Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 169


__ADS_3

"Bagaimana apa mereka tidak minta apa-apa sama kamu, mereka ga buat masalah kan "


Adnan langsung menenangkan istrinya ini, Adnan tidak akan menceritakan apa yang ibunya Ayana minta, dan tidak mau malah nanti Ayana jadi sedih dan kefikiran.


"Sudah semuanya baik-baik saja, tidak ada yang dia minta hanya ingin bertemu dengan kamu saja tapi aku mengatakan kalau kamu tidak bisa bertemu dengannya, kalau misalnya nanti kamu bertemu tidak usah didekati ya langsung pulang saja. Orang tua kamu akan lebih berani sama kamu nanti Ayana, aku tak mau sampai terjadi sesuatu dengan kamu "


"Yakin gak ada yang diminta, aku ga mau ya kamu sembunyiin sesuatu dari aku Adnan, tadi kalian berbicara lumayan lama loh"


"Ga ada sayang, ga ada yang mereka minta udah kamu tenang aja pokoknya kalau misalnya ketemu nanti kamu langsung pergi aja, ikutin aja kata-kata aku Ayana, aku takut ibu kamu malah nekat lagi, kalau ga pergi kemana-mana harus sama aku agar aman "


"Jadi binggung banget deh, aku kira dengan aku kembali kemari ibu tak akan menganggu lagi. Aku ingin hidup tenang Adnan "


Adnan memeluk istrinya dan mencium keningnya "Kamu akan hidup tenang, ada aku kan disamping kamu jadi jangan khawatir ya "


"Hemm,"


Ayana hanya bisa membalas pelukan dari suaminya ini. Pasti suaminya ini sedang menyembunyikan sesuatu. Ibunya tak mungkin kalau tak meminta sesuatu, pasti akan ada yang ibunya minta.


Apalagi mereka tadi membawa tas kan, beberapa tas bukan satu tas saja. Tapi Ayana binggung kemana ya kakaknya dan juga adiknya kenapa tak ikut.


...----------------...


Ayana keluar dari kamar dan mencari suaminya yang tiba-tiba saja menghilang sudah kebiasaan memang. Sekarang suaminya masih cuti belum masuk ke kantor, jadi masih ada dirumah dan mereka masih bisa menghabiskan waktu sama-sama.

__ADS_1


"Anak-anak di mana Ayah" Ayana melihat Melisa dan juga Melinda sedang melukis di batu yang sudah Adnan beli, Adnan ini aneh sekali memberikan anak-anak batu dan menyuruh anak-anak untuk menghiasnya, apalagi membawanya ke dalam rumah. Ayana tidak bisa melarangnya karena ayahnya sudah membolehkannya.


Kadang Ayana bingung dengan Adnan, selalu memberikan apa yang anak-anak mau, ya bahkan aneh-aneh saja seharusnya mereka melukis di luar saja, tidak usah di dalam rumah kadang-kadang Ayana itu suka pusing dengan tingkah Adnan suaminya yang seperti itu.


"Ayah ada di luar mah dia sedang menerima telepon dari Paman Marco, tadinya ayah disini membantu kami "ucap Melisa masih fokus dengan melukis batu-batunya itu, banyak sekali batunya yang dibawa oleh Adnan batu-batu kecil dan mereka melukisnya dengan berbagai macam warna.


"Baiklah terima kasih Melisa"


"Sama-sama Mama "


Ayana segera menyusul suaminya itu, Ayana langsung saja duduk di kursi yang menghadap ke arah taman. Adnan juga tadi sempat melihat ke arahnya, Ayana tersenyum untuk membiarkan suaminya itu meneruskan teleponnya, Ayana tidak akan mengganggu. Ayana hanya akan di sini duduk menunggu suaminya selesai bicara, dan nanti barulah Ayana akan berbicara tentang anak-anak.


"Nanti jika pekerjaanmu sudah selesai langsung saja ke rumah, tapi kalau masih banyak pekerjaan besok saja atau mungkin aku besok ke kantor jadi tidak usah memaksakan diri untuk datang kemari Marco "


"Hemm " Adnan langsung mematikan sambungannya dia duduk di samping sang istri. Menikmati teh hangat yang sudah ada di sana juga. Adnan tak lupa langsung saja menggenggam tangan istrinya.


"Ada yang ingin kamu bicarakan sayang denganku" tanya Adnan yang tahu pasti ada sesuatu yang penting.


"Tentu saja Adnan, aku sudah menemukan sekolah untuk anak-anak kamu bisa lihat dulu apakah menurut kamu itu bagus atau tidak, ini lihat formulirnya " sambil memberikan kertasnya.


"Apakah di sini banyak kegiatannya, cukup bagus sekolahnya dan sepertinya aku pernah melihatnya juga tak terlalu jauh kan sekolah ini "


"Tentu saja banyak, di sana juga nanti ada les, eskul banyak lagi. Pokoknya itu akan cocok dengan kamu dan anak-anak juga pasti akan suka apalagi kalau banyak kegiatan. Dan untuk sekolahnya juga satu arah dengan kantormu, jadi nanti kalau pagi-pagi anak-anak bisa berangkat dengan kamu dan pulang bisa dijemput oleh sopir. Sepertinya apa yang kamu bilang kamu seperti pernah melihatnya karena memang ya searah dengan kantor kamu "

__ADS_1


"Baguslah sayang, jam berapa masuk sekolahnya "


"Masuk sekolahnya sih jam 07.30"


"Baguslah kita ambil saja, biar aku sekalian bisa mengantarkan anak-anak juga. Aku tidak mungkin kan melepaskan mereka begitu saja. Aku juga ingin melihat mereka masuk ke dalam sekolah, aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan anak-anak untuk menebus waktu yang pernah aku sia-siakan "


"Baiklah kita akan urus-urus sekarang saja ya, aku rasa kamu akan mulai disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan di kantormu itu. Kita lihat dulu apa menurutmu cocok atau tidak kalau tidak ya tidak masalah kita cari lagi saja sekolah yang lain"


"Baiklah sayang nanti kita ke sana "sambil mencium tangan Ayana yang masih dia genggam.


"Sekarang saja berangkatnya. Biar tidak terlalu siang, kamu juga pasti akan mengobrol-ngobrol banyak dengan kepala sekolah nanti di sana, anak-anak juga sudah mandi kan tadi, jadi tinggal berangkat saja "


"Sayang apa kamu lupa anak-anak sedang bermain cat. Mereka tentu saja harus mandi lagi, tidak mungkin kan mereka harus pergi ke sekolah dengan belepotan seperti itu. Tak baguslah sayang "


"Ya kamu juga aneh-aneh, anak-anak malah dikasih chat kayak gitu bawa batu-batu buat dicat dan dimasukin ke dalam rumah. Kenapa juga nggak di luar aja gitu mainnya di teras depan atau teras belakang aja "


"Ya buat apa ada ruangan besar di dalam sayang kalau nggak digunain. Biarin aja mereka melukis di situ, batu-batu itu diwarnai mereka buat nanti dimasukkan ke dalam kolam renang baru mereka, aku akan membuat kolam renang yang lebih pendek untuk mereka nanti. Agar mereka bisa selalu main air "


"Yang ada kaki mereka akan sakit"


"Tidak akan sayang, yang ada lucu di bawahnya warna-warni aku sudah memikirkan semua itu jadi biar anak-anak saja nanti yang menghiasnya. Aku percaya pada mereka pasti akan sangat bagus hasilnya"


"Terserah kamu saja, kadang aku pusing dengan kamu Adnan"

__ADS_1


Ayana melepaskan genggaman tangan dari Adnan dan masuk ke dalam rumah, tentu saja Adnan mengekor istrinya dari belakang, Adnan tidak mau ditinggalkan begitu saja sendirian.


__ADS_2