
"Mama apakah kakak tak ada menelfon, apakah kakak belum sampai juga "tanya Melinda dengan sangat lesu.
Ayana yang sedang menatap bunga menatap anaknya dan mendekatinya.
"Emm bagaimana kalau kita telfon saja ayah, sepertinya mereka baru sampai "
"Boleh Mama, aku sudah rindu saja dengan Kakak. Aku ingin bicara dengan Kakak "
"Baiklah sebentar ya "
Ayana segera melakukan vidio call pada Adnan tak butuh waktu lama sudah diangkat.
"Halo sayang apa kamu rindu padaku, sampai-sampai kamu melakukan video call kamu ingin melihat wajahku "
"Aku ingin melihat anakku Melisa, aku sudah bilang kan kalau kamu sudah sampai sana telepon aku tapi mana kamu tidak ada. Melinda ingin bicara dengan kakaknya"
Adnan malah tersenyum lebar "Maafkan aku sayang, aku lupa tadi aku langsung kekantor dan Melisa juga tertidur"
"Hemm, baiklah lalu mana Melisa "
Adnan segera mengarahkan kameranya pada Melisa yang sedang memakan camilan dan juga minuman manis.
Ayana yang melihat itu senang, Adnan benar-benar menjaga Melisa. Ayana sekarang tak perlu khawatir lagi. Anaknya baik-baik saja bersama Adnan.
Adnan juga langsung memberikan ponselnya pada Melisa "Hallo mama, bagaimana kabar kamu disana aku disini senang sekali, aku melihat banyak sekali gedung besar disini, lagi orang-orangnya sangat banyak Mama. Aku suka tempat ini, kantor paman juga sangat besar sekali. " Melisa langsung bercerita pada Mamanya.
"Wah kamu sangat senang ya disana. Mama dan juga Melinda baik-baik saja disini sayang, ingat jangan nakal ya. Jika Ayah bekerja jangan mengganggunya "
"Iya Mama tidak akan, aku tak akan menganggu Paman. Aku akan menjadi anak yang baik Mama, Melinda mana mama "
"Ada, Melinda sudah ingin bertemu dengan kamu sayang "
Ayana segera memberikan ponselnya pada anak bungsunya. Mereka berdua segera berbicara, Melinda sangat suka melihat Kakaknya.
__ADS_1
"Bagaimana kakak apakah disana menyenangkan "
"Sangat Melinda, disini sangat menyenangkan sekali. Kamu harus datang kemari nanti bersama mama, tempatnya sangat bagus-bagus sekali aku sampai kagum dengan semua yang ada di sini, aku suka di sini aku belum pulang ke rumah Ayah sih, kata ayah di sana ada kolam renang nanti kita bisa main di sana juga dan ayah juga akan memberikan pasir-pasir jadi seperti di pantai seperti di rumah kita nanti"
Melisa tak menyadari kalau dirinya sudah mengatakan kata Ayah. Adnan yang sedang bekerja sampai diam sejenak dan menatap putrinya itu..
"Wah benarkah rasanya aku tidak sabar ingin pergi ke sana dan menemui Kakak. Cerita Kakak itu sangat menyenangkan pasti saat nanti aku melihatnya akan seperti kakak antusias seperti itu, nanti aku akan coba berbicara dengan mama apakah mama mau menyusul Kakak dan juga Ayah ke sana"
"Iya coba kamu bicara dengan Mama, pasti Mama mau"
Melinda segera menatap Mamanya "Mama apakah kita bisa menyusul ayah dan juga Kakak ke sana aku ingin ke sana juga"
Ayana yang sedang menyatukan bunga-bunga pesanan langsung berhenti dan menatap anaknya. Raut wajah Ayana langsung berubah.
"Nanti ayah dan juga kakak akan pulang kan, nanti gantian Melinda yang akan ikut Ayah untuk pulang. Saat Ayah ada pekerjaan di sana Melina bisa ikut ke sana. Mama tidak bisa pergi-pergi lagi pekerjaan Mama sangat banyak Melinda"
Wajah Melinda yang senang langsung murung, tapi Melisa yang menyadari mamanya sedang menyembunyikan sesuatu, langsung berbicara.
Melinda langsung tersenyum "Baiklah Kakak, aku akan datang kesana setelah kakak kemari lagi ya"
"Iya nanti kita gantian "
Mereka kembali mengobrol, banyak sekali yang mereka bicarakan. Biasannya mereka akan berdua kemana-mana sekarang mereka berpisah untuk beberapa hari.
...----------------...
Melisa langsung memberikan ponselnya kembali pada Ayahnya. Melisa kembali duduk dan menatap Ayahnya yang sedang bekerja.
"Paman sebenarnya luka apa yang sudah terjadi dengan Mama, sampai-sampai Mama tak mau datang kemari, ke kota ini. Setiap Mama mendengar kota ini mama tak pernah mau"
Adnan yang sedang mengetik langsung berhenti, harus bagaimana menjelaskannya. Terlalu banyak kesakitan disini sampai-sampai Ayana tak akan pernah mau kembali lagi kesini.
"Emm, ceritanya begitu panjang Melisa, tapi kamu belum bisa tahu kamu masih kecil "
__ADS_1
"Apakah seberat itu ceritanya sampai aku tak boleh tahu paman "
"Nanti suatu saat kamu akan tahu, tapi untuk sekarang kamu tak bisa tahu Melisa. Nanti mama akan marah jika Ayah menceritakannya pada kamu "
"Hemm begitu ya, emm paman apakah kamu yakin mau dengan mama ku "
"Tentu saja Melisa, memangnya terlihat kalau aku ini main-main dengan mama kamu "
Melisa mengelengkan kepalanya "Aku takut ada kesalah pahaman lagi dari paman dan membuat Mama sedih lagi, aku tidak mau melihat Mama bersedih, aku tak mau mama memikirkan banyak hal "
Adnan mendekati anaknya dan berjongkok, agar mereka bisa saling tatap "Ayah janji semua itu tak akan terjadi, ayah tak akan pernah membuat Mama menangis lagi, ayah janji sama kamu Melisa. Kalau misalnya Ayah ingkar kamu bisa melakukan apa saja pada Ayah "
"Hemm, aku sangat takut sekali "
"Jangan takut, ayah tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Mau makan sekarang "
"Boleh Paman, aku juga penasaran dengan makanan yang ada disini"
"Ya sudah ayo "
Adnan mengandeng tangan anaknya, mereka keluar dari ruangan Adnan. Masih ada waktu Adnan menghabiskan waktunya bersama anaknya sebelum Adnan disibukan kembali dengan meeting-meeting nya yang sangat melelahkan.
Selama mereka berjalan, banyak sekali karyawan yang menatap mereka lagi. Melisa yang memang tak nyaman ditatap seperti itu langsung berbicara pada ayahnya.
"Paman kenapa mereka terus saja menatap kita, aku tak suka "
Adnan langsung berhenti dan menatap orang-orang yang masih berbisik-bisik "Apa kalian masih ingin bekerja di perusahaanku ? Jika ingin pergilah dan jangan pernah menatapku dan juga putriku seperti itu, sangat menganggu sekali "
"Maaf pak, kami permisi dulu" ucap salah satu karyawan mewakili teman-temannya.
Mereka segera pergi, mereka bahkan menundukan kepalanya tak berani menatap Adnan atau pun Melisa. Adnan kembali berjalan bersama Melisa dan masuk kedalam mobil, Adnan sendiri sekarang yang menyetir jadi Melisa duduk didepan.
Marco kan sedang sibuk mencari mata-mata ayahnya Fira. Adnan tak mau sampai ada penyusup disini. Ayahnya Fira ini tak ada jera-jeranya.
__ADS_1