Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 64


__ADS_3

"Aku tidak mau mengurus anak itu, dia adalah anak kamu dari perempuan itu kan, kamu dari awal tidak pernah bercerita kepadaku tiba-tiba sekarang kamu mengatakan kalau kamu sudah punya anak dengan perempuan lain dan aku harus mengurusnya, apa kamu gila kamu nggak berpikir kalau aku akan sakit hati gitu. Kamu ini punya hati ga sih Rio"


Rio malah jadi bingung, dia tadi pulang dari rumahnya Fira menceritakan semuanya pada istrinya ini kalau dia sudah punya anak bersama Fira dan dia akan mengambilnya, tapi istrinya malah responnya seperti ini.


Rio kira istrinya akan menerimanya bahkan dengan senang langsung menerima anaknya Kamila, tapi sekarang malah jadi pertengkaran di antara mereka. Rio tadi sampai tak berfikir kesini.


"Tapi mau bagaimanapun dia adalah anakku, kamu harus menerimanya, aku akan mengambilnya kalau bukan aku siapa yang akan mengurusnya. Aku adalah ayahnya maka aku harus bertanggung jawab atas Kamila. Aku sudah lama ingin bersamanya tolong jangan marah-marah seperti ini "


"Ibunya ada, lalu kenapa harus kamu. Biarkan saja ibunya yang mengurus. Dia masih punya ibu kan aku tidak mau nanti kalau ibunya terus datang kemari, aku tidak mau ya rumah tangga kita ini terus saja banyak masalah aku sudah memaafkanmu tentang kamu yang selingkuh dengan Fira ibunya anak itu, lalu kamu sekarang akan membawa anaknya itu. Kamu ingin menambah rasa sakit hatiku Rio, apakah kamu ingin menghancurkan aku lagi Rio. Kamu tidak puas dengan apa yang pernah kamu lakukan selama ini sama aku "


Rio mengusap wajahnya dengan kasar "Lalu aku harus bagaimana, dia itu anakku mau bagaimanapun dia tetap anakku tidak bisa dipungkiri. Dia adalah darah dagingku. Tolong jangan egois sayang Kamila pasti akan menyayangi mu aku yakin itu. Dia anak yang baik dan penurut "


"Yah aku mengerti, tapi jangan suruh aku untuk mengurus anak selingkuhanmu itu jika kamu mau mengurusnya silakan kamu saja tapi jangan ada di rumah ini. Bahkan untuk melihat wajahnya saja aku tidak akan pernah mau"


Makin pusing saja kan Rio, boleh mengurusnya tapi tidak boleh ada di rumah ini bagaimana caranya itu. Sedangkan Rio tidak mungkin membagi waktunya, yang ada istrinya akan terus saja curiga dengannya. Sekarang kan Rio sedang membangun kepercayaan istrinya lagi.


"Atau begini saja kamu lepaskan aku dan kamu kembalikan saja pada ibu anak itu, biar kalian bahagia. Agar kalian bisa mengurus anak itu juga bersama, itu akan lebih baik kan itu solusi yang sangat bagus"


Rio langsung marah mendengar kata-kata dari istrinya, apa-apaan tiba-tiba menyuruhnya untuk kembali pada Fira, Rio benar-benar tidak sudi, dirinya tidak akan pernah mau kembali dengan perempuan itu.


"Kamu jangan asal bicara, aku tidak akan pernah mau kembali dengan dia jaga ucapanmu itu. Jangan membuat aku makin marah"


"Maka keputusannya aku tidak mau ada anak itu. Aku akan sakit hati setiap hari, aku akan menangis kalau harus ada anak itu. Aku akan melihat wajah ibunya, aku akan kembali mengingat tentang perselingkuhan kamu itu, masih untung aku memaafkanmu kalau aku sampai melaporkan semua ini pada orang tuamu mungkin mereka juga akan marah padamu Rio. Mereka akan kecewa dengan dirimu"


Rio mencoba menahan emosinya, dia tidak mau ada pertengkaran lagi. Sudah cukup pertengkarannya waktu itu "Baiklah aku akan menunggu waktu yang pas untuk membawa Kamila kemari, siapa tahu nanti kamu akan suka dengannya kan saat melihat dia datang kemari. Dia itu baik sekali sayang dia akan menyayangimu nantinya "


"Tidak akan, sampai kapanpun aku tidak akan pernah suka dengan anak itu. Kamu bisa mengerti tidak sih perasaanku Rio. Kamu juga kalau ada di posisiku pasti tidak akan pernah bisa menerima semua ini. Jangan paksa aku untuk bisa menerima anak itu. Karena sampai kapan pun aku tak akan pernah mau menerimanya "


"Ya sudah kamu sekarang istirahat ya. Maafkan aku yang tidak mengerti perasaanmu ayo istirahat sekarang"


Istrinya Rio itu langsung saja pergi dari hadapan suaminya, dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan kencang. Rio hanya bisa diam saja dia memikirkan bagaimana nasib Kamila anaknya, Rio tak mau sampai Kamila akan diasuh oleh ibunya. Ibunya itu bukan orang baik yang ada Kamila akan sama seperti ibunya nanti.


Rio ingin sekali mengurusnya masalahnya sampai sekarang Rio dan juga istrinya belum diberikan anak juga. Ya siapa tahu dengan datangnya Kamila sebagai pancingan nanti istrinya bisa mengandung kan.


Sepertinya Rio harus pelan-pelan memberitahu istrinya dan tidak boleh terburu-buru seperti tadi, yang ada malah akan jadi masalah kan seperti sekarang bertengkar hebat.


Ini sungguh membuatnya setres sekali. Belum pekerjaan, belum tentang rumah tangganya sekarang anaknya Kamila. Rio bisa-bisa gila karena memikirkan semua ini.


Rio memang sudah berbicara pada istrinya jujur, sejujur-jujurnya tentang perselingkuhannya dengan Fira. Tentang apa saja yang dia lakukan dengan Fira memang waktu itu istrinya sampai pergi dari rumah.


Tapi akhirnya istrinya mau kembali dan memaafkan Rio, meskipun sekarang sikapnya agak berbeda tidak seperti dulu, dulu istrinya sangat perhatian sekali apapun yang Rio butuhkan akan selalu ada.


Apapun yang Rio ingin akan selalu istrinya masakan. Sekarang istrinya sedikit acuh pada Rio,menyiapkan semua kebutuhan Rio lalu setelah itu dia akan mengurung diri di dalam kamarnya.


Bahkan kalau diajak keluar pun sekarang sudah tidak mau, dia hanya ingin diam di rumah dan katanya untuk menenangkan pikiran dan hatinya mencoba untuk menerima semuanya.


Rio tahu kesalahannya itu sangat besar sekali, kesalahannya itu sebenarnya tidak bisa dimaafkan sampai kapanpun, tapi Rio tidak mau berpisah dengan istrinya kalau tidak jujur takutnya nanti istrinya mendengar dari orang lain dan itu akan lebih fatal lagi kan.


Istrinya memang sudah berubah sekarang dan perubahan itu adalah ulahnya sendiri, maka Rio harus menerima semuanya.Rio akan terus berjuang untuk mengembalikan istrinya yang dulu istrinya yang ceria, baik, perhatian dan selalu memanjakannya.


Rio duduk mencengkram rambutnya, kepalanya begitu sakit sekali. Rasannya Rio ingin memukul-mukul kepalanya sendiri. Rio sudah pusing sekali dengan semua masalah ini.


...----------------...

__ADS_1


Pagi hari ini Melinda merengek ingin dibelikan coklat lagi pada Ayana, tapi Ayana menolaknya bukan apa-apa Melinda itu selalu saja makan coklat dan kadang-kadang sehari dia ingin banyak. Kemarin saja Melinda sudah menghabiskan banyak coklat.


"Mama ayolah Melinda ingin coklat lagi Melinda ingin yang manis-manis, Melinda suka yang manis-manis Mama "


"Mama kan sudah memberimu jatah satu hari dua coklat saja, tidak lebih. Tapi kemarin kamu memakan lebih dari 2 coklat nanti kalau gigi kamu sakit bagaimana nanti kamu menangis lagi. Memangnya kamu mau dibawa kedokter gigi lagi "


"Tapi untuk Melinda itu sangat kurang Mama, Melinda tak akan cukup dengan 2 biji coklat saja.Rasannya tak enak saja Mama "sambil merengek


"Ini kan buat kesehatan gigi kamu juga, nanti kalau misalnya kamu terus makan coklat gigi kamu bolong-bolong, emangnya mau nanti giginya dicabut. Nanti Melinda tak punya gigi, giginya akan ompong"


Melina langsung menutup mulutnya lalu menggelengkan kepalanya "Tidak, Melinda tidak mau kehilangan gigi Melinda, dan tidak mau gigi Melinda ada bolong-bolongnya lalu akan dicabut "


"Ya sudah makannya jangan terlalu banyak makan, makanan manis, harus sedikit-sedikit Mama kan sudah memberi kamu jatah dua coklat saja itu sudah cukup"


"Baiklah baiklah, karena Melinda tidak mau gigi Melinda rusak jadi Melinda menurut saja pada Mama tapi untuk kali ini jangan dikurangi coklatnya Mama. Cukup dua Melinda tidak akan memakannya lagi. Melinda janji sama Mama "


"Baiklah, tapi awas jangan sampai makan lagi ya. Ayo kita sudah sampai di sekolah masuk ya nanti siang hari Mama jemput kita makan di luar"


"Hore makan di luar "


Mereka berdua memeluk Ayana terlebih dahulu lalu masuk ke dalam sekolah. Memang Melisa dari tadi banyak diam dia hanya menyimak semua perkataan adiknya dan juga mamanya saja, karena tak ada yang perlu Melisa bicarakan juga.


Adnan yang memang sudah ada di sana saat melihat Ayana sudah pergi langsung turun dari dalam mobil, dia akan menemui anaknya langsung Adnan ingin bertemu langsung dengan mereka berdua.


Adnan sudah tak sabar ingin memeluk kedua anaknya itu. Adnan ingin mengobrol dengan mereka. Adnan ingin anak-anaknya itu menceritakan segala halnya padanya.


"Melinda "teriak Adnan


Melisa yang mendengar teriakan Melisa sampai menutup telinganya "Kalau bicara itu jangan berteriak seperti itu. Itu tidak baik sudah dibilangin kan jangan teriak-teriak seperti itu"


"Iya Kakak maaf aku hanya kaget saja saat melihat paman, aku senang saja bisa bertemu lagi dengan paman "


Adnan mendekati kedua putrinya dan begitu terharu melihat kedua putrinya yang sudah tumbuh besar seperti ini. Adnan berjongkok dan memeluk mereka berdua. Melinda membalas pelukan itu tapi Melisa langsung melepaskannya "Jangan peluk-peluk aku. Kamu itu orang asing jangan berani-beraninya ya"


Adnan menatap Melisa yang lebih galak, lalu Adnan mengusap rambut Melissa dan tersenyum ke arahnya tapi Melisa masih saja cemberut. Tak mau membalas senyum Adnan sama sekali.


"Kakak ini adalah paman yang kemarin, dia orang baik kok Kakak jangan galak-galak. Maaf ya Paman kakakku ini memang galak, dia itu suka nya marah-marah "


"Tidak apa-apa Paman mengerti kakakmu kan baru bertemu dengan paman, jadi wajar dia seperti itu pada Paman "


Adnan sebenarnya ingin mengatakan yang sebenarnya kalau dia ini adalah ayah mereka, tapi Adnan tidak mau membuat mereka berdua kabur dan berbicara pada Ayana semuanya bisa kacau kalau semua itu terjadi.


Melisa memicingkan matanya saat melihat Adnan, dia seperti mengenal laki-laki yang ada di hadapannya ini bukankah laki-laki ini yang selalu ada di televisi dan selalu Mamanya tangisi ya.


Melisa langsung menarik tangan adiknya "Lebih baik Paman pergi saja, jangan pernah sakitin Mamaku lagi, sudah cukup ya Paman membuat Mamaku selalu menangis setiap malam. Sudah jangan pernah temui adikku lagi"


Melisa yang akan meninju wajah Adnan malah ditangkap tangannya oleh Adnan. Melisa langsung melepaskan genggaman tangan Adnan. Melisa membawa Melinda masuk ke dalam sekolah.


Melinda yang bingung hanya bisa mengikuti langkah kakaknya "Kakak kenapa Kakak akan memukul Paman itu. Kalau Mama tahu Mama akan marah"


Adnan yang melihat anaknya marah-marah padanya dan bilang jangan pernah sakiti Mamaku apa Ayana bercerita tentang dirinya tentang apa yang dirinya lakukan pada anak-anak. Bahkan tadi Melisa akan memukulnya.


Apakah sebenci itu anaknya padannya. Sampai-sampai Melisa ingin memukulnya dan marah-marah seperti tadi. Apa yang Ayana ajarkan pada anaknya selama ini, kenapa Melisa begitu kasar sekali.

__ADS_1


Adnan masih belum beranjak, dia masih melihat anaknya yang masuk lalu tiba-tiba keluar lagi dengan seorang guru.


"Ini dia Bu, dia itu orang jahat. Tolong jangan pernah masukkan dia lagi ke sekolah. Aku tak mau ada dia disini "ucap Melisa dengan lantang sekali bahkan Melisa sama sekali tak takut pada Adnan. Mata mereka bahkan saling bertatapan.


"Kalian berdua masuk ke sekolah dulu ya, biar ibu yang bicara dengan Bapak ini kalian tenang saja kalian berdua aman. Ayo Melisa bawa adikmu masuk kedalam sekolah ya "


"Baik Terima kasih Bu"


Melisa dan juga Melina masuk ke dalam kelas lagi, meskipun Melinda masih bingung dengan tingkah kakaknya yang tiba-tiba saja marah padahal Paman itu sangat baik sekali. Dia sangat perhatian sekali sampai-sampai Melinda suka dengannya.


Lalu kakaknya mengatakan kalau Paman itu adalah orang jahat, kakaknya tahu dari mana sedangkan kakaknya saja baru bertemu. Seharusnya kakaknya suka kan dengan paman itu. Melinda saja yang baru pertama bertemu waktu itu langsung suka padanya.


"Pak mohon maaf Bapak ini siapanya Melisa dan Melinda ya"


"Saya ayahnya"


"Ayahnya bukannya Ayah Melisa dan juga Melinda itu yang_"


Belum juga guru itu menyelesaikan kata-katanya tapi Adnan sudah menyelanya "Aku adalah Ayah kandungnya. Jadi jangan pernah larang aku untuk datang ke mari, karena mereka adalah anak-anakku cukup kamu diam dan jangan pernah bilang pada Ayana kalau aku pernah datang kemari "


Guru itu masih diam, "Tolong jangan ganggu anak-anak lagi Pak, saya minta Bapak untuk menjauhi mereka"


Adnan tidak menjawab. Dia langsung melengos pergi begitu saja dari hadapan guru itu. Adnan masih memikirkan kata-kata dari Melisa. Kalau misalnya Ayana bercerita pada anak-anaknya berarti Melinda juga tahu kan.


Tapi Melinda seperti tidak tahu apa-apa kan, apa mungkin Ayana hanya memberitahu Melisa saja, tapi tak mungkin kan.


Apa selama ini Adnan sudah membuat Ayana terus menangis, apa Ayana menjadi takut padanya sekarang. Adnan harus cepat-cepat menemui Ayana tidak bisa ditunda-tunda lagi.


Adnan tidak mau sampai Ayana kabur lagi dan Melisa pasti nanti pulang sekolah akan berbicara pada ibunya itu. Adnan harus mencegahnya, Adnan tak mau kehilangan mereka lagi.


...----------------...


Kamila mengelengkan kepalanya, Kamila tak mau makan. Pengasuhnya sampai binggung harus melakukan apa.


"Ayo nona Kamila makan dulu ya, kan nona lagi sakit jangan seperti itu ya "


"Tidak, aku tidak mau. Aku ingin disuapin oleh ayah aku hanya akan makan bila Ayah ada di sini. Aku tidak mau makan pokoknya "


Kamila membuang pandangannya dan menatap ke arah lain. kamila sudah menangis apakah ayahnya sekarang membuangnya, apakah ayahnya sekarang sudah bertemu dengan anak itu dan mereka sedang bahagia.


"Ayah aku ingin bertemu dengan Ayah "gumam Kamila


"Kamila paman suapi ya "


Kamila menatap orang yang ada di depannya itu adalah paman Rio, yang selalu dirinya temui bersama ibunya.


"Tidak mau Kamila mau disuapi oleh ayah bukan sama paman"


"Tapi Paman juga Ayah Kamila kan"


"Bukan paman itu bukan ayahnya Kamila, ayahnya Kamila itu cuma satu. Kamila ga mau makan Kamila ga mau makan Paman pergi saja, paman pergi saja dari sini Kamila cuman mau Ayah Ayah ayah "


Kamila menangis dengan kencang. Rio yang melihat itu sampai sakit hati. Anaknya sendiri tak mau mengakuinya sebagai Ayahnya. Memang ini adalah kesalahan Rio sendiri mau mengikuti permainan Fira. Jelas-jelas itu sudah salahkan.

__ADS_1


__ADS_2