
"Ini akan aku berikan kamu untuk melakukan video call dengan ayahmu, tapi kamu harus terlihat baik-baik saja. Awas saja kalau kamu bicara sama Ayah kamu kalau kamu tadi habis dari rumah sakit. Pura-pura lah semuanya baik-baik saja "
Dengan lesu Kamila menganggukkan kepalanya, tadi Kamila ditemukan oleh pelayan yang lain dan langsung dibawa ke rumah sakit, keadaannya sekarang sudah mulai membaik dan Fira mau tidak mau harus menyusul anaknya yang ada di rumah sakit, kalau tidak pasti menjadi masalah nanti kedepannya. Kalau sampai ada yang bicara pada Adnan sudah habis dirinya ini.
Pelayan disini terlalu patuh pada Adnan, jadi apapun yang Fira lakukan pasti akan langsung dibicarakan pada bosnya itu. Meskipun Fira ancam tapi kadang ada saja yang menyebalkan dan berbicara pada Adnan.
Fira langsung melakukan panggilan video call pada Adnan, sebelumnya dia sudah bicara kalau Kamila mau berbicara, kalau tidak seperti ini yang ada Adnan tidak akan mengangkat video call-nya ini. Adnan akan langsung menolaknya.
"Halo anak ayah ada apa kok kelihatannya anak ayah ini pucat sekali ya, kamu baik-baik saja kan sayang. Kamu sudah makan "
Kamila langsung tersenyum saat melihat wajah ayahnya "Halo Ayah kapan ayah pulang, Kamila baik-baik saja mungkin karena memang wajah Kamila ini selalu pucat. Kamila juga sudah makan Ayah, Kamila banyak sekali makannya"
"Ayah harus beberapa hari lagi di sini sayang, mungkin satu atau dua harian lagi. Kamu yakin kamu nggak kenapa-napa ada yang ingin kamu titip sayang, pasti Ayah akan belikan apapun itu "
"Kamila cuman pengen Ayah cepat pulang aja, Kamila pengen tidur sama ayah dan dipeluk sama ayah juga. Udah lama kan Ayah ga peluk Kamila. Ayah kemarin sibuk sama kerjaan Ayah "
"Manjanya anak Ayah ini, tunggu ya Ayah akan menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat maka ayah akan pulang dengan cepat juga. Benar tidak mau apa-apa. Oh ya ayah di sini bertemu dengan anak kecil yang seumuran denganmu, namanya Melinda rambutnya di kuncir dua dan dia memberikan Ayah coklat kamu mau coklat nggak"
"Wah Ayah ketemu teman baru ya, bolehkah aku melihatnya. Aku ingin mengenalnya Ayah. Siapa tahu aku bisa menjadi teman bersamanya "
"Sayangnya hanya tadi pagi sana Ayah bertemu, sekarang tidak bertemu lagi, nanti kalau Ayah bertemu lagi dengan Melinda Ayah akan telepon kamu ya. Nanti kita bicara dengannya siapa tahu kamu dan dia bisa akrab"
"Iya ayah semoga saja ya, kapan-kapan kalau ayah ke sana lagi bolehkah Kamila ikut. Kamila ingin langsung bertemu saja "
"Tentu Kamila boleh ikut nanti kalau ayah ada pekerjaan di sini lagi, Kamila boleh ikut atau mungkin Kamila mau dijemput saja agar datang kemari bagaimana mau "
Kamila langsung menggelengkan kepalanya saat melihat mamanya yang melotot ke arahnya. Kamila tahu kalau mamanya tak membolehkannya karena keadaannya juga tidak memungkinkan sekali "Kamila tunggu ayah saja pulang, nanti kalau ayah ke sana lagi baru Kamila ikut. Sepertinya tawaran Ayah tadi boleh juga membawakan Kamila coklat biar Ayah selalu ingat teman baru Ayah itu, belikan Kamila coklat yang banyak ya Ayah "
"Baiklah ayah akan memberikan coklat yang banyak, ada lagi titipan yang lain, mungkin kamu ingin tas, pakaian atau apa gitu sayang "
"Sudah Ayah tidak ada hanya itu saja, Ayah cepat pulang ya Kamila menunggu ayah. Kamila begitu rindu dengan Ayah. Kamila ingin menghabiskan waktu dengan Ayah "
"Iya sayang ayah akan segera pulang, dadah Ayah matikan dulu ya sebentar lagi ayah akan sampai dan harus meeting. Nanti kita sambung lagi ya sayang "
"Iya Ayah dadah sampai jumpa, aku tunggu ya Ayah "
Sambungan langsung dimatikan. Fira langsung mengambil ponsel itu dan menatap anaknya yang masih berbaring lemah "Aku tidak mau ya kamu terus sakit-sakitan seperti ini. Jadilah anak kuat jangan seperti ini terus Kamila, kamu akan merepotkan ku dan juga menghabiskan uang ayahmu, uang itu bukan untuk berobat mu saja banyak kebutuhan yang harus kita beli jangan jadi anak penyakitan. Nanti yang ada uang ayahmu itu habis hanya untuk mu saja "
"Kamila juga tidak mau menjadi seperti ini Bu,
Kamila juga ingin sehat, Kamila tak suka sakit seperti ini, Kamila ingin selalu sehat "
"Ya makanya jangan terus sakit-sakitan. Ibu sana yang lihatnya sangat lelah sekali "Fira langsung keluar dan meninggalkan Kamila sendirian lagi.
Kamila sama sekali tidak merengek atau menangis, karena sudah terbiasa juga ditinggalkan oleh ibunya. Ibunya selalu pergi dan tidak akan pernah memperdulikan Kamila.
...----------------...
"Ayana "
Adnan melihat Ayana yang sedang ada di sebuah toko, entah sedang membeli apa "Berhenti Marko berhenti"
Adnan langsung berlari dan menghampiri Ayana yang dia lihat di cekalnya tangan itu oleh Adnan"Ayana kamu ada disini, akhirnya aku menemukan kamu, aku mencari kamu Ayana "
Ayana yang melihat Adnan begitu kaget, Ayana dengan cepat melepaskan pegangan tangan Adnan, Ayana berlari begitu saja. Adnan tadi lengah karena terlalu fokus menatap wajah Ayana takut salah orang tapi itu benar Ayana.
"Ayana, Ayana jangan tinggalkan aku Ayana. Aku ingin bicara denganmu Ayana jangan tinggalkan aku lagi, berhenti Ayana "
Ayana yang mendengar teriakan Adnan terus saja berlari, tidak peduli mau berlari ke mana yang terpenting Ayana harus menghindari Adnan, Ayana begitu takut dengan Adnan, Ayana tak mau bertemu lagi dengan Adnan sudah cukup rasa sakit itu.
"Ayana tunggu aku. Aku ingin bicara, Ayana " teriak Adnan dengan lantang.
__ADS_1
Ayana masuk ke dalam sebuah gang dan mencari sebuah persembunyian. Adnan yang tadi mengikuti mencari Ayana disana. Adnan yakin Ayana bersembunyi di sekitar sini karena tidak mungkin Ayana berlari dengan sangat cepat sekali.
"Keluar aku ingin bicara keluar Ayana, jangan bersembunyi seperti ini, aku tak akan menyakiti kamu. Keluar Ayana keluar "
Ayana membekap mulutnya supaya tidak ada suara yang dia keluarkan, tubuh Ayana sudah bergetar takut trauma itu datang kembali. Entah kenapa Ayana tidak mau bertemu dengan Adnan lagi rasa sakitnya kembali muncul, Adnan yang telah menyakitinya dan juga meninggalkannya begitu saja, lalu menikah lagi dengan perempuan lain terngiang-ngiang dalam kepala Ayana.
Air matanya sudah mengalir dengan deras, Ayana takut kalau Adnan akan mengambil anak-anaknya. Kenapa Ayana yakin kalau anak-anaknya adalah anak Adnan, Ayana sudah melakukan tes DNA kedua anaknya memang benar-benar anak-anak Adnan bukan dari laki-laki yang telah memperkosanya waktu itu.
"Ayana aku ingin bicara Ayana, jangan seperti ini aku ingin bertemu dengan kamu sayang ayo keluar "
Adnan terus saja berkeliling mencari Ayana ke sana kemari, tapi tidak ada. Tidak ada Ayana ke mana dia Adnan tidak salah lihat tadi benar bahkan yang lari tadi pun Ayana. Adnan yakin itu kalau itu bukan Ayana pasti perempuan itu tidak akan pernah lari kan.
"Pak kita harus cepat Pak, kita sudah telat Pak "
Adnan melihat ke arah Marco "Ayana ada di sini. Cepat cari dia. Cari tempat tinggalnya pokoknya tentang Ayana kamu cari semuanya kita sudah menemukannya"
"Baik Pak tapi sekarang kita harus meeting dulu, kita sudah benar-benar telat "
Adnan bergegas kembali ke arah mobilnya sekarang juga dan harus menemukan Ayana, tidak boleh lolos lagi. Setelah meeting Adnan akan mencari lagi.
Ayana yang memang mendengar semua itu dengan perlahan keluar dari dalam persembunyiannya, dia kembali berlari ke arah toko. Ayana langsung memeluk kedua anaknya. Ayana bersyukur anaknya tak kemana-mana.
"Kita harus pulang, kita tidak bisa di sini kita harus pergi sekarang juga anak-anak ayo sekarang kita pulang dulu dan langsung pergi "
"Kamu mau pergi ke mana Ayana. Kenapa kamu seperti ketakutan, apa yang terjadi " Diandra begitu khawatir dengan keadaan Ayana. Ayana tidak pernah seperti ini.
"Aku harus pergi dari kota ini Diandra, aku sudah tidak aman lagi aku harus pergi sekarang juga "
"Tapi kenapa, kamu jelaskan dulu sama aku ada apa "
"Aku tidak bisa menceritakannya, aku tidak bisa ayo Melinda Melisa kita harus pergi. Kita harus cepat jangan sampai dia datang "
Ayana menarik tangan kedua anaknya, lalu dia menyetop taksi. Melisa dari tadi menatap mamanya yang panik sedangkan Melinda dia juga sama paniknya, tapi di antara mereka berdua tidak ada yang bertanya.
"Kenapa kita harus meninggalkan rumah ini Mama, Melinda sudah senang tinggal di sini Melinda suka dengan suasananya kenapa tiba-tiba kita pergi. Melinda suka rumah kita dekat pantai Melinda tidak mau ke mana-mana"
Melisa langsung maju dan menggenggam tangan Ayana "Mama tidak usah takut di sini kan ada Melisa, Melisa dan juga Melinda akan ikut kemanapun Mama pergi. Melisa akan membantu Mama berkemas Melisa juga akan membawa mainan Melisa hanya beberapa saja seperti yang Mama minta "
Melisa langsung menarik tangan adiknya Melinda dan mengambil beberapa boneka mereka dan juga membereskan pakaian mereka, itu pun dibantu oleh Ayana.
"Kakak kita mau ke mana "tanya Melinda yang belum mendapatkan jawaban, Melinda masih binggung dengan semua yang terjadi.
"Sekarang kamu jangan terlalu banyak tanya dulu. Yang penting kita ikut mama dulu saja, mau kemanapun itu pergi kita hanya perlu mengikuti Mama tidak usah banyak tahu. Itu adalah urusan orang dewasa kita hanya anak kecil yang hanya perlu mengikuti kemana orang tua kita pergi, jadi nanti saat di jalan kamu jangan terlalu banyak bicara ya. Sudah diam saja jangan buat Mama makin sedih"
Akhirnya Melinda mengerti juga, dia menganggukan kepalanya mengambil bonekanya dan menyimpannya ke dalam koper. Tak akan bertanya-tanya lagi. Kalau kakaknya sudah berkata seperti itu berarti Melinda harus bungkam dan tak boleh banyak bicara.
"Apa semuanya sudah siap kita pergi sekarang ya"
"Sudah mama semuanya sudah siap, ayo kita berangkat "
Kembali Melisa menarik tangan adiknya untuk memakai sepatu. Melisa juga membantu adiknya untuk memakai sepatu karena adiknya kesulitan untuk berjongkok.
Selama berjalan Melisa menggandeng tangan adiknya, karena Mamahnya memegang dua koper sekaligus setelah memberhentikan taksi mereka segera naik.
Melisa masih melihat raut wajah mamanya yang ketakutan. Melisa memeluk sebelah tangan mamanya, Ayana langsung mengalihkan pandangannya. Ayana langsung merubah raut wajahnya menjadi tersenyum. Ayana tidak mau kalau anaknya khawatir dengan keadaannya.
"Mama tenang saja ya Melisa akan selalu ada di samping Mama, apapun yang terjadi Mama jangan pernah takut kita berdua akan selalu ada untuk mama, kita akan meninggalkan Mama. Kita akan selalu mengikuti Mama kemanapun Mama pergi. Mama harus selalu tersenyum ya jangan sedih Melisa tidak suka kalau melihat mama sedih"
Ayana malah jadi menangis mendengar kata-kata dari anaknya, Ayana langsung memeluk kedua Putri kecilnya itu "Maaf ya Mama tiba-tiba aja ajak kalian berdua pergi dari sini, tapi Mama janji suatu saat kita akan balik lagi ke sini tapi untuk sekarang kita harus pergi dan Mama nggak bisa jelasin apa alasannya"
"Iya mah nggak apa-apa. Melisa dan Melinda juga mengerti yang penting kita berdua terus sama mama. Jadi Mama jangan nangis ya"
__ADS_1
Ayana langsung mengusap air matanya dan menganggukkan kepalanya, mencium kepala kedua putrinya. Ayana begitu bersyukur memiliki anak seperti mereka yang mau mengerti keadaan Ayana sekarang, semoga saja pelarian ini tidak sia-sia.
Ayana tidak mau sampai Adnan menemukannya, sampai kapanpun Ayana tidak akan pernah siap bertemu dengan Adnan rasa sakitnya sudah menyelimuti hatinya lagi.
Setelah membeli tiket mereka bertiga masuk ke dalam kereta api. Melisa dan juga Melinda kagum melihat kereta api yang sangat panjang ini untuk pertama kalinya mereka menaiki kereta api. Iya karena biasanya mereka naik bis.
"Wah Mama Melinda suka sekali naik kereta api, bagus ya kursinya juga panjang terus kereta apinya panjang sekali ini Melinda baru pertama kali naik loh, nanti kapan-kapan kita naik lagi ya Ma, kalau boleh kita naik sering-sering saja pasti akan sangat menyenangkan Mama "
"Iya sayang nanti kapan-kapan kita naik lagi, sini duduk Mama bantu ya kalian duduk"
Setelah membantu anak-anaknya duduk Ayana menyimpan koper-kopernya itu, tak lupa mengeluarkan satu satu boneka kesukaan anaknya dan memberikannya pada Melisa dan juga Melinda. Untuk menemani mereka agar tidak jenuh. Mereka akan pergi jauh dan memakan waktu yang panjang juga.
"Terima kasih Mama "ucapan mereka berbarengan.
"Sama-sama anak-anak mama yang cantik, ini makan dulu tadi Mama sudah membelikan ini tidak apa-apa ya makan ini dulu nanti setelah kita sampai, kita beli sesuatu yang kalian mau ya"
"Iya Mama tak masalah "Melisa mengambil roti itu dan memberikan salah satunya pada adiknya, tak lupa susu kotak juga Melisa berikan pada sang adik.
Ayana melihat ponselnya sepertinya Ayana harus menjual ponsel ini, takutnya nomornya dilacak. Adnan bisa melakukan apa saja kan dia bisa saja bertanya pada orang-orang yang ada di sana, tapi Ayana harus memberitahu Diandra dulu.
Ayana memberikan pesan terakhir untuk Diandra, semoga saja Diandra bisa membungkam semua orang kalau Ayana tidak pernah tinggal di sana.
Diandra
Diandra maafkan aku yang tiba-tiba pergi begitu saja, aku tidak bisa menjelaskan semuanya secara detail. Tapi tolong jaga rumahku dan juga toko. Aku akan kembali tapi entah kapan aku tidak tahu itu.
Jika nanti ada seorang laki-laki yang menanyakan tentang keberadaan ku tolong kamu bilang kalau kamu tidak pernah melihatku dan tidak pernah ada yang tinggal di rumah itu, di kota itu yang bernama Ayana.
Dan untuk warga yang lain tolong diberitahu juga ya semoga saja mereka bisa menjaga rahasiaku. Suatu saat aku akan memberitahu apa yang terjadi nama laki-laki itu Adnan, tapi bisa saja dia menyuruh anak buahnya untuk mencariku jadi tolong jangan sampai ada yang tahu aku pernah tinggal di kota itu.
Aku tidak akan pernah bisa menghubungimu lagi Diandra. Terima kasih untuk segalanya tapi nanti aku akan menghubungimu di nomor yang lain.
Ayana melepaskan kartunya, Ayana juga tidak lupa selalu mencatat nomor-nomor orang penting di buku kecil yang selalu dia bawa. Jadi Ayahnya tidak perlu takut kalau nomor Diandra akan hilang, Ayana melemparkan kartu sim-nya itu. Untuk ponselnya nanti akan dia jual, Ayana harus waspada dengan sekitar tidak boleh sampai Adnan menemukannya.
...----------------...
"Kita sudah berkeliling Pak tapi kita tidak menemukan Nona Ayana juga"
"Terus tanya pada orang-orang sekitar. Aku yakin dia tinggal di sini aku yakin dia ada di sekitar sini, aku tak akan pernah salah "
Marco hanya menurut saja, dia mengelilingi kota ini bertanya sana-sini tapi tidak ada yang mengenal Ayana, mereka semua juga sudah diperlihatkan foto Ayana tapi tidak satupun dari mereka yang tahu dan mengenali Ayana.
"Pak aku sudah menanyai semua orang yang ada di toko sana, tapi tidak ada yang mengenalnya"
"Sialan pergi ke mana dia, padahal aku yakin yang tadi itu Ayana bukan orang lain aku jelas-jelas lihat wajahnya itu benar-benar Ayana bukan orang lain"
"Mungkin nona Ayana bersembunyi "
"Cari ke tempat lain aku mau hari ini Ayana ditemukan, kerahkan juga anak buahmu itu untuk mencari Ayana sekarang juga"
"Baik Pak"
Marco sekarang sibuk dengan ponselnya menyuruh orang-orang yang ada di sini untuk mencari keberadaan Ayana. Ya maksudnya orang yang bekerja dengannya.
Ponsel Adnan kembali berbunyi, dan langsung mengangkatnya "Ada apa Fira kamu jangan menggangguku terus, berisik sekali kamu ini terus menelfon ku "
"Pulanglah anakmu ini sakit, kamu ingin terus di sana dan membiarkan anakmu Kamila sakit di sini. Dia terus saja memanggil-manggil namamu dia mengigau terus dari tadi"
"Bukannya tadi baik-baik saja. Lalu kenapa tiba-tiba dia sakit apa yang kamu lakukan padanya"
"Emangnya apa yang aku lakukan. Dia sakit sendiri cepat pulang sekarang, kasihan anakmu Kamila terus saja memanggil-manggil namamu, seharusnya kalau mau keluar kota itu jangan lama-lama satu hari saja cukup tau sendiri kan anakmu ini penyakitan, dia itu sedikit-sedikit sakit sakit terus aja sakit"
__ADS_1
Adnan langsung mematikan ponselnya dan memijat keningnya, harus memilih Kamila atau Ayana. Di satu sisi Kamila adalah anaknya di sisi lain juga Ayana adalah perempuan yang selama ini dia cari.