
Mereka sudah sampai di kebun binatang yang begitu jauh sekali. Ayana sungguh tak habis fikir dengan Adnan ini. Kenapa juga harus pergi kesini, padahal banyak kebun binatang kan.
Mereka harus melakukan perjalanan berjam-jam hanya untuk pergi kemari. Ayana menatap Adnan yang terus berjalan disampingnya. Sedangkan anak-anak bersama nenek dan juga ada beberapa pendamping yang Adnan sewa.
"Lihat hewannya masih sama loh ga ada yang beda. Tapi kita harus menghabiskan waktu berjam-jam"
"Kenapa Ayana jangan protes, sekalian jalan-jalan kapan lagi kita seperti ini. Anggap saja kita sedang liburan keluarga "
Ayana mendelikan matannya. Ayana akan menghampiri anak-anak tapi Adnan dengan cepat mengenggam tangan Ayana.
"Lepas Adnan aku akan menemui anak-anak "
Adnan mengelengkan kepalanya "Tidak, sudah seperti ini saja biarkan mereka bersama nenek dan juga pemandu kebun binatang mereka sedang belajar Ayana jangan diganggu "
"Tidak lepaskan, kamu tidak lihat Melinda sepertinya ketakutan melihat monyet itu "
"Sudah biarkan ada nenek "
"Adnan lepaskan jangan main-main anak-anak harus selalu diperhatikan, aku tidak mau Melinda ketakutan sendiri, Lepaskan "
Ayana sudah marah sekali dengan tingkah Adnan ini. Adnan dengan patuh langsung melepaskan pegangan tangannya dan membiarkan Ayana mendekati anak-anak.
Adnan juga sama, menghampiri mereka semua. Adnan menatap Ayana yang memangku Melinda yang langsung memeluk leher ibunya.
"Kenapa sayang, sepertinya kamu sangat takut "
"Aku ingin memberi pisang pada monyet itu, tapi aku takut monyetnya akan menarik tanganku "
"Ya sudah, Melinda mundur saja ya "
"Hemm, tapi kenapa kakak begitu berani lihat kakak memberinya pisang "
Adnan berjongkok disamping Ayana "Mau dengan Ayah memberi makan monyetnya "
"Apakah, akan aman Ayah "
"Tentu saja aman, ayo sini bersama Ayah "
Melinda dengan ragu menggapai tangan Ayahnya. Melinda masih takut-takut sekali.
Adnan membawa Melinda untuk mendekati monyet itu "Ayo berikan, ayah akan ada disini "
"Tapi Ayah aku takut "
Adnan mengambil pisang yang lain dan memberikannya pada monyet itu "Lihat mereka baikkan"
Melinda hanya mengangguk kecil dan melihat monyet itu melahap pisangnya, Melinda tersenyum saat melihat monyetnya seperti meminta lagi pisang pada mereka.
"Ayah lihat, apakah monyetnya mau lagi "
"Coba ini kamu berikan "
Melinda mengambil pisang lagi, dan Adnan memegangi tangan Melinda. Saat pisangnya sudah diambil Melinda langsung tertawa.
"Ternyata baik Ayah, aku kira monyetnya akan menarik tanganku "
"Mana mungkin monyetnya menarik tangan anak ayah, tidak mungkin "
Melinda hanya tertawa saja. Adnan menatap Melisa yang masih anteng berfoto dengan monyet kecil, tentu saja dengan pengawasan yang ekstra.
"Mau berfoto dengan Kakak, lihat kakak juga berani "
Melinda langsung mengelengkan kepalanya "Tidak aku tidak seberani Kakak, aku tidak mau Ayah. Aku disini saja melihat Kakak berfoto dengan monyet-monyet itu "
"Baiklah sayang kalau kamu belum berani "
Adnan mengeluarkan ponselnya juga dan mengabadikan Melisa yang tersenyum lebar sambil mengendong bayi monyet.
Ayana juga yang tak jauh dari anak-anaknya hanya bisa tersenyum melihat keceriaan anaknya. Apalagi Melisa yang begitu bersemangat, Ayana tak menyangka akan seberani itu Melisa pada hewan yang tak pernah dia temui.
__ADS_1
Melisa tahu macam-macam hewan tapi kan Ayana belum pernah mengajak mereka untuk sedekat ini dengan hewan-hewan itu. Sudah banyak hewan yang mereka tadi lihat, tapi Melisa malah anteng diam disini bersama monyet-monyet.
Ayana mendekati putrinya itu, "Sayang kamu betah sekali melihat monyet "
"Mamah, ini lucu sekali mereka seperti manusia. Lihatlah apalagi yang bayi begitu mengemaskan sekali, aku ingin membawanya pulang mama " rengek Melisa.
"Hah tidak sayang, kita bisa pergi ke kebun binatang lagi ya. Nanti kita lihat monyet lagi, sebenarnya banyak loh yang mirip lagi dengan monyet sayang"
"Benarkah, ada yang lebih besar Mama "
"Tentu saja ada sayang mau lihat "
"Mau mama, apa yang mirip dengan monyet "
"Gorila, badannya besar dan juga seperti berotot. Ayo kita lihat "
"Ayo Mama, aku tak sabar ingin melihatnya "
Ayana segera bangkit sambil menggandeng tangan anaknya. Mereka berjalan bersama-sama, hari ini pokoknya mereka menghabiskan waktu dengan bahagia.
...----------------...
Ayana dan juga yang lainnya sekarang sedang ada disebuah restoran. Perut mereka semua sudah berdemo ingin segera diisi.
Melisa menatap Adnan yang sedang menyuapi adiknya "Ada apa Melisa kenapa kamu terus menatapku, apa kamu ingin Ayah suapi juga"
Melisa mengelengkan kepalanya "Paman aku ingin monyet, aku ingin punya monyet di rumah satu apa boleh"
Adnan menatap Ayana yang langsung mengelengkan kepalanya. Tapi Adnan yang ingin membuat Ayana mengomel langsung menganggukan kepalanya.
"Tentu kalau Melisa ingin monyet, kenapa tiba-tiba ingin monyet"
"Adnan kamu ini apa-apaan sih" tegur Ayana.
"Karena mereka sangat lucu sekali, apalagi saat memakan pisang aku suka melihat mereka. Sepertinya mereka juga baik apa aku boleh memilikinya mungkin satu"
"Boleh tapi kita harus mempunyai izin dulu "
"Pokoknya kamu nanti tinggal lihat saja Ayah akan membawa monyet untuk kamu"
"Bener ya Paman jangan berbohong, awas saja nanti tiba-tiba Paman berubah pikiran"
"Emm tidak akan, ayah tak akan berubah fikiran. Lebih baik kamu habiskan makanan kamu nanti kita akan jalan-jalan lagi melihat hewan yang lain "
Melisa langsung saja kembali fokus pada makanannya, sedangkan Adnan menatap Ayana yang wajahnya sudah tak enak dipandang. Adnan hanya bisa tersenyum lebar kearah Ayana.
...----------------...
Mama Linda mengusap keringatnya yang ada di dahinya. Mama Linda menatap matahari yang begitu terik.
Mama Linda sekarang bekerja sebagai penyapu jalanan, mau bagaimana pun dirinya harus menjalani hidup ini kan. Tak mungkin terus menumpang pada Sri tanpa ada penghasilan.
Mama Linda berteduh sebentar memegang sapunya dan mengibas-gibaskan topinya itu. "Ternyata seperti ini ya bekerja sangat melelahkan sekali, aku tidak kuat kalau setiap hari harus menyapu seperti ini dengan terik matahari yang sangat menusuk"
Tiba-tiba ada yang memberi makanan pada Mama Linda lalu pergi lagi, Mama Linda menyimpan makanan itu. Mama Linda malah menangis dengan keadaannya yang sekarang.
Mama Linda menutup wajahnya itu, rasannya hidupnya Sekarang begitu serba kekurangan bahkan makan saja sampai ada yang memberi seperti ini.
"Aku ingin kembali pada anakku, kenapa hidupku jadi berantakan seperti ini. Seharusnya aku dari awal tidak membuat masalah mungkin aku tidak akan seperti ini, mungkin aku tidak akan diusir kan aku pasti akan ada di rumah dan memakan makanan yang enak tidak akan bekerja seperti ini juga"
Mama Linda menarik nafasnya dan menghembuskannya kembali, mengusap air matanya dan mencoba untuk kuat.
Mama Linda kembali menyapu daun-daun itu ingin cepat selesai dan pulang saja. Mama Linda juga takut kalau ketemu dengan teman-temannya yang ada mereka akan mentertawakan Mama Linda lagi.
"Tante "
Mama Linda langsung menatap orang itu, Mama Linda mencoba untuk menutup wajahnya.
"Ini Tante Linda kan, mamanya Adnan "
__ADS_1
Mama Linda makin menutupi wajahnya lagi "Bukan siapa itu"
"Tapi, aku tak mungkin salah ini Tante Linda kan" ucap perempuan itu.
"Bukan, siapa Linda aku tak kenapa aku bukan orang yang kamu maksud "
Mama Linda membawa peralatannya dan berlari begitu saja. Perempuan itu mengernyitkan dahinya dan terus berfikir benar kok orang itu kan mamanya Adnan.
Perempuan itu langsung mengeluarkan ponselnya dan menelpon Adnan.
"Adnan kok gue ketemu sama ibu lo ya, tapi dia lagi sapu jalan bener nggak ya"
"Masa sih, terus sekarang lo lagi sama ibu gue gitu"
"Engga tadi sih iya tapi sekarang dia udah pergi, makanya gue mau tanya ibu lo ada kan atau mungkin ini mirip aja ya, tadi gue nggak sengaja lewat jalan sini dan lihat orang yang gue kenal ya gue kira itu Ibu loh"
"Oh gitu ya, salah orang kali"
"Oh oke deh syukur gue kira lo telantarkan orang tua lo sendiri "
"Salah orang deh kayaknya "
"Ya udah deh, cuman itu aja yang mau gue tanyain. Gue matiin ya "
"Hemm oke "
Perempuan itu langsung masuk ke dalam mobilnya lagi. Dia sudah memastikan pada Adnan kalau itu bukan Ibunya kan, ya semoga saja bukan masa Adnan adalah orang yang memegang sebuah perusahaan besar masa ibunya jadi penyapu jalan sih.
Tante Linda keluar dari dalam persembunyiannya dan mengusap dadanya karena perempuan tadi tak mengikutinya.
Mama Linda tahu perempuan itu siapa, itu adalah temannya Adnan waktu kuliah, perempuan itu dulu sering main kerumah.
"Sudah aku bilang kan pasti akan ada yang mengenaliku. Apakah aku harus menghubungi Adnan agar dia bisa menerimaku kembali agar dia bisa memaafkanku. Aku sungguh tidak bisa kalau harus terus di sini aku tidak mau hidupku terus sengsara"
Mama Linda membawa semua barang-barangnya. Dia lebih baik pulang saja dulu dari pada berurusan dengan teman-teman Adnan nantinya. Kasian pasti anaknya yang akan disalahkan.
...----------------...
"Ibu udah pulang, kenapa murung sekali "tanya Sri
"Ibu sepertinya tidak bisa melakukan pekerjaan ini"
"Kenapa apa ada orang jahat sampai-sampai Ibu tidak mau bekerja lagi ?"
Mama Linda langsung menggelengkan kepalanya "Bukan itu Ibu tidak bisa melakukan pekerjaan ini, banyak orang yang mengenal Ibu apakah ada pekerjaan yang di dalam ruangan saja agar ibu tidak bisa bertemu dengan siapa-siapa. Ya maksudnya Ibu tidak bertemu dengan mereka lagi "
Sri diam, binggung juga harus pekerjaan apa lagi. Ini saja sudah mendapatkannya sekarang malah minta pekerjaan lagi. Padahal baru bekerja beberapa hari juga.
"Bagaimana Sri apa ada, ibu tak mau bekerja itu lagi"
"Tak ada Bu, mau bekerja dimana lagi Sri saja mencarinya sangat kesulitan apalagi kalau harus cari lagi yang baru. Kenapa ibu tak jalani dulu yang ada. Tak akan setiap hari juga kan ibu bertemu dengan orang-orang yang ibu kenal "
"Tapi baru saja aku bertemu, aku tak mau bertemu untuk kedua kalinya lagi. Mungkin di pabrik kamu ada pekerjaan lain, lowongan begitu Sri "
"Emm, akan coba Sri tanyakan tapi untuk sekarang ibu kerja saja yang ada, nanti kalau sudah diterima disana ibu bisa pindah bagaimana "
Mama Linda malah diam, akan lama sekali kalau begitu. Rasannya ingin cepat-cepat pindah saja. Mama Linda tak mau kalau harus bertemu dengan orang yang dirinya kenal lagi.
"Emm bagaimana ya, ibu tak mau ketemu lagi tolonglah Sri kalau bukan dengan kamu ibu harus minta bantuan siapa "
"Begini saja, bagaimana kalau Sri antarkan ibu pada keluarga ibu "
"Mereka tak akan menerima aku Sri, mereka sudah mengusir aku seperti apa yang aku ceritakan"
Sri hanya bisa menghela saja. Mau bagaimana lagi Sri juga sudah binggung sekali harus bagaimana. Sri sudah mencari pekerjaan kesana kemari, tapi tak dirimu terus, Sri jadi pusing sendiri dan lebih baik mengantarkan saja pada keluarganya itu lebih baik kan.
"Mungkin saja mereka nanti mau menerima Ibu setelah melihat keadaan ibu yang sekarang, mana mungkin seorang anak tega Bu"
"Tak bisa, mereka tak akan mau Sri. Aku sudah tak diterima di rumah itu aku tidak mungkin bisa kembali lagi seperti semula, aku benar-benar sudah tak dianggap keluarga oleh mereka itu"
__ADS_1
Sri lagi-lagi diam, tak tahu harus memberi solusi apa lagi.