Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 219


__ADS_3

Ayana baru saja keluar saat makan malam sudah disediakan, Ayana berjalan ke arah kamar anaknya terlebih dahulu. Ingin melihat apakah mereka sudah mengerjakan semua tugas-tugas yang diberikan oleh sekolah dan juga apa mereka sudah mandi takutnya mereka malah bermain dan lupa akan segalanya.


Perempuan berbadan dua itu mengetuk pintunya terlebih dahulu, lalu membuka pintunya agar terbuka.


"Mama " pekik Melinda senang melihat mamanya menemui mereka. Mereka tak berani menganggu mamanya yang sedang beristirahat.


Melinda langsung berlari dan akan memeluk mamahnya, tapi Melisa langsung menarik tangannya. Melinda yang diberhentikan seperti itu oleh kakaknya bingung sama halnya dengan Ayana tidak mengerti kenapa tiba-tiba Melisa memberhentikan Melinda yang akan memeluknya.


Padahal biasannya juga tak seperti itu, Melisa tak pernah menahan Melinda yang akan memeluknya.


Ayana segera berjalan lebih dekat lagi dan duduk di tepi ranjang. Ayana menatap kedua putrinya ingin mendengar apa yang akan Melisa katakan. Sepertinya ada yang ingin Melisa katakan.


"Kamu tidak boleh sembarangan memeluk Mama seperti itu Melinda, Mama itu sedang membawa adik bayi bagaimana kalau kamu nanti terlalu erat memeluknya Mama, nanti adik bayi kesakitan "tegur Melisa pada adiknya itu.


Melinda mengerti akan hal itu, dia tadi sampai lupa kalau mamanya itu kan sedang punya adik bayi di dalam perutnya. Kebiasaan memang kalau ada mamanya suka langsung memeluk.


Melinda dan juga Melisa berjalan ke arah mamanya dengan mengendap-endap. Ayana tertentu saja tertawa melihat itu, mereka seperti maling saja berjalan secara perlahan seperti itu ingin tidak ada suara.


"Ada apa, apa kalian sudah tahu kalau mama ini sedang mengandung adik bayi "


Mereka berdua menganggukan kepalanya "Tentu saja kami sudah tahu. Ayah sudah memberitahu kami, kami senang sekali. Dan kata ayah juga kami harus selalu berhati-hati dengan mama, tidak boleh sampai menyakiti mama dan adik bayi "ujar Melisa.


Mereka berdiri setengah meter dari mamanya, Melisa dan Melinda tersenyum dengan sangat lebar terpancar kebahagiaan di mata mereka berdua. Ayana yang melihatnya tentu saja senang sekali.

__ADS_1


"Maksud Ayah hati-hati itu kalian tidak boleh berlarian dengan mama, tidak boleh menindih perut Mama, tidak boleh digendong oleh Mama. Kalau untuk bermain kita masih bisa dan kalaupun kalian ingin memeluk Mama juga masih bisa tidak harus sampai seperti tadi"


Mereka berdua tersenyum lega, mereka kira tidak boleh memeluk Mamanya juga "Akhirnya kami tenang juga kami kira kami tidak boleh memeluk Mama juga"


"Mama kamu itu harus makan yang banyak agar nanti perut Mama cepat besar dan adik bayi juga punya ruang yang lebih besar lagi. Jadi adik bayi tidak kesempitan lagi di dalam perut Mama "ujar Melinda dengan semangat.


Melisa dan juga Melinda masih dikuncir mereka belum melepasnya. Ayana masih bingung dengan kata-kata anaknya ini dapat dari mana. Pasti dari suaminya Ayana mencurigainya karena anak-anak juga tidak akan terlalu tahu kan tentang kehamilan.


Ayana mengganggukan kepalanya "Tentu Mama akan makan makanan bergizi, agar adik bayi cepat tumbuh dan adik bayi bisa cepat bertemu dengan kakak-kakaknya ini. Siapa yang mengikat rambut kalian tadi"


"Kak Rara " seru Melinda dan juga Melisa kompak.


"Apa kalian sudah mengucapkan terima kasih"


"Sudah mama, bahkan kami meminta pada Kak Rara untuk membuat makanan yang enak dan bergizi untuk mama dan juga adik bayi. Kami juga sudah memberitahu Kak Rara, Kak Rara sangat bahagia mendengar kabar kalau didalam perut Mama ada adik bayi"


Keduanya menggelengkan kepalanya "Kami takut nanti malah menyakiti perut Mama atau mungkin menyenggol tanpa sengaja, kami di sini saja mama" kata-kata dari ayahnya itu melekat begitu dalam di kepala mereka, ayahnya selalu mewanti-wanti agar tidak menyentuh perut mamanya.


Ayang tersenyum "Tidak apa, adik bayi sedang tenang sekarang. Apalagi kalau kalian mengelusnya adik bayi akan makin tenang lagi"


Melisa dan juga Melinda menjadi sangat bersemangat sekali, mereka saling pandang lalu berpegangan tangan dengan perlahan mereka mendekati Mamanya itu. Mereka dari tadi memang takut untuk memegang perut mamanya, tapi karena mamanya sudah bilang tidak akan apa-apa jadi mereka akan mencobanya, kata Mamanya adik bayi akan senang saat dirinya mengelus perut mamanya.


"Kemari jangan takut, adik bayi akan tenang saat kalian mengelus perut Mama"

__ADS_1


"Hemm" mereka sudah ada di hadapan Ayana. Tapi mereka masih diam belum berani mengusap perut Mamanya itu.


Ayana yang melihat anak-anaknya masih tidak berani langsung mengelus perutnya dengan perlahan "Lihat mama sudah mengelus adik bayi, tapi dia tidak kenapa-napa kan ayo adik bayi sedang tenang. Jadi kalian tidak akan menyakitinya, mau coba"


Mereka berdua langsung mengelus perut mamanya, mereka langsung tersenyum sambil menatap ke arah mamanya "Benar kata Mama adik bayi sangat senang sekali"


Mereka lalu loncat-loncat setelah mengelus perut Mamanya itu, mereka begitu senang sekali bisa mengelus perut mamanya yang ada adik bayinya.


"Yey akhirnya kita bisa mengelus adik bayi "


Mereka berdua berhenti loncat-loncat lalu kembali mengelus perut ibunya itu "Mama apakah kami boleh mengelus perut Mamah lama" tanya Melinda yang penasaran.


"Tentu saja boleh, malahan adik bayi akan senang saat kalian mengelus perut Mama seperti ini "


"Baiklah kalau begitu kami berdua akan sering-sering mengelus perut Mama, nanti setelah pulang sekolah kami akan mengelus adik bayi terus-menerus agar dia selalu senang"


Melisa menatap mamanya, ingin melihat ekspresi mamanya apakah mamanya benar-benar tidak kesakitan saat mereka mengelus perut mamanya seperti ini.


Ayana yang melihat Melisa menatapnya terus langsung mengusap kepalanya dan tersenyum, Melisa juga ikut tersenyum dan tenang berarti mamanya tidak apa-apa.


Sekarang Ayana malah melihat Melisa yang menangis. Ayana jadi bingung Ayana langsung memeluknya "Kenapa kamu tiba-tiba menangis seperti itu" sambil melepaskan pelukannya.


"Melisa hanya senang saja akhirnya Melisa punya adik juga, akhirnya kami berdua punya adik Mama"

__ADS_1


Melinda juga yang tadinya tidak menangis malah ikut-ikutan menangis, mereka langsung berpelukan Ayana juga malah jadi menangis.


Adnan yang membuka pintu kamar anaknya untuk memanggil mereka untuk segera makan malam kaget melihat ketiga perempuan kesayangannya ini menangis Adnan benar-benar khawatir, Adnan langsung mendekati mereka bertiga Adnan bahkan mengecek satu persatu anak dan istrinya takutnya ada yang terluka takutnya mereka jatuh atau kenapa.


__ADS_2