Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 134


__ADS_3

Mereka sudah selesai sarapan, mereka bergandengan tangan untuk pergi ke kantor. Adnan tidak mungkin meninggalkan Melisa begitu saja di rumah, dia akan terus membawa Melisa kemanapun dia pergi.


Di depan rumah sudah ada ayahnya Fira, Adnan sampai kaget melihatnya, kenapa coba pagi-pagi sudah ada disini. Adnan benar-benar tak habis fikir saja.


Adnan terus maju dan mendekatinya "Ada apa Om datang kemari pagi-pagi sekali, sepertinya ada yang ingin dibicarakan dan sangat penting sekali "


"Bukannya kamu sudah janji untuk bertemu dengan anakku Fira. Tolong sekali lah bertemu dengannya, aku tidak akan mengacaukan hidupmu kalau kamu mau bertemu dengannya "ucap Papinya Fira sambil melihat Melisa yang digandeng oleh Adnan, dia yakin kalau anak inilah anak Adnan dan juga Ayana tapi cuman ada satu.


Katanya anak mereka kembar kan, kenapa ada satu. Apa mungkin Adnan membawa kabur anaknya tapi tak mungkin mereka kan baru pulang liburan jadi tak mungkin Adnan setega itu hanya mengambil 1 anaknya saja.


Adnan menatap anaknya Melisa, kalau dia bawa Melisa apakah Fira tidak akan menyerangnya, takut kalau Fira akan tiba-tiba marah pada Melisa dan juga membuat Melisa takut di sana, apa lebih baik Melissa ditinggal saja di rumah.


Adnan tidak mau terjadi apa-apa dengan anaknya dan takut kalau anaknya nanti trauma pergi-pergian bersamanya, Fira kan sedang sakit, tapi sakit yang bisa menyerang siapa saja, Fira bisa saja nanti mengamuk disana.


"Baiklah aku akan menemui Fira tapi tidak hari ini, aku sedang banyak pekerjaan, aku akan datang nanti tapi entah kapan, aku akan menemui anakmu saja "


"Aku minta tolong hari ini hanya sebentar temui dia, jelaskan semuanya olehmu apa sebenarnya yang terjadi agar dia tidak seperti itu. Aku ingin anakku sembuh seperti semula Adnan. Aku ingin dia menjadi Fira yang semula tidak seperti ini tolong kalau aku tidak meminta bantuan padamu aku harus minta bantuan kepada siapa lagi, hanya kamu saja yang bisa menyadarkan Fira menyembuhkan Fira lagi "


"Baiklah biarkan aku berbicara dengan anakku dulu, baru aku akan memutuskan semuanya"


Papihnya Fira hanya menganggukkan kepalanya, Adnan membawa Melisa ke arah yang sedikit jauh dari Papinya Fira "Itu siapa ayah sepertinya dia sangat butuh bantuanmu dan yang disebutkan oleh kakek tadi itu siapa, apa kekasihmu yang sudah menunggumu lama ayah "


"Aku tidak punya kekasih, mamamu lah kekasihku. Aku akan menemui seorang teman tapi kamu jangan bicara yang aneh-aneh dengan mamamu, tadinya aku ingin membawamu Melisa tapi aku takut dia menyerang kamu, jadi untuk sekarang lebih baik kamu tak ikut dulu saja ya. Kamu dirumah saja ya sayang "

__ADS_1


"Menyerang aku, memangnya dia kenapa, apa dia jahat ayah "


"Dia punya penyakit dan penyakitnya itu bisa saja menyerang anak kecil makanya Ayah tidak mau membawa kamu, kamu tidak masalah kan di sini ditinggal di rumah nanti ayah akan kembali lagi ayah janji tak akan lama"


Melisa diam cukup lama berpikir, apakah Melisa harus membiarkan ayahnya pergi saja "Tapi apakah dia tidak akan menyerang Ayah nantinya, bagaimana kalau ayah sendiri nanti yang dia serang menakutkan sekali "tanya Melisa sambil mendongakkan kepalanya dan menatap mata ayahnya.


"Tidak akan dia tidak akan menyerang ayah, ayah pastikan itu dia tidak akan melukai ayah. Ayah akan pulang dengan keadaan utuh dan baik-baik saja Melisa"


"Aku akan tunggu ayah di rumah saja. Ayah selesaikan dulu masalah Ayah dengan bibi itu, semoga saja masalahnya cepat selesai dan ayah bisa kembali ke rumah dan menyelesaikan pekerjaan dengan sangat cepat, agar kita bisa cepat-cepat menemui Melinda juga bersama mama kan"


"Baiklah memang anak pintar anak ayah ini, ayo masuk ke dalam rumah ayah akan mengantarkanmu ke dalam rumah dulu, setelah itu ayah akan pergi "


"Tidak masalah ayah aku bisa masuk sendiri, aku tidak masalah ayah langsung pergi saja takutnya bibi itu memang sangat membutuhkan Ayah, seperti apa yang dikatakan oleh kakek tadi, takutnya nanti penyakitnya akan kambuh ayah "


Adnan menggelengkan kepalanya dia tetap menggendong Melisa dan membawanya masuk, Adnan memanggil kepala pelayan untuk menemani anaknya di sini. Tak mungkin Adnan meninggalkannya begitu saja, Adnan harus menitipkan anaknya ini.


"Baik Pak aku akan menjaganya dengan baik"


Adnan memberikan Melisa pada kepala pelayan itu, Adnan mencium kening Melissa terlebih dahulu dan pergi meninggalkan anaknya bersama kepala pelayan. Adnan harus menyelesaikan semua masalah yang ada di sini agar nanti dia tidak punya masalah lagi.


Agar nanti saat semua keluarganya dibawa kemari, tak ada yang mengintai keluarga mereka. Tak ada yang mencelakai keluarga Adnan juga.


Melisa turun dari pangkuan kepala pelayan itu "Nama bibi itu siapa boleh aku tahu nama babi siapa"

__ADS_1


"Namaku Rara, Melisa"


"Oh baiklah bibi Rara salam kenal ya. Maaf ya kalau nanti aku akan menyuruh-nyuruh mu, tapi tenang selagi aku bisa melakukannya aku akan melakukannya sendiri bibi "


"Tidak masalah Melisa itu sudah pekerjaan aku, mau main di mana apa mau di dalam kamar saja menonton TV atau memainkan sesuatu Melisa "


"Aku ingin di sini saja, di sini juga ada televisi kan. Bisa tolong ambilkan satu mainan saja untukku aku akan memainkan itu saja bibir Rara. Tempat mainannya begitu tinggi dan aku tak bisa mengambilnya sendiri "


"Baiklah apa mau dengan Melisa saja mengambilnya, agar Melisa bisa memilihnya juga "


"Boleh ayo "Melisa menggandeng tangan Bibi Rara dan mereka naik ke lantai atas lagi masuk ke kamar Melinda dan juga Melisa, Melisa hanya menunjuk satu mainan saja.


Rara sudah mengambilkannya, lalu bertanya kembali kepada Melisa "Apakah ada mainan yang lain yang ingin diambilkan Melisa " tapi Melisa menggelengkan kepalanya.


"Sudah bibi ini saja, satu aku hanya akan memainkan boneka ini saja dulu nanti kalau aku bosan aku bisa minta tolong lagi kan sama bibi untuk mengambilkan mainan yang lain. Lebih baik kita menonton TV saja dulu sekarang sambil menunggu ayah pulang, ayah katanya tak akan lama "


"Baiklah ayo kita turun ke bawah"


"Ayo"


Mereka berdua kembali turun ke bawah, Rara segera menyalakan televisi besar itu dan memberikan film Barbie kepada Melisa. Melisa duduk dengan manis di kursi besar itu. Melisa menonton televisi dengan tenang dia sama sekali tidak rewel ataupun apapun.


Rara yang melihat anak majikannya yang begitu baik hanya bisa tersenyum saja, anak ini sangat berbeda sekali dengan Kamila bukannya mau membanding-bandingkan mereka, hanya aneh saja padahal mereka adik kakak kan hanya berbeda Ibu saja, tapi memang sifatnya sangat berbeda sekali.

__ADS_1


Memang banyak yang belum tahu Kamila itu siapa, Kamila anak siapa karena Adnan tidak mempublikasikannya pada siapapun, yang tahu hanya keluarga besar saja.


Rara juga menyiapkan susu, air putih, lalu camilan ringan, Rara juga duduk di sana menunggu Melisa yang sedang menonton TV dan memainkan bonekanya. Rara sudah diberikan tugas oleh Adnan maka dia harus melakukannya Rara hanya perlu mengawasi anak yang ada di hadapannya ini.


__ADS_2