
Ayana kaget saat Adnan datang dan dia tersenyum ke arahnya. Ayana mencoba untuk biasa-biasa saja dan Adnan berhenti saat sudah berhadapan dengan Ayana.
"Ayana lihatlah apakah kamu percaya anakmu ini ingin membuat surat ini denganku, sungguh aku tak percaya dia melakukan ini"
Ayana mengambilnya dan tersenyum melihat surat ini, sungguh Melisa benar-benar ingin melindunginya dan juga adiknya. Padahal dia masih kecil tapi pikirannya sudah kemana-mana, Ayana begitu bangga dengan anaknya ini.
Melisa begitu pintar dan juga dewasa, bukan berarti Melinda tak pintar mereka sama-sama pintar tapi Melisa lebih dewasa di umurnya yang baru saja 5 tahun.
"Dia sangat peduli dengan aku dan juga adiknya. Tolong jangan pernah kecewakan dia, dia sudah memberikan kesempatan untukmu jangan sampai dia nanti malah akan membencimu Adnan. Melisa itu lebih sulit untuk di rayu. Dia begitu keras sekali sama seperti mu "
"Tentu aku tidak akan lakukan itu, aku sudah bersungguh-sungguh tidak akan pernah menyakiti kalian lagi sampai kapanpun itu. Aku akan memperbaiki semuanya Ayana. Aku ingin selalu bersama kalian bertiga "
Ayana hanya menganggukkan kepalanya saja Ayana mengembalikan surat itu dan dia mengambil barang-barangnya juga "Ayana aku minta maaf"
Lagi-lagi kata maaf yang keluar dari bibir Adnan, Ayana rasanya sudah pusing dengan setiap kata yang dikatakan oleh Adnan dan pasti ujung-ujungnya akan ada kata maaf. Padahal Ayana ingin melupakannya kan.
"Kenapa kamu terus minta maaf sama aku, udah aku juga sedang berdamai dengan masa lalu itu, kamu juga harus kalau kamu ga berdamai yang ada kamu akan terus diam di tempat itu dan ga akan bergerak. Aku juga pengen lupain semua masa lalu itu. Udahlah lupain aja semuanya yang terpenting sekarang kan aku udah bahagia sama anak-anak, aku ga mau melihat kebelakang lagi "
Adnan masih tidak percaya kalau Ayana memaafkannya secepat ini. Dia kira akan mengejar Ayana sampai bertahun-tahun, tapi Ayana langsung memaafkannya dalam beberapa bulan. Meskipun dia sempat lari tapi Adnan merasa kalau semua ini seperti mimpi. Mimpi yang indah.
Adnan kembali melihat ke arah surat yang Melisa buat. rasanya lucu saja membuat surat seperti ini dengan anak kecil seperti Melisa dan bisa-bisanya dia meminta hal ini. Konyol saja tapi Adnan harus selalu mengikuti kemauan Melisa, Adnan kan sedang mendekati anak kecil nakal itu.
__ADS_1
Ayana yang melihat Adnan seperti itu percaya kalau Adnan sudah benar-benar menyesal, atas apa yang pernah dia lakukan. Ayana tahu bukan Adnan yang melakukan semua ini kekecewaan Ayana pada Adnan memang besar tapi Adnan bukan pelakunya kan.
Adnan mendongakan kepalanya dan menatap kembali Ayana "Ayana apa kamu yakin tidak akan pernah kembali ke kota kelahiranmu itu, kamu tak mau melihat bagaimana disana sekarang "
Ayana dengan cepat menggelengkan kepalanya dia tidak perlu berpikir panjang lagi kan, Ayana sudah memutuskan segalanya dari awal dan tak akan pernah kembali lagi "Aku tidak punya kenangan baik di sana untuk apa aku pulang, yang ada bukan kebahagiaan yang datang padaku hanya akan datang kesakitan saja. Semua rasa sakit itu dimulai di sana dan aku tidak mau memulainya kembali. Aku lebih nyaman di sini sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali ke sana dengan alasan apapun. Bukannya hal itu sudah aku tuliskan di surat perjanjian. Lalu kenapa kamu menanyakan hal ini lagi"
"Meskipun nanti aku bisa membuatmu jatuh cinta lagi, kamu akan tetap disini Ayana "
Ayana langsung mengerutkan keningnya "Kenapa kamu, takut kehilangan pekerjaan kamu perusahaan kamu, penghasilan kamu. Kalau kamu memang belum siap kenapa kamu harus datang padaku dan juga mengakui kalau anak-anak itu adalah anakmu. Kalau kamu memang ingin di sana ya silakan aku tidak pernah memaksa untuk kamu mengakui anak-anakku, bahkan kami bertiga sudah nyaman seperti ini jika kamu ingin kembali silakan dan surat perjanjian kita, kita batalkan saja"
"Mumpung semuanya belum terlalu jauh kan, dan Melinda juga belum tahu jadi kamu bisa pergi. Untuk Melisa biar aku yang urus dia pasti akan mengerti nanti"
"Tidak maafkan aku, aku hanya ingin kamu bisa kembali ke sana dan kita memulainya dari awal hanya itu saja. Aku tidak bermaksud apa-apa maafkan aku sekali lagi Ayana, aku tak akan berbicara lagi tentang hal itu aku benar-benar minta maaf Ayana "
"Aku minta maaf Ayana. Aku tidak akan bertanya lagi tentang itu, aku tidak akan membuatmu marah lagi seperti ini. Aku berjanji padamu "
Ayana acuh dia mengambil tasnya, tapi Adnan langsung menghalanginya "Mau ke mana kamu, kenapa tiba-tiba pergi seperti ini aku minta maaf kata-kataku sampai menyinggung mu seperti ini. Jangan tinggalkan aku Ayana "
"Aku mau menjemput anak-anak, sudah jangan halangi jalanku aku ingin menjemput mereka. Awas Adnan"
"Aku antar ya kita pergi sama-sama ke sana, kita jemput mereka. Pasti Melisa dan juga Melinda akan senang sekali "
__ADS_1
"Tidak mau, aku bisa pergi sendiri tanpa kamu antar pun aku akan sampai di sekolah anak-anak. Tak usah peduli lagi dengan kami "
Adnan langsung menggenggam tangan Ayana, tapi Ayana dengan keras melepaskannya "Sudah aku bilang kan jangan pegang aku seperti ini, kita ini sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Kita ini hanya ingin menjadi orang tua kan tidak ada hubungan apa-apa lagi lepaskan. Aku yang menjemput anak-anak jangan halangi jalanku, dan jangan ikuti aku Adnan, aku sudah terbiasa sendirian"
Ayana langsung saja pergi meninggalkan Adnan begitu saja di toko. Rasanya kesal sekali pada Adnan, baru saja mereka akan memulai tapi Adnan sudah membicarakan tentang pulang.
Ayana sungguh tidak mau mengingat tempat itu, Ayana tidak mau kembali ke sana sampai kapanpun, mau Adnan membujuknya sampai dia bersujud pun Ayana tidak akan pernah mau, dia tidak mau kembali ke tempat itu rasanya akan kembali sakit hatinya, mungkin akan lebih. Ayana tidak mau mengulangi hal itu.
Ayana juga tak mau bertemu dengan keluarganya. Ayana takut keluarganya menyakiti anak-anaknya. Ayana benar-benar takut kehilangan anak-anaknya ini, keluarganya sangat jahat dan bisa melakukan apa saja demi uang.
Adnan sendiri mengusap wajahnya dengan kasar. Dia lupa kalau Ayana yang sekarang dan yang dulu itu sangat berbeda sekali. Ayana yang sekarang penuh emosional sedangkan yang dulu sangat tenang dan juga gampang untuk diajak bicara. Bahkan gampang untuk diatur.
Seharusnya Adnan tidak menyamakan Ayana yang dulu dan sekarang. Apakah Ayana akan membatalkan surat perjanjian itu, tidak tidak Adnan tidak mau sampai itu terjadi, Adnan tidak mau kehilangan Ayana dan juga kedua putrinya lagi.
Nenek yang memang masih ada di sana mendekati cucunya itu "Jangan terburu-buru dalam mengambil sesuatu Adnan, sudah tahu Ayana itu masih terluka meskipun dia mengatakan kalau dia baik-baik saja dan sudah memaafkanmu, tapi kita tidak tahu kan di dalam hatinya akan seperti apa. Pelan-pelan saja Adnan jangan gegabah "
"Iya nek Adnan salah, seharusnya Adnan tidak terburu-buru seperti itu, Adnan benar-benar bodoh seharusnya Adnan melakukannya dengan perlahan bukannya malah tiba-tiba langsung mengatakan hal itu. Ya jelas Ayana akan marah tapi nenek bisa kan yakinkan Ayana untuk tidak pergi meninggalkanku. Aku benar-benar tidak mau ditinggalkannya aku benar-benar ingin memulainya dari awal lagi, aku tadi tak sengaja "
"Nenek tidak bisa melakukan apa-apa semua keputusan ada di tangan Ayana, nenek tidak mau terlalu ikut campur dalam keputusan yang Ayana ambil, nenek tidak mau seperti mengatur-ngatur hidup Ayana. Di sini nenek hanya ingin menemaninya saja. Nenek juga tidak akan lama nenek juga harus segera pulang, kamu jika ingin mengejar Ayana harus dengan sabar dan jangan terburu-buru seperti tadi pada akhirnya seperti ini kan. Fatal akibatnya Adnan "
"Iya nek, aku tahu aku salah seharusnya aku tidak seperti ini"
__ADS_1
Adnan melangkah pergi dari toko, Adnan sekarang jadi galau takut Ayana meninggalkannya. Adnan tak akan sanggup kalau itu sampai terjadi. Adnan harus mengejarnya kemana lagi nanti kalau Ayana pergi lagi.