
Kamila menangis sejadi-jadinya saat Ayahnya tadi pergi begitu saja. Kamila bahkan sampai mencakar kakeknya karena kesal.
"Aku ingin bersama Ayah aku tidak mau di sini, aku tidak mau bersama kakek aku ingin bersama ayah. Tolong antarkan aku kepada Ayah. Kakek aku tidak mau disini, aku mau pulang bersama Ayah "
Papihnya Fira dengan sekuat tenaga menahan tubuh Kamila, takut malah terjatuh. "Jangan seperti itu ayahmu sedang bekerja, dia harus bekerja sudah diam di sini bersama kakek sama saja kan kakek dengan ayah tidak ada bedanya"
"Tidak, aku tidak mau, aku mau bersama Ayah aku mau Ayah kakek, aku mau Ayah "
Tangisannya sampai sudah sesenggukan. Kamila yang sudah lemas menangis, menyenderkan kepalanya di bahu Kakeknya "Aku tidak mau punya adik, aku mau Ayah saja Ayah mau membawa anak itu. Aku tidak mau aku tidak mau"
"Mau bagaimanapun mereka itu adalah anak ayahmu, jadi jangan kamu mau serakah disayangi oleh ayahmu sendiri. Kamu harus bisa menerima Kamila mau bagaimanapun mereka adalah adikmu kamu harus mengerti"
"Tidak aku tidak mau, aku tidak mau, aku ingin bertemu dengan Ayah jangan tahan aku seperti ini Kakek, aku ingin bertemu dengan Ayah. Aku hanya ingin Ayah saja lepaskan aku, aku ingin pulang "
"Selamat malam om "
Pandangan Papihnya Fira langsung tertuju pada laki-laki yang ada dihadapannya. Papihnya Fira memberikan Kamila pada pengasuh meski tangisnya kembali lagi terdengar.
"Masuklah Rio. Aku ingin berbicara denganmu. Aku benar-benar kecewa denganmu, sungguh aku tak habis fikir dengan kamu "
Rio yang bingung dia tidak menjawab apa-apa hanya mengikuti papihnya Fira yang masuk ke dalam. Rio tidak tahu tiba-tiba saja dia dipanggil kemari oleh orang-orang Papinya Fira katanya ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan.
Setelah mereka duduk, barulah papih nya Fira berbicara"Kenapa kamu waktu itu tidak menikahi anak saya saat kamu tahu kalau Fira sudah hamil anak kamu. Kamu malah membebankan semuanya pada Adnan. Memangnya dia ayahnya bukan kan"
Rio menghela nafasnya dia sudah tahu Pasti kedepannya akan seperti ini "Aku sudah akan bertanggung jawab, akan menikahi Fira tapi dia sendiri yang tidak mau aku nikahi, dia hanya ingin menikah dengan Adnan dia mengatakan kalau aku akan terus bertemu dengan anakku Kamila. Maka aku setuju karena dia tidak mau aku nikahi, aku harus bagaimana Om aku pun ingin berbicara padamu tapi Fira terus saja mengancamku kalau aku sampai berbicara pada Om dia akan menggugurkan anakku, jadi aku tidak punya pilihan tolong mengertilah posisi aku saat itu, aku juga tidak mau seperti ini aku juga mau hak asuh anakku"
"Sekarang Adnan sudah tahu kalau Kamila bukan anaknya. Bahkan dia sedang tes DNA. Fira sendiri yang berbicara padaku kalau kamu adalah ayahnya"
Rio tersenyum senang mendengar semua itu, berarti sekarang dirinya bisa bertemu dengan Kamila kan. Tanpa harus menyamar lagi.
"Tapi Adnan belum memutuskan apakah dia akan melepaskan Kamila atau tidak, karena Adnan ingin mengurus Kamila dia belum memutuskan apa-apa hanya dia sedang tes DNA saja"
Senyum Rio langsung pudar rasanya apa yang tadi dia rasakan langsung hilang. Adnan sudah tahu kalau Kamila bukan anaknya, tapi kenapa dia tidak mau melepaskan anak itu "Tapi aku akan mengurusnya, aku janji akan mengurusnya dengan baik. Tolong berikan Kamila padaku mau bagaimanapun aku ini adalah ayahnya. Aku ingin dia bersamaku"
"Kamu bicara saja bersama Adnan, bagaimana baiknya aku hanya ingin menanyakan alasan kenapa kamu tidak menikahi anakku. Aku sangat kecewa dengan kamu apapun itu alasannya"
Rio hanya bisa pasrah saja mau bagaimana lagi itu kemauan Fira. Rio sekarang akan mempertahankan anaknya nanti Rio akan bertemu dengan Adnan dan meminta hak asuhnya. Rio tidak akan pernah melepaskan anaknya lagi , sudah cukup dia diperalat oleh Fira.
__ADS_1
Rio tak akan mau lagi dipermainkan oleh Fira. Sudah cukup sampai disini saja. Tak akan ada drama baru lagi. Rio akan mengurus anaknya, dan untuk istrinya akan Rio beritahu pelan-pelan semoga saja dia mau menerima Kamila dan menganggap Kamila sebagai anaknya sendiri.
...----------------...
Ayana yang ingin menghirup udara malam keluar dari dalam rumah. Anak-anaknya sudah tertidur. Sebelum keluar tadi Ayana sudah melihat keadaan anaknya dan mereka berdua sudah tertidur dengan nyenyak.
Ayana melihat ombak yang tenang, angin pantai malam begitu menusuk kulit Ayana. Tiba-tiba saja ada yang menyelimuti Ayana. Ayana mendongakan kepalanya ternyata itu Melisa.
"Melisa kenapa bangun. Bukannya tadi kamu sudah tidur kan. Mama sudah lihat loh kalau kamu tidur kenapa tiba-tiba kemari sayang" tanya Ayana dengan lembut.
Melisa duduk di samping Mamanya dan menyelimuti tubuhnya sendiri "Melisa tadi terbangun dan melihat ke dalam kamar Mama tidak ada, saat melihat pintu terbuka sedikit Melisa kemari dan melihat Mama yang sedang melamun sendirian, kalau Mama ingin cerita, cerita saja pada Melisa. Melisa ini sudah dewasa jadi Melisa bisa mengerti apa yang akan Mama ceritakan. Jangan takut Melisa akan menyimpan rahasia Mama dari siapapun "
Ayana tersenyum mendengar penuturan anaknya ini, padahal Melisa ini baru 5 tahun tapi pikirannya ini sudah dewasa "Emm, sedewasa apa ya anak Mama ini"
"Dewasa sekali Mama. Aku bisa merasakan apa yang Mama rasakan "sambil menggenggam tangan Mamanya.
"Kamu masih berumur 5 tahun sayang"
"Iya aku tahu, tapi aku sudah mengerti segalanya. Kalau Mama mau bercerita maka berceritalah, Melisa adalah pendengar yang baik"
Ayana memeluk anaknya dengan erat, "Mama senangkan tinggal disini "
"Jika Mama masih sakit hati oleh laki-laki itu bicara pada Melisa, Melisa akan membalasnya. Melisa tidak mau melihat Mama sedih. Sudah cukup kesedihan Mama itu"
"Memangnya siapa yang sudah membuat Mama sedih. Mama sama sekali tidak sedih sayang Mama selalu tersenyum"
"Mama mungkin di depan kami berdua selalu tersenyum, tapi kalau di belakang Mama pasti selalu menangis jika Mamah memang benci pada laki-laki itu maka hajar saja dia jangan pernah takut-takut, kalau perlu Melisa yang akan membantu Mama "
"Siapa yang kamu maksud sayang "
"Adnan, laki-laki itu yang sering muncul ditelevisi dan Mama kalau ada wajah laki-laki itu pasti langsung dialihkan "
Raut wajah Ayana langsung berubah "Mama sudah bilang kan jangan pernah sebut nama itu lagi, Mama sudah tidak mau mengingat-ingatnya lagi. Itu adalah masalah orang dewasa nanti suatu saat Mama akan bercerita padamu, tapi untuk sekarang ini belum saatnya kamu harus menjadi anak yang sama seumuran denganmu, kamu hanya perlu fokus belajar dan itu sudah membuat mama senang. Maka jangan pernah sebut nama laki-laki itu lagi ya"
Melisa diam, dia tak menjawab. Membalas pelukan Mamanya itu. Melisa sangat khawatir sekali dengan keadaan Mamanya ini.
Pandangan Ayana langsung fokus ke arah mobil yang tak jauh darinya, mobil siapa itu kenapa ada sebuah mobil yang terparkir di sana tidak seperti biasanya kan.
__ADS_1
Perasaan Ayana tiba-tiba menjadi tak enak. Ayana segera membawa anaknya masuk kedalam rumah. Siapa itu apakah orang yang memata-matainya.
"Mama kenapa, ada apa dengan Mama "
Ayana mengunci pintunya dan menuntun anak ya masuk kedalam kamarnya. "Bukan apa-apa lebih baik sekarang kamu tidur ya, temani adik kamu tidur nanti kalau dia bangun dan tak ada kamu malah akan menangis kan"
Melisa masih belum beranjak menatap Mamanya yang masih ketakutan "Ada apa Mama apakah di luar ada orang jahat"
"Tidak ada, tidak ada siapa-siapa Mama hanya tadi kedinginan saja sudah ya sekarang kita istirahat kamu temani adik kamu tidur "
Kamila akhirnya mengalah saja dia masuk ke dalam kamar dan Ayana masih diam di ruang tengah. Ayana masih memikirkan siapa orang itu yang ada didalam mobil itu. Ayana harus selalu was-was Ayana tak mau sampai kecolongan.
Ayana masuk kedalam kamar, membuka jendelanya dan mobil itu masih terparkir disana. Ayana yang ketakutan sama sekali tak mau tidur dia akan terus terjaga. Takut-takut orang yang ada didalam mobil itu akan membahayakan keluarganya.
Sedangkan orang yang sedang ada di mobil adalah Adnan. Dia mengerutkan keningnya saat melihat Ayana yang tiba-tiba masuk kedalam rumah.
"Ada apa dengan Ayana. Kenapa dia tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Padahal aku masih belum puas melihat mereka berdua. Itu pasti Melisa yang bersama Ayana"
"Kita akan pulang kapan Pak, apakah kita akan terus disini "
"Ya sudah kita pulang saja nanti pagi kita kemari lagi, aku juga mengantuk ingin istirahat dulu "
"Baik Pak "
Adnan pergi dari sana meskipun dia masih ingin di sini melihat anaknya dan juga Ayana, tapi sekarang mereka sudah masuk kedalam rumah. Adnan melihat jam tangannya ternyata sudah malam juga. Tak terasa ya waktu berjalan dengan cepat sekali.
Ayana yang sudah melihat mobil itu pergi menjauh bernafas lega, sekarang Ayana bisa beristirahat besok dia tidak boleh sampai telat anak-anaknya juga harus sekolah.
Ayana membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya. Semoga saja itu bukan orang yang akan jahat padannya. Ayana tidak mau sampai keluarganya di usik sudah cukup kesakitan yang Ayana rasakan jangan bertambah lagi.
...----------------...
Kamila sekarang malah sakit, badannya panas sekali. Papanya Fira binggung harus melakukan apa, tadi sudah memanggil dokter kemari dan sudah diperiksa. Kamila sekarang mengigau terus, memanggil-manggil ayahnya.
"Bagaimana ini, Kamila begitu tergantung pada Adnan, sedangkan Adnan sendiri bukanlah Ayahnya aku juga bingung harus bagaimana berbicara pada anak sekecil ini kalau Adnan itu bukanlah Ayahnya yang sebenarnya pasti dia akan terpukul sekali dengan kabar ini"
"Ayah Ayah aku ingin bersama ayah ayah"
__ADS_1
"Apa aku harus menelepon Adnan, tapi itu akan mengganggunya kasihan dia sedang fokus untuk mengambil hati anak-anaknya lagi, aku malah membebankan nya dengan Kamila sudahlah mungkin nanti pagi juga dia akan baik-baik saja"
Papinya Fira keluar dari kamar cucunya itu. Sebenarnya tubuhnya ini begitu lemas sekali dan sudah waktunya beristirahat tapi cucunya sedang sakit tak akan bisa tidur dengan nyenyak juga kan.