
"Ayah kapan kita akan keluar, lihat hujan tak reda-reda hari juga makin sore. Kita akan bisa main Ayah "rengek Melinda yang dari tadi diam didepan jendela sampai menempelkan wajahnya itu.
Ayana yang melihat tingkah anaknya itu tertawa, Ayana menarik anaknya untuk duduk di pangkuannya itu "Kamu ini ya kenapa begitu mengemaskan, bagaimana kalau kita istirahat saja "
"Hemm, tapi Mama aku mau main ayunan, tapi kenapa cuaca ini tak mendukung sekali "
"Mau bagaimana lagi sayang, namanya juga sudah hujan kita tak bisa menolaknya. Ini kan rezeki dari Allah seharusnya kita senang dan mensyukurinya"
Melinda malah makin cemberut, Melinda menatap Ayahnya lagi "Benar apa kata Mama kamu Melinda, kita harus mensyukuri semua ini. Tapi Ayah janji nanti kita akan jalan-jalan kebun binatang bagaimana "
"Emm, boleh apakah akan banyak hewannya ayah "
"Tentu saja akan banyak hewannya nanti kita pergi kesana"
"Baiklah "
Melinda pasrah dan menatap kearah jendela luar lagi. Melinda juga tak mungkin kan memaksa orang tuanya untuk hujan-hujanan nanti malah akan sakit lagi.
"Aku akan menemui nenek dulu, kamu jaga anak-anak Adnan "
"Iya istriku, kamu bisa tenang "
Ayana langsung mendelikan matanya "Aku bukan istrimu ingat jangan sampai aku mendengar itu lagi "
"Iya galak banget sih kaya Melisa "
"Hey paman kenapa kamu membawa-bawa aku "
Adnan hanya tersenyum lebar saja sambil memeluk anak bungsunya ini. Memang Melinda saja yang tak gampang marah.
Ayana melangkah keluar dari dalam ruangan itu, para pelayan yang berpapasan dengannya langsung membungkuk. Ayana yang tak biasa tak enak sekali. Saat entah pelayan ke berapa akan membungkuk Ayana langsung menahannya.
"Jangan seperti itu, biasa saja kalau bertemu dengan aku "
"Maaf nyonya ini sudah perintah dari nyonya besar. Saya permisi nyonya "sambil membungkuk lagi.
Ayana kembali berjalan saat pelayan itu sudah menjauh, Ayana mencari keberadaan nenek yang ternyata sedang menatap bunga-bunga.
"Nenek "
__ADS_1
"Ayana kemarilah sayang "
Ayana mendekati nenek dan mereka duduk berhadapan. Lalu nenek menyuruh salah satu pelayan untuk membuatkannya teh dan juga membawa makanan ringan.
"***** sebenarnya apa yang terjadi, sampai-sampai kamu menelpon Adnan. Saat aku menelponmu kamu tidak mengangkatnya sama sekali aku begitu khawatir dengan keadaan kamu "
Nenek tersenyum dan menggenggam kedua tangan Ayana "Nenek hanya ingin kamu datang kemari, nenek ingin bersama kamu Ayana. Nenek sudah pernah bilang kan suatu saat kamu akan kemari dan nenek ingin memberikan sesuatu padamu"
Nenek mengambil sesuatu dari dalam saku pakainya itu, terlihat sebuah kotak kecil dan saat dibuka cincin yang begitu indah. Nenek memberikannya pada Ayana.
"Ini adalah cincin turun temurun dari keluarga nenek kamu pakai ya"
Ayana langsung memberikan kembali cincin itu "Aku tidak berhak untuk menerima ini, nenek lebih baik nanti berikan saja pada istrinya Adnan. Aku ini bukan siapa-siapa nenek aku hanya orang yang kebetulan dekat dengan nenek saja"
Nenek malah memakainya ke jari manis Ayana "Lihat cantikan, sudah pas di jarimu, kata siapa kamu bukan siapa-siapanya Nenek. Kita berdua sudah sepakat kan kalau kita berdua ini keluarga, maka nenek berhak untuk memberikan cincin ini padamu Ayana, jaga cincin ini baik-baik, ini sesuatu yang berharga bagi nenek, simpan ya Ayana jangan lepaskan jangan menolak juga "
Ayana mau tak mau menerimanya, Ayana sungguh tak enak sekali.
"Jangan merasa tidak enak, ini sekarang menjadi milikmu nenek juga akan mengalihkan sebagian harta nenek untukmu, di perusahaan Adnan sebagian adalah milik mu Ayana. Nenek sudah mengurus semuanya dan kamu tak boleh menolaknya "
"Tidak jangan Nek, kenapa nenek melakukan ini pada Ayana. Adnan yang lebih berhak menerima semua ini nenek "
Ayana menundukan kepalanya dan menangis, bukan apa-apa ibunya sendiri tak peduli padannya tapi nenek begitu peduli. Ayana begitu terharu dengan apa yang nenek lakukan.
"Nenek kenapa kamu baik sekali dengan aku " Ayana lagi menanyakan hal itu.
Nenek mengusap air mata Ayana "Karena kamu sudah nenek anggap seperti anak nenek sendiri. Jadi jangan pernah sungkan atau apapun pada nenek seperti apa yang pernah nenek katakan ya "
Mereka berdua berpelukan. Ayana akan selalu menjaga kepercayaan nenek. Ayana tak akan pernah mengecewakan nenek sampai kapan pun itu.
...----------------...
"Apa saja yang ingin kalian berdua lihat nanti disana. Siapa tahu ada hewan yang menarik untuk kalian berdua "
"Melinda ingin melihat monyet Ayah, monyet itu kan pandai naik ke atas pohon, lalu dia juga suka pisang. Melinda suka kalau melihat monyet itu naik-naik ke atas pohon, lalu memakan pisangnya, bahkan monyet bisa membuka kulit pisangnya sendiri, sangat lucu sekali Melinda ingin punya satu, tapi kata Mama tidak boleh "
"Hemm, benar apa kata Mama kamu lebih baik melihat saja dari kejauhan itu akan lebih baik sayang " Adnan menatap Melisa yang diam saja "Lalu kamu mau lihat apa Melisa ? "
Melisa menatap Ayahnya sekilas, lalu mengelengkan kepalanya "Aku, tidak ada yang mau kau lihat"
__ADS_1
"Kenapa kamu sangat menyebalkan Melisa "
"Apa kenapa aku sudah menjawab pertanyaan dari Paman kan. Paman bertanya aku ingin melihat apa aku sudah menjawabnya, aku tidak mau melihat apa-apa"
"Sungguh menyebalkan sekali "
"Biarin "
Adnan mencubit pipi Melisa saking gemas dan juga kesal dengan Melisa yang selalu saja ketus padannya. Kapan Melisa bisa membuka hatinya untuknya. Ibunya saja sudah sedikit-sedikit membuka hatinya tapi anaknya ini kenapa sangat sulit sekali.
"Sakit Paman, kamu tak berhak untuk mencubit pipiku ini "sambil mengusap-usap pipinya yang di cubit oleh Adnan.
"Kamu ini pelit sekali hanya ingin mencubit pipimu yang gemuk itu apa salahnya, tidak ada yang salah"
"Tidak boleh, Paman tidak boleh melakukan itu hanya Mama saja yang boleh mencubit pipiku. Pipiku ini mahal Paman jadi jangan pernah cubit pipiku lagi, nanti kalau pipiku ke bawah turun bagaimana itu akan sangat menyebalkan" sambil melipat tangannya.
"Ya bagus kalau pipimu itu turun "
"Tidak, itu tak bagus, apakah Paman sangat suka sekali berdebat denganku"
"Yah ayah suka berdebat dengan kamu. Ayah suka melihat kamu marah " sebenarnya Adnan hanya ingin lebih akrab saja lagi dengan Melisa tak mau saling diam seperti ini.
...----------------...
"Bagaimana apakah kue buatan Ayah enak "
Kamila mencicipi kue ya dulu, lalu Kamila tersenyum dan menganggukan kepalanya "Emm, enak juga paman aku suka sekali. Kenapa paman bisa segalanya. Paman itu kan laki-laki kenapa semuanya bisa"
"Di rumah Ayah itu pelayan semuanya perempuan dan koki juga perempuan, apa selama ini Paman memang suka memasak seperti perempuan"
Sebenarnya Adnan tidak bisa memasak, dia hanya belajar untuk anaknya saja. Bahkan Rio masuk kelas memasak bukannya dia tidak mau mempekerjakan seseorang di rumahnya.
Hanya saja Rio ingin lebih fokus dengan Kamila. Kalau untuk masalah orang yang beres-beres memang Rio menyuruh orang yang nanti sore pulang pagi datang sore pulang begitu.
"Emm ayah belajar agar bisa memasak untuk kamu "
"Wah hebat sekali paman ini "
Rio mengusap rambut anaknya, dan ikut mencicipi kue yang dia buat. Ini untuk pertama kalinya Rio membuat kue dan rasannya enak, ya meskipun kuenya itu tak sempurna tapi yang terpenting rasannya kan.
__ADS_1