
"Emm, pasti ini mama yang masak enak sekali " puji Melinda sambil memakan udangnya.
"Iya benar enak sekali, masakan mama memang tak ada duanya. Mama selalu memasak dengan enak sekali" jawab Melisa.
"Mama kenapa Mama diam saja "
Ayana langsung tersadar dan melihat kedua putrinya, Ayana mengelengkan kepalanya sambil tersenyum "Tidak Mama baik-baik saja, mama ga kenapa-napa kok"
"Mama ada masalah ya, coba cerita masa kita Mama. Biar hati Mama bisa tenang "
"Tidak Melisa mama baik-baik saja, ayo lanjutkan makannya habiskan ya semuanya. Nanti kalau habis mama akan buatkan lagi "
Melisa dan juga Melinda menganggukkan kepalanya, mereka segera menyantap makanannya lagi sedangkan Adnan yang memang dari tadi memperhatikan hanya diam saja, nanti setelah beres makan malam Adnan akan bertanya pada istrinya.
Akhirnya makan malam mereka selesai Melisa juga Melinda tadinya mengajak Ayana dan juga Adnan untuk bermain, tapi Adnan memberikan pengertian pada anak-anaknya untuk bermain berdua dulu, karena dirinya ingin mengobrol dulu dengan mamanya ini.
Adnan tak mau menunda-nunda lagi, Adnan ingin semua ini cepat selesai. Pasti ada yang terjadi sampai istrinya ini murung dan melamun.
Untungnya Melisa juga Melinda mau mereka langsung berlari ke arah kamar untuk bermain dengan boneka mereka, Adnan bersyukur punya anak yang penurut dan tak rewel, mereka tahu situasi.
Adnan segera beralih dan duduk di samping sang istri, makanan istrinya juga tidak habis karena dari tadi istrinya itu hanya mengaduk-aduk nya saja tanpa mau menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Adnan jadi makin khawatir kalau seperti itu.
"Ada apa dengan kamu sayang kenapa kamu sepertinya tidak mau memakan makanan ini, kamu sangat murung sekali dari tadi apakah ada yang salah dengan makanannya. Apa tidak enak atau kamu ingin sesuatu kamu sakit ? "brondong Adnan dengan berbagai pertanyaan dan juga mengecek suhu tubuh istrinya, tapi tidak kenapa-napa istrinya baik-baik saja.
Ayana lagi-lagi menggelengkan kepalanya, Ayana bingung apakah harus berbicara pada Adnan tentang kejadian tadi, tentang ibunya yang datang kemari. Ayana takut nanti Adnan melakukan sesuatu pada keluarganya.
Adnan menggenggam salah satu tangan Ayana dan membawanya ke dalam kamar, mungkin akan lebih enak kalau mereka berbicara di dalam kamar 4 mata tanpa ada yang tahu atau mungkin mengupingnya Ayana akan lebih tenang, dan mereka juga bicara akan santai.
__ADS_1
Adnan juga mengunci pintu, mereka duduk berhadapan dengan Adnan yang masih menggenggam kedua tangan Ayana "Jadi apakah kamu tidak mau bercerita pada suamimu ini, apa sebenarnya yang terjadi coba bicara denganku aku akan membantumu kita ini sudah menikah kan. Maka kita harus saling terbuka dan tidak boleh ada sesuatu yang ditutupi mau masalah sebesar apapun jika kita menghadapinya sama-sama pasti akan terasa ringan"
Ayana menundukkan kepalanya Ayana menarik nafasnya dan mencoba untuk tenang. Ayana langsung menatap kedua bola mata suaminya "Tadi ibu datang kemari, kami juga sudah sempat berbicara dan banyak yang kami bicarakan, terutama apa yang ibu mau "
"Aku benar-benar bingung dengan ibuku "Ayana berhenti sejenak. Ayana mengusap air matanya terlebih dahulu yang tiba-tiba saja turun, selalu saja seperti ini cengeng sekali kalau sudah membahas tentang ibunya "Aku begitu trauma dengan setiap pukulan yang Ibu berikan, Ibu kembali melakukan hal itu dia melemparkan sebuah gelas ke arahku dan akan mengenali kepalaku tapi aku untungnya langsung menunduk "
Adnan masih diam dia masih mendengarkan semua ucapan istrinya itu, Adnan tak mau menyela "Aku harus bagaimana dengan ibu Adnan, kenapa dia masih saja seperti itu kapan ibu akan berubah aku kira ibu datang kemari ingin mengajakku berbaikan, ingin menjadi Ibu yang baik dan bisa membuat keadaan menjadi lebih baik tapi kenyataannya salah. Aku benar-benar terlalu berharap lebih padahal pada kenyataannya mustahil sekali "
"Kamu ingin aku melakukan sesuatu pada ibumu ?"
Ayana menggelengkan kepalanya "Tolong jangan lakukan apa-apa pada Ibuku, aku tidak mau terjadi sesuatu padanya mau bagaimanapun dia masih ibuku. Dia adalah orang yang telah melahirkan aku, aku tak mau kalau ibu makin membenciku dan rasa ingin membalasnya tambah bertambah lagi "
"Tapi dia sudah membuatmu trauma, dia sudah sangat keterlaluan sekali. Seharusnya kamu dari awal tidak boleh memasukkan dia ke dalam rumah untuk jaga-jaga. Ibumu bisa saja melakukan apapun itu. Bahkan dia berani main tangan seperti itu kan padamu, ini sudah tak bisa didiamkan begitu saja Ayana "
"Iya awalnya aku kira Ibu ingin berbaikan dengan aku, tapi pikiranku ternyata salah Ibu hanya ingin memanfaatkan ku kembali dia ingin masuk ke dalam rumah dan dia bicara kalau dia ingin tinggal di sini. Ibu ingin kamar yang besar, ingin ini lah ingin itu lah, aku begitu malu dengan kelakuan Ibu kenapa ibu harus seperti itu. Ibu seperti menjatuhkan harga dirinya sendiri, padahal Ibu tahu kalau ini tuh rumah kamu bukan rumah aku. Aku juga bisa tinggal di sini karena menikah sama kamu bukan berarti aku bisa seenaknya masukin orang ke rumah ini tanpa seizin kamu"
"Tidak akan pernah bisa, aku tidak akan pernah menerima Ibumu itu. Lihatlah kelakuannya saja seperti itu mana bisa aku menerimanya. Mulai sekarang jangan pernah anggap dia sebagai ibumu lagi. Bukan apa-apa dia itu sudah sangat keterlaluan sekali jika kamu memang tidak mau aku melakukan sesuatu pada Ibumu, maka jangan merespon dia lagi Ayana. Biarkan saja, jika dia datang tak usah kamu tanggapi "
"Ini demi kebaikan kamu Ayana, ibumu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Dia akan tetap seperti itu dia akan menjadi Ibu yang keras dan tidak akan pernah mau mengalah, aku jamin itu mungkin sampai meninggal pun ibumu akan terus seperti itu tak akan ada berubahnya Ayana "
"Kalau misalnya dia tiba-tiba datang lagi kemari bagaimana, kalau dia ingin masuk lagi bagaimana Adnan, kadang aku tidak bisa menolak permintaan Ibuku begitu saja"
"Aku akan memperketat semuanya, aku tidak akan pernah membiarkan dia untuk masuk lagi ke dalam rumah ini. Untuk sekarang kamu lupakan saja masalah itu. Mau kita berobat dan bertemu psikiater agar trauma mu hilang, agar kamu juga bisa tenang siapa tahu saja kamu bisa lega dan tenang "
"Akan aku pikir-pikir dulu"
Adnan memeluk istrinya dengan erat, Adnan sebenarnya sangat marah sekali dengan tingkah ibunya Ayana ini, tapi di depan Ayana Adnan akan biasa-biasa saja akan mengikuti apa kemauan istrinya ini.
__ADS_1
...----------------...
Adnan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Adnan menemui penjaga-penjaga yang ada di depan rumahnya.
"Kenapa Ibunya Ayana bisa masuk ke dalam rumah ini. Kenapa juga tidak ada yang melapor padaku dan memberitahu tentang kejadian ini, kalian diam saja aku kan menyuruh kalian untuk mengawasi Ayana dan meneleponku kalau terjadi sesuatu, tapi tidak ada yang menghubungiku apa kalian sudah mulai bosan bekerja di sini ? "
"Maaf Pak tapi Ibu ayahnya sendiri yang memperbolehkan ibunya untuk masuk ke mari. Jadi kami tidak bisa melarang kami hanya mengikuti apa yang ibu Ayana mau. Kami tadinya mau melaporkan semua ini, tapi Ibu Ayana mengatakan katanya tidak usah biarkan semua ini berlalu begitu saja"
"Jangan pernah ulangi itu lagi, jika Ayana mengatakan tidak maka kalian harus tetap menghubungiku apapun keadaannya. Mulai hari ini aku memiliki tugas untuk kalian jangan pernah masukkan perempuan itu lagi ke dalam rumah, maupun Ayana yang menginginkannya kalian harus bisa menolak. Ini adalah perintahku dan setiap dia datang maka kalian harus menghubungiku dan memberi kabar dia hampir saja mencelakai istriku tadi jangan sampai hal itu terjadi lagi"
"Baik Pak, kami akan lebih waspada lagi dan kami juga akan mengikuti instruksi dari bapak"
"Baiklah dan kamu kemari "panggil Adnan pada salah satu orang kepercayaannya.
"Iya Pak ada apa"
"Buat keluarganya Ayana sengsara terutama ibunya. Aku ingin melihat dia hidup tidak tenang, apa yang pernah dia lakukan pada Ayana harus dibalas. Tapi jangan sampai ada orang yang mengetahuinya atau keluarga Ayana tahu "
"Baik Pak siap akan aku laksanakan"
Adnan menganggukan kepalanya, setelah itu Adnan pergi lagi masuk ke dalam rumah dan akan tidur bersama sang istri yang baru saja tadi tertidur di dalam pelukannya.
Adnan akan lebih waspada lagi dengan kelakuan ibunya Ayana itu, kalau dibiarkan seperti ini ibunya Ayana akan makin menginjak-injak, dia akan terus datang dan menghancurkan kehidupan Ayana.
Adnan sudah sangat muak dengan kelakuan orang tuanya Ayana ini, dibaiki malah seperti itu lebih baik dikasari saja kan agar dia sadar. Agar tahu rasa juga.
Adnan tidak peduli itu Ibu mertuanya dia sudah berani bermain-main, berarti dia akan tahu konsekuensinya seperti apa.
__ADS_1
Adnan sudah sangat geram sekali dengan kelakuan ibunya Ayana itu, kalau ayahnya tirinya tidak terlalu dominan. Tapi tetap saja dia mendukung apa yang istrinya lakukan.
Seharusnya sebagai suami dia bisa melarang istrinya untuk tidak seperti itu, tapi ya namanya juga sudah jodoh pasti akan sama seperti itu tidak akan ada bedanya. Mereka memang sudah dipasangkan begitu.