Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 53


__ADS_3

Melisa yang sudah melihat adiknya tertidur di sampingnya menatap ibunya yang sedang melamun melihat ke arah jendela "Mama apa perlu aku nanti menghajarnya saat bertemu lagi dengannya, aku akan siap melakukannya Mama"tiba-tiba saja Melisa mengatakan itu, tentu saja Ayana bingung dengan tingkah anaknya ini maksudnya apa. Siapa yang harus dihajar oleh anaknya.


"Siapa sayang, memangnya siapa yang harus kamu hajar. Emangnya Mama pernah mengajarkanmu untuk kasar pada orang lain, tidak kan sayang jadi jangan pernah lakukan itu ya "


"Adnan laki-laki itu, apa perlu aku menghajarnya untuk Mama aku tahu selama ini Mama selalu menangis, dan mama selalu menatap foto laki-laki itu, tanpa sengaja aku mengetahui siapa dia dari koran yang aku temukan di toko dan aku melihat wajah laki-laki itu dan bernama Adnan. Meraka orang yang sama kan yang membuat Mama menangis terus dimalam hari "Melisa berbicara dengan mata yang berapi-api. Ayana kaget melihat anaknya bisa tahu itu, dan juga rasa bencinya itu tersirat jelas sekali.


"Siapa dia mungkin kamu salah lihat, mana mungkin mama melihat foto laki-laki lain. Mama tidak pernah melakukan itu. Jangan pernah lakukan apa-apa ya Mama tidak pernah menyuruhmu untuk kasar pada orang lain, Mama akan sedih bila kamu melakukannya Melisa "


"Kata siapa, Mama tidak boleh berbohong Mama mengajarkan aku dan juga Melinda untuk tidak pernah berbohong tapi mama sendiri malah berbohong padaku, aku tahu kok mama selalu menangis dan memandang foto laki-laki itu. Jika mama memang masih sakit hati dengannya maka aku siap menghajar laki-laki itu "Melisa kembali mematahkan kata-kata dari Mamanya. Melisa ingin Mamanya jujur padannya tidak seperti ini.


Ayana langsung mengalihkan pandangannya tidak mau menatap lagi mata anaknya. Seharusnya Ayana tidak selalu menangis kan jadi anaknya tahu tentang Adnan "Lebih baik kamu temani adik kamu tidur ya. Ini sudah malam nanti kalau sudah sampai Mama akan membangunkan mu sayang, ayo cepat segeralah tidur "


"Mama kenapa kamu menyembunyikan laki-laki itu. Kenapa Mamah menangis terus, apa mama punya masalah dengannya atau mama punya hutang padanya "tanya Melisa sambil memegang tangan mamanya.


"Mama boleh minta sesuatu pada Melisa"


"Tentu saja, apapun itu Melisa akan mengabulkannya, apapun yang Mama inginkan Melisa akan kabulkan sesulit apapun akan Melisa lakukan. Apa yang ingin Mama minta dari Melisa "


"Tolong jangan sebut nama laki-laki itu lagi cukup sampai di sini pembicaraan itu. Mama tidak mau lagi membahasnya. Bisa kan kamu mengabulkan yang itu"


"Baiklah jika itu keinginan Mama, Melisa tidak akan pernah membahasnya lagi "Melisa langsung bungkam.


Melisa akan menyimpan rasa bencinya ini sendirian, Melisa sudah sangat tidak suka dengan laki-laki itu saat melihat mamanya beberapa kali menangis melihat foto itu. Bahkan saat melihat fotonya ada di koran Melisa hanya membaca namanya saja.


Memang Melisa dan juga adiknya sudah diajarkan oleh mamanya untuk bisa membaca, meskipun kadang sedikit-sedikit masih salah tapi ya Melisa masih bisa setelah tahu namanya siapa Melisa langsung merobek koran itu dan membuangnya ke tong sampah karena laki-laki itu tidak boleh ada di toko mamanya.


Yang ada Mamanya nanti malah akan menangis lagi. Laki-laki itu memang selalu membuat Mamanya sedih entah apa masalah mereka tapi Melisa sangat membencinya.


...----------------...


Adnan berlari dengan cepat di lorong Rumah Sakit, akhirnya Adnan memilih untuk pulang dan menemui anaknya Kamila dan tidak memikirkan dulu Ayana. Sekarang prioritas utama Adnan adalah Kamila anaknya. Kamila lebih membutuhkannya.


Adnan masuk ke dalam ruangan dan Kamila sedang terbaring dengan mata yang tertutup, wajahnya begitu pucat sekali. Fira juga ada di sana duduk sambil menyilangkan kakinya dan memainkan ponselnya, dia bahkan tidak peduli dengan Adnan yang datang.


Apakah pantas perempuan seperti ini dianggap sebagai istri, seharusnya seorang istri menyambut suaminya bukan hanya diam duduk dan memainkan ponselnya hanya fokus pada ponselnya saja.


"Apa yang terjadi dengan Kamila. Kenapa dia bisa masuk lagi rumah sakit sebelum aku pergi dia baik-baik saja. Tak ada yang terjadi dengannya dia sehat-sehat saja"


Fira menurunkan ponselnya dan menatap Adnan dengan malas "Aku juga tidak tahu kenapa dia terus bolak-balik rumah sakit. Di rumah dia hanya mengeluh sakit kepala saja aku membawanya ke rumah sakit dan seperti inilah keadaannya malah makin parah. Entah kenapa anak ini sukanya menghabiskan uang saja sampai-sampai aku pusing harus selalu mengeluarkan uang yang banyak, hanya demi menyembuhkan anak ini. Sungguh pemborosan sekali "


"Lalu apa kata dokter. Kenapa kamu sangat santai sekali"


"Seperti biasa penyakit yang sama-sama saja. Dia demam dan daya tahan tubuhnya tidak kuat seperti itu, dia hanya akan menghabiskan uangmu saja sih sebenarnya bolak-balik rumah sakit. Sekarang gantian kamu yang menjaganya. Aku lelah sekali mengantuk mataku ini sudah sangat lelah sekali, menunggunya dari siang sampai malam seperti. Aku menghabiskan waktu ku disini sungguh rekor yang hebat bukan "


Fira mengambil tasnya dan dia langsung bangkit meninggalkan ruangan anaknya Kamila, sepertinya memang tidak ada kasih sayang sama sekali yang Fira berikan pada anaknya itu, dia bahkan sangat acuh sekali dan tidak peduli dengan keadaan sang anak, mau dia sakit mau tidak Fira tidak peduli sungguh dia bukan ibu yang baik dan bukan contoh ibu yang baik juga.


Adnan duduk dan menggenggam tangan anaknya, tiba-tiba saja mata Kamila terbuka dengan perlahan "Ayah ada di sini Ayah sudah pulang" ucapan Kamila dengan suara yang pelan dan juga serak, Kamila tersenyum kecil saat melihat Ayahnya ada disini.


"Iya Ayah ada di sini, Ayah pulang buat kamu sayang, kamu cepat sembuh ya nanti kalau kamu sudah sembuh Ayah akan bawa kamu jalan-jalan. Kemana pun kamu mau akan Ayah ikuti ya "


Kamila hanya tersenyum kecil saja. Kamila menatap sekitar dan tidak ada keberadaan ibunya. Kamila kembali menatap Ayahnya "Ayah kapan aku bisa mendapatkan kasih sayang ibu, kapan aku bisa dipeluk oleh ibu dengan erat, kapan ibu akan berbicara baik padaku, kapan ibu akan mencium keningku, kapan ibu punya waktu untukku ayah "


Adnan cukup lama diam, selalu pertanyaan itu yang muncul dari mulut anaknya Kamila. Kamila sangat ingin sekali disayangi ibunya, tapi kelakuan ibunya saja seperti itu. Adnan mengusap rambut anaknya dengan sayang.


"Lebih baik sekarang kamu istirahat saja, kamu harus cepat sembuh dulu ya. Kasian nenek sendirian dirumah kan hanya kamu yang sering menemaninya. Kasian nenek pasti sangat sedih sekali melihat keadaan kamu yang seperti ini sayang " Adnan mencoba mengalihkan pembicaraan karena Adnan juga binggung dengan pertanyaan anaknya itu.


Karena Fira pun sampai kapanpun tidak akan berubah. Fira akan tetap seperti itu wataknya sudah melekat terlalu dalam, jadi percuma Adnan mengoceh apapun pada istrinya itu. Tapi pada kenyataannya masih akan sama-sama saja tidak akan pernah berubah.


Kamila mengganggukan kepalanya dengan pelan, Kamila tidak kuat lagi untuk bicara matanya perlahan menutup kembali. Adnan mencium tangan mungil itu beberapa kali.


Adnan begitu menyayangi Kamila. Adnan tidak tahu saja sebenarnya dia mempunyai anak dari Ayana, bahkan dua sekaligus kalau Adnan tahu akan seperti apa ya dia.

__ADS_1


...----------------...


Ayana menyewa rumah di dekat pesisir pantai lagi. Melinda dan juga Melisa sangat bahagia sekali saat melihat rumahnya ini "Hore rumah kita dekat pantai lagi, aku kira mama akan membeli rumah di pinggir kota. Aku senang sekali Mama aku suka tempatnya ini "ucap Melinda sambil jingkrak-jingkrak.


"Mama tahu pasti kalian akan sangat rindu sekali dengan pasir dan juga dengan air laut. Makanya mama menyewa rumah seperti saat dulu rumah kita. Kalian senang kan di sini, kalian tak menyesalkan"


"Kami tidak menyesal Mama, kami berdua suka tempat ini nyaman sekali. Kami suka rumahnya dan juga suka pantainya sama-sama indah tidak ada yang berbeda. Semuanya sama Mama"sekarang Melisa yang berkata seperti itu. Melisa mencoba untuk menenangkan mamanya, sebisa mungkin tidak membuat Mamanya kecewa jadi akan Melisa lakukan apapun untuk Mamanya itu, supaya Mamanya bisa tersenyum.


Ayana bernafas lega anak-anaknya suka rumah ini "Ya sudah sekarang masuk dulu ke dalam rumah, kita harus segera makan. Pasti kalian sangat lapar sekali kan, kita sudah melakukan perjalanan yang sangat jauh sekali "


"Baik Mama ayo kita masuk, aku juga ingin melihat dalamnya pasti sama bagusnya seperti rumah yang dulu " kembali Melisa yang berbicara. Melisa tak membiarkan adiknya untuk berbicara. Bukan apa-apa adiknya itu pasti akan jujur dan membuat mamanya sedih, bukannya Melisa di sini mau membohongi mamanya Melisa hanya ingin mamanya tersenyum saja.


"Kalian mau makan apa Mama bingung apa kalian punya ide " tanya Ayana.


"Aku juga bingung Mama masak apa ya "Melisa menatap sekitar lalu dia melihat ada sayur bayam. Sepertinya akan enak makan sayur bayam.


"Mama lebih baik Mama masak sayur bayam saja, dengan udang goreng yang renyah. Pasti enak sekali"


"Itu betul sekali kata kakak Mama, itu akan sangat enak sekali sayur bayam yang hangat dengan udang goreng, emm nikmat sekali pasti aku akan tambah terus"


"Baiklah Mama akan memasak untuk kalian. Kalian tunggu di sini ya duduk yang manis dan bermain dengan baik, jangan keluar rumah ya "


"Siap Mama "sambil mengacungkan jempolnya.


Melisa senang sekali melihat mamahnya kembali ceria, tidak semurung waktu di kereta api. Sekarang Mamanya sudah bisa tersenyum lagi Melisa janji tidak akan mengungkit-ungkit lagi tentang laki-laki itu, Melisa akan memendamnya sendiri.


Melisa ingin selalu melihat mamanya tersenyum dan bahagia, semoga saja dengan mereka pindah rumah mamanya akan lebih bahagia lagi. Mamanya tidak akan melihat fotonya lagi atau melihat sesuatu yang membuatnya menangis.


...----------------...


5 bulan sudah berlalu. Selama itu Adnan merawat anaknya Kamila. Ibunya juga sudah ada perkembangan dia sudah sedikit-sedikit mulai bisa bicara tapi belum terlalu jelas dan untuk masalah jalan juga sedikit-sedikit sudah bisa tapi masih kaku sekali.


Adnan menyembuhkan ibunya bukan karena semata-mata sayang saja, karena ada sesuatu yang harus segera dituntaskan yaitu balas dendam. Mungkin Adnan terlihat jahat tapi itulah yang harus dia lakukan agar ibunya itu sadar apa yang dia lakukan itu salah.


Pikiran Adam sekarang terus saja tertuju pada Ayana, karena Marco sudah mencari Ayana di kota itu katanya tidak ada yang bernama Ayana, tapi Adnan yakin kalau yang dia kejar itu benar-benar Ayah, bukan orang asing bukan orang lain juga.


"Pak"


Adnan yang sedang melamun dikagetkan dengan Marco "Ikut ke ruang kerjaku sekarang Marco, ada yang ingin aku bicarakan "


"Baik Pak"


Marco berlari kecil untuk mengikuti langkah Adnan yang begitu cepat. Mereka sudah ada di ruang kerja Adnan Marco menutup pintunya tak lupa juga menguncinya, takut-takut ada orang yang masuk.


"Kamu benar-benar sudah menyelidikinya kan, apakah benar kamu tidak menemukan orang yang bernama Ayana. Kenapa ini sangat janggal seperti kota itu memang sudah bersekongkol untuk tidak memberitahu keberadaan Ayana "


"Iya Pak aku sudah mengelilingi kota itu bahkan orang-orang ku sudah aku kerahkan untuk mencari ke pelosok-pelosok, siapa tahu Nona Ayana memang bersembunyi, tapi tidak ada mereka tidak mengenal bahkan foto nona Ayana saja sudah diperlihatkan pada mereka tapi tidak ada yang mengenalnya juga"


Adnan bingung harus ke mana lagi mencari Ayana. Padahal dia sudah mendapatkan Ayana tapi kenapa bisa hilang begitu saja seperti tertelan bumi. Kenapa Ayana itu sangat pandai bersembunyi"Tapi aku yakin orang yang aku pegang, orang yang aku lihat itu adalah Ayana, tidak mungkin kan hanya khayalanku saja, tidak mungkin kan itu hantu masa ada hantu di siang bolong sangat aneh sekali kan "


"Iya tapi aku sudah berkata jujur Pak, aku sudah menyelidikinya dan memang tidak ada yang bernama Ayana di sana"


"Sepertinya kita harus kembali lagi ke sana, aku akan ikut ke sana dan aku juga akan mencari Ayana langsung di sana "


Akhirnya Adnan memutuskan untuk kembali lagi, sekarang Kamila sudah baik-baik saja kan dia sudah sehat kembali sudah bugar kembali, jadi tidak ada alasan Adnan untuk tinggal di sini.


Adnan akan mencari Ayana, prioritas utamanya dari pertama adalah untuk mencari Ayana, mencari perempuan itu mencari orang yang sudah dia sakiti selama ini. Adnan perlu maaf dari Ayana dan Adnan perlu kembali dengan Ayana.


Selama berpisah dengan Ayana hidup Adnan tidak pernah bahagia, tidak pernah senang bahkan tidak pernah ada cinta. Adnan menyesal dengan apa yang pernah dia lakukan. Semoga saja Ayana mau memaafkannya dan kembali lagi padanya, mungkin sekarang akan sangat sulit sekali tapi Adnan akan terus mengejarnya.


Adnan akan berjuang lagi dari nol, meskipun itu akan sulit tapi Adnan akan terus berjuang. Adnan tidak akan pernah mengecewakan lagi Ayana, Adnan tak akan mengulangi apa yang pernah terjadi itu.

__ADS_1


...----------------...


Ayana mendekati anak-anaknya yang sedang bermain. Ayana juga membawa beberapa camilan dan juga susu lalu menyimpannya di tengah-tengah kedua anaknya, mereka langsung menyerbu camilan itu.


"Apa kalian mau sekolah" Ayana sengaja bertanya dulu


Melinda langsung mendongakkan kepalanya dengan pipi yang penuh, lalu dia menganggukan kepalanya dan yang bicara sekarang Melisa mewakili adiknya "Kami mau Mama sekolah. Memangnya kami akan sekolah di mana, lalu apakah teman-temannya akan baik-baik Mama, apakah mereka akan mau berteman dengan kami berdua ini "


"Di sini ada sekolah TK yang dekat, Mama ingin kalian sekolah kalian kan sudah 5 tahun. Pasti teman-temannya juga di sana akan baik-baik kalau kalian sudah siap mari besok kita daftar, Mama juga sudah tak sabar ingin melihat kalian memakai seragam pasti akan sangat mengemaskan sekali "


"Benar Mama, apakah Mama tidak sibuk Mama kan sedang membuka toko bunga lagi yang baru. Lalu nanti tiba-tiba kami sekolah apakah Mama tidak akan kerepotan, kami takut Mama akan kerepotan "


"Tidak, Mama tidak akan kerepotan Mama kan buka toko di dekat sekolah kalian jadi nanti mama bisa sambil melihat keadaan kalian juga, bagaimana setuju kan kalian "


Melisa langsung tersenyum senang "Kalau menurut Mama itu bagus Melisa dan juga Melinda mau, yang terpenting Mama tidak kerepotan saja. Kalau Mama kerepotan tidak masalah Melisa dan Melinda nanti saja sekolahnya, kami tidak akan masalah kok Mama"


"Tidak Mama tidak kerepotan. Mama juga sudah membuka tokonya kan"


"Iya juga Mama, semoga toko bunga Mama seperti dulu lagi ya banyak pengunjungnya"ucap Melinda dengan senang


"Iya doakan saja ya kita harus menatanya dari awal lagi sayang "


Melisa dan juga Melina kembali bermain dengan boneka-bonekanya itu. Mereka senang sekali akan sekolah pasti akan banyak teman, sudah tidak sabar ingin melihat teman-teman mereka nantinya bagaimana. Semoga saja seperti apa yang dikatakan oleh Mama mereka kalau teman-temannya itu akan baik.


Tapi kalau tak baik juga tak masalah. Mereka bisa bermain berdua. Tak usah banyak teman juga yang terpenting mereka selalu bersama-sama.


...----------------...


"Kenapa Ayah harus pergi lagi padahal Kamila sudah senang Ayah terus ada di rumah. Kamila tidak kesepian lagi saat ada Ayah. Kamila senang sekali ada yang menemani. Kalau Ayah pergi Kamila dengan siapa "


"Harus ada yang ayah urus, ayah tidak akan lama ayah janji sama kamu ya. Ayah akan terus menghubungi kamu, kamu di sini baik-baik kalau ada sakit apa-apa langsung telepon ayah. Pasti ayah langsung pulang. Ayah akan langsung menemui kamu sayang "


"Kamila ikut ayah saja ya, Kamila janji tidak akan mengganggu pekerjaan ayah. Kamila akan duduk dengan tenang Kamila janji itu "


Kalau membawa Kamila yang ada Adnan akan kerepotan, bukan apa-apa di sini Adnan bukan hanya bekerja tapi juga untuk mencari Ayana. Adnan tidak akan bisa melangkah dengan cepat kalau ada Kamila. Nanti kalau seperti waktu itu lagi bagaimana, dia harus mengejar-ngejar Ayana lagi masa Kamila harus ditinggalkan, itu tidak mungkin kan. Adnan juga tak akan tega melakukan itu.


"Untuk kali ini jangan ikut, memang Ayah pernah menjanjikan padamu untuk kamu ikut pada Ayah tapi sekarang jangan dulu ya, pekerjaan ayah sangat banyak sekali pasti ayah akan sangat sibuk sekali kamu akan sendirian lagi sayang. Lebih baik kamu di sini ada Bibi ada nenek juga ada, kamu temani nenek untuk belajar berjalan lagi ya. Nenek pasti akan sangat senang sekali sayang "


Kamila menundukkan kepalanya, sebenarnya Kamila sangat sedih sekali mau ditinggalkan oleh ayahnya, bukan apa-apa selama sakit ayahnya saja yang mengurus. Ibunya tidak ada, ibunya hanya menengok sesekali dan sudah tidak ada lagi kalau Ayahnya selalu ada di sampingnya tidak kemana-mana.


Ayana selalu setia bersamanya. Kamila begitu menyayangi ayahnya. Kamila tak mau jauh-jauh dari ayahnya. Ayana ingin terus bersama Ayahnya ini.


"Ayah janji nanti sama kamu, kalau Ayah pergi lagi akan dibawa kalau untuk hari ini tolong jangan dulu ikut ya Ayah harus mencari seseorang, ayah harus segera menemukannya "


"Seseorang memangnya Ayah ingin mencari siapa, apakah itu teman Ayah atau siapa Ayah "


Adnan mengusap kepala anaknya dengan sayang "Nanti juga kamu akan tahu siapa yang Ayah cari. Ayah tidak akan lama, ayah janji itu ya tapi kamu diam jangan bilang pada siapa-siapa kalau Ayah sedang mencari seseorang apalagi pada ibu. Nanti yang ada ibu akan menganggu dan Ayah akan pulang lama. Kamu ga mau kan Ayah pulang lama sayang "


Kamila hanya menganggukan kepalanya saja, dia juga tidak mengerti ayahnya akan mencari siapa yang terpenting nanti ayahnya kembali lagi kan. Ayahnya akan menemaninya lagi.


...---------------...


Adnan membuka sebuah buku. Disana ada foto Ayana yang Adnan simpan. Foto dimana mereka sudah menikah. Adnan mengusap foto itu dengan sayang. Bahkan Adnan mencium foto itu.


Untuk pertama kalinya lagi, Adnan membuka buku ini. Sudah lama buku ini tak Adnan buka dan sekarang adalah pertama kalinya lagi.


"Sayang, aku akan menemukanmu dengan secepatnya. Aku akan membawamu kemari lagi. Maafkan aku sayang, aku sungguh menyesal dengan apa yang aku lakukan. Aku tak akan pernah mengulanginya lagi"


"Aku akan membuatmu bahagia sayang. Aku janji itu"


Adnan memeluk fotonya dengan erat, Adnan begitu menyayangi Ayana karena salah faham ini membuat mereka harus berpisah.

__ADS_1


__ADS_2