
Mereka sudah berkumpul dimeja makan, tinggal Adnan saja sih dia tadi pergi dulu kekamar. Masalah anak-anak sudah beres Ayana sudah menjelaskan pada mereka kalau semua ini hanyalah salah faham saja.
Meskipun Melisa masih tak percaya, dia menatap ayahnya dengan sangat tajam tapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa, setelah mamanya menjelaskan kalau semua hal itu adalah salah paham saja.
"Emm, Adnan kemana Ayana " tanya nenek yang dari tadi diam.
"Dia pergi kekamar dulu nenek"
Suasana hati Melisa sekarang sedikit terobati saat melihat makanan yang begitu banyak, dia langsung mengambil alat makan dan mengambil satu persatu makanan yang belum pernah dia coba. Rasanya Melisa ingin cepat memakan semua makanan yang sudah diambil, tapi ayahnya ini belum datang juga.
Akhirnya Adnan datang, dia langsung menghampiri kedua putrinya mengecup satu persatu kening mereka. Melisa langsung cemberut.
"Sudah kubilang kan paman, aku tidak mau dicium olehmu. Aku ini sudah dewasa, ah kamu ini kenapa tidak mengerti"
Adnan hanya tersenyum saja, lalu dia menatap kearah ibu dari anak-anaknya saat akan mencium kening Ayana, tangan Ayana sudah terlebih dahulu mendorong dadanya Adnan.
"Duduk jangan membuat ulah lagi Adnan, aku tidak mau bertengkar dengan kamu "
Tapi namanya juga Adnan, dia malah memaksa dan mencium kening Ayana beberapa kali, Ayana mendelikan matanya dengan kesal.
Adnan langsung duduk dan melihat ekspresi Melisa, tapi dia diam saja hanya menunduk dan memakan sarapannya. Mungkin dia lelah makannya tak memarahi Adnan.
"Adnan apa kamu tidak akan mencium nenek" tanya nenek karena di lewat begitu saja, semua yang ada dimeja ini dicium tapi dirinya tidak.
"Emm, tidak nenek "
Nenek langsung cemberut, kesal melihat cucunya yang menyebalkan.
Adnan melihat kearah Melinda, lalu Adnan memangku Melinda dan memindahkannya untuk duduk disamping neneknya.
Melinda yang sedang makan tentu saja binggung tiba-tiba dipindahkan seperti itu, Adnan mencium pipi Melinda yang gembul dan menyimpan kembali makanannya dihadapan anaknya.
"Melinda makan yang banyak ya "
"Emm, iya Ayah "
Adnan menggeser kursi Ayana untuk lebih dekat dengannya. Ayana tak banyak protes karena dirinya sudah pusing dengan tingkah Adnan yang seperti anak kecil jadi biarkan saja dia, mau apapun yang dilakukan Adnan Ayana tak akan melarang.
__ADS_1
"Sayang kita duduk bersebelahan, senangnya aku ini"
"Menyebalkan, kamu ini seperti anak kecil saja "
"Ga apa-apa kan sama istri sendiri "
"Makan Adnan jangan banyak bicara "
Adnan hanya menganggukan kepalanya dengan patuh dan segera mengambil lauk pauk yang dia mau.
"Sebenarnya apa yang terjadi sampai-sampai anak-anakmu itu mencari Ayana, kamu melakukan apa Adnan " tanya nenek yang penasaran dengan keributan pagi hari ini.
Adnan melirik Ayana yang hanya diam saja. Ini adalah sebuah kesempatan untuknya "Kemarin malam Ayana itu rindu padaku nenek, makanya dia mendatangiku ya aku hanya menerimanya saja"
Ayana mendelikan matanya "Jangan mulai lagi Adnan"Ayana berbicara dengan biasa-biasa saja tidak mau memperlihatkan di depan anak anaknya ini kalau dia sedang marah, benar kata Melisa Adnan memang menyebalkan Adnan ini memang sedang mencari kesempatan.
"Ya kalau begitu kamu jelaskan pada nenek apa yang terjadi semalam, kalau menurutmu yang aku katakan itu tidak benar sayang"
Adnan sengaja menantang Ayana, dia ingin tahu saja apa yang akan Ayana katakan pada neneknya. Tapi sih sebenarnya kemarin malam tak terjadi apa-apa hanya dirinya saja yang membawa Ayana kemar yang berbeda dan tak mengembalikan Ayana pada anak-anak.
"Begini nenek, kemarin malam kita berdua sedang membahas tentang Fira, Ayana ingin Adnan bertemu dulu dengan Fira, aku menyuruhnya untuk mencoba bertemu dengannya agar nanti tidak ada permusuhan di kemudian hari aku tidak mau sampai anak-anak yang akan menjadi sasarannya nanti"
"Aku juga tak mau ada permusuhan diantara keluarga kalian, lebih baik temui dulu kan dari pada tidak sama sekali "
Adnan kecewa dengan jawaban Ayana, Adnan ingin Ayana menceritakan tentang mereka bukan tentang Fira.
"Anak itu selalu saja membuat masalah, ya sudah kalau semua itu sudah menjadi keputusan kalian berdua nenek tak akan ikut campur. Benar juga apa yang dikatakan Ayana lebih baik kamu Adnan temui dulu perempuan ular itu, agar tak ada permusuhan aku muak terus berurusan dengan keluarganya, aku ingin hidup ini tenang "
"Ya nenek, aku akan menemuinya nanti setelah pulang dari sini, aku akan berbicara baik-baik dengan keluarganya juga "
"Hemm, baiklah selesaikan dengan baik-baik Adnan aku tak mau anak-anak dan juga Ayana yang menjadi taruhannya. Fira itu perempuan yang begitu licik seperti Mama mu Linda "
"Iya nenek "
"Oh iya dimana ponsel ku Adnan " tanya Ayana yang kebingungan. Semalam Ayana sangat ingat kalau dirinya membawa ponsel.
"Ada dikamar atas sayang, aku menyimpannya di meja kecil. Kamu pasti lupa kan semalam "
__ADS_1
Ayana mengerutkan keningnya, Ayana tak melihatnya padahal Ayana lama kan dengan Melinda didalam kamar itu, tapi Ayana tak melihatnya sama sekali. Benarkah ada disana, Ayana benar-benar tak yakin dengan ucapan dari Adnan ini.
"Aku akan ambilkan nanti Ayana, kamu tenang saja. Aku mau kok keatas lagi nanti "
"Terimakasih "
"Iya sayang, dalam masalah rumah tangga kita harus selalu saling menolong kan, aku tak akan mungkin membiarkan istriku mengambil ponselnya sendirian. Aku pasti akan membantu sayangku"
"Nenek buyut " tiba-tiba saja Melisa yang sedang diam bersuara juga.
"Iya cucu nenek ada apa "
"Lihatlah Paman Adnan selalu saja mengatakan kalau Mama ku itu istrinya, tapi kenyataannya apa bukan nenek. Bahkan Mama tidak mau menikah dengan Paman Adnan, mamah sudah menolak beberapa kali lamarannya. Bisa kah nenek buyut berbicara dengan orang besar itu kalau mama tak mau, aku takut kalau aku yang langsung bicara Paman Adnan akan menangis dengan histeris kasian dia nenek, mungkin kalau dengan nenek dia tak akan terlalu sedih "
"Hey Melisa "tegur Adnan sangat kesal dengan apa yang dibicarakan oleh anaknya itu "Awas saja nanti setelah Ayah mendapatkan mamamu, setelah kami berdua menikah Ayah tidak akan membiarkan kamu mendekati Mamamu lagi dalam jarak 3 meter, kamu harus jauh-jauh dari mamamu"
Melisa malah tertawa mendengar ucapan Ayahnya " Silakan saja, aku tidak percaya kalau Paman akan bisa menikahi mamaku, karena tanpa seizin ku Mama tidak akan pernah menikah dengan paman"
Adnan langsung menatap Ayana "Benarkah Ayana yang dikatakan oleh anak kecil ini "
"Tentu saja apa yang dikatakan Melisa itu. Aku tidak akan menikah kalau anak-anak tidak mengizinkanku, aku hanya akan menikah jika Melisa dan juga Melinda menginginkannya"
Adnan langsung murung "Aku jadi tak berselera makan dan aku juga menjadi tak semangat lagi " Adnan menyimpan sendok dan garpunya, dia melihat orang-orang malah fokus dengan makanannya tidak ada yang peduli dengannya. Mereka bener-benar mendukung apa yang Melisa katakan anak kecil itu dasar ya.
Adnan harus cepat-cepat meluluhkan hati Melisa, karena dialah yang paling sulit kalau Melinda sih pasti setuju saja, Melisa anak ini membuatnya sulit sekali untuk melangkah lebih jauh lagi.
Melissa yang melihat ayahnya seperti itu malah terkikik, dia senang sekali melihat ekspresi ayahnya yang seperti itu. Kasian sekali ayahnya itu tak ada yang mendukungnya sama sekali.
"Kalian akan mandi di sini saja atau nanti di rumah "tanya nenek
"Di rumah saja nek sebentar lagi juga kita akan sampaikan "jawab Ayana sambil melihat ke sekitar.
"Baiklah Ayana kamu ambil barang-barang anak-anak dan aku akan mengambil ponsel serta yang lainnya "ucap Adnan dengan lesu.
Ayana hanya menganggukan kepalanya saja, sebenarnya tidak ada yang perlu dia bereskan karena mereka juga datang kemari tanpa membawa apa-apa kan, pakaian anak-anak juga dibeli langsung tapi ya sudahlah bawa pulang saja.
Pakaian itu kan masih bisa dipakai, sayang saja kalau ditinggalkan begitu saja.
__ADS_1