Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 120


__ADS_3

Papihnya Fira masih saja kebingungan dengan perusahannya ini, bagaimana ini Adnan masih tak bisa dihubungi sedang apa sebenarnya dia itu. Kenapa begitu sulit dan malah membuatnya sangat marah sekali.


Adnan seperti memang sengaja ingin mengacuhkannya begitu saja. Adnan itu tak punya hati sama sekali. Dia benar-benar keterlaluan sekali.


Tapi saat Papihnya Fira mencoba untuk menelfon sekali lagi diangkat ini adalah kesempatannya, tak boleh sampai disia-siakan begitu saja.


"Adnan kenapa kamu tega melakukan itu padaku, apa maksudmu menarik semuanya begitu saja. Kamu ini ya tak sopan sekali tahu "


"Kenapa, itu adalah sahamku aku bisa mengambilnya kapan saja. Sudah aku bilang kan jangan pernah macam-macam denganku maka inilah akibatnya, aku sudah berbaik hati kan dari awal denganmu. Tapi apa kamu malah seperti itu, kalau sudah tua itu jangan banyak tingkah "


"Apa yang kamu maksud. Memangnya apa yang aku lakukan, aku sama sekali tidak melakukan apa-apa. Kamu sudah menghancurkan anakku sudah menghancurkan hidupnya, lalu sekarang kamu juga ingin menghancurkan perusahaanku juga Adnan, apa dari awal memang ini yang kamu mau lakukan padaku"


"Masih untung aku tidak memasukkan anakmu itu ke dalam penjara, anakmu gila karena dirinya sendiri bukan karena salahku. Aku tahu dengan rencana busuk mu itu, kamu mau memata-matai aku dan juga Ayana untuk apa tidak ada gunanya juga, apakah kamu tak punya pekerjaan sampai melakukan itu "


Papinya Fira yang mendengar itu sangat kaget. Tentu saja dia kaget, kenapa Adnan bisa tahu padahal dia sudah mewanti-wanti orang-orang yang dia suruh untuk tidak sampai ketahuan oleh Adnan.


"Kenapa, apa yang aku bicarakan benar kan kamu ini hanya bisa menyuruh orang-orang saja tidak bertindak sendirian. Lebih baik diam saja dan urus anakmu itu daripada terus memata-matai hidupku, yang ada kamu akan iri. Untung saja aku juga tidak menghabisi anakmu itu dia sudah menghancurkan masa depanku, dia juga yang sudah membuat aku terpisah dengan anak-anakku dan berbohong kalau Kamila itu anakku, tapi kenyataannya apa dia itu anak Rio. Sungguh anak mu itu seharusnya menjadi pemeran utama dalam sebuah film, akan berguna kan "


"Diam kamu, jangan terus bicara Adnan, aku seharusnya yang marah padamu. Bukannya kamu yang teru saja memarahi aku. Aku sungguh tak terima dengan apa yang kamu lakukan "


"Heh kamu yang salah, sudahlah tak ada gunanya juga aku bicara dengan kamu. Aku akan tetap menarik sahamku aku tak akan pernah mengembalikannya lagi padamu. Jangan harap aku akan membantumu"


"Aku akan menemui anak mu nanti, tapi hanya untuk memperjelas semua hubungan ini, aku tak mau terus diganggu olehmu. Dasar keluarga tidak tahu diri "


Adnan langsung mematikan sambungannya, Papihnya Fira sungguh kesal dengan tingkah Adnan yang seperti itu. Awas saja saat Adnan nanti menemui anaknya dirinya tak akan melepaskannya.


Papihnya Fira menemui anaknya untuk memberitahu kabar ini.


"Fira Papih punya kabar bahagia "


Fira hanya menatap papihnya sekilas saja, lalu dia kembali menatap kearah televisi.

__ADS_1


"Suami kamu Adnan akan kemari, kamu harus bisa mengambil hatinya jangan sampai Adnan pergi lagi ya"


Fira langsung senang "Benarkah suami aku akan kembali kesini, Papih tidak bohong kan papi tidak sedang pura-pura seperti biasanya, suamiku benar-benar akan kemari kan akan menjemputku"


"Iya suami kamu akan datang kemari dan menjemput kamu. Kamu harus bisa membujuknya, kamu harus bisa membuat suami kamu ada disampingnya kamu ya"


Fira hanya diam saja sambil tersenyum, Fira memeluk bantalnya dengan erat.


"Kamu mengerti kan maksud papih, jangan diam saja nak, kamu mengerti kan dan akan melakukan yang Papih katakan "


Fira masih saja tersenyum "Fira kamu dengan papih kan"


"Hemm, suami aku pulang dia akan pulang aku akan pulang kerumah besar itu lagi, aku akan tidur bersama suami aku, aku tak sabar "


Fira menyisir rambutnya mengunakan tangannya, dia begitu senang sekali saat mendengar semua itu.


Papihnya Fira diam tak berbicara lagi, dia tahu kondisi anaknya sedang seperti itu jadi dirinya tak bisa memaksakan kehendaknya ini.


Kalau bukan Adnan siapa lagi yang akan membantu perusahannya. Sungguh dirinya tak mau sampai harus gulung tikar nanti.


...---------------...


Mereka sedang menunggu Adnan yang belum turun juga Melisa yang jenuh menatap neneknya "Nenek"


"Iya Melisa ada apa"


"Nenek kenapa banyak orang bilang kalau wajahku ini mirip dengan ayah, apakah benar wajah kami berdua mirip, maksudku bersama Melinda. Kenapa wajah kami ini begitu mirip dengan ayah, kenapa tak mirip Mama saja "


"Ya namanya juga anak dan ayah pasti akan mirip mana mungkin tidak, kalian memang benar-benar mirip,apalagi saat Ayah kalian masih kecil benar-benar seperti kalian wajahnya. Cuman bedanya Ayah kalian rambutnya pendek "


"Tapi aku tidak mau Ayah itu sangat menyebalkan sekali, dia itu selalu saja membuat aku marah. Ayah itu tak pernah bisa diam ada saja tingkahnya itu yang membuat aku marah "

__ADS_1


"Tapi kadang Ayah baik kan dan juga dia hangat selalu memberikan apa yang Melisa dan juga Melinda mau. Dia itu sebenarnya sangat baik sayang "


"Ya kadang si nenek, tapi dia itu sangat menyebalkan sekali, kenapa juga dia begitu ya nenek kenapa Ayah menyebalkan "


Nenek mengusap kepala Melisa dengan sayang "Tapi kalau dipikir-pikir mama kan sudah menerima Ayah, bahkan Mama sudah memaafkan ayah lalu apakah Melisa akan terus seperti ini, Ayah sudah baik kan, akan memberikan Melisa monyet lalu membawa jalan-jalan kita juga apa Melissa akan tetap seperti itu pada Ayah"


Melisa mengangkat bahunya dengan acuh "Entahlah, aku masih bingung dengan semua yang terjadi ini nenek, memang seharusnya Ayah itu baik kan pada anak-anaknya. Oh ya nenek apakah kamu mempunyai foto terjelek ayah saat kecil, mungkin yang bisa dibandingkan dengan foto masa kecilku agar aku tidak terlalu di mirip-mirip kan dengan ayah nenek "


Nenek dan juga Ayana menahan tawanya, mereka sudah tahu apa yang ada dalam pikiran Melisa pasti Melisa akan memperlihatkan foto itu pada Adnan, dan berkata kalau mereka berdua itu tidak mirip.


Tapi memang kenyataannya mereka bertiga itu mirip sekali, Ayana juga sudah sangat mengakuinya kalau mereka memang benar-benar mirip, mungkin waktu lahir hanya Melisa saja yang sangat terlihat mirip dengan Adnan.


Tapi setelah mereka besar Melisa dan juga Melinda malah mengikuti wajah ayahnya, mereka benar-benar jiplakan dari wajah Adnan tak ada yang berbeda diantar mereka bertiga.


"Untuk apa sayang, selain untuk memperlihatkan pada Ayahmu itu "


"Untuk aku bagikan pada semua orang dan memperlihatkan pada orang-orang yang mengatakan kalau aku mirip dengan ayah, aku akan mematahkan semua kata-kata dari mereka pokoknya aku ini tidak mirip dengan ayah, kami ini sangat berbeda aku ini cantik sedangkan Ayah jelek dan menyebalkan sekali"


Adnan yang sudah kembali melihat nenek dan juga Ayana seperti sedang menahan tawa. Adnan sampai mengerutkan keningnya melihat tingkah mereka berdua "Ada apa dengan kalian berdua, apa ada yang kalian sembunyikan dari aku "


"Tidak kami tidak kenapa-napa, hanya sedang menertawakan anak-anak saja memangnya ada yang salah, memangnya kami tak boleh tertawa"jawab Ayana yang tidak mau nanti malah jadi panjang dan Melissa dengan Adnan malah bertengkar jadinya.


"Baiklah, ayo kita pulang ke rumah istriku tersayang dan anak-anakku tercinta serta nenekku yang baik, ayo kita pulang liburan ini selesai dan nanti kita liburan lagi oke, aku akan membawa kalian jalan-jalan lagi "


Melinda merentangkan tangannya untuk digendong oleh Ayahnya. Adnan tentu saja langsung mengendong anak bungsunya ini. Adnan suka kalau anaknya ini manja padanya.


"Melisa apakah kamu tak mau ayah gendong, ayah masih kuat "


"Tidak aku sudah dewasa "


Melisa berjalan terlebih dahulu dan meninggalkan Adnan, Adnan hanya bisa mendengus kesal dengan tingkah Melisa.

__ADS_1


__ADS_2