
"Ada apa Marco, ini sudah malam kamu mau apa kerumah memangnya tak ada waktu lain gitu" tanya Adnan dengan ketus. Baru saja mau tidur malah sudah datang Marco. Menganggu saja dia ini.
"Pak aku sudah menemukannya. Ini dia ada disini " sambil menunjukan sebuah kota.
Adnan sampai memelotkan matanya, saat Ayana kabur ke kota itu jauh sekali Ayana membawa anak-anaknya ini. Tidak salahkan.
Adnan juga melihat Ayana sedang menuntun dua anak kembar dengan rambut yang dikuncir. Adnan memperbesarnya dan benar ini adalah Melinda anak kecil yang memberikannya coklat.
Hati Adnan langsung bahagia tapi ada rasa menyesal juga karena dulu tak sempat menyadari kalau Ayana sedang mengandung anak-anaknya ini. Sungguh kalau tahu Adnan pasti akan berfikir ulang.
"Siapkan penerbangan kesana sekarang juga "
"Baik Pak "
Adnan dengan langkah lebarnya langsung masuk kedalam kamar. Senyum Adnan langsung memudar saat melihat anaknya Kamila yang sedang tertidur pulas.
Adnan baru ingat kalau ada Kamila, bagaimana ini apakah Adnan harus membawanya saja. Tapi kalau misalnya ditinggalkan kasian juga. Adnan sudah janji kan pada Kamila akan selalu membawanya dan selalu ada disamping Kamila juga.
Baiklah Adnan akan membawanya juga, buat pendekatan juga dengan anak-anaknya. Siapa tahu nanti Kamila bisa dekat dengan Melinda dan mereka jadi teman. Jadi Adnan akan mudahkan bertemu dengan Ayanannya.
Perlahan Adnan menguncang tangan anaknya "Sayang bangun yu, sayang bangun dulu kita harus siap-siap"
Kamila mengucek-ngucek matanya "Hem, memangnya kita mau kemana Ayah. Aku bukannya baru saja tertidur kenapa tiba-tiba aku dibangunkan seperti ini Ayah "
"Kita akan jalan-jalan Kamila mau kan ikut Ayah jalan-jalan "
Kamila malah membalikan badannya dan memunggungi Ayahnya. Kamila melipat tangannya di pipi dan kembali terpejam. Adnan beranjak dan membereskan pakaiannya. Nanti saja lah saat akan berangkat dibangunkan lagi, atau digendong saja sampai tertidur seperti itu.
Adnan membawa pakainya tak banyak, pakaian putirnya tak lupa. Adnan memasukannya dengan cepat dan memberikannya pada Marco.
"Pak tapi keberadaan pastinya belum ditemukan. Apakah bapak yakin mau berangkat sekarang. Atau kita tunggu saja sampai ketemu Pak "
"Tidak, aku ingin segera pergi kesana. Aku juga ingin cepat-cepat bertemu dengan mereka. Jadi nanti saat ada kabar aku bisa langsung kesana. Aku tak mau menunggu lagi "
Adnan sudah memutuskan semuanya dengan bulat. Adnan tak akan menunggu nunggu lagi pokoknya Adnan harus bertemu dengan Ayana dan juga anak-anaknya.
Jangan sampai dia lepas lagi dan membawa anak-anaknya pergi lagi. Ayana pasti akan berlari lagi kalau tahu maka Adnan harus bergerak sekarang juga. Ayana terlalu pintar dan dia punya banyak cara untuk pergi darinya maka Adnan sekarang harus ada disana.
Adnan membawa anaknya yang masih tertidur lalu mereka pergi kebandara. Kamila sempat menangis karena tidurnya terganggu oleh Ayahnya. Tapi Adnan tak menghiraukan itu. Sekarang yang Adnan fikirkan adalah bertemu dengan Ayana itu saja. Kamila bisa diatur nanti.
"Orang-orangmu harus segera menemukan keberadaan Ayana. Aku datang kesana mereka harus menemukan Ayana dan kedua putriku. Aku sudah memberi mereka waktu yang banyak kan "
"Iya Pak akan aku usahakan "
"Apa usahakan itu harus segera dicari, aku membayar dengan mahal ingat itu Marco "
Marco menganggukkan kepalanya dan kembali fokus dengan ponselnya sebelum pesawat terbang. Adnan sendiri menatap wajah anaknya Kamila yang masih tertidur dengan lelap.
Adnan mencium keningnya "Ayah akan membawa ibu untuk mu sayang, dan ayah akan menjamin kalau dia akan menyayangi kamu, kamu juga akan memiliki adik. Kamu tak akan kesepian lagi sayang. Kamu akan punya teman, kalian akan menjadi saudara yang kompak Ayah yakin itu "
Marco yang sudah selesai dengan orang-orangnya menatap Adnan yang sepertinya memang kurang tidur, wajahnya begitu lelah, rambut juga berantakan biasanya bosnya ini selalu rapi tapi sekarang benar-benar berantakan sekali.
Marco mengambil botol vitamine dan memberikannya pada Adnan "Pak lebih baik bapak minum vitamine dulu "
Adnan hanya menatap botol itu sekilas. Tak ada niatan untuk mengambilnya atau meminumnya. Kenapa Marco melakukan itu karena Marco takut bosnya itu tumbang sedangkan pekerjaan kantor begitu banyak sekali menumpuk.
Marco juga tak akan sanggup untuk mengerjakan semuanya. Ayana sepertinya sangat berarti sekali untuk bosnya ini sampai apapun dia lakukan.
"Pak nona Kamila bersama aku saja. Bapak lebih baik tidur dulu istirahat nanti kalau sudah sampai aku akan membangunkan Bapak "
"Tidak, sudah tak masalah Kamila denganku saja " Adnan menolak dengan halus. Bukannya tidak percaya dengan Marco hanya saja Adnan tidak mau nanti Kamila terbangun dan menangis apalagi sekarang mereka sedang di pesawat tidak enak mengganggu yang lain juga.
"Pak maaf diminum dulu vitamin nya. Aku hanya takut saja nanti Bapak di sana tumbang dan tidak bisa mencari nona Ayana dan kedua Putri Bapak itu "
"Buka botolnya "
Adnan yang tidak mau mendengarkan ocehan Marco lagi akhirnya pasrah saja untuk meminum vitamin itu, kalau tidak diminum Marko ini akan cerewet sekali seperti perempuan. Kadang Adnan berpikir kalau Marco ini sebenarnya perempuan atau laki-laki.
Karena dia itu sangat bawel, apalagi soal makanan kalau Adnan belum makan siang dia terus akan bolak-balik untuk menyuruhnya makan, Adnan seperti menjadi suaminya Marko saja tapi tidak tidak Marco laki-laki.
__ADS_1
Adnan jadi geli sendiri, kenapa juga dirinya harus berfikir kesana. Fikirannya ini mulai ngaco, harus cepat-cepat istirahat sebelum kepalanya ini rusak. Adnan mengambil vitamine itu dan segera meminumnya.
Lalu memejamkan matanya. Semoga saja bisa istirahat dan sampai di sana wajahnya kembali fresh dan tidak terlihat kusam seperti ini lagi, Adnan juga menyadari penampilannya ini sangat berantakan sekali tak terurus sama sekali.
Adnan memeluk Kamila dengan erat, takut Kamila nanti akan terjatuh. Adnan juga sudah menyelimuti Kamila agar tidak kedinginan.
Marco yang melihat Adnan tertidur tersenyum senang. Akhirnya bosnya itu bisa tertidur juga, bukan apa-apa Marko kasihan sekali apalagi nanti di sana pasti bosnya ini akan mencari sendiri keberadaan Ayana dan juga kedua putrinya itu.
Marco jamin itu karena memang pencarian ini sangat lama sekali memakan waktu. Baru kali ini Marko melihat bosnya tidak sabaran dengan sesuatu hal yang dia mau. Biasanya Bosnya itu akan tenang tapi sekarang benar-benar berbeda sekali.
...----------------...
Ayana yang sedang sibuk menyiapkan bekal untuk kedua putrinya. Ayana dari kemarin merasakan tak enak hati. Akan ada apa ya, Ayana jadi gelisah sendiri. Semoga saja tidak terjadi apa-apa.
Ayana begitu takut sekali terjadi sesuatu dengan keluarga kecilnya ini. Apalagi Fabian sudah pulang, dari seminggu yang lalu dia pulang. Ayana menatap anaknya yang sudah siap dengan seragamnya.
Ayana tersenyum menatapnya, lalu memasukan bekal kedua putrinya itu. Lalu Ayana juga membantu mereka untuk mengunakan tas gendong mereka masing-masing begitu lucu sekali mereka ini.
Tubuh mereka sangat kecil dan saat memakai tas gendong seperti itu lucu sekali. Ayana rasannya tak mau anak-anaknya tubuh besar tapi tak boleh egois mau bagaimana pun anaknya harus tumbuh menjadi wanita-wanita pintar yang bisa membuatnya bangga.
Ayana senang sekali saat anak-anaknya sekolah mereka memiliki banyak teman tidak sepertinya dulu. Mereka selalu selalu bercerita tentang bagaimana disekolah.
Mereka akan bersemangat kalau ditanya tentang bagaimana sekolah mereka, teman mereka dan juga yang bersangkutan dengan sekolah mereka pasti akan sangat bersemangat.
Kadang kalau diajak pulang anaknya cukup sulit katanya masih ingin main dengan teman-temannya. Ayana berarti tak salah memilih sekolah. Ayana melihat Melisa yang membantu adiknya memakai sepatu.
Melisa benar-benar kakak yang baik dan juga bertanggung jawab pada adiknya. Melisa adalah pelindung Melinda. Jika ada yang nakal pada Melinda atau menjahili Melinda, Melisa akan langsung membalasnya.
"Ayo putri putri Mama yang cantik. Kita pergi kesekolah sekarang kalian sudah siap "
"Siap Mama kami siap " ucap mereka bedua dengan semangat.
Ayana segera mengiring kedua putrinya untuk menunggu diluar dan Ayana mengunci dahulu pintunya. Agar aman, jadi saat Ayana bekerja juga Ayana akan tenang.
Ayana menuntun dua putrinya, mereka berjalan bersama-sama. Sesekali juga Melinda melawak membuat Ayana dan Melisa tertawa lepas dengan tingkah Melinda dan candaan Melinda.
"Siapa memangnya sayang, apakah seorang laki-laki"
"Betul Mama, ada seorang laki-laki bernama Hendrick yang selalu saja mau main dengan Melinda"
"Bagus dong jadi kalian tambah banyak teman "
"Tapi dia maunya main dengan Melinda saja kalau dengan Melisa dia tidak mau. Melisa tak suka " dengan bibir yang mengerucut.
Ayana tersenyum mendengarnya "Mungkin kamu terlalu galak"
"Ya benar Mama, kakak memang galak sekali"
"Hey, aku seperti itu untuk melindungi kamu Melinda. Aku tidak mau kamu dekat dengan laki-laki kamu itu masih kecil belum saatnya " marah Melisa dengan mata yang melotot pada sang adik..
"Ist lihat Mama, kakak menyebalkan sekali. Kami hanya berteman saja Hendrick juga baik sekali "
"Ya sudah kalian bermain bertiga saja, tak masalahkan"
"Melisa tidak mau Mama "
Ayana menatap kedua putrinya "Kita sudah sampai" sambil berjongkok menatap satu persatu putrinya.
Senyum mereka langsung timbul, Ayana lebih baik menyudahi pembicaraan itu dari pada nanti anaknya malah marah-marahan. "Yey sampai-sampai. Terimakasih Mama sudah mengantarkan kami. Kami akan belajar dengan pintar. Mama ditoko hati-hati ya Mama " ucap Melisa sambil mengecup pipi Ayana yang diikuti adiknya Melinda.
"Sama-sama sayang, sekarang masuk ya nanti Mama jemput lagi, sekalian kita akan makan diluar "
"Hore aku senang sekali, dadah Mama "
"Dadah sayang "
Setelah yakin anak-anaknya masuk Ayana segera pergi ketoko bunganya. Selama perjalanan Ayana tak henti-hentinya tersenyum mengigat setiap tingkah anaknya. Kenapa mereka itu begitu lucu dan mengemaskan sekali.
Untung saja kebodohan Ayana waktu itu tak dilakukan. Kalau saja dia jadi mengugurkan kedua anaknya mungkin sekarang Ayana tak akan sebahagia ini yang ada hidupnya akan makin terpuruk.
__ADS_1
Ayana, sudah mengambil keputusan yang sangat benar sekali mempertahankan mereka meski hati dan juga tubuh Ayana sedang tidak baik-baik saja.
...----------------...
Adnan memijat kepalanya sudah beberapa hari disini tapi Ayana dan juga kedua putrinya belum ditemukan juga. Adnan begitu pusing sekali apalagi pekerjaannya yang menumpuk dan dikerjakan disini makin membuatnya pusing sekali.
"Ayah kapan kita pulang, aku mau pulang aku harus sekolah Ayah. Aku tak bisa terus disini Ayah ayo pulang aku pasti akan tertinggal "
Adnan menatap Kamila, mengusap rambutnya dengan sayang "Kita akan segera pulang, tapi nanti ya. Kamu tenang pasti kita akan pulang tak lama lagi kita pulang kamu yang sabar "
Kamila dengan lesu menganggukan kepalanya tak mau membantah Ayahnya. Kamila duduk disamping Ayahnya "Sebenarnya siapa yang sedang Ayah cari sepertinya Ayah sibuk sekali. Ayah selalu menyebut-nyebut nama"
Adnan menatap Kamila lalu tersenyum "Dia adalah orang yang Ayah sayangi "
"Bukannya Kamila ya orang yang paling Ayah sayangi itu "
"Ada lagi, kamu nanti akan bertemu dengan mereka "
"Mereka? "
"Iya mereka nanti kamu akan bertemu dengan mereka. Kamu akan mempunyai adik "
"Ibu sedang hamil Ayah "tanya Kamila dengan senang sekali.
Adnan mengelengkan kepalanya "Bukan sayang mereka itu _"
"Pak ada informasi penting yang aku bawa "
"Apa itu Marco "
"Nona Ayana dan juga kedua putrinya sudah ditemukan. Kami sudah tahu dia sekarang dimana"
Adnan yang senang sampai berdiri dan menghampiri Marco "Kamu sedang tidak berbohong kan padaku. Kamu sedang tidak main-mainkan "
"Tidak Pak, aku benar-benar mengatakan yang sesungguhnya. Nona Ayana membuka sebuah toko bunga. Lumayan banyak pengunjungnya. Melisa dan juga Melinda juga sudah sekolah Pak didekat toko itu sekolahnya. Rumah mereka tak terlalu jauh ada di dekat pantai"
"Ini dirinya Pak "
Marco memperlihatkan Ayana dan kedua putrinya sedang main pasir. Tawa mereka begitu lepas. Sampai-sampai Adnan yang melihatnya begitu bahagia sekali.
Mereka sangat bahagia sekali, apakah dengan Adnan menemui mereka, senyum ini akan muncul lagi "Ayah siapa mereka "tanya Kamila dengan cemberut.
Kamila tidak suka dengan respon Ayahnya yang kelewat bahagia sekali. Selama ini saat bersama Kamila Ayahnya tak sebahagia itu. Siapa mereka sebenarnya. Kenapa Ayahnya begitu bahagia sekali.
Kamila menatap foto itu lebih jelas. Kamila yak mengenal mereka "Ayah siapa mereka kenapa ayah begitu bahagia Melihat mereka "sambil melipat tangannya dengan kesal.
"Mereka adalah saudari mu, kita akan segera bertemu dengan mereka sayang. Inilah adik-adik kamu "
"Kenapa mereka sama besarnya dengan aku, kenapa adikku sepertinya lebih besar dari aku. Aku tidak mau punya adik Ayah aku tidak mau. Aku tidak suka mereka "
"Kita pergi kesana Marco, aku ingin segera melihat anak-anakku itu aku ingin melihat mereka secara langsung meskipun dari kejauhan "
Adnan tidak menghiraukan ketidak sukaan Kamila. Sekarang Adnan sedang bahagia sekali. Sampai-sampai Adnan menangis bahagia akhirnya selama ini yang dia cari ketemu juga.
Adnan mengandeng tangan Kamila untuk ikut dengannya. Tidak mungkin Adnan meninggalkan Kamila dihotel sendirian. Tak akan mungkin lah itu dilakukan oleh Adnan. Yang ada Adnan akan dianggap menelantarkan anak.
"Ayah aku tiba-tiba tak enak badan, aku tidak mau ikut kita kekamar saja ya istirnya "
Adnan memberhentikan langkahnya menatap anaknya Kamila yang baik-baik saja "Ayo sebentar tak akan lama. Kita hanya akan jalan-jalan saja "
"Tidak Ayah, aku tidak mau, aku mau disini saja bersama Ayah tidur bersama "
"Ya sudah kamu disini dengan paman Marco "
"Marco jaga Kamila akh akan pergi sendiri saja kirimkan saja alamatnya padaku "
"Tidak Ayah, aku tidak mau aku ikut kalah begitu "
Adnan tanpa menunda-nunda lagi waktunya bergegas masuk kedalam mobil memanggu Kamila yang tak mau lepas darinya.
__ADS_1