus membawa-bawa Kamila. Bukan apa-apa dia pasti akan sangat bosan sekali apalagi dia kan sudah sekolah sekarang. jadi sekolahnya terhambat kalau harus ikut-ikut aku bekerja"


"Tentu saja boleh, kamu bawa saja Kamila kemari. Dan Papi juga ingin berbicara sesuatu padamu ini sangat penting sekali. Mungkin ini akan sangat membuatmu kaget tapi Papi tidak mau menyimpannya terlalu lama. Papi harus mengatakannya yang sejujur-jujurnya agar nanti di kemudian hari kita tidak banyak masalah"


"Memangnya tentang apa Pih. Maaf apakah aku boleh masih memanggilmu Papih seperti biasanya" Adnan sampai lupa menanyakan hal itu.


"Tentu saja Adnan, memangnya aku melarangmu tidak sama sekali Aku suka kamu masih memanggilku Papi anggap saja kalau aku ini ayahmu. Aku ingin bicara saat ada dirimu saja nanti di sini. Aku tidak mau kalau berbicara ditelepon tidak akan enak. Kemarin juga aku datang ke rumahmu ternyata kosong tidak ada siapa-siapa, ingin menelponmu takut kamu sedang sibuk makannya sekarang saat kamu menelpon Papi membicarakan semuanya"


"Baiklah Papi Adnan sekarang akan pulang, tapi masalah tentang apa Papi"


"Tentang Kamila, Fira mengatakan sesuatu pada Papi dan itu membuat Papi sedih sekali, Papi akan menceritakan semuanya sama kamu. Maaf selama ini anak Papi sudah membuat kamu kecewa, papi juga kecewa dengannya, Papih masih tak habis pikir kalau Fira bisa melakukan hal seperti ini"


Adnan berpikir keras tentang Kamila. Memangnya ada apa dengan Kamila selama ini baik-baik saja kan, tidak ada masalah apa yang Fira katakan. Sampai ayahnya merasa bersalah seperti itu, pasti ini sangat penting sekali Adnan ingin cepat-cepat pulang dan mendengar semuanya.


"Baiklah Papi besok kita ketemu dan kita bicarakan semuanya"


"Tentu, aku tutup dulu ya, papi harus memberi makan dulu Fira dia belum makan"


"Tentu pih "


Setelah sambungan terputus Adnan tidak menemui anaknya yang masih saja menangis, Adnan masih memikirkan bagaimana nanti kalau misalnya dia sudah bersatu dengan ayana, apa akan terus seperti ini Kamila tidak akan menerima kedua adiknya dan juga Ayana.


Tapi Adnan tidak bisa memilih diantara mereka, Adnan tidak bisa memilih Kamila ataupun memilih Ayana dan kedua putrinya. Mereka sangat penting dalam hidup Adnan.


Adnan harus meminta solusi pada siapa, sedangkan mamanya saja seperti itu. Mamahnya yang sudah membuat Adnan hancur, membuat hubungan dan juga Ayana hancur. Adnan tidak punya siapa-siapa untuk menceritakan keluh kesahnya selama ini Adnan benar-benar sendiri.


Bahkan untuk teman pun sepertinya Adnan tidak punya, Rio juga sekarang sibuk dengan kehidupannya. Adnan tidak mau mengganggunya dan juga tidak mau terlalu menceritakan tentang kehidupan.


Semua keluarganya jauh dan Adnan juga tidak mungkin tiba-tiba menceritakan semua ini pada mereka. Mereka tidak tahu awal dari semua cerita ini, Adnan juga tidak mau menceritakan semuanya dari awal akan sangat memalukan sekali.


Adnan yang sudah mulai berhenti merokok pada hari ini dia merokok kembali, membuka pintu balkon menatap keluar dan mengingat kembali tentang Ayana yang dulu sangat dia cintai, yang sangat dia puja-puja tapi sekarang bahkan Adnan tidak bisa menemani Ayana.


Yang sangat Adnan sesalkan adalah saat Ayana berjuang hidup dan matinya, melahirkan anak kembarnya. Adnan malah sedang senang-senang dan juga tak memikirkan keadaan Ayana. Karena sebuah kesalahpahaman ini semuanya hancur.


Adnan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan, sekarang jadi menyesalkan dan tidak bisa melihat putri-putrinya tumbuh, tidak bisa melihat putri-putrinya saat dilahirkan dan mengurusnya pasti Ayana waktu itu sangat kesulitan sekali.

__ADS_1


"Aku terlalu bodoh. Aku tidak percaya dengan kata-kata Fabian. Seharusnya aku dulu berbicara empat mata dengan Fabian mungkin Ayana dan kedua putriku sekarang ada di sampingku, kami akan hidup bahagia tidak seperti ini berpisah-pisah dan aku harus kembali mengejar mereka untuk mendapatkan maaf dari mereka juga"


Adnan kembali menyedot rokok itu dan termenung memikirkan jalan hidupnya yang rumit, sangat rumit sekali malahan.


__ADS_2