Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 60


__ADS_3

Ayana dan kedua putrinya sedang berbaring ditempat tidur Ayana. Ayana sedang mendengarkan cerita dari kedua putrinya ini.


"Mama tahu, kakak tadi mendorong anak itu lagi. Aku kaget sekali "cerita Melinda dengan bibirnya yang maju-maju kedepan sungguh mengenaskan sekali. Ayana ingin sekali mencubit bibirnya itu tapi dia tahan takut nanti malah menangis.


"Heyy, aku melakukan ieu untuk melindungi kamu. Kamu harus seperti itu. Kalau misalnya ada yang nakal dengan kamu makan lawan jangan takut "Melisa membela dirinya takut dimarahi oleh Mamanya.


"Mama yang Melisa lakukan benarkan "


"Sebenarnya tidak benar sih, tapi Mama mengerti kamu ingin melindung adik kamu. Tapi nanti kedepannya jangan di ulangi lagi ya sayang "


"Hemm, iya Mama "


"Mama kenapa Ayah tak pernah pulang, kemana Ayah. Teman-teman punya Ayah tapi Melinda kenapa tidak " tanya Melinda dengan polos.


Hati Ayana langsung mencelos mendengar pertanyaan anaknya itu. Ayana memang selalu bilang kalau Ayah mereka bekerja. Ieu saja yang Ayana bilang.


Melisa yang melihat raut wajah Mamanya langsung menyenggol adiknya "Kamu ini, Paman Fabian adalah Ayah kita. Dia sama saja Ayah kita. Ingat jangan pernah tanya itu lagi pada Mama " peringat Melisa sambil memelotkan matanya.


Melinda mengerucutkan bibirnya, Kakaknya ini selalu saja marah-marah padanya "Benar kan Mama, Paman Fabian Ayah kami berdua. Paman itu adalah orang yang selalu ada untuk kita. Meskipun Ayah tak ada tapi ada Paman Fabian yang menyayangi kita " .


Ayana dengan senyum canggungnya menganggukan kepalanya. "Emm, lebih baik sekarang kita tidur ya "


"Baik Mama ayo kita tidur bersama "jawab Melisa sambil tersenyum lebar.


"Tentu ayo kita tidur sama-sama "


Ayana membenarkan posisinya. Sekarang Ayana ada ditengah-tengah kedua anaknya memeluk dari kanan dan kiri. Ayana tak bisa melupakan pertanyaan dari anaknya. Tapi Ayana tak mau terlihat sedih didepan anak-anaknya ini.


...----------------...


"Papih buka papih, Fira ingin keluar dari kamar. Fira sudah tak kuat diam terus didalam kamar"


"Papih Fira ingin keluar "


Fira begitu tersiksa ada didalam kamar terus menerus. Fira tak pernah seperti ini, Fira adalah wanita bebas tapi sekarang malah sebaliknya. Dikurung seperti ini membuat Fira setres dan sakit kepala.


"Aku mohon Papih beri sekali saja aku waktu untuk keluar "


"Sudah malam tidurlah "


"Papih kamu ada disana, tidak aku tidak bisa tertidur tolong Papih sekali saja aku ingin menghirup udah segar "

__ADS_1


"Tidak bisa "


"Jangan siksa aku seperti ini Papih aku sungguh tak kuat. Aku sungguh tak bisa Papih "


"Ini hukuman untuk mu "


"Lebih baik aku dipenjara saja dari pada diam dikamar terus seperti ini "


"Sama saja tak ada bedanya. Sudah papih ingin istirahat "


"Tidak, jangan tinggalkan aku Papih jangan tinggalkan aku tolong "


Tapi tak ada sahutan. Fira memukul-mukul kepalanya saking sudah tak kuatnya dikurung. Fira memeluk kedua kakinya.


"Aku tak bisa seperti ini terus, aku tak bisa dikurung terus. Aku harus keluar, aku tidak mau seperti ini "


Fira menangis sejadi-jadinya dia juga sampai berteriak-teriak dan memukul-mukul pintu juga.


...----------------...


Pagi-pagi sekali Adnan sudah mengikuti Ayana dan kedua putrinya. Adnan melihat Ayana yang berjongkok dan memeluk kedua putrinya. Bahkan mereka juga memberikan sebuah kecupan pada ibunya.


Adnan tersenyum melihat pemandangan itu. Adnan ingin suatu saat dia perperti itu dengan putri-putrinya pasti hidup Adnan akan sangat bahagia sekali.


"Kita tak bisa langsung muncul begitu saja Pak, yang ada nona Ayana akan kabur. Kita harus perlahan"


"Tapi aku tak sabar ingin bertemu dengan mereka. Aku tidak bisa diam saja dan melihat mereka dari kejauhan seperti ini, kita harus melakukan kerja sama dengan toko bungannya Ayana "


"Tapi itu toko bunga kecil Pak, mau ajak kerja sama bagaimana "


"Coba kamu bilang sekali lagi, fikirkan bagaimana caranya atau kamu sudah tak betah lagi bekerja dengan ku Marco "


"Akan aku fikirkan Pak "


Marco akhirnya mengalah saja, dari pada Marco dipecat. Ikuti saja kemauan bosnya ini. Marco akan memikirkan bagaimana caranya agar Ayana tak curiga.


"Pak Nona Kamila sendirian, apakah kita akan pulang sekarang "


"Aku sampai melupakan anak itu. Baiklah kita pulang nanti kita kemari lagi "


"Baik Pak "

__ADS_1


Marco segera membawa mobilnya itu kearah vila lagi, memang tadi Kamila ditinggalkan karena bosnya ini tak mau diganggu lagi oleh Kamila. Untung tadi Kamila sedang tertidur.


Kalau tidak mungkin Kamila tak mau ditinggalkan dia akan ikut seperti kemarin. Kamila tak akan mau jauh dengan Ayahnya.


...----------------...


Ayana yang sedang bekerja sampai melamun, memetik bungannya begitu saja. Ayana kefikiran dengan pertanyaan Melinda, yang menanyakan Ayahnya. untuk pertama kalinya anaknya menanyakan tentang Ayah.


"Bu, maaf Bu itu kan bunga pesanan "


Ayana langsung tersadar dan melihat bungannya sudah rusak. Ayana memejamkan matanya. Kenapa Ayana sampai merusaknya.


"Maaf, aku tak sengaja kamu saja ya yang mengerjakannya aku ingin istirahat dulu "


"Iya Bu, ibu istirahat saja. Biar aku saja "


Ayana menganggukan kepalanya. Ayana kembali duduk dikursi dekat kasir. Kembali merenung disana sendirian. Memikirkan ucapan anaknya ahdus bagaimana Ayana ini.


...----------------...


"Ayah kenapa meninggalkan Kamila. Kamila sangat ketakutan sekali "


Adnan memeluk Kamila dan membawanya keruang tengah "Iya maaf ayah tadi keluar sebentar "


"Kenapa Ayah meninggalkan aku, aku sudah bilangkan sama Ayah kalau aku tidak suka sendirian. Ayah jahat meninggalkan aku sendirian "


"Ayah sekarang ada kan untuk kamu jadi ga usah marah lagi, ayah kan kemari untuk bekerja Kamila jadi kamu harus mengerti tak boleh rewel seperti itu"


Kamila cemberut mendengar Ayahnya berkata seperti itu. Pasti Ayahnya itu menemui dua bocah kembar kemarin. Kamila kesal sekali. Kamila tak suka Ayahnya menemui anak kembar itu lagi.


"Mau makan apa "


"Kamila belum mau makan, Kamila ingin seperti ini dulu saja Ayah. Kamila ingin bersama Ayah dulu berdua"


"Makan sekarang saja ya. Pasti ayah harus bekerja " .


Kamila mengelengkan kepalanya "Ga mau, Kamila ga mau "


"Jangan manja, ayah harus bekerja dulu "


"Tapi Kamila tak mau Ayah jangan paksa Kamila "

__ADS_1


Adnan mencoba untuk bisa tenang jangan terbawa emosi. Adnan meninggalkan Kamila begitu saja masuk kedalam kamar dan segera bersiap Adnan harus meeting sekarang dan tak bisa menunda-nunda lagi.


Kamila yang melihat Ayahnya seperti tak peduli langsung sedih dan menangis. Kamila menangis tanpa suara. Menundukan kepalanya dengan dalam. Kamila tidak suka dengan dua orang anak kembar itu. Meraka sudah mengambil perhatian Ayahnya. Kamila tidak terima itu. Kamila tak mau Ayahnya perhatian pada mereka.


__ADS_2