
Ayana dan juga Melisa keluar, Ayana juga sudah membawa tas anaknya isinya tentu saja pakaian selama disana.
Adnan langsung mendekati ibu dan anak itu mengusap rambut Melissa "Dia mau pergi denganku"
"Iya Melisa mau, ini aku sudah mengemas pakaiannya"
"Memangnya kamu tidak takut ikut dengan ayah "tanya Adnan ingin memastikan, tapi dari raut wajahnya terlihat kalau Melissa sama sekali tidak tertekan atau merasa dipaksa untuk pergi dengannya.
"Kenapa aku harus takut ikut dengan paman, kalau paman macam-macam aku bisa langsung menelpon nenek buyut atau tidak aku langsung lari saja lapor polisi. Tidak ada yang ditakutkan dari Paman ini, waktu aku kejar saja paman takut kan"
"Hemm, dasar anak sombong " Adnan rasanya ingin mencubit pipi Melisa, tapi dia urungkan kalau sampai Melisa menangis tidak akan jadi ikut "Baiklah sekarang kita pergi"
"Ayo "ucap Melisa sambil menggapai tangan Adnan
"Tolong perhatikan Melisa Adnan, jangan abaikan Melisa terlalu lama "
"Iya iya sayang, aku tahu aku akan memperhatikan anak pertamaku ini yang begitu cantik cerewet dan pemarah "
"Hati-hati "
Ayana berjongkok dan memeluk anaknya "Di sana jangan nakal-nakal, kalau Paman Adnan berbicara itu dengarkan ya jangan kamu bantah selagi itu baik. Mama ingin kamu selalu mengikuti paman Adnan"
"Iya Mama sayang, aku pergi dulu ya. Mama di sini bersama Melinda baik-baik juga ya "
"Iya pasti sayang "
Melisa mendekati adiknya dan memeluknya dengan erat "Aku tidak akan lama hanya satu minggu saja, setelah itu aku dan juga Paman akan pulang. Kamu jangan rewel di sini jangan membuat susah Mama juga, kalau diberitahu sama mama itu harus dengerin nggak boleh bantah. Jangan main jauh jauh juga, nanti mama pusing cari kamu lagi "
"Iya Kakak aku tunggu ya, pasti aku akan sangat merindukan kakak"
"Aku pun pasti akan merindukanmu, nanti kapan-kapan kita pergi bersama-sama. Untuk sekarang aku saja dulu yang pergi aku akan mengecek segalanya, apakah rumah paman akan layak untuk kita tempati dan apakah di sana nyaman"
Adnan yang mendengar semua itu lantas mendengus, rumahnya layak tentu saja layak anak ini ya Melisa benar-benar selalu membuatnya ingin mengomel.
"Iya Kakak nanti kalau misalnya sudah di sana Kakak telfon ya, aku juga mau lihat rumah Ayah nanti kakak keliling keliling "
__ADS_1
"Iya "
Mereka berdua melepaskan pelukannya, Adnan dan juga Ayana senang melihat anak-anaknya yang akur seperti ini, mereka berdua memang saling membutuhkan apalagi mereka berdua ini adalah anak kembar.
"Aku pergi " Adnan langsung mencium bibir Ayana dan pergi begitu saja sambil memangku Melisa, Adnan tidak mau sampai dimarahi oleh Ayana. Jadi dia langsung kabur saja tas tentu saja sudah dibawa tidak mungkin Adnan meninggalkannya.
"Paman kamu tidak sopan mencium mamaku"
"Diamlah, Mama mu juga tak marah "
Melisa melipat tangannya, Ayahnya ini memang tidak sopan padahal ada anak kecil tapi mencium mamanya seperti itu. Mereka sudah ada di dalam mobil, Adnan memasangkan sabuk pengaman, Melisa tidak bisa berkutik kalau sudah bersama ayahnya hanya berdua, tidak akan ada yang membelanya tapi Melisa akan terus melawan ayahnya jika ayahnya menyebalkan.
"Paman kenapa Paman selalu saja tersenyum seperti itu, menyebalkan sekali senyum Paman itu "
Adnan menatap sekilas anaknya Melisa. Dia sedang menyetir Adnan senyum-senyum karena senang bisa membawa Melisa, Adnan ingin hubungannya dengan Melisa baik-baik saja.
"Kenapa memangnya, aku ingin tersenyum apa ada yang salah"
"Kamu ini aneh paman"
"Apa paman ingin menculik aku "
"Kalau aku ingin menculikmu Melisa untuk apa aku izin kepada Mamamu, kalau aku mau sudah aku bawa dari kemarin-kemarin kamu itu"
"Menyebalkan sekali Paman ini, mentang-mentang tidak ada Mamah makannya berani seperti ini"
"Tidak juga, aku selalu berani pada kamu Melisa"
"Aku marah padamu Paman, aku tidak mau bicara"
Melisa menatap keluar jendela, Adnan yang melihatnya tersenyum. Adnan suka sekali kalau berdebat dengan Melisa ya meskipun tidak penting-penting sekali perdebatan mereka ini, tapi Adnan suka saja Adnan tidak sabar untuk memperlihatkan pada orang-orang kalau inilah calon penerusnya nanti, kalau inilah darah dagingnya yang sebenarnya.
Seluruh dunia harus tahu, Melisa akan meneruskannya nanti, meskipun dia perempuan tapi Adnan akan tetap memberikan kuasa pertama pada Melisa.
...----------------...
__ADS_1
Selama perjalanan Melisa menikmatinya, dia sama sekali tak rewel Melisa juga banyak bertanya pada Adnan, Melisa suka berbicara dengan Adnan karena Adnan selalu menjawab semuanya.
Melisa langsung turun dari kursi setelah lepas landas dan boleh tidak mengunakan sabuk pengaman.
Adnan tetap duduk di kursinya, dia terus fokus pada pekerjaannya dan membiarkan Melisa untuk berlarian. Melisa begitu senang, kalau bersama mamanya pasti akan dilarang tapi kalau bersama ayahnya dibebaskan seperti ini. Melisa melihat ke sana kemari dia begitu kagum dengan semua yang ada di dalam pesawat ini"
Melisa naik ke kursi di samping ayahnya, Melisa melihat awan dari kaca "Awannya begitu bagus sekali, warnanya sangat cantik. Lihatlah Paman kamu jangan terus fokus bekerja awannya sangat banyak dan besar-besar "
Adnan menyimpan laptopnya dan memeluk perut Melisa, lalu melihat apa yang anaknya lihat "Ya cantik sepertimu"
"Aku ini bukan mama jadi Paman jangan terus menggombal, di sini hanya ada Melisa tidak ada Mama ya "
"Kamu memang benar-benar cantik, sama seperti mama kamu"
"Laki-laki itu memang suka menggombal"
"Hemm, ya nggak apa-apa dong Ayah kan gombal sama anak sendiri emang ada yang salah " Adnan mencium pipi Melisa, dan Melisa sama sekali tak marah atau menghapus bekas bibirnya itu.
"Sudahlah lihatlah Paman awannya, apakah bisa dipegang awan itu kenapa sangat indah. Aku ingin memegangnya boleh kan paman bisa mengabulkannya kan "
"Kamu pernah ada di tengah-tengah kabut ?"
"Pernah saat pagi-pagi selalu ada kabut"
"Iya begitulah rasanya memegang awan, awan itu sebenarnya tidak benar-benar bisa dipegang, dari jauh kabut akan terlihat seperti awan"
"Kenapa sangat membingungkan, apakah kabut itu adalah awan yang jatuh dari langit apakah bisa jatuh memangnya awan, paman ini bagaimana sih penjelasannya membuat aku pusing saja"
Adnan malah tertawa mendengar semua itu, anaknya ini benar-benar ingin tahu saja "Tentu saja awan tidak bisa jatuh Melisa, karena kandungan airnya sedikit, awan akan jatuh menjadi tetesan-tetesan hujan, sedangkan kabut akan menguap menjadi air di daun-daun, bunga-bunga lalu banyak lagi. Tapi pada dasarnya mereka sama saja sih"
Melisa menyandarkan tubuhnya di dada ayahnya "Paman sepertinya harus mulai sekolah lagi, karena penjelasan Paman itu selalu saja membuat aku pusing, kalau memang sama kenapa Paman harus menjelaskan secara terperinci seperti itu"
"Ya agar kamu tahu, ayah ingin kamu tahu perbedaannya meski mereka sama "
Melisa mengangguk anggukkan kepalanya saja.
__ADS_1