Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 94


__ADS_3

Ayana menyimpan alat-alat yang baru saja dia cuci di tempat pengeringan. Ayana akan kembali membahas tentang hal yang tadi sempat terlewat.


"Aku ingin Ayah anak-anakku adalah Ayah yang bertanggung jawab dalam hal apapun, perusahaan adalah tanggung jawab bukan tanggung jawab Marco. Kamu adalah yang punya meskipun dia adalah asisten mu dan membantumu bekerja tapi dia tidak seterusnya membantumu. Adnan kamu yang punya kendali penuh dan kamu tidak boleh memberikan semua pekerjaanmu itu pada Marco, dia itu manusia dia juga butuh istirahat dia bukanlah seorang robot"


"Kasihan dia bagaimana kalau nanti tiba-tiba Marco tumbang, apakah akan ada yang membantu mu lagi jawabannya tentu saja tidak, kamu sendirikan yang nanti kerepotan "


"Aku juga mau kamu untuk tidak melepaskan Kamila begitu saja. Kamila pasti akan berpikir yang tidak-tidak saat kamu memberikannya pada Rio, mungkin dia bersama ayahnya bersama ayah kandungnya. Tapi tetap saja dari kecil dia bersamamu kan kamu yang mengurusnya dan dia hanya tahu kamu ayahnya. Jangan sampai Kamila memupuk kebencian Adnan dan nanti akan menjadi masalah dikemudian hari "


Adnan menundukkan kepalanya. Ayana benar-benar peduli dalam segala hal. Padahal dia belum bertemu dengan Kamila tapi dia sudah peduli pada Kamila dan satu lagi pada asistennya juga sangat peduli sekali.


"Aku membolehkan mu untuk selalu dekat dengan anak-anak, tapi kamu juga harus peduli dengan hal yang lainnya kamu tidak bisa fokus pada satu hal saja, sedangkan yang lainnya kamu tinggalkan begitu saja. Kamu juga punya kehidupan bukan tentang anak-anak saja banyak yang harus kamu urus, kamu harus imbang Adnan"


"Iya Ayana aku mengerti maafkan aku. Aku terlalu senang saat bertemu dengan kalian bertiga, makanya aku seperti ini jadinya. Apakah boleh besok aku mengantarmu ke sekolah kita pergi sama-sama. Aku janji tidak akan membahas apa-apa lagi, aku juga sudah membaca surat perjanjian itu aku sudah mengingat semuanya dan aku tidak akan melakukan kesalahan lagi"


"Emm, boleh tapi jika kamu pulang sekarang dan beristirahat. Baru besok pagi kamu boleh datang kemari dan mengantar anak-anak untuk pergi sekolah, kalau kamu ingin pulang larut malam berarti besok kamu tidak boleh mengantar anak-anak aku tidak mau membuat orang lain jadi sakit. Apalagi kamu disini juga sendirikan tak ada siapa-siapa "


Adnan tersenyum lebar, kenapa dia dulu bisa menyia-nyiakan Ayana yang begitu perhatian pada setiap orang. Seharusnya Adnan bersyukur dulu bisa mendapatkan Ayana, bisa mempunyai istri sebaik Ayana.


Adnan mulai sekarang tidak akan pernah menyia-nyiakan apa yang dia punya, dan tidak akan pernah melepaskan Ayana lagi sampai kapanpun itu, apapun itu masalahnya Adnan akan terus bertahan disamping Ayana dan akan memperbaiki semuanya sama-sama.


"Baiklah aku besok pagi akan kembali. Terima kasih kamu sudah perhatian denganku dan kamu benar-benar adalah ibu yang terbaik Ayana. Aku sungguh bangga padamu. Kamu bisa menjalani semuanya dengan sangat baik"


"Aku sedang tidak perhatian denganmu. Aku hanya tidak mau kalau anak-anakku mempunyai ayah yang hanya fokus pada satu titik saja, aku tidak mau sampai hal ini terjadi lagi. Aku tidak mau kamu menelantarkan yang lainnya demi mengejar sesuatu yang lainnya itu saja"


Adnan tersenyum kecil, meskipun Ayana berbicara seperti Adnan akan berpikir kalau Ayana ini sedang perhatian padanya, Ayana sedang mencoba untuk membuka hati lagi untuknya.


Adnan akan selalu berpikir positif tentang apa yang selalu Ayana katakan. Adnan akan menganggap semua yang dikatakan Ayana itu adalah perhatian kecil untuknya, Adnan senang sekali.


"Ya sudah aku pulang dulu ya. Selamat malam kamu tidur yang nyenyak mimpi yang indah juga ya Ayana. Aku akan datang lagi kemari nanti pagi "


"Iya "Ayana hanya bisa menjawab itu saja, Ayana bingung harus menjawab apalagi itu saja sudah cukup untuknya. Ayana juga tak mau memberi harapan pada Adnan, Ayana tak mau nanti malah rumit kedepannya.


Adnan menghampiri anak-anaknya dan segera berpamitan "Anak-anak Paman akan pulang, besok pagi Paman akan kemari untuk mengantar kalian pergi ke sekolah. Kalian senang ga "


Kedua anak itu menoleh pada Adnan, lalu mereka berdua menganggukan kepalanya dengan berbarengan juga Melinda mendekati Adnan dan Adnan sendiri langsung berjongkok, Melinda mencium pipi Adnan lalu dia berkata "Tentu saja aku senang paman akan mengantar kami. Aku ingin merasakan apa yang selalu teman aku rasakan. Paman hati-hati di jalannya ya jangan sampai kenapa-napa. Paman besok akan mengantarkan kami ke sekolah jadi jangan telat, jangan lupa sampai rumah cuci muka, lalu gosok gigi jangan lupa juga cuci kaki dan tangan agar nanti tidurnya nyenyak sekali paman "


Adnan yang mendengar nasihat dari anaknya ini hatinya mulai hangat, ternyata seperti ini ya diperhatikan oleh anaknya sendiri. Adnan bahagia sekali rasanya.


Adnan rasanya tidak mau pergi dari sini, Adnan ingin terus bersama anak-anaknya tapi untuk sekarang tak bisa. Lalu Adnan menatap ke arah Melisa yang menatapnya tapi tidak mengatakan apa-apa.


"Kamu tidak ingin mengatakan apa-apa pada Paman Melisa, apa kamu tak senang besok akan paman antarkan sekolah "


"Hati-hati"


"Hanya itu saja Melisa, tak ada yang ingin kamu katakan lagi mungkin sesuatu yang penting "


"Harus mengatakan apa lagi, hati-hati saja di jalan, aku juga tak suka berbicara dengan paman yang menyebalkan seperti ini "


Adnan segera berdiri tidak apa Melisa bersikap seperti itu, Melisa memang gengsian semoga saja nanti Melisa akan bisa dekat dengannya. Adnan menatap Ayana yang masih berdiri dan tidak mendekatinya "Aku pulang ya selamat malam Ayana"

__ADS_1


Ayana menganggukan kepalanya, Adnan langsung pergi keluar rumah mereka tidak mengantarkannya Adnan juga mengerti, Ayana ini sudah sangat berubah sekali. Adnan harus selalu sabar.


Adnan tidak langsung pergi, dia memberikan pesan dulu pada Ayana, ingin berbicara langsung tapi Adnan takut Ayana berpikir yang tidak-tidak dan nanti malah bertengkar lagi.


Mulai sekarang kamu tidak usah merasa sendiri lagi Ayana aku sudah ada jangan pernah sungkan lagi untuk meminta hal apapun padaku. Jika kamu butuh bantuan langsung saja telepon aku, aku pasti akan datang menemui kamu. Terima kasih karena sudah menjadikan Melisa dan juga Melinda anak yang pintar, mandiri dan sangat ceria sekali.


Aku sungguh sangat bahagia melihat mereka yang seperti itu. Aku bangga padamu Ayana kamu bisa menjadi Ibu yang sangat baik sekali dan aku juga bangga pernah menikahimu.


Aku berharap kita berdua bisa kompak menjadi orang tua untuk Melisa dan juga Melinda. Aku akan selalu ada disampingmu mulai sekarang. Jangan pernah takut lagi padaku Ayana, aku tak akan pernah melukai kamu.


...----------------...


Rio masuk ke dalam kamar Kamila, Rio tersenyum ternyata Kamila belum tidur. Rio berbaring di samping Kamila. Entah kenapa Rio ingin sekali tidur bersama anaknya ini. Rio begitu kesepian sekali.


"Bolehkah Ayah tidur di sampingmu, hanya kali ini saja Ayah ingin menemanimu. Ayah merasa sendiri sekali"


"Tentu saja boleh Paman, ini kan rumahmu mana mungkin aku melarangmu untuk tidur di sini, ini semua punyamu aku tidak akan melarangmu. Jika kamu memang ingin tidur di sini maka tidurlah. Aku tidak akan banyak melarang semuanya ini adalah milikmu"


Rio menganggukan kepalanya, dia memiringkan tubuhnya dan menatap Kamila yang terlentang. Lucu sekali Kamila ini, ingin sekali Rio memeluk Kamila saat sedang bangun seperti ini.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, ini sudah sangat malam bukannya besok kamu akan sekolah dan kita akan pergi ke sekolah kamu yang dulu seperti apa yang kamu mau. Ayah sudah mengurus semuanya maafkan ayah mengurusnya cukup lama sampai 1 Minggu "


"Setelah dipikir-pikir Kamila lebih baik di sekolah yang Paman masukkan saja. Maafkan Kamila yang terlihat egois karena ingin sekolah di tempat itu lagi, Kamila sudah sekolah di sana saja Kamila tidak ingin pindah-pindah lagi. Kamila tak akan pernah melakukan hal bodoh lagi, Kamila sudah kapok "


"Kamu yakin, kamu tidak akan berubah pikiran lagi Ayah akan menelpon gurumu dan kamu ke sekolah di sana lagi. Ayah tidak masalah kalau harus mengantarkan kamu jauh dan nanti menjemputmu juga. Ayah pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk kamu sayang "


Kamila mengelengkan kepalanya dia menatap Rio dan mereka sekarang berhadapan "Paman aku tidak masalah sekolah di tempat yang Paman berikan itu, sama saja kan fasilitasnya juga sama tidak ada yang beda akan sangat lelah nanti kalau bolak-balik lebih baik aku di sana saja. Aku tak akan memikirkan untuk pindah lagi "


"Tidak istri Ayah memang ingin pulang dulu ke keluarganya, dia ingin menghabiskan waktu dengan orang tuanya. Nanti juga istri Ayah akan kembali lagi kesini, nanti ayah akan kenalkan kamu dengannya pasti kalian berdua akan dekat"


"Jika aku hanya menghambat Paman saja lebih baik aku sekolah asrama saja, agar Paman juga bisa bersama istri paman. Aku lihat Paman selalu murung saja satu minggu sudah berlalu, tapi Paman selalu saja terlihat sedih. Aku tidak mau kalau kehadiranku ini hanya akan membuat Paman sedih dan berpisah dengan istri paman itu. Aku tidak masalah kok ditengok satu bulan sekali atau satu minggu sekali"


Tentu saja Rio tidak mungkin meninggalkan anaknya di asrama sekolah tidak. Apalagi di sekolah itu tidak ada asrama Rio tidak mungkin dengan gegabah meninggalkan anaknya. Kamila ini masih kecil dia masih butuh kasih sayang yang lebih.


Rio tak mau menyesal untuk kedua kalinya, sudah cukup rasa sesalnya itu waktu itu. Sekarang Rio harus menebus semuanya Rio harus memberikan kasih sayang yang cukup untuk Kamila.


"Tidak ayah tidak akan pernah membiarkanmu untuk tinggal di manapun, kita akan tetap sama-sama, ayah akan terus bersamamu nanti ayah akan berbicara dengan istri Ayah semoga saja dia mengerti. Mau tidur sekarang saja ini sudah sangat malam sekali Kamila "


"Sebenarnya aku belum ngantuk sih, tapi aku besok sekolah lagi sudah satu minggu kan aku tidak masuk sekolah pasti teman-temanku banyak yang rindu dengan aku. Pelajaran pun pasti sudah banyak yang ketinggalan aku harus mengejarnya"


"Baiklah sekarang segera tidur sudah sangat larut malam, anak kecil tidak boleh begadang nanti kalau di sekolah mengantuk bagaimana. Kamu pasti akan dimarahi oleh ibu guru "


"Iya paman aku sekarang tidur, aku juga tak mau sampai dimarahi oleh guru "


Kamila menutup kedua bola matanya. Rio sendiri masih menatap anaknya, rasanya ingin sekali Rio setiap hari tidur dengan anaknya seperti ini.


Untuk rumah tangganya sepertinya tidak akan pernah bisa terselamatkan, istrinya sudah sulit dihubungi. Bahkan dia sudah mendatangi rumahnya, rumah orang tuanya tapi Rio tidak diterima oleh orang tua istrinya itu.


Mereka sudah tahu semua ceritanya. Ya tentu saja mereka sangat marah dengan Rio, bahkan Rio sampai dipukul oleh ayahnya. Tapi Rio tidak masalah Rio memang salah Rio memang bodoh waktu itu.

__ADS_1


Terlalu cinta pada Fira dan akhirnya mengorbankan segala hal dan membuat semuanya hancur, kalau saja dulu dirinya tak bodoh mungkin rumah tangannya akan baik-baik saja tak akan berantakan seperti ini.


...----------------...


Adnan sudah sampai di villa, dia langsung masuk ke dalam rumah dan tentu saja ke dalam kamar mengikuti apa nasehat dari anaknya. Setelah selesai Adnan membuka laptopnya tapi dia baru ingat kata-kata dari Ayana kalau dia tidak boleh begadang kalau ingin mengantarkan anak-anak.


Adnan kembali menutup laptopnya. Baiklah Adnan mulai sekarang harus mengikuti apa kata-kata Ayana, Adnan harus menjaga kesehatannya agar bisa selalu menjaga anak-anaknya dan juga Ayana.


Adnan membuka ponselnya dan membuka foto yang dia ambil, secara diam-diam saat Ayana tadi sedang mencuci piring. Adnan memperbesar foto itu melihat Ayana dari dekat Ayana makin hari makin cantik.


Wajahnya tidak pernah berubah, tapi yang sekarang Ayana makin terlihat lebih banyak senyum dan itu membuat wajahnya makin menarik dan makin tambah cantik saja.


Kalau mungkin Ayana mau, dia sudah menikah sekarang pasti banyak laki-laki yang mengincar Ayana. Lihatlah tubuhnya seperti belum mempunyai anak, sangat ramping sekali wajahnya begitu cantik seperti wanita yang masih kuliahan.


Padahal dia sudah mempunyai dua anak, tapi tidak terlihat yang tidak tahu mungkin akan menganggap kalau Ayana itu masih lajang, Adnan harus segera mendapatkan hati Ayana. Agar Ayana bisa selalu ada disampingnya dan tidak akan ada laki-laki yang mendekatinya.


Sebenarnya selama ini Adnan lebih banyak mencuri pandang pada Ayana, melihat Ayana yang makin hari makin menarik saja tapi Adnan tidak melupakan tentang misi utamanya yaitu mendapatkan hati anak-anaknya, terutama hati Melisa yang sangat sulit untuk didapatkan.


Melisa seperti sudah memupuk sebuah kebencian padanya dan akan sulit untuk dihilangkan, tapi Adnan yakin semua itu akan berakhir semua itu akan pudar dengan sendirinya. Melisa pasti akan suka dengannya nanti.


Adnan masih menatap wajah Ayana yang ada di ponselnya itu. Adnan tersenyum dan menyimpan foto itu di sampingnya dan akan tidur ditemani oleh foto Ayana yang ada didalam ponselnya.


Untuk hari ini ditemani fotonya dulu, tapi untuk nanti Adnan akan langsung ditemani oleh orangnya langsung. Bahkan Adnan akan memeluknya setiap malam rasannya tak sabar sekali.


Adnan yang memang belum bisa tertidur kembali melihat ponselnya, dia menatap kembali wajah Ayana lalu dia berguling-guling seperti baru jatuh cinta lagi. Entah kenapa Adnan begitu bahagia saat melihat wajah Ayana.


"Ada apa denganku, apa aku sudah gila aku ini seperti ABG saja aku ini sudah tua, aku sudah punya anak dua tapi tingkahku ini sangat tidak mencerminkan sekali, tapi aku yakin sekarang aku bisa tidur nyenyak. Ayana sudah mulai membuka hatinya dan anak-anak juga sudah mulai dekat denganku kan"


"Aku harus segera tidur kalau tidak aku akan terlambat dan Ayana pasti akan marah padaku, karena tidak menepati janjiku untuk mengantarkan anak-anak pergi ke sekolah, aku harus membuat Ayana selalu percaya padaku dan tergantung padaku juga, aku akan membuatmu kembali seperti semula Ayana yang lemah lembut dan selalu tergantung padaku "


"Aku tidak akan pernah membiarkan Ayana untuk menikah dengan laki-laki manapun, hanya aku saja yang boleh menikah dengan Ayana, Fabian juga tidak boleh tapi kan dengar-dengar dia akan menikah berarti dia tidak akan menikahi Ayana Ayana hanya akan menjadi milikku saja"


"Aku akan membuat Ayana bahagia, aku akan selalu membuatnya tersenyum "


Adnan mencoba untuk memejamkan kedua bola matanya. Kalau terus begini Adnan tak akan bisa bangun pagi dan akan membuat Ayana kecewa juga kan.


...----------------...


Rio menatap anaknya yang sudah terlelap dengan nyenyak. Rio mengusap rambutnya dengan perlahan sekali tak ingin sampai membangunkannya.


"Kamila Ayah rasa sekarang kamu mulai luluh dengan ayah, ayah akan selalu berjuang ayah akan mendapatkan hatimu. Suatu saat kamu akan percaya kalau aku ini adalah ayahmu dan kamu juga akan memanggilku dengan sebutan Ayah, aku bahagia sekali bisa tidur satu ranjang denganmu. Aku suka melihat wajah Kamila yang mirip denganku "


"Sekarang aku akan lebih fokus mengurusmu. Aku tidak akan memikirkan apa-apa lagi Kamila, hal utama yang harus aku utamakan adalah dirimu, kamu adalah segalanya kamu adalah hidupku Kamila, kamu adalah sumber kebahagian aku "


"Aku bahagia sekali, satu minggu ini kamu tidak membahas Adnan dan kamu tidak ingin menelponnya. Semoga saja sampai nanti kamu akan seperti ini, kamu hanya akan mengingatku sebagai ayahmu bukan orang lain. Aku sangat berharap besar padamu Kamila"


Rio mencoba untuk menutup kedua bola matanya, dia juga memeluk tubuh Kamila yang kecil. Ini untuk pertama kalinya Rio melakukan ini dan Rio sangat bahagia sekali.


Bahkan kebahagiaannya ini tidak bisa diukur oleh apapun, tidak bisa dibandingkan dengan apapun itu. Rio mencoba untuk menutup kedua bola matanya, dia juga memeluk tubuh Kamila yang kecil.

__ADS_1


Rio akan bicara baik-baik dengan istrinya nanti. Kalau istrinya memang mau benar-benar berpisah Rio akan lakukan tapi harus dengan cara baik-baik Rio tak mau seperti satu Minggu yang lalu tiba-tiba datang dan membawa surat pula.


__ADS_2