Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 69


__ADS_3

Guru itu sudah datang lagi dan berhadapan langsung dengan Adnan "Sebenarnya Bapak ini siapa. Kenapa sampai-sampai membuat Melisa menangis seperti itu"


"Aku Ayahnya "


"Ayahnya ? Bukannya ayahnya Melisa dan juga Melinda adalah Pak Fabian"


Adnan yang mendengar itu cukup marah. Kenapa coba harus Fabian. Apa Ayana sengaja melakukan ini, sengaja memperkenalkan Fabian sebagai ayah anak-anak "Dia itu cuman teman Ayana bukan siapa-siapa mereka. Jadi jangan sebut kalau Fabian itu ayah dari anak-anakku. Akulah Ayahnya bukan Fabian"


"Baik Pak, tolong jangan buat keributan di sini kasihan juga Melisa. Dia tak akan fokus untuk belajar. Kalau memang sedang ada masalah lebih baik langsung dibicarakan saja dengan ibunya jangan bawa-bawa anak-anak Pak. Karena anak-anak tidak tahu apa-apaa "


"Aku tidak ingin membuat keributan. Aku hanya ingin bertemu dengan anakku. Aku ingin kamu rahasiakan pertemuanku ini dari ibunya jangan sampai dia tahu"


"Tapi kami harus selalu memberikan informasi apapun tentang anak-anak pada orang tuanya, kami tak bisa menyimpan semua rahasia ini "


"Nanti aku sendiri yang bicara dengan Ayana jadi tidak usah berbicara lagi pada Ayana. Jadi kamu tak usah repot-repot buat bicara sama Ayana biar aku aja nanti "


Adnan langsung meninggalkan ruangan itu, Adnan sampai menangis bukan apa-apa Melisa begitu histeris tadi, apakah Melisa tidak bisa menerimanya apakah anak-anaknya tidak akan pernah bisa menerimanya sampai kapanpun.


Adnan kira dengan cara mendekati anak-anaknya akan membuat Ayana luluh dan bisa memaafkannya, tapi ternyata Adnan salah, Melisa begitu membencinya Melisa begitu tidak suka dengannya bahkan Melisa sampai berani memukulnya kan dan tadi dia menangis dengan histeris.

__ADS_1


Apakah Adnan perlu bertemu lagi dengan Ayana, kalau dia sudah mendapatkan maaf dari Ayana pasti Adnan bisa mendekati anak-anaknya kan tidak akan seperti ini sangat sulit sekali.


Adnan masuk ke dalam mobil, dia belum mau pulang, Adnan akan pulang saat Ayana menjemput anak-anak. Mulai sekarang Adnan akan mengikuti kemanapun mereka pergi, takut-takut nanti Melisa akan berbicara pada ibunya dan mereka pergi jauh dari Adnan.


Ayana terlalu pintar, kalau tidak di beri penjagaan ketat Ayana akan menghilang lagi seperti saat itu, kalau tidak kebetulan mungkin Adnan tidak akan pernah bertemu dengan Ayana.


Adnan mengusap air matanya saat mendengar dering ponselnya "Hallo Papi apa semuanya baik-baik saja, Kamila baik-baik saja kan "


"Kami akan pergi ke sana, Kamila ingin bertemu denganmu maafkan aku, aku sudah berjanji sesuatu yang seharusnya aku tidak janjikan. Aku seharusnya juga bilang dulu padamu waktu itu. Kamila memang tidak mau makan dan aku berjanji akan membawanya pergi bertemu sama kamu, apakah tidak masalah"


Adnan mengusap wajahnya akan makin sulit kalau Kamila ada di sini, padahal Adnan memberikan Kamila pada Papihnya Fira itu untuk dijaga untuk diurus dulu karena Adan di sini harus membereskan dulu masalahnya dengan Ayana, tapi sekarang ditambah dengan Kamila yang datang pasti akan makin rumit.


"Bisa Papi bicara lagi dengan Kamila. Aku di sini belum selesai aku tidak akan bisa bekerja dengan benar kalau misalnya Kamila ada di sini, aku harus cepat-cepat mendapatkan anak dan istriku lagi. Papi mengerti kan tentang keadaanku sekarang, kalau misalnya Kamila ada di sini dia tidak akan pernah mengerti apa yang aku inginkan, dia malah akan membuat aku pusing dan rewel. Aku tak akan pernah bisa mendapatkan anak dan istriku dengan cepat "


Adnan pasrah mau bagaimana lagi kalau sudah seperti ini sulit sekali. "Ya sudah bawa saja Kamila kemari dan aku juga ingin membicarakan sesuatu dengan Papi, tentang Kamila sepertinya aku tidak akan bisa mengurus lagi Kamila"


"Baiklah kita bicarakan nanti di sana, kita bicarakan semuanya"


Adnan segera mematikan sambungan teleponnya, Adnan dengan tenang menunggu kedatangan Ayana, sebentar lagi anak-anak juga akan pulang Adnan akan mengikuti mereka.

__ADS_1


Sudah 1 jam Adnan menunggu dan dia melihat Ayana menjemput anak-anaknya, mereka berpelukan terlebih dahulu, Adnan mengambil topinya dan juga mengganti pakaiannya menjadi kaos oblong dan juga celana jeans agar Ayana tidak tahu.


Adnan mengikuti mereka dari belakang, dengan topi yang diturunkan agar tidak terlihat wajahnya. Jangan sampai ketahuan nanti bisa berlari mereka bertiga.


"Mamah Melisa ingin bicara. Bisakah kita pindah dari kota ini saja, rasanya Melisa tidak cocok di sini kita cari kota yang lain, mungkin kita pindah ketempat yang lebih terpencil dan lebih menyenangkan lagi"


"Kenapa memangnya apa yang terjadi Melisa, di sini juga nyaman. Memangnya apa yang membuatmu ingin pindah dari kota ini. Waktu itu kamu suka tempat ini lalu sekarang kenapa tiba-tiba jadi tak suka "


"Ya waktu itu aku memang suka, tapi setelah dipikir-pikir di sini terlalu banyak orang. Mama tahu sendiri kan Melisa tidak terlalu suka kalau banyak orang. Mungkin kita bisa hidup di tempat yang lain Mama dan akan lebih membuat kita bahagia juga kan"


Adnan yang mendengar percakapan Melisa dan Ayana sungguh marah. Apa-apaan Melisa menyuruh mamahnya untuk pindah dari kota ini, tidak Adnan tidak akan pernah membiarkan itu. Adnan akan melarang semua tindakan yang akan dilakukan Ayana.


"Atau mungkin kita ikut Paman Fabian saja Mama, Paman Fabian kan pernah mengajak kita untuk pergi bersama, kenapa kita tidak pergi bersama paman Fabian saja. Pasti Paman punya opsi yang bagus untuk tempat kita nanti tinggal, kita telfon Paman Fabian nanti dirumah ya Mama "


"Nanti Mama pikir-pikir dulu ya, Mama kan di sini baru merintis usaha baru lagi, jadi Mama tidak bisa tiba-tiba pindah begitu saja Melisa"


"Baiklah, tapi pikir-pikir lagi ya Mah. Kalau bisa kita pindah saja dari kota ini. Nanti kita cari rumah yang lebih nyaman dan tempat yang lebih tertutup saja agar tidak ada yang tahu kita berada di mana"


"Sepertinya kamu sedang menjauhi seseorang ada apa apa. Di sekolah ada masalah, apa kamu punya musuh coba cerita sama Mama "

__ADS_1


Melisa menganggukan kepalanya. Sebenarnya Melisa ingin menjauhi Paman tadi, karena Melisa ingin mamanya tidak terus menangis, ingin Mamanya selalu tersenyum dan tak menangis.


Melisa menatap kearah belakang, seperti ada yang mengikutinya. Tapi Melisa tidak tahu siapa orang itu.


__ADS_2