
Ayana langsung memberhentikan langkah Adnan yang akan memangku kedua putrinya itu "Sudah biarkan mereka mengekspresikan diri, mereka menangis bukan karena kesakitan mereka menangis karena bahagia. Sudah nanti juga mereka akan diam sendiri, biarkan saja Adnan "
Adnan sungguh tidak tega melihat hal itu, anak-anaknya menangis seperti itu Adnan rasanya ingin langsung menenangkan mereka, tapi Ayana langsung membawa suaminya untuk duduk bersamanya juga.
Ayana juga mengusap tangan suaminya agar tenang. Ayana tahu suaminya ini begitu khawatir sekali. "Tenang semuanya akan baik-baik saja "Ayana kembali menenangkan suaminya itu.
Adnan hanya bisa menganggukan kepalanya. Adnan terus saja menatap kedua putrinya. Adnan takut kalau mereka kenapa-napa.
"Nanti saat kamu tidak menjadi adik lagi kamu harus tetap patuh dengan aku, kamu harus tetap sama ya tak boleh membantah kata-kata aku harus menjadi Melinda yang patuh seperti ini " kata Melisa sambil mengusap punggung adiknya.
"Iya aku akan selalu patuh dengan kamu kakak. Aku tak akan pernah membantah kata-kata dari kakak. Aku akan tetap sama tak akan pernah berubah, kakak bisa menegur aku jika suatu saat aku berubah"
Ayana dan Adnan juga berpelukan. Mereka melihat kedua putrinya yang seperti itu begitu bahagia sekali. Kebahagian mereka lengkap sekali. Apalagi ditambah nanti dengan bayi yang aku lahir.
...----------------...
Setelah makan malam mereka semua berkumpul di ruang tengah, anak-anak juga membawa tugas-tugas mereka yang belum sempat mereka kerjakan sebagian. Ayana tentu saja menemani anak-anaknya di sana.
Adnan yang baru saja selesai mengangkat teleponnya juga kembali bergabung bersama keluarganya. Adnan tak mau melewatkan sedikit pun waktu dengan keluarganya ini. Adnan harus selalu ada dalam momen apapun itu. Adnan harus menebus apa yang pernah dirinya lewatkan.
Adnan begitu merasa hidup, dulu saat pulang ke rumah hanya pelayan yang menyambutnya tidak ada siapa-siapa. Istrinya hanya fokus shopping, jalan-jalan keluar negeri tapi sekarang sangat berbeda sekali.
Adnan memang dari awal tidak salah memilih, hanya waktu saja yang belum tepat untuk mereka kembali bersama tapi sekarang setelah semuanya selesai mereka bersama lagi kan. Adnan bersyukur atas kesempatan yang diberikan Ayana ini padanya.
Adnan juga dulu tidak pernah berpikir kalau dirinya akan kembali pada Ayana, akan kembali menjadi suami istri seperti ini lagi. Adnan kira Ayana dulu akan menikah dengan Fabian, karena mereka begitu dekat sekali.
Adnan duduk dan mengisyaratkan pada istrinya untuk duduk di pangkuannya. Ayana yang memang mengerti langsung menghampiri suaminya. Adnan membuka kakinya agar istrinya bisa duduk disela kedua kakinya. Adnan langsung memeluknya dari belakang tak lupa Adnan juga mencium terlebih dahulu kepala istirnya.
Adnan rasannya ingin memeluk istrinya dengan erat sekali, tapi Adnan ingat didalam perut istrinya ini ada bayi yang sedang tumbuh, Adnan harus hati-hati tak boleh gegabah.
"Sayang apakah ada yang ingin kamu makan. Biasanya ibu hamil selalu mengidam kamu ingin sesuatu "tanya Adnan sambil mencium pipi istrinya.
"Sayang kita ini baru saja selesai makan dan aku tidak mau apa-apa, perutku saja ini sudah sangat penuh tadi dengan makanan-makanan yang kalian berikan padaku, belum lagi dari anak-anak mereka menjejalkan makanan yang mereka ambil padaku perutku sudah sangat kenyang sekali. Aku sudah tak bisa memakan apa-apa lagi untuk sekarang "sambil menyandarkan punggungnya pada dada suaminya.
Ayana tak berbohong memang perutnya ini sudah tak bisa menampung apa-apa lagi. Ayana tak sanggup rasannya. Anak-anak tadi memberikan semuanya padanya dan Ayana juga mana mungkin menolak mereka, Ayana tak mau membuat mereka kecewa.
"Ya mungkin kamu ingin makan yang aneh-aneh, seperti mencarikan apa yang bisa membuat aku pusing "Adnan mengusap perut istrinya dengan pelan. Adnan jadi tak sabar ingin segera melihat bayinya ini.
"Kamu ini aneh sekali, biasanya para suami itu paling menjauhi hal-hal seperti itu, mereka tidak mau sampai disuruh-suruh mencari yang aneh-aneh tapi kamu malah menawarkan diri seperti ini. Coba telepon mamah Linda aku ingin memberitahu tentang kehamilanku ini, pasti dia akan senang "
Memang setelah mereka berbaikan Ayana sering bertukar kabar dengan Mama Linda dan sesekali juga Ayana bermain ke sana bersama anak-anak. Kadang Mama Linda juga kemari, tapi tidak lama.
__ADS_1
Diminta tinggal di sini juga Mama Linda tidak mau, katanya sudah nyaman di sana dan lebih baik dia menengok cucu dan menantunya saja kalau ada waktu.
Ayana juga tak bisa memaksa Mama Linda, Ayana baru saja akur kan, Ayana tak mau membuat suasana hangat ini menjadi panas seperti dulu.
"Dan juga beritahu nenek ya kalau aku sedang hamil sekarang. Pasti nenek juga sangat bahagia sekali, tadi aku mau menelfon nenek tapi keburu tidur, hubungi nenek dulu ya "
Saat mendengar kata nenek Adnan jadi malas bukan apa-apa neneknya itu pasti akan diam di rumah ini berbulan-bulan. Bahkan mungkin sampai Ayana melahirkan.
Neneknya itu sangat cerewet sekali dan Adnan rasanya pusing kalau ada neneknya di sini, satu lagi Mama Linda juga sepertinya tidak akan bisa kemari, tapi mau bagaimanapun Ayana sangat membutuhkan nenek, kasih sayang seorang ibu hanya Ayana dapatkan dari neneknya yang cerewet itu.
"Adnan " rengek Ayana "Hubungi dulu saja nenek. Aku ingin berbicara dengannya juga. Aku sudah lama tidak menelpon nenek, aku sudah rindu sekali dengan nenek, aku juga mau ketemu sama nenek "
Adnan mendengus "Sudah lama tidak menelpon, lalu kemarin malam siapa yang kamu telfon kalau bukan nenek "
Ayana tertawa mendengar hal itu "Ya tetap saja sudah lama, aku kan biasanya seharian selalu teleponan dengan nenek ayo cepat hubungan nenek sekarang juga. Aku mau beri kabar tentang kehamilanku ini. Nenek pasti akan sangat bahagia sekali mendengarnya, ayo cepat Adnan "
Adnan segera mengeluarkan ponselnya dia menyandarkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di leher istrinya. Adnan langsung melakukan panggilan video call pada sang nenek. Biar bisa sekalian langsung melihat wajah neneknya itu.
Panggilan video call langsung diterima dengan cepat oleh Nenek. Dan terlihat nenek sepertinya sedang ada di ruang tengah dengan memangku seekor kucing.
"Dasar cucu tidak tahu diri kamu ini, kamu masih ingat kalau kamu mempunyai seorang nenek, yang harus diperhatikan. Sungguh aku kesal dengan kamu Adnan "
Adnan malah tertawa mendengar hal itu "Ya habisnya nenek kalau aku telepon pasti tanyain anak-anak terus, tiba-tiba nenek bawa mereka main dan pulang malam kalau tidak menginap. Aku kan mau bermain dengan mereka juga nenek nggak boleh serakah kayak gitu dong, mereka itu milikku nek "
"Ayana anakku, kenapa kamu bisa kembali bersama laki-laki menyebalkan seperti yang ada di belakangmu itu. Aku sungguh tak habis fikir apakah waktu itu kamu sedang hilang ingatan nak "
Ayana tertawa "Nenek maafkan aku karena aku tidak bisa membujuk Adnan untuk membiarkan anak-anak main lagi di rumah nenek, dia keras kepala sekali. Memang dia ingin menguasai anak-anak sendirian nenek, dia tak mau membaginya menyebalkan sekali"
"Sayang kenapa kamu minta maaf sama nenek kalau anak-anak pergi ke rumah nenek mereka pasti akan membuat topik pembicaraan yang sangat memusingkan, dan aku yang harus menjawab segala hal macam yang mereka tanyakan. Aku jadi pusing sendiri sedangkan nenek malah tertawa terbahak-bahak di sana. Nenek mentertawakan kita yang kepusingan mencari jawaban yang anak-anak tanyakan" omel Adnan dengan wajah yang ditekuk.
Adnan selalu saja pusing, makannya Adnan tak membolehkan anak-anak untuk main kesana. Adnan selalu memberi alasan yang masuk akal pada anak-anaknya itu agar mereka tak curiga.
"Yaa tidak apa-apa agar kamu banyak berpikir Adnan, agar otakmu itu terus diasah anak-anak hanya mempertanyakan hal yang biasa-biasa saja. Kamu saja yang menanggapinya terlalu pusing. Pokoknya nenek mau anak-anak nanti main kemari lagi. Nenek butuh teman Adnan, apakah kamu tak kasian dengan nenek, nenek ini sudah tua "
Adnan malah mengigit pipi istrinya, Adnan menjadi hobi sekali menggigit pipi istrinya itu setiap hari pasti saja ada saja Adnan mengigit pipi istrinya ini. Ayana langsung menarik pipinya agar tidak digigit oleh suaminya itu, lalu kembali mengarahkan kamera ke arah wajahnya.
"Nenek aku punya kabar bahagia untuk nenek, pasti nenek akan senang sekali mendengar kabar ini"
"Kabar baik apa nak, apakah cucuku itu sudah mulai waras dan tidak semena-mena lagi tidak seenaknya lagi "
"Apakah itu nenek buyut "tanya Melisa
__ADS_1
"Iya ini nenek buyut "
"Apakah boleh kami bicara dengan nenek, kami begitu rindu dengan nenek buyut "tanya Melisa kembali.
"Tentu saja boleh kenapa tidak, kemarilah berbicaralah dengan nenek buyut "
Melisa dan juga Melinda segera berlari ke arah orang tuanya, tapi mereka tidak seperti dulu yang selalu duduk di pangkuan mamanya mereka ke sisi kiri dan kanan mama dan juga ayahnya.
Mereka sangat berhati-hati sekali agar tidak mengenai perut mamanya, jangan sampai mamanya nanti kenapa-napa dan adik bayi yang ada di dalam perut Mamanya juga kenapa-napa.
Adnan yang melihat itu tentu saja tahu kalau anak-anaknya itu sedang mencoba untuk berhati-hati. Adnan suka dengan tingkah anaknya yang patuh dan tidak gampang lupa dengan apa yang diberitahu oleh Adnan.
Ayana langsung memberikan ponselnya pada Melisa, mereka langsung duduk di ujung kursi. Melinda juga ikut duduk di samping kakaknya itu sambil membaringkan kepalanya di bahu kakaknya.
"Nenek, kamu apa kabar, kita sudah lama tidak ketemu. Kata ayah nenek pulang tidak ada di sini lagi Melisa begitu rindu dengan nenek, saat akan pergi kerumah nenek juga ayah bilang nenek sibuk"
"Ah itu alasan ayahmu saja memang dia pelit. Dia tidak mau kalau kalian itu datang ke rumah nenek memang Ayahmu itu menyebalkan nenek selalu ada di sini mana mungkin nenek pulang" neneknya memang wajah yang sedih "Kabar nenek baik-baik saja, tapi nenek begitu rindu dengan kalian berdua nenek ingin tidur dengan kalian dan juga memeluk kalian "
Melisa juga Melinda langsung menatap ayahnya. Adnan hanya bisa tersenyum lebar saja memang kalau Melisa dan juga Melinda ingin pergi ke rumah neneknya Adnan selalu saja memberikan berbagai macam alasan.
"Nenek kapan kamu punya kucing, kucingnya begitu besar "ucap Melinda yang kagum pada kucing yang neneknya gendong itu. Kucingnya berwarna abu-abu tua tapi sangat besar dia gemuk "Melinda baru pertama kali melihatnya kapan Nenek membelinya, kucingnya begitu mengemaskan nenek. Aku rasannya ingin memeluknya, pasti bulunya sangat lembut sekali"
"Nenek minggu lalu membeli kucing ini, nenek kesepian karena kalian jarang sekali datang ke rumah nenek sekarang gara-gara Ayah kalian tidak membolehkan kalian untuk datang kemari.Jadi nenek membeli kucing saja untuk teman nenek tidur dan beraktifitas. Ayah kalian begitu tega dengan nenek, ayah kalian tak memikirkan nasib nenek ini "
Adnan yang namanya disebut-sebut langsung menyibukkan diri dengan memainkan rambut istrinya, sesekali juga dia mencium pipi istrinya itu. Adnan tidak mau nanti anak-anaknya menanyakan berbagai macam hal padanya karena tidak membolehkannya untuk pergi ke rumah neneknya itu.
Melisa langsung menatap ayahnya "Ayah kamu itu tidak boleh seperti itu kasihan nenek, lihat nenek sampai membeli kucing padahal ada aku dan juga Melinda yang bisa menemaninya, kenapa ayah begitu menyebalkan pada nenek. Ayah tega sekali pada nenek tahu "
"Nah begitu Melisa ayo marahi ayahmu, Nenek tidak boleh bertemu dengan kalian padahal nenek buyut sangat rindu sekali dengan kalian berdua, nenek ingin memeluk kalian nenek ingin tidur lagi dengan kalian tapi ayah kalian itu memang benar-benar tidak peduli dengan nenek. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri"
"Ayah menyebalkan sekali ayo minta maaf pada nenek "kedua putrinya menatapnya dengan tatapan cemberut. Adnan hanya bisa menghembuskan nafasnya dan pasrah.
"Iya iya nanti Ayah minta maaf, nanti ayah langsung datang ke rumah nenek. sudah kalian teruskan saja menelpon dengan nenek buyut, nanti kalian akan bisa main lagi ke rumah nenek buyut ya ayo selesaikan bicara kalian"
Adnan yang tidak mau masalah ini jadi panjang akhirnya mengalah saja. Daripada nanti rumit dan anak-anaknya merengek padanya lebih baik Adnan mengalah dulu saja. Meskipun Adnan tak mungkin meminta maaf pada neneknya itu.
Toh nanti pun anak-anaknya akan sibuk dengan adik-adiknya, neneknya itu kadang-kadang menyebalkan. Nah seperti inilah yang tidak Adnan sukai neneknya itu selalu saja membuatnya pusing.
Awas saja neneknya ini akan Adnan kirim lagi kenegaraannya, agar neneknya itu tak cerewet seperti ini lagi. Semoga saja akan dengan mudah memulangkan neneknya yang menyebalkan ini, karena apa neneknya akan kembali lagi dengan sendirinya kesini.
"Nenek tenang saja kami akan membuat ayah meminta maaf pada neneknya ya, nenek jangan sedih lagi "
__ADS_1
Adnan yang mendengar kata-kata Melisa hanya bisa mendengus saja.