Aku Bawa Mereka

Aku Bawa Mereka
Bab 90


__ADS_3

Ayana menjemput kedua putrinya, dia melihat anak-anak sedang berlari ke arahnya. Ayana langsung berjongkok dan mereka bertiga langsung berpelukan seperti Teletubbies, lalu mereka tertawa bersama-sama karena tingkah mereka sendiri.


Setelah melihat anak-anaknya lagi Ayana begitu senang sekali, moodnya tadinya sedang rusak tapi sekarang sudah kembali lagi karena melihat keceriaan anak-anak.


Tak lupa Ayana mencium kening mereka satu persatu. Ini sudah rutinitas mereka bertiga memang seperti ini, Ayana segera bangkit dan menuntun kedua anaknya untuk segera pulang. Baru saja mereka melangkah sebuah mobil sudah datang dan ternyata yang keluar adalah Fabian.


"Paman Fabian, kamu ada disini. "teriak Melinda dengan begitu senang saat melihat Fabian.


"Iya paman di sini untuk bertemu dengan kalian ayo masuk sebentar lagi akan hujan. Lihatlah sangat mendung sekali ayo anak-anak kita jalan-jalan dulu juga sebentar sebelum pulang "


Mereka bertiga langsung masuk ke dalam mobil itu. Ayana juga bingung kenapa tiba-tiba Fabian ada di sini, bahkan Fabian tidak menghubunginya. Biasanya kalau Fabian akan datang Fabian akan menghubunginya dulu tapi sekarang seperti kejutan untuk Ayana.


Tapi tak masalah Ayana senang, semoga saja tak ada masalah dan baik-baik saja. Ayana duduk didepan bersama Fabian anak-anak mereka dibelakang.


"Mama aku ingin bercerita dengan Mama, ini begitu penting dan aku sudah tak tahan Mama aku tak bisa menyimpannya lagi "teriak Melinda sambil berdiri di belakang Mamanya.


"Duduk sayang jangan berdiri seperti itu, mama pasti akan mendengarkan ceritamu ada apa sayang"


Melinda duduk dengan benar, dia juga memeluk tasnya yang tadi sempat terjatuh. Setelah duduknya enak barulah Melinda bercerita pada Mamanya.


"Mama kamu tahu, kakak makin hari makin galak saja, dia selalu saja marah-marah pada teman-teman, pokoknya setiap anak takut dengan Kakak. Jadi mereka juga tak mau berteman denganku padahal aku ingin banyak teman Mama "


Melisa melirik adiknya dengan tajam "Kamu ini masih kecil, kalau yang mendekati kamu itu seorang perempuan aku pasti akan membiarkanmu bermain dengan mereka. Tapi ini laki-laki semua, kamu harus hati-hati bagaimana kalau kamu nanti dibodohi oleh mereka. Kamu itu selalu iya iya saja tak pernah bisa menolak mereka kamu itu harus tegas Melinda "


Melinda mendengus "Mama lihatlah Kakak malah seperti ini, aku tidak bisa bermain dengan mereka aku juga ingin banyak teman tapi kakak selalu saja melarangku. Padahal mereka baik-baik tidak pernah ada yang menjahili ku kok Ma mereka begitu baik sekali" Melinda mencoba meminta pertolongan dengan Mamanya ini, Melinda tak bisa mengabaikan teman-temannya kasian mereka ingin bermain dengan Melinda tapi tak diperbolehkan oleh Mamanya ini.


"Melisa kenapa kamu melakukan itu "Ayana bertanya dengan sangat pelan sekali tak ingin membuat anaknya merasa disalahkan.


"Aku hanya tidak mau saja Melinda nanti dimanfaatkan oleh mereka semua. Kalau mau berteman ya dengan perempuan saja. Apakah itu tidak cukup kalau dengan laki-laki nanti Melinda malah akan dimanfaatkan. Aku hanya tidak ingin itu terjadi saja aku sedang melindunginya mama. Tapi dia malah tidak mengerti dan merengek seperti ini sungguh menyebalkan sekali Melinda ini "


Fabian yang sedang menyetir menatap dua anak kembar itu, sungguh ekspresi mereka begitu sangat berbeda yang satu sedih yang satu sedang berapi-api. Tapi Fabian malah gemas.


"Ya tapi tetap saja mereka kan baik-baik, mereka juga tidak melukaiku. Tapi Kakak terus saja melarangku mereka benar-benar baik kak. Seharusnya kamu juga mencoba untuk berteman dengan mereka, pasti kakak juga akan suka "


"Aku tidak mau, aku tidak mau dimanfaatkan oleh mereka. Aku lebih baik bermain sendiri daripada harus dengan mereka semua. Aku lebih nyaman sendiri aku bisa melakukan semuanya sendiri "

__ADS_1


Ayana sekarang tahu, Melisa hanya ingin melindungi adiknya saja. mungkin di mata adiknya itu terlalu berlebihan, Melinda hanya ingin banyak teman saja.


"Melisa coba kamu bergabung dengan mereka dan juga adikmu, siapa tahu kalian cocok. Lihatlah mama dan juga Paman Fabian juga berteman kan tapi kami berdua baik-baik saja, kami tak pernah bertengkar"


"Tapi ma aku takut kalau nanti Melinda malah dimanfaatkan, aku takut mereka malah menyuruh-nyuruh Melinda dia begitu polos ma"


"Melisa, kalau mereka membuat masalah baru kamu harus bertindak tapi mereka baik-baik saja kan, hanya ingin berteman dengan adikmu saja. Coba kamu juga ikut berteman dengan mereka pasti akan lebih menyenangkan lihat mama dan juga Paman Fabian sampai sekarang berteman kan, kami tak pernah bertengkar dan pertemanan kami juga sangat awet sekali"


Melinda dengan semangat langsung menganggukan kepalanya "Itu benar sekali, apa yang dikatakan oleh Mama itu benar Kak, aku itu ingin berteman dengan mereka hanya berteman saja tidak melakukan hal lebih, jadi kalaupun mereka menyakitiku aku pasti akan berbicara dengan kakak. Kakak tenang saja "


Akhirnya Melisa hanya bisa mengalah untuk sang adik. Melisa tidak mau berkepanjangan "Baiklah jika suatu saat mereka memuat masalah denganmu, kamu harus langsung bicara denganku. Jangan pernah takut aku pasti akan menolongmu aku akan membelamu nanti"


"Tentu aku akan langsung bicara dengan Kakak" Melinda langsung tersenyum lebar, dia sangat suka dengan kakaknya yang mengizinkannya untuk berteman dengan yang lain.


Melinda tak mau membuat hati teman-temanya sakit karena ditolak berteman dengan Melinda. Padahal mereka itu sangat baik sekali. Tak pernah menganggu Melinda.


"Melisa kamu itu terlalu galak pada adikmu, bagaimana kalau nanti adikmu tidak punya pacar kalau kamu terus melarang-larangnya. Apa kamu tak kasian dengannya "


"Paman Melinda itu masih kecil, dia itu belum boleh pacaran, Melinda itu harus belajar. Dia itu harus banyak belajar menghitung lagi dan banyak lagi "


"Hei memangnya kamu itu orang dewasa, kamu juga masih balita masih kecil kalian itu seumuran. Lalu nanti juga kamu tidak akan punya pacar gitu, kamu akan tetap galak seperti ini "


Ayana yang mendengar itu sungguh terharu, anaknya memikirkan tentang keadaannya.


"Paman apakah kamu tidak mau menikahi Mamaku, mama sangat cantik, pintar, pekerja keras apa Paman tidak mau bersamanya"


Ayana sungguh kaget dengan kata-kata anaknya itu, tiba-tiba membahas pernikahan dengan Fabian "Kenapa tiba-tiba kamu berbicara seperti itu, memangnya kamu mau menjadi anak paman"


"Tentu saja, aku mau menjadi anak paman, lebih baik Paman saja menjadi Ayahku daripada laki-laki itu yang mau mendekati Mama. Lebih baik Paman saja Paman itu baik hati, selalu ada untuk mama bahkan Paman itu selalu membuat kami tersenyum. Paman sajalah yang menjadi Ayah kami bagaimana paman setuju tidak, aku butuh jawabannya sekarang paman"


Ayana menatap Fabian yang juga kebingungan akan menjawab apa. Ayana menatap ke arah putrinya itu "Sayang Paman Fabian itu tidak bisa, Paman Fabian sudah punya pacar jadi Mama bersama paman Fabian tidak akan bisa menikah sampai kapanpun. Kami hanya akan menjadi teman saja seperti ini "


"Yah kenapa coba Paman punya pacar, padahal mama juga cantik. Mama kan baik, aku benar-benar tidak mau kalau sampai Mama nanti menikah dengan laki-laki menyebalkan itu, dia sangat menyebalkan sekali "


"Memangnya siapa yang kamu maksud, laki-laki mana Melisa "

__ADS_1


"Pokoknya ada laki-laki yang sangat menyebalkan sekali, dia itu ingin dekat dengan mama. Apa Paman tidak bisa berubah pikiran, coba Paman pikirkan kalau bersama paman mama tidak akan pernah menangis. Mama pasti akan selalu senang bersama Paman, akan selalu tersenyum dengan lebar juga Mama ku ini "


Fabian menatap Ayana yang diam saja. Fabian juga melihat Melisa yang berdiri di belakangnya dan menatap ke arahnya dengan sangat serius "Paman sudah menganggap mamamu seperti keluarga sendiri, mana mungkin Paman menikahi mamamu. Paman dan juga mamamu akan selalu seperti ini kami berdua akan tetap menjadi sahabat dan teman terbaik. Paman janji jika laki-laki itu jahat pada Mamamu lagi, Paman akan membantumu. Paman akan ada di di depanmu Melisa, tak usah khawatir ya "


"Baiklah paman, aku juga tidak bisa memaksamu aku juga tidak boleh kan egois. Tapi Paman janjikan akan selalu menjaga Mama. Aku tidak mau kalau mama sampai menangis lagi, Mama selalu murung. Apalagi laki-laki itu malah datang lagi "


"Tentu Paman janji, paman akan melindungi Mamaku bagaimana pun caranya paman akan selalu ada disampingnya, sampai kapan pun nanti. Paman tak akan ingkar kamu bisa pegang kata-kata dari paman ini "


"Bagus paman terimakasih"


Melisa kembali duduk, dia tidak lagi bicara dia sudah tenang, mamanya akan dijaga oleh paman Fabian jadi kalau laki-laki menyebalkan itu mengganggu bisa Melisa adukan pada Paman Fabian.


...----------------...


Saat melihat anak-anak sudah masuk ke dalam rumah, Ayana dan Fabian diam di luar rumah mereka duduk di depan teras dan Fabian sekarang memulai pembicaraan mereka. Kenapa bisa Fabian datang kemari apa alasannya, Fabian akan membicarakan semuanya itu pada Ayana. Pasti Ayana bertanya-tanyakan kenapa dirinya datang kemari.


"Aku dengar Adnan sudah kemari, yang dimaksud Melisa itu Adnan kan"


"Iya seperti apa yang kamu bilang, aku harus bisa memaafkan maka aku akan memberinya kesempatan. Mau disembunyikan pun sulit kalau Melisa dan juga Melinda memang anak Adnan, wajah mereka begitu dominan padanya. Bahkan mereka tidak mirip denganku malah ikut dengan ayahnya"


"Iya aku tahu, kamu sudah benar-benar memaafkannya kan Ayana. Aku tidak mau kamu malah menerima dia karena terpaksa, aku tidak mau luka kamu itu terbuka kembali Ayana "


"Aku sudah memaafkannya, tapi aku tidak akan pernah kembali padanya sampai kapanpun Fabian. Aku akan berpikir ulang kalau ingin kembali dengannya, aku tidak mau tersakiti untuk kedua kalinya sudah cukup rasa sakit itu membuat aku menutup hatiku untuk selama-lamanya, hatiku sudah mati lama "


"Hemm, aku ingin selalu yang terbaik untuk kamu, aku datang kemari karena ingin tahu keadaanmu. Aku takut Adnan akan melakukan sesuatu padamu, kamu tahu sendirikan bagaimana Adnan itu "


"Selama ini sih tidak, dia tidak melakukan apa-apa dia hanya memohon padaku dan meminta untuk bisa bertemu dengan anak-anak dan juga memberinya kesempatan. Bahkan nenek juga datang kemari, aku juga tak menyangka kalau nenek akan kesini dan menemuiku langsung kamu sudah lama tak bertemu"


Fabian langsung celingak-celinguk mencari nenek, takut dia ada di sini. Bisa-bisa Fabian akan diceramahin karena tidak memberitahu keadaan Ayana waktu itu.


"Nenek tidak ada di sini, dia ada di toko bunga, dia suka di sana makanya dia akan sampai sore diam di toko bunga nanti pulang ke rumah"


Fabian mengusap dadanya "Untung saja kalau tidak aku pasti akan diomeli olehnya habis-habisan. Kamu kalau ada apa-apa bicara dengan ku ya, sampai Adnan berbuat yang tidak-tidak atau mengambil anak-anak bicara denganku. Aku pasti akan membantumu "


"Tentu aku pasti akan berbicara denganmu, aku tidak mungkin merahasiakan sesuatu darimu Fabian selama ini kamu yang selalu ada di sampingku, selama ini kamu yang selalu peduli padaku bahkan saat zaman sekolah pun hanya kamu saja yang mau berteman denganku, yang mau membuat aku tersenyum setiap harinya"

__ADS_1


Fabian yang mendengarnya tentu saja senang, meskipun cintanya tidak bisa tertuju pada Ayana tidak bisa terwujud, tapi Fabian senang sudah ada dan bisa di samping Ayana, bisa membantunya juga. Fabian tidak akan menghancurkan pertemanannya ini hanya karena sebuah cinta Fabian tidak mau Ayana menjauhinya.


Fabian sudah nyaman seperti ini, maka dirinya akan menjalaninya. Meskipun nanti Fabian menikah dengan orang yang tidak dia cintai tapi tak masalah, Fabian akan mencoba untuk mencintainya semoga saja Fabian bisa kan.


__ADS_2